Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti

"Om masuk duluan. Jadi kalo beneran ada setan, nanti om tembak dia..." ucapnya, ada ada saja si andi-andi lumut ini, raga yang lelah seketika bisa tertawa kembali melihat tingkah yang terkesan kekanakan dari Dina.

"Mana ada setan berani masuk kompleks tentara ndi, belum masuk aja udah kena mental dia-nya." Pras sukses membuat Dina mendelik.

Gadis itu berdecak di belakang badan besar Pras sambil menahan haz rat ingin mengompol, "ck...buruan ih Dina ngga kuat pengen pi pis dari tadi ih...."

Sejenak Pras menoleh padanya, "jadi dari tadi kamu nahan kepengen ngompol?" Dina mengangguk.

"Astaghfirullah, hantu kok takut hantu..." Dina refleks menepuk punggungnya keras membuat bahu Pras bergetar karena tertawa.

Sejurus kemudian Pras menarik senyuman usilnya, "astagfirullahhh!" teriak Pras tiba-tiba, membuat Dina seketika memeluk dirinya erat dan mencengkram pakaiannya, "ada om? Pocong bukan, atau genderuwo atau tante kun?" tanya nya yang justru sibuk memejamkan mata.

"Ndi, peluk abang erat-erat ndii....dia lagi duduk di meja makan sambil melotot tuh!" ucapnya lagi, membuat Dina semakin erat dan menempel, "aaaa, takut ah! Dina mau pulang ke rumah papih aja, ngga mau disini!" rengeknya.

"Sebentar abang coba bacain ayat kursi, bismillahirahmanirrahim allahu la ilaha illa huwal hayyul qayyum," lirih Pras membaca ayat kursi, diikuti Dina yang komat-kamit mengikuti.

"Udah pergi belum ih?!" tanya Dina semakin tak kuat menahan ingin ngompol.

"Bentar ndi...bentar...dia malah ikutan komat-kamit...."Prasasti menjadikan kesempatan ini untuk membalikan badan dan membalas pelukan Dina sambil mengecup-ngecup pucuk kepala Dina, membaui harumnya rambut sang istri sebagai obat rasa lelahnya seharian dinas di luar, jujur saja ia rindu dengan si bocil milk bun-nya, "la ta khuzuhu, si abang sayang andi...."

Merasa ada yang janggal, Dina mengurai cengkraman tangannya dan berhenti berkomat-kamit lalu mendongak, melihat wajah tersenyum keenakan Pras.

Bugh!

Kembali ia menyarangkan pukulannya, dan kali ini justru semakin intens sepaket wajah sehoror tante kun, "om boong ya!" Dina melemparkan tatapannya ke arah belakang badan Pras dimana tak ada apapun atau siapapun selain dari wajan kotor yang tadi pagi ia pakai, dan belum sempat dicuci bersama para tersangka-nya, dimana 2 ekor tikus sebesar-besar anak kucing sedang membaui wajan bekas telur itu.

Pras nyengir dan meledakan tawanya, "tikus ndi," alisnya naik turun.

Grekkk!

Pras langsung mengaduh seketika saat kaki Dina menginjak kakinya, salahnya yang telah melepaskan sepatu deltanya, padahal si andi manis belum melepaskan sepatu ber-hak miliknya, "awwwsssh!"

"Rese!" cebiknya bergegas berlalu masuk ke kamar mandi.

"Udah abang bilang ngga ada setan kan?!"

"Nah salah sendiri, abis masak ngga langsung dicuci, jadi diacak-acak tikus.." Pras mendudukan pan tatnya di kursi meja makan demi mengelusi kaki yang barusan diinjak dengan keras oleh Dina, meski sakit...tapi ia puas dan tertawa.

Dina keluar dari kamar mandi dengan delikan mata sinis, "kesempatan, dasar om-om mesum!"

"Mesum pun bukan zinnnaaa, ndi. Sudah halal, justru jadi pahala..." godanya justru semakin suka melihat wajah keruh Dina yang sebau combe ran.

"Bo do amat." ia menghentak lantai ke arah kamar, "ngga pengen mijitin gitu, ndi? Abang capek seharian dines loh," ia menyemburkan tawanya menggeleng saat Dina membalasnya ketus.

"Pijitin aja sama kapster ben cong!"

Dan sekali lagi, Prasasti tertawa kecil mendengar balasan Dina, "rela gitu ndi, suaminya dipegang-pegang pedang bengkok?"

"Rela banget! Banget...banget!" ketusnya berteriak dari dalam kamar, Pras kembali tertawa, "abang lapar ndi...mau makan sama apa?" Pras kini beralih membuka tudung saji yang tak sedang menutupi makanan apapun di dalamnya, ia juga mulai membuka kancing bajunya satu persatu, lalu menaruh itu ke dalam ember di kamar mandi.

