Tuan Adiyaksa memberitahukan kalau dirinya kini sudah sadar. Dia meminta pada Aaron untuk memanggil semua anggota keluarganya, anak dan menantu serta cucunya yang lain.
"Kakek sudah siap untuk memberitahu mereka?" tanya Aaron.
"Ya, kakek tidak mau harus berpura-pura belum sadar. Lagi pula kakek pengen keluar dari kamar, mencari suasana baru. Bukankah dokter Nicko mengatakan kakek harus lebih banyak bergerak," ucap tuan Adiyaksa.
Aaron diam, dia melirik pada Alya yang sejak tadi diam saja. Memang Alya selalu diam jika Aaron bicara dengan kakeknya.
"Lalu, kapan kakek akan memberitahu mereka?" tanya Aaron lagi.
"Panggil Gun saja, biar dia yang menyiapkan semuanya. Kakek rasa kamu sekarang sepertinya sedang bersekongkol dengan Alya," ucap tuan Adiyaksa.
"Bersekongkol? Sekongkol apa kek? Dia bahkan tidak tahu rahasia dan persiapan apa yang akan kakek lakukan," ucap Aaron.
"Nah, benar apa yang kakek pikirkan. Ternyata kamu ingin mengetahui semuanya tentang kakek dari Alya kan?"
"Ya ampun kakek, tentu saja aku ingin tahu keadaan kakek apa pun itu dari dia. Kakek ini kenapa sih."
"Dia punya nama Aaron, Alya namanya," ucap tuan Adiyaksa.
Aaron berdecak kesal. Kenapa kakeknya jadi curiga padanya, bahkan masalah Alya juga.
Sedangkan tuan Adiyaksa sendiri tersenyum simpul melihat kekesalan cucunya, padahal dia hanya menebak saja. Dan hanya menggoda Aaron, sekilas dia melirik pada Alya. Tentu saja gadis itu tidak bereaksi apa pun, datar saja.
"Alya, siapkan makan siang untukku," titah tuan Adiyaksa.
"Baik tuan," ucap Alya.
Alya berjalan meninggalkan kakek dan cucu itu, dia tidak tertarik pembicaraan keduanya. Meski dia memang di minta oleh Aaron untuk menceritakan apa pun yang di bicarakan oleh tuan Adiyaksa, padahal tidak ada pembicaraan rahasia apa pun sejak itu.
"Apa yang perlu di ceritakan, padahal dia sekarang sering sekali datang ke kamar tuan besar. Jadi tidak perlu menceritakan apa pun padanya," ucap Alya ketika keluar dari kamar tuan Adiyaksa.
_
Pak Gun dan Aaron bersiap untuk rapat keluarga besar Adiyaksa. Semua di panggil, dari cucu dan menantu serta anak-anaknya.
Nyonya Ratih dan kedia anaknya, Nima dan Alex, tuan Jerry dan nyonya Samanta serta satu anak laki-lakinya yang terpaksa pulang dari luar negeri. Tak lupa Aaron sang pemilik perusahaan besar DDA Group hadir di sana, entah apa yang akan di rapatkan oleh kakeknya malam ini.
Semua pelayan di rumah itu juga sibuk menyiapkan makan malam. Karena acara rapat keluarga di adakan setelah makan malam, tak lupa juga Alya sibuk menyiapkan semua keperluan makan tuan Adiyaksa.
Satu persatu sudah datang sejak sore hari, mereka berkunjung ke kamar tuan Adiyaksa untuk menyapa. Pak Gun yang sejak pagi mendampingi majikan besarnya itu, tugas Alya di alihkan oleh pak Gun. Dia hanya menyiapkan keperluan laki-laki tua yang kini sudah bisa jalan meski di bantu oleh tongkat.
"Alya, nanti kamu ikut berada di sampingku," ucap tuan Adiyaksa.
"Saya bukan keluarga tuan, kenapa saya harus ikut?" tanya Alya.
"Kamu sudah saya anggap keluarga, Alya. Aku tahu siapa kamu," ucap tuan Adiyaksa dengan senyum tipis.
Tentu saja Alya kaget, mimik wajahnya sedikit tegang. Entah apakah memang tuan Adiyaksa tahu dirinya bukan dari masyarakat bawah, tetapi dia anak dari seorang yang di sembunyikan identitasnya.
"Tuan besar, anda ..."
"Kupikir aku bersyukur kamu masuk ke keluargaku, Alya. Aku senang kamu merawatku sampai aku bisa bangun dari koma, itu berkat kamu." ucap tuan Adiyaksa, dia tahu Alya tidak mau di ketahui keluarganya.
