Part 6 ~ Hati yang terluka

Jika biasanya yang mereka lakukan adalah berenang bersama persis kawanan bebek, meski Zea Arumi tak mahir berenang dan seringnya berjemur di pinggir kolam. Maka kali ini mereka harus memikirkan kegiatan yang melibatkan bayi.

Makan dan belanja bareng adalah jawabannya. Tak banyak yang dibeli Dina, mengingat bajunya udah seabrek-abrek di rumah. Mana baju-bajunya lebih mahal ketimbang yang ada di tanah air, model apapun ia miliki, termasuk dari brand lokal hingga luar.

"Gue beliin baju buat ponakan gue ini aja ah! Gue tunggu sampe kamu gede ya boy, buat dijadiin pacar auntyyyy!" Dina paling suka mencium aroma bayi, menurutnya bayi itu wanginya alami, menenangkan ngga kaya orang dewasa yang udah kebanyakan dosa. Ia meraih pakaian kodok dengan tema dinosaurus untuk bayi gemoy Zea.

Zea menepuk jidatnya, "lo nya keburu nenek-nenek peak."

Clemira tertawa renyah seraya menikmati gelato dalam cup miliknya, "lagian abang gue ngga mungkin mau punya mantu kaya lo."

Dina mencebik, "yakin Ze? Gue walaupun udah nene-nene tapi perawatan loh! Ngga akan kalah sama gadis usia 17an..." balasnya.

"Ogah. Lo lebih pantes sama om Pras..." lirih Zea membuat Dina tersedak salivanya sendiri lalu bergidik geli, "amit-amit. Tukang gombal receh begitu? Mana nyebelin...." dan obrolan mengenai Prasasti seketika membuat air muka Dina berubah kecut. Yang lebih si alnya lagi, selama hangout ketiganya moment beberapa hari ke belakang yang kebanyakan isinya bareng om-om rese itu terputar bak rewind sebuah kaset di otak Dina.

Prasasti...

Prasasti...

Prasasti....

Sudah seperti iklan sabun.

Ia benar-benar menolak semuanya, takut akan sakit hati lagi di kemudian hari, seperti yang sudah-sudah, lubang menganga di hatinya saja bahkan masih sangat berdenyut.

Biasanya cowok tukang gombal gitu tuh, ngasih cintanya murah untuk semua cewek bahkan cuma-cuma kalo bisa beli 1 gratis 1. Ambil logika nya saja, jika Prasasti lelaki baik-baik, mana mungkin di usianya yang sudah menginjak usia 27 tahun itu ia masih jomblo?! Padahal parasnya cukup lah, cukup termaafkan kalo dibawa ke kondangan, meski item.

"Kenapa ngga dicoba buka hati buat cowok baru, Din? ya....cowok nusantara may be?"

"Siapa? Om Pras?!" tanya Dina, masih memilah-milah kembali kemeja-kemeja mungil untuk D.

Zea menoleh horor, sementara Clemira tersedak kembali sampai gelato itu meleleh di bibirnya, "ya ampunnn. Otak lo masih nyangkut di om Pras?" tanya Cle.

"Kita lagi ngomongin om-om songong itu kan?" tanya Dina menoleh, menghentikan kegiatannya memilih baju.

"Lah, emangnya cowok nusantara cuma om Pras doang?" tanya Zea.

"Cieeee, kerlingan awakmu nih! Acikiwir!" godanya memancing mata menyipit nan geli Dina.

Selesai.

Dan Dina hanya membeli apa yang ia butuhkan untuk hidup di singa putih, barang tanah air yang sedikit sulit ia dapat di negri orang itu, dan harganya cukup mahal disana.

"Mie instan, sambel, kerupuk----" ia mengabsen satu persatu barang di dalam keresek swalayan tadi. Tugasnya adalah kembali mengantar duo istri prajurit kembali dengan selamat ke rumah, jangan sampai ia ditembak mati di tempat oleh para suaminya.

Dadahhhhh!

