Sementara itu di Mansion Pratama
Setelah William mendapat telepon dari papah Mahendra.
"Ken, Papa Hendra baru saja telepon. Tadi malam Queen sudah sadar. Kamu ingin pergi sekolah atau ikut ke rumah sakit bareng abang ?" tanya William
"Beneran bang?Queen sudah sadar?"
William mengangguk sebagai jawaban.
"Gimana?? kamu mau ke rumah sakit atau tetap pergi ke sekolah?" tanya William kembali.
"Aku ikut ke rumah sakit, Bang." Ken memilih ikut ke rumah sakit.
"Ya sudah. Abang mau kasih tahu kakek dulu. tolong kamu beritahu Kenzie dan Kennard ya. sepertinya mereka berdua masih di atas."
William berjalan menuju kamar kakek Arnawama yang berada tak jauh dari ruang makan.
"Kek, William, Ken sama yang lainnya mau ke rumah sakit. Papa tadi kasih kabar kalau Queen sudah sadar."
"Kakek ikut kalian ke rumah sakit. tolong ambilkan tongkat kakek."
"baik kek."
Sementara itu di rumah sakit.
Perawat baru selesai memeriksa Queen. Setelah perawat pergi, Queen memanggil papa nya.
"Papa."
"Ya, Sayang."
"Keluarga yang lain sudah bangun, Pa?seperti Mama?"
Papa Mahendra tidak langsung menjawab. Papa Mahendra menatap mama Zailine. Memastikan mama Zailine siap bicara dengan Queen tanpa menangis. Kepala mama Zailine mengangguk dan air mata jatuh di pipinya. Mama Zailine mendekat. Queen bangun dan duduk di bantu Papa nya. Ada beberapa luka selain luka di kepala.
"Ini Mama, Sayang." Mama Zailine menggenggam lembut jemari Queen.
"Mama. Akhirnya Queen bisa ketemu mama setelah cukup lama Queen berharap bisa bertemu dengan keluarga kandung Queen. Tapi Queen tidak bisa lihat sekarang. Maafkan Queen ya Ma karena bertemu dalam kondisi Queen seperti sekarang. Pasti mamah sekarang sedih sekali."
Air mata Mama Zailine semakin deras. Mami Priscillia, Papi Aryan dan Papa Mahendra ikut meneteskan air mata.
"Mama maafkan Queen kan? Biar mata Queen sembuh."
"Iya, Sayang."
"Mama pilek ya?"
"Iya, Sayang."
"Minum obat, Mama."
"Iya."
"Queen mau pipis." Queen ingin turun dari tempat tidur.
"Papa gendong ya, Sayang."
"Queen berat, Pa."
"Tapi badan Queen pasti masih sakit."
"Yang sakit kepala Queen, Pa."
Papa Mahendra dan Mama Zailine membantu putri mereka buang air kecil. Queen berusaha tidak manja meski dalam kondisi seperti itu. Hal itu membuat dada Mama Zailine terasa bertambah sesak jadinya.
Setelah selesai buang air, Queen kembali ke tempat tidur.
"Queen sarapan dulu ya." ujar mama Zailine saat pegawai rumah sakit datang membawa sarapan untuk Queen.
"Sarapan nya bubur ya, Ma?"
"Iya, Sayang. Kenapa?"
"heum, sebenarnya Queen enggak suka makan bubur, Ma. Queen suka mual kalau makan bubur, Ma."
"Mau papa belikan sarapan yang lain, Sayang?"
"Boleh kah?"
"Tentu boleh,Sayang. Jadi putri papa sekarang mau sarapan dengan apa?"
Queen langsung berpikir sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir. Salah satu kebiasaan Queen yang ternyata menurun dari mama Zailine.
Papa Mahendra, Papi Aryan serta Mami Priscillia terkekeh pelan melihat tingkah Queen sekarang
"kenapa kebiasaan mama yang ini nurun ke kamu, Sayang?" gumam lirih Mama Zailine.
"Queen mau makan nasi goreng boleh?"
"Coba papa tanyakan ke dokter dulu ya, Sayang. boleh atau tidaknya."
Queen mengangguk.
Papa Mahendra pun keluar kamar untuk menemui dokter yang bertugas.
"Queen, Sayang."
"Siapa ya?" Queen bertanya karena mendengar suara yang berbeda dengan suara sang mamah maupun papah nya.
"Ini Mami Priscillia, Sayang."
"Mami Priscillia siapa nya Queen?"
"Mami Priscillia itu istri nya papi Aryan. Yang mana Papi Aryan itu adalah kakak dari papa kamu, Sayang." Mama Zailine menjelaskan kepada Queen secara perlahan.
Queen hanya mengangguk saja.
"kepala Queen sakit boleh Queen tiduran lagi sambil nunggu papa datang, Ma??" tanya Queen saat merasakan sakit kepala.
"boleh sayang." Mama Zailine pun membantu Queen untuk kembali beristirahat.
tak lama papa Hendra kembali masuk ke dalam kamar rawat Queen dan melihat sang putri sedang beristirahat kembali.