"Makan hati!" jawabnya berteriak digelengi Pras, kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih.

.

Dina berdecak berkali-kali, ini sungguh bukan dirinya. Perubahan aktivitas, lingkungan secara drastis membuat mood dan perasaannya kacau. Kehidupan mewah yang mendadak harus terjun bebas, jujur saja... Dina kesulitan beradaptasi. Baru dua hari, dua hari...ia disini tapi ia sudah merasa menyerah.

Ia menyerot air hidungnya dan menyeka mata, lantas menangis karena terlupa tangan yang ia gunakan menyeka tangan bekas bawang. Semakin saja ia merasa kacau.

Ia melempar pisau dan berjongkok di bawah, meratapi nasib.

"Ndi, kenapa?" Baru saja Pras keluar dari kamar mandi, dengan seember pakaian seragam yang baru saja ia cuci ulang karena nyatanya Dina menyerah untuk mencuci seragam berbahan drill miliknya, setelah bahan itu mematahkan kuku-kuku cantik Dina.

Tak jua mendapatkan jawaban, Pras menaruh ember cucian di tempatnya berdiri saat ini, dan menangkup bayi besarnya.

Ia menarik tangan Dina dan membawa gadis itu ke halaman belakang, hanya sepetak tanah dengan lebar tiga meter persegian tempat dimana jemuran berada bersama beberapa barang-barang bekas tak terpakai seperti ember bolong dan perkakas kotor serta sumur yang ditutup oleh adukan semen dan telah ditumbuhi ilalang setinggi-tinggi paha di pinggiran tembok pembatas rumah.

Ia membawa Dina duduk di bangku kayu usang, lalu ia berjongkok di hadapan Dina, menyeka seluruh lelehan air mata gadis itu meski beberapa kali Dina menepis tangan besar Pras, menolaknya.

"Dina ngga betah disini. Udah dicoba terima, tapi ternyata ngga semampu Zea atau Cle..." ia jujur mengakui, "Dina ngga bisa, om. Dina nyerah..."

"Aturannya, lingkungan, tugas-tugasnya....belum lagi kondisi begini, Dina ngga bisa...." ia sesenggukan dan tanpa sadar sedang mengadu pada Pras.

"Om ngga tau, kemaren Dina dimarahin sama ibu-ibu gendut di depan istri prajurit lain cuma gara-gara sepatu Dina merknya Dior, tas Dina juga Hermes, jam tangan...apa salahnya sih, toh Dina juga ngga minta dari suaminya?!" ia mengadu seperti anak kecil, "emangnya ngga boleh ya, istri letnan satu pake barang branded, barang sekali aja! Bukan buat pamer kok, tapi emang nih barang udah jadi barang kesayangan Dina. Uang buat belinya juga bukan hasil korup!"

"Disini juga....udah panas, ngga ada AC, banyak nyamuk, sendirian pula, banyak tikus, kerjaan Dina udah mirip emak-emak saban hari kaya pembantu, kuku aja sampe patah-patah gini....ngga sepadan sama gaji om buat perawatan. Capek tau ngga, udah gitu masih pula dikasih tugas dari pimpinan ranting seabrek-abrek...Dina pengen liburaannnnn...traveling," ia menthesah lelah nan berat sembari menyeka air mata yang terus mengalir.

"Karena andi ngga ikhlas, jadi semuanya terasa berat." Jawab Pras menatap netra Dina yang memerah dan berkaca-kaca lekat-lekat, sesekali Pras mengelus punggung tangan mulus Dina yang ia genggam sejak tadi.

"Buktinya Zea, Clemira....mereka asik-asik aja jalaninnya, karena apa? Karena mereka ikhlas, karena mereka menjalani semuanya dengan seseorang yang mereka anggap partner hidup..." jelas Pras dengan sorot mata memohon, seolah ucapannya itu dipertegas oleh sorot mata.

Pras menunduk, "abang tau. Andi masih memendam rasa sakit dengan seseorang di masa lalu. Tapi bisakah andi memaafkan dan mengikhlaskan kisah masa lalu andi? Bisakah andi mulai menata hati dan memulai rajutan kisah bersama abang? Maka semuanya akan terasa mudah dan indah dijalani, meski hanya sebuah kesederhanaan.."

"Abang tidak akan memaksa andi, jika andi memang tidak mau mencuci, atau andi tidak mau memasak, kita bisa lakukan itu bersama sebagai partner hidup....tapi tolong bantu abang untuk merakit dan membangun hubungan yang telah diridhoi Allah ini dengan ikhlas, tanpa melibatkan masa lalu lagi," pintanya.

Dina membalas tatapan Pras yang telah mengangguk memintanya mengiyakan.

"Dah, pagi-pagi ngga usah nangis gini. Ntar ibukota kena banjir..." ucap Pras menyeka pipi dan sekitaran dagu dan mata Dina, hanya dengusan sebal yang Dina keluarkan diantara sisa-sisa sesenggukannya.