Dina kembali menginjak pedal gas dan mengemudikan mobil itu melewati deretan gedung bagian dari batalyon. Deru suara pesawat sesekali terdengar bergemuruh mengingat ini adalah landasan udara. Tatapannya sesekali jatuh pada langit khatulistiwa yang membiaskan aura senja indah, dan langka ia temukan di negri singa putih.

Sejenak Dina menepikan mobilnya tepat di lapang kesatuan yang luas, hawa hangat sisa panas tadi siang mulai menyapu kulitnya bersahabat.

Dina terdiam sejenak demi merasai ini, akan ia simpan ini dalam memorynya dan ia bawa ke negri singa putih.

Jepret!

Potret langit di lanud markas udara ia potret.

*See you again beautiful*....

Tulisnya di status media sosial. Tanpa ia duga layarnya menscroll secara otomatis pada pembaruan teranyar.

**Deg**!

Potret William bersama Celia begitu mesra di atas kapal pesiar, dengan caption *4'th month anniversary, thanks honey*...

Ia ingat Celia sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri, teman kamar yang ada disaat suka dan duka. Tapi nyatanya Celia justru menghianati pertemanannya dengan menjalin hubungan bersama William, alis Dina mengerut menahan rasa sedih yang menyeruak hingga ke sarafff mata. Ia bahkan memejamkan matanya, semakin saja kilasan moment itu terlihat di ingatan.

4 bulan artinya selama 3 bulan terakhir hubungannya dan William, keduanya sudah menjalin hubungan di belakang Dina. Dan penghianatan kali inilah yang begitu membuat Dina hancur. William sudah menjanjikannya masa depan yang indah untuk keduanya, bahkan Dina sudah mengenal baik keluarga William.

Pertengkaran hebatnya dengan William dan Celia saat ia memergoki keduanya sedang berhubungan layaknya sepasang suami istri di apartement William, memaksa Dina menyudahi hubungan toxicnya baik dengan William maupun dengan Celia. Meski rasa untuk William masih sangat kuat mengungkung hati Dina. Entah kapan luka hatinya itu bisa sembuh.

Dina sesenggukan saat menggeser gambar yang memang diunggah lebih dari satu itu, betapa terkejutnya ia ketika menemukan gambar Celia yang mengabadikan potret alat tes kehamilannya dengan begitu riangnya.

Segera saja ia masuk kembali ke dalam mobil dan tancap gas begitu cepat, sampai-sampai ia lupa jika kini ia sedang berada di lingkungan militer.

Amarah, rasa muak, dan kekecewaan kembali menyeruak sampai merasuki pikiran jernihnya, ia terus menggeber kecepatan mobilnya, melewati beberapa orang tentara yang sedang berlari atau sekedar olahraga sore tanpa permisi dan mengundang decakan kesal.

"Woy!"

"Astaghfirullah!"

Pras yang kebetulan melakukan olahraga sore harinya itu masih duduk di pos serambi depan bersama prajurit yang berjaga berteman segelas kopi instan.

"Kapan jadwal piket, bang?" tanya nya.

Belum sempat Pras jawab, suara laju mobil melintas dengan deru berat tanda jika sang empunya memaksakan kinerja mesin itu terdengar bak kilat, melintasi jalanan kompleks militer itu yang sontak saja mengundang atensi dari petugas jaga.

"Woahhh! Siapa itu?!"

Prasasti ikut tergelonjak. Mereka langsung beranjak keluar untuk segera menghadang sosok di balik kemudi mobil yang melaju cepat itu.

"Tahan, bang. Mumpung masih di depan. Sebelum masuk jalan raya!"

Prasasti ikut melompat dan berlari mengejarnya, Dina yang sudah sesenggukan tak sabar untuk segera melaju cepat meninggalkan tempat itu sejauh mungkin, namun arus lalu lintas yang cukup padat di depan gerbang lanud membuat gadis dengan amarah meluap-luap itu nekat membunyikan klaksonnya berulang kali, meminta kendaraan yang menghalangi jalannya menepi atau sekedar memberi jalan untuknya, ia ingin pergi....berlari....sejauh mungkin!

