" Apa yang mama katakan?!"
Satu teriakan di ruang makan itu membuat semuanya terkejut. Meski mereka tahu itu suara siapa, tapi mereka kaget dengan suara keras Aaron itu. Tatapan tajam Aaron tujukan pada ibu tirinya itu, nyonya Ratih mendengus kesal.
Dia sebenarnya merasa berani menentang Aaron, tetapi dia tidak mau warisan yang di berikan suaminya itu akan di urungkan oleh Aaron yang memegang penuh kekuasaan di perusahaan DDA Group. Dia mendapat sepuluh persen saham milik suaminya yang telah di setujui oleh almarhum suaminya dan juga kakeknya, tetapi Aaron belum menyetujui saham itu sebagian milik nyonya Ratih.
Dalam benak nyonya Ratih, dia harus bersikap baik pada Aaron dan juga mertuanya. Meski tuan Adiyaksa menyetujui sepuluh persen saham perusahaan DDA Group, tapi laki-laki tua itu belum mau menanda tangani persetujuan wasiat dari suaminya.
"Sebaiknya mama pulang saja, jangan membuat keributan di rumahku," kata Aaron.
"Aaron, niat mama itu mau menjenguk kakekmu. Tapi gadis pelayan itu menghalanginya, bahkan kamu lebih percaya padanya. Dan apa tadi pak Gun katakan? Heh, dia benar-benar membuatku marah," ucap nyonya Ratih.
"Mama mau langsung pulang atau satpam mengantarkan mama sampai ke mobil?" tanya Aaron tidak mempedulikan ucapan ibu tirinya itu
Lagi-lagi nyonya Ratih kesal, dia menatap tajam pada Aaron, beralih pada pak Gun lalu pada Alya yabg sejak tadi merapikan rambutnya.
"Huh, baiklah. Mama akan pulang, lain kali mama akan datang lagi menjenguk papa mertuaku. Kalian tidak berhak mengusirku lagi, terutama pelayan sialan itu," ucap nyonya Ratih.
Dia pun berbalik, rasanya belum puas dia membuat Alya menderita. Suatu hari nanti, dia akan membalasnya. Begitu pikir nyonya Ratih ketika pergi meninggalkan mereka bertiga.
Pak Gun mendekati Alya, dia merasa prihatin dengan gadis itu yang tiba-tiba langsung di serang oleh nyonya Ratih.
"Kamu tidak apa-apa Alya?" tanya pak Gun memperhatikan kepala Alya.
"Tidak apa-apa pak Gun, hanya sakit sedikit saja dan rambut rontok beberapa helai saja," jawab Alya.
"Kenapa dengan rambutmu?" Aaron mendekat.
"Dia tadi di tarik rambutnya sama nyonya Ratih, tuan muda. Alya kesakitan," jawab pak Gun.
"Dia sampai menyerangmu?" tanya Aaron.
"Hanya menarik rambutku saja, tuan muda," jawab Alya merasa tidak enak karena Aaron khawatir padanya.
"Lain kali, lawan saja dia. Memang perempuan tua yang jahat, lawan dia," ucap Aaron.
Setelah berkata seperti itu, Aaron pun berbalik dan melangkah pergi. Pak Gun kaget, dia belum pernah mendengar majikannya itu menyuruh pelayan melawan nyonya Ratih.
"Pak Gun, apa saya harus melawan nyonya Ratih? Kenapa tuan muda memberitahu kalau saya harus melawan?" tanya Alya heran.
"Aku juga tidak tahu Alya, tapi sejauh nyonya Ratih berbuat salah dan kamu benar. Kamu bisa memberitahu baik-baik pada nyonya Ratih, memang tidak baik melawan orang tua. Mungkin tuan Muda berkata seperti itu karena sudah muak melihat keangkuhan mama tirinya itu," jawab pak Gun.
Alya mengangguk, dia mengerti apa yang di rasakan oleh Aaron. Dia juga sangat kaget tadi ketika tiba-tiba nyonya Ratih menarik rambutnya dengan kasar, bahkan seperti ingin mencincangnya.
"Oh ya pak Gun, ada yang ingin saya sampaikan," kata Alya.
"Apa?"
"Ini mengenai tuan besar, beliau ..." ucapan Alya terhenti karena ragu mengatakannya.
"Aku sudah tahu Alya, tuan muda yang memberitahunya," ucap pak Gun dengan tersenyum.
"Aah ya, pasti tuan muda yang memberitahunya ya. Oh ya, anda sudah selesai urusannya pak Gun?" tanya Alya.
"Ya, hari ini selesai. Dan kebetulan aku ada di jalan ketika tuan muda memberitahu kondisi tuan besar. Terima kasih Alya, kamu memang hebat bisa mengurus tuan besar," ucap pak Gun.
"Itu karena tuan besar sendiri yang ingin sadar, mungkin sudah lelah harus tidur terus di kasur, heheh," ucap Alya tertawa kecil.
"Apa yang kalian bicarakan? Siapa dia pak Gun?"
Tiba-tiba datang laki-laki berjas mendekat pada pak Gun. Pak Gun pun menoleh ke belakang, tampak tuan Jerry dan istrinya berdiri menatap Alya heran.
"Dia siapa pak Gun?" tanya tuan Jerry.
"Dia pelayan tuan besar, yang bertanggung jawab di kamar tuan besar, tuan Jerry," jawab pak Gun.
"Tadi dia bilang papa sadar? Benar itu?" tanya perempuan di samping tuan Jerry.
"Oh, bukan itu nyonya Andin. Alya berharap tuan besar segera sadar, dia hanya bekerja dan memperhatikan kesehatan tuan besar," ucap pak Gun, melirik pada Alya.
"Apa kamu berbohong padaku pak Gun?" tanya tuan Jerry menyelidik.
"Tidak tuan Jerry, saya mengatakan sesuai apa yang di katakan pak Gun," Alya yang menjawab.
Dia lupa kalau tadi sebelum memanggil Aaron, tuan Adiyaksa meminta jangan memberitahu siapa pun selain Aaron dan pak Gun kalau dirinya sudah sadar.
"Huh, kalian menyembunyikan sesuatu dariku. Dan dia, aku baru tahu kalau pelayan di kamar papa sudah berganti lagi, apa dia cukup di percaya untuk merawat papa?" tanya tuan Jerry.
"Anda jangan khawatir tuan Jerry, Alya sangat dapat di percaya," ucap pak Gun.
"Baiklah, terserah kamu dan Aaron saja. Yang penting aku bisa mendapatkan tanda tangan papa setelah beliau sadar. Oh ya, aku dan istriku mau menengok papa," kata tuan Jerry.
"Di kamar tuan besar ada tuan muda, mungkin anda harus bertemu tuan muda lebih dulu tuan Jerry," ucap pak Gun lagi.
"Heh, buat apa? Laki-laki tua itu papaku, kenapa aku harus izin dulu sama anak ingusan yang keras kepala itu," ucap tuan Jerry kesal.
Dia melangkah meninggalkan pak Gun dan Alya, di susul oleh istrinya nyonya Andin. Pak Gun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Aaron.
"Tuan Aaron, tuan Jerry ingin menjenguk tuan besar."
_
_
*******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Tri Handayani
0ternyata pkerjaanmu berat jga alya,,terlalu banyak musuh yg harus kamu hadapi.
2024-05-08
0