Pintu kamar diketuk. Papi Aryan membuka pintu.
"Shasha, abang datanggg..." suara antusias Kenzie dan Kennard bersamaan dengan pintu kamar Queen yang terbuka.
Tentu saja suara tersebut mengagetkan Queen yang sedang beristirahat.
Kakek Arnawama yang berada di belakang Kenzie dan Kennard memukul pelan kaki Kenzie dan Kennard.
dugh...dugh
"Kalian bikin cucu kesayanganku kaget."
"awww sakit, Kek."
"Kejam kali Kakek tua ini."gerutu Kenzie
"Kenzie yang sopan!!" Mami Priscillia menjewer telinga Kenzie
"Aw aw Mih sakit"
William, Ken yang baru masuk ke dalam kamar rawat hanya bisa menggeleng melihat tingkah konyol kedua adik nya.
"Kalian ini baru juga sampai sudah buat keributan saja. Tuh lihat istirahat Queen sampai terganggu gara-gara gara suara toa kalian berdua." tegur papi Aryan ke kedua anak kembar nya.
"Queen enggak papa kok,Pi."
"Queen cuma ngerasa bingung karena enggak kenal dengan suara orang yang baru masuk. Memang siapa yang baru datang, Pi?"
Kata kata yang baru saja di keluarkan Queen tentu saja membuat bingung keluarga yang baru saja datang ke rumah sakit.
Mereka belum mengetahui sebuah fakta bahwa Queen mengalami kebutaan sementara.
William dan Ken saling tatap. Bingung mendengar pertanyaan Queen. Sementara Kakek Arnawama, Kenzie dan Kennard berdiri di dekat mereka.
"Yang baru saja datang ada kakek dan kakak-kakak, Sayang." Papa Mahendra menjawab.
"Oh. Maaf ya semua, mata Queen kelilipan karena kecelakaan jadi Queen tidak bisa melihat."
"Hen!?" Kakek Arnawama menatap tajam papa Mahendra. Meminta kepastian akan apa yang Queen katakan. Kepala papa Mahendra mengangguk. Papa Mahendra mengusap mata nya. Kakek Arnawama lemas hampir terjatuh, untung Kenzie dan Kennard sigap menangkap kakek Arnawama.
Kakek Arnawama di dudukkan di sofa. Mami Priscillia menyodorkan bibir gelas ke mulut kakek Arnawama.
"Minum dulu, Ayah."
"Mama, tadi Papi bilang kalau ada kakek ya?"
"Iya Sayang"
"Kakek!" Queen memanggil. Kakek Arnawama tak bisa bersuara, karena terlalu syok mendapati kenyataan cucu perempuannya buta.
"Kakek sedang ke kamar mandi." Papah Mahendra terpaksa membohongi putrinya.
"Padahal Queen mau menyampaikan salam dari nenek.o iya Queen boleh makan nasi goreng kan, Pah?"
"Iya Sayang kata dokter boleh. Queen mau makan? tadi sudah papah belikan nasi goreng di kantin rumah sakit. Princess ketemu nenek dimana sayang??"
"Mau Pah! Heum Queen bertemu nenek di taman yang bagus banget, Pa. Terus nenek pakai dress putih. Nenek bilang kalo nanti ada keluarga yang memberitahu Queen jika mereka adalah keluarga kandung Queen gitu, Pa. Nenek bilang kalo kalung yang dipakai Queen itu merupakan design khusus yang nenek buat. Benar itu,Pa??"
keluarga Pratama lain yang mendengar cerita Queen meneteskan air mata kembali karena apa yang di ceritakan oleh Queen mengingatkan mereka akan nyonya besar keluarga Pratama yang telah lama tiada. Begitu juga dengan kakek Arnawama.
"iya benar sayang."
"Queen, Mama suapin ya makannya." ucap mama Zailine mengalihkan pembicaraan.
"Iya Mamah"
Queen makan dengan lahap tidak mengetahui jika sedang di pandang sendu oleh beberapa keluarga nya yang baru mengetahui keadaan nya.
"Makan nya lagi, Sayang?"
"Sudah, Mama. Kapan Queen boleh pulang?"
"Belum tahu. Tunggu dokter mengijinkan Queen pulang ya."
"Tunggu Queen bisa melihat lagi ya, Papah. Mana obatnya biar Queen minum."
"Obatnya belum dikasih dokter. Queen jangan banyak bicara dan banyak bergerak dulu."
"Emh, ngantuk."
"Queen minum kemudian berbaring lagi."
"Iya, Papah."
Queen berbaring dan matanya terpejam. Kakek Arnawama diam dengan kepala menunduk dalam. Ken juga duduk termangu. Sesekali Ken mengusap matanya yang basah. William, Kenzie, Kennard, Mami Priscil, dan Papi Aryan juga diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Papa Mahendra dan mama Zailine di sisi tempat tidur memperhatikan putri mereka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 115 Episodes
Comments
inayah machmud
akhirnya Queen berkumpul bersama keluarga nya, semoga penglihatan Queen secepat nya kembali
2024-05-30
3