Bunyi berisik klakson itu berulang kali dibunyikan membuat kegaduhan dan keriuhan di sana.

Huuuu!

Woyyyy! Lo gilaaa?!

Turun lo!"

Begitulah seruan yang dilemparkan pengendara lain untuk Dina.

Penjaga pos disana mencoba menenangkan para pengemudi, sementara Prasasti sudah mendekati mobil Dina, ia mengernyit demi mengenali mobil hitam itu, "bocil?"

"Iya ini mobil si bocil!" gumamnya yakin.

"Cil, turunn!" pinta Pras mengetuk-ngetuk jendela mobil Dina, di dalam sana Dina sudah terisak menangis lirih. Kenapa ia harus menangisi para pengkhianat breng sek itu, jawabannya karena hatinya terlalu sakit hingga ia tak dapat membedakan yang mana yang harus ia tangisi dan tidak.

Dina sampai memukul-mukul dadanya yang teramat sesak dan pegal lalu menundukan kepalanya di stir.

"Cil!!" teriak Pras sudah seperti mo nyet.

"Dina!! Buka!" bentak Pras. Gadis itu menegakan kepalanya dan membuka kaca jendela mobilnya hingga menampakan wajah marah nan tegang Pras.

"Kamu be go apa di be go-be goin?!" namun pertanyaan itu langsung tergantikan dengan uluran tangan Pras yang meraih kunci dan handle pintu lalu masuk.

Melihat wajah berurai air mata Dina cukup bikin Pras syok, tapi ia harus segera menepikan mobil Dina dan mengamankan gadis itu dari amukan masa.

"Bawa ke pinggir!" bentaknya lagi tegas dan dituruti Dina sambil ia yang sesenggukan. Mobil perlahan mundur dan menepi ke dekat pos jaga. Melihat pengendara lain yang sudah ditenangkan para penjaga pos, kini perhatian Pras kembali pada gadis di sampingnya yang masih sibuk menangis.

Ia tidak bicara dan tidak melakukan apapun, selain dari menangis. Dina menyeka air mata yang sudah banjir di pipinya lalu bersandar dengan tatapan kosong.

Pras menghela nafasnya, "ngga kaya gini caranya kalo kamu punya masalah. Kamu tuh manusia berpendidikan, kamu juga bukan bocah...sudah bisa membedakan yang mana yang salah dan mana yang benar...dan aksi kamu barusan tidak dibenarkan."

Ia menyunggingkan senyuman kegetiran dan selanjutnya air matanya kembali mengalir.

"Saya antar pulang." Ucapnya tak tega melihat gadis ini pulang sendirian dengan keadaan kacau begini, lagipula ia tak bisa menjamin jika Dina akan melakukan hal nekat lainnya di jalan.

Pras keluar dari bangkunya dan meminta Dina menggeser duduknya agar ia bisa mengemudi, "minggir, biar saya yang bawa."

"Saya bukan cenayang. Ataupun psikolog...tapi kalau kamu butuh seseorang untuk mendengar, telinga saya masih normal untuk sekedar menerima cerita." lirik Pras khawatir.

Tapi Dina diam saja, tak berniat menyahut bahkan menoleh pun tidak, ia seperti sedang asyik dengan pikirannya sendiri. Hingga laju mobilnya sampai di gerbang rumah Dina, gadis itu tetap diam.

"Kamu ngga mau turun? Udah sampai di rumah...saya tidak bisa lama-lama, hanya mengantarkan saja."

Namun Dina justru semakin keras menangis lirih, "tega....sampai hamil om."

"Ha?" Pras membeo.

Dina membuka pintu mobilnya tanpa mau menjelaskan lebih pada Pras, ia berniat masuk. Sontak saja Prasasti ikut keluar karena salah penafsirannya.

"Tunggu!" tahannya.