"Nanti abang beli mesin cuci, biar andi ngga perlu repot cuci pake tangan, abang juga beli kipas angin biar di rumah ngga panas. Untuk seragam yang kotor banget, biar abang cuci sendiri...ngga usah nangis lagi, kuku yang patah nanti abang ganti perawatannya pas udah gajihan, liburan? Nanti kalau ada waktu luang setelah dines luar abang biasanya punya sehari atau 2 hari buat libur..." jelasnya lagi meniup-niup kuku-kuku tangan Dina.

"Masalah tikus, sama area belakang ini, nanti pas weekend kita kerja bakti buat bersiin. Kalo abang nugas, andi bisa nunggu abang di rumah Tama atau Saga, atau juga tetangga...biar nanti sepulang dinas abang jemput. Masalah terselesaikan..." pungkasnya.

Masih dalam kediamannya, Dina masih memandang Pras dengan perasaan yang entah ia harus bilang apa, karena saat ini ia justru malu pada pria itu. Ia begitu egois, begitu manja, dan begitu judes...tapi pria ini begitu sabar menghadapinya yang menyebalkan, padahal mungkin saja di luar sana banyak wanita yang siap mengantre untuk Prasasti.....

"Diliatin terus, apa andi mulai sayang abang?"

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

H

H

😂😂😂😂

2025-03-13

0

Lalisa

Lalisa

ih Abang

2024-11-15

0

Lalisa

Lalisa

terharu sama kata katanya om Pras

2024-11-15

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2 Part 2 ~ Gagal move on
3 Part 3 ~ Bartender untukmu
4 Part 4 ~ Ngga kenal
5 Part 5~ Titip Separuh hati
6 Part 6 ~ Hati yang terluka
7 Part 7 ~ Keputusan besar
8 Part 8 ~ Terkejut-kejut
9 Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10 Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11 Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12 Part 12 ~ Meyakinkan hati
13 Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14 Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15 Part 15 ~ Soto susu
16 Part 16 ~ Touching
17 Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18 Part 18 ~ Pemanasan
19 Part 19~ 'Meramaikan'
20 Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21 Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22 Part 22~ A lot of change
23 Part 23~ Benih-benih bersemi
24 Part 24 ~ See you again
25 Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26 Part 26 ~ Kasmaran
27 Part 27~ Kasmaran 2
28 Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29 Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30 Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31 Part 31 ~ Perwira sayang istri
32 Part 32 ~ Bittersweet 1
33 Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34 Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35 Part 35 ~ Rayuan maut
36 Part 36~ Candu
37 Part 37~ Judul kisah kita
38 Part 38 ~ Takut Hamil
39 Part 39~ Teror
40 Part 40~ Saksi kunci
41 Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42 Part 42~ Snow White
43 Part 43~ Membaik
44 Part 44~ Bertemu
45 Part 45~ More than anything
46 Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47 Part 47 ~ Kerja bakti
48 Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49 Part 49~ Surprise
50 Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51 Part 51~ Penampakan
52 Part 52 ~ Si Jahil
53 Part 53~ Sensitif
54 Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55 Beda jalur otak
56 Part 56~ Show the world
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2
Part 2 ~ Gagal move on
3
Part 3 ~ Bartender untukmu
4
Part 4 ~ Ngga kenal
5
Part 5~ Titip Separuh hati
6
Part 6 ~ Hati yang terluka
7
Part 7 ~ Keputusan besar
8
Part 8 ~ Terkejut-kejut
9
Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10
Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11
Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12
Part 12 ~ Meyakinkan hati
13
Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14
Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15
Part 15 ~ Soto susu
16
Part 16 ~ Touching
17
Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18
Part 18 ~ Pemanasan
19
Part 19~ 'Meramaikan'
20
Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21
Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22
Part 22~ A lot of change
23
Part 23~ Benih-benih bersemi
24
Part 24 ~ See you again
25
Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26
Part 26 ~ Kasmaran
27
Part 27~ Kasmaran 2
28
Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29
Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30
Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31
Part 31 ~ Perwira sayang istri
32
Part 32 ~ Bittersweet 1
33
Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34
Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35
Part 35 ~ Rayuan maut
36
Part 36~ Candu
37
Part 37~ Judul kisah kita
38
Part 38 ~ Takut Hamil
39
Part 39~ Teror
40
Part 40~ Saksi kunci
41
Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42
Part 42~ Snow White
43
Part 43~ Membaik
44
Part 44~ Bertemu
45
Part 45~ More than anything
46
Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47
Part 47 ~ Kerja bakti
48
Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49
Part 49~ Surprise
50
Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51
Part 51~ Penampakan
52
Part 52 ~ Si Jahil
53
Part 53~ Sensitif
54
Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55
Beda jalur otak
56
Part 56~ Show the world

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!