Pak Gun yang sejak tadi masih mengurus berkas di meja, dia melirik Alya dengan tersenyum. Selama tuan Adiyaksa di rawat oleh Alya dan dia sering pergi itu untuk mencari tahu siapa Alya dan dari keluarga mana. Karena status pendidikan sarjana tidak main-main, meski lulusan sarjana ekonomi yang dia sodorkan ketika melamar kerja. Ternyata mempunyai ijazah lainnya yang sengaja di sembunyikan.
Dari sejak dua minggu Alya merawat tuan Adiyaksa, pak Gun mempercayakan pada Alya tuan Adiyaksa. Dan dia mencari tahu tanpa sepengetahuan Aaron, jadi saat ini Aaron belum tahu rahasia tentang Alya.
"Alya, terima kasih kamu mau merawatku, meski ada dokter Nicko dan perawat yang selalu memeriksaku setiap satu minggu sekali. Tapi berkat kamu aku sudah lebih baik," ucap tuan Adiyaksa yang sudah tidak membahas siapa Alya lagi.
"Saya juga berterima kasih tuan terus mengatakan yang sebenarnya saya ini," ucap Alya dengan tersenyum senang.
"Ya, ada saatnya nanti akan banyak yang tahu siapa kamu. Dan aku harap kamu yang akan mendampingi Aaron mengurus semuanya," ucap tuan Adiyaksa.
"Bukankah tuan Aaron memiliki seorang kekasih?"
"Mantan, Alya. Bukan kekasih lagi," ucap tuan Adiyaksa.
"Saya dengar dari para pelayan meski sudah jadi mantan, tuan gadis mantan itu sering kesini."
"Hanya satu tahun sekali, dia bekerja di luar negeri dan pekerjaannya itu membuatnya sibuk. Jangan hiraukan mantan, tugasmu nanti membantu Aaron," ucap tuan Adiyaksa lagi.
Alya diam, dia belum mengerti apa maksud ucapan tuan besar itu. Melirik ke arah pan Gun yang masih sibuk membereskan berkas di meja.
Alya memabntu tuan Adiyaksa berjalan menuju sofa, di mana pak Gun sedang mengecek semua berkas yang ada di tangannya. Laki-laki tua itu duduk di depan pak Gun dengan tongkat di depan sebagai tumpuan tangannya.
"Kamu sudah siapkan berkasnya, Gun?" tanya tuan Adiyaksa.
"Sudah tuan, tinggal anda tanda tangan saja. Ini semua sudah di susun sesuai dengan keinginan anda," ucap pak Gun.
"Hmm, aku akan berikan sesuai apa yang mereka lakukan selama ini. Aku juga akan jelaskan semuanya, bahwa pembagian aset ini tidak serta merta di kuasai sepenuhnya oleh mereka. Tapi harus ada persetujuan dari Aaron, mereka harus bekerja dengan baik selama dua tahun. Baru bisa memiliki sepenuhnya aset pemberianku itu," kata tuan Adiyaksa.
"Tapi, tuan Jerry meminta hotel dan vila itu tuan, tuan Jerry ingin Aaron melepasnya dan membiarkan tuan Jerry yang mengelola sendiri. Tapi tuan Aaron tidak mau," kata pak Gun.
"Ya, itu juga atas instruksiku. Dia tidak boleh memberikan hotel dan vila pada Jerry, karena tidak akan becus mengurusnya," ucap tuan Adiyaksa.
Pak Gun mengangguk saja, Alya juga diam. Dia tidak mengerti mengenai harta yang di miliki oleh tuan Adiyaksa.
"Tuan Jerry juga minggu lalu datang menemuiku, dia meminta agar tuan mau memberikan hak secara penuh dari anda untuk mengelola hotel dan vila," kata pak Gun.
"Dia itu tidak becus, makanya aku tidak yakin akan memberikan hotel dan vila yang ada di Bali itu di tangani oleh Jerry."
Tiba-tiba,
"Jadi papa tidak percaya padaku?"
_
_
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Eemlaspanohan Ohan
lanjut
2024-05-11
0
Aditya HP/bunda lia
wah ternyata keluarga Alya juga bukan orang sembarangan ...
2024-05-11
0
Tri Handayani
ternyata alya bukan wanita biasa,,,d mana-mana harta dan kekuasaan selalu jdi rebutan dan ppermusuha.
2024-05-11
0