"Kamu hamil?!" pria ini sungguh terkejut dan jujur saja di dalam sana, ada sebagian hati kecilnya yang remuk mendengar itu.

"Apa?!!!" mama Dina yang berada di halaman luar dan tengah menyiram tanamannya praktis ikut terkejut mendengar itu, niat hati ingin menyapa dan menyambut aang putri ia malah mendengar ucapan tabu bagi seorang gadis terlebih itu putrinya.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lalisa

Lalisa

aduh jadi salah faham semua nih

2024-11-13

1

Endah Setyati

Endah Setyati

Waduuh,,salah sangka nih mami Dina,,apa bakal jadi jalan Pras buat dapetin Dina nih,,🤪🤪

2024-08-07

1

Susilawati

Susilawati

nah nah alamat salah paham besar nih

2024-07-28

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2 Part 2 ~ Gagal move on
3 Part 3 ~ Bartender untukmu
4 Part 4 ~ Ngga kenal
5 Part 5~ Titip Separuh hati
6 Part 6 ~ Hati yang terluka
7 Part 7 ~ Keputusan besar
8 Part 8 ~ Terkejut-kejut
9 Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10 Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11 Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12 Part 12 ~ Meyakinkan hati
13 Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14 Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15 Part 15 ~ Soto susu
16 Part 16 ~ Touching
17 Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18 Part 18 ~ Pemanasan
19 Part 19~ 'Meramaikan'
20 Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21 Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22 Part 22~ A lot of change
23 Part 23~ Benih-benih bersemi
24 Part 24 ~ See you again
25 Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26 Part 26 ~ Kasmaran
27 Part 27~ Kasmaran 2
28 Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29 Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30 Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31 Part 31 ~ Perwira sayang istri
32 Part 32 ~ Bittersweet 1
33 Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34 Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35 Part 35 ~ Rayuan maut
36 Part 36~ Candu
37 Part 37~ Judul kisah kita
38 Part 38 ~ Takut Hamil
39 Part 39~ Teror
40 Part 40~ Saksi kunci
41 Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42 Part 42~ Snow White
43 Part 43~ Membaik
44 Part 44~ Bertemu
45 Part 45~ More than anything
46 Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47 Part 47 ~ Kerja bakti
48 Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49 Part 49~ Surprise
50 Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51 Part 51~ Penampakan
52 Part 52 ~ Si Jahil
53 Part 53~ Sensitif
54 Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55 Beda jalur otak
56 Part 56~ Show the world
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2
Part 2 ~ Gagal move on
3
Part 3 ~ Bartender untukmu
4
Part 4 ~ Ngga kenal
5
Part 5~ Titip Separuh hati
6
Part 6 ~ Hati yang terluka
7
Part 7 ~ Keputusan besar
8
Part 8 ~ Terkejut-kejut
9
Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10
Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11
Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12
Part 12 ~ Meyakinkan hati
13
Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14
Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15
Part 15 ~ Soto susu
16
Part 16 ~ Touching
17
Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18
Part 18 ~ Pemanasan
19
Part 19~ 'Meramaikan'
20
Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21
Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22
Part 22~ A lot of change
23
Part 23~ Benih-benih bersemi
24
Part 24 ~ See you again
25
Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26
Part 26 ~ Kasmaran
27
Part 27~ Kasmaran 2
28
Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29
Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30
Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31
Part 31 ~ Perwira sayang istri
32
Part 32 ~ Bittersweet 1
33
Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34
Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35
Part 35 ~ Rayuan maut
36
Part 36~ Candu
37
Part 37~ Judul kisah kita
38
Part 38 ~ Takut Hamil
39
Part 39~ Teror
40
Part 40~ Saksi kunci
41
Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42
Part 42~ Snow White
43
Part 43~ Membaik
44
Part 44~ Bertemu
45
Part 45~ More than anything
46
Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47
Part 47 ~ Kerja bakti
48
Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49
Part 49~ Surprise
50
Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51
Part 51~ Penampakan
52
Part 52 ~ Si Jahil
53
Part 53~ Sensitif
54
Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55
Beda jalur otak
56
Part 56~ Show the world

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!