Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek

"Ma, Dina ngga hamil...kalo perlu tes aja! Jadi mami sama papi batalin tuh surat perjanjian unfaedah yang minta om Pras nikahin Dina," ia terus mengekori maminya mulai sejak maminya membuka pintu rumah hingga kini mamihnya itu meneguk air minum di pantry.

Lirikan mata mami pada Dina penuh sorot kesal, meski rayuan dan rengekannya sudah persis si bulgoso minta iga sirip, sayangnya mami kadung tak percaya lagi akan kata-kata Dina yang dianggap telah menghianati kepercayaannya.

Keperluannya tadi pagi pun, adalah untuk mengabarkan jika Dina telah dipersunting oleh seorang abdi negara pada keluarga besar, sungguh cilaka 12 untuk Dina! Jika kabar itu sudah sampai di telinga amma dan dato'nya maka selesai sudah. Nasi sudah terlanjur menjadi bacang.

"Bilang pada Prasasti, papi mengajaknya mengobrol masalah uang panai, Amma bilang langsung saja pada prosesi massuro, tak perlu itu mammanu'manu lagi.."

Dina mulai menangis panik, "mi, Dina ngga mau nikah miiii.." kini ia berujar serius penuh kepiluan, "mamihhhh..." rengeknya lagi merayu.

"Shhhh, ah! Tau ngga, sikap kamu tuh udah kelewatan?!" balik maminya malah memarahi.

"Kemaren bilang hamil, bikin semua orang geger sampe papi keluarin pistolnya dari brangkas, siap- siap nembak Prasasti. Bikin mami jantungan, tau! Sekarang kamu bilang kamu engga hamil, terus ngga mau nikah?! Mau kamu apa sih?!" alisnya naik tinggi-tinggi dengan intonasi tak percaya.

"Mamih cape Din, mamih udah kadung bilang sama keluarga besar dato' sama amma...kalau kamu dipinang orang, udah deh...kamu ngga usah berulah lagi, please! Mulai sekarang mamih mesti sibuk ngurusin pernikahan kamu yang udah kadung rame di keluarga besar, mana bisa dibatalin...muka mami sama papi mau ditaro dimana?!" marah mami menunjuk wajahnya yang kini melotot, bahkan ia menepis udara tak peduli dengan Dina yang sudah memelas persis anak kucing yang terbuang.

Rencana kembali ke negri singa putih terpaksa harus ia tunda demi menuntaskan masalah ini. Dina menatap nanar kepergian mamahnya.

"Ini gue mesti gimanaa? Ngga mau nikahhhh----" ia bahkan sudah mengacak-acak rambut panjangnya dan melempar dompet, kunci mobil serta ponsel yang ada di tangan demi melampiaskan kekesalannya.

"Aaaa!" jeritnya di tengah rumah, bikin para penghuninya terkejut, kemudian ia berjongkok menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan tangan.

Dina tak mau datang ke lanud demi bertemu dengan Zea dan Clemira, baginya datang kesana seperti mendatangi sarang ular derik. Bertemu dengan Pras sungguh membuatnya ingin mengacak-acak markas militer itu.

"Tolongin gueee----" rengeknya sudah menangis, Clemira masih saja menertawakan nasib Dina, sementara Zea, wanita itu sudah bersungut-sungut puas mengomeli Dina sambil menikmati kentang goreng dan jus strawberry miliknya. Hari ini adalah miliknya, baby D dititip maminya.

"Jangan salahkan ibu mengandung, salahkan bapak yang kepalang tanggung....jangan salahin mami sama papi lo, apalagi om Pras, salahin diri lo sendiri, kenapa bisa sebe go ini..." sruputtt! Zea kembali menyedot jus miliknya.

Clemira melahap kembali slice pizza yang tersisa, "udah sii, terima aja. Jadi istri kacang ijo juga ngga rugi-rugi amat, ya ngga Ze?" jelas Cle sedang meminta suara Zea yang sontak diangguki ibu satu anak itu.

Suasana cafe ini tak terlalu ramai, mengingat mereka datang kepagian dari jam makan siang.

"Lo udah bilang sama om Pras, kalo papi lo minta *beliau* datang ke rumah?" tanya Clemira sukses membuat Zea tersedak sampai batuknya membuat matanya berair, *shiittt beliau*!

"Bahasa lo," omel Zea, bukannya mengapa, Clemira justru tertawa akan ucapannya sendiri. Berbeda dengan kedua temannya yang sudah tertawa sejak tadi, Dina memilih memasang tampang merengutnya, sebagai bentuk hati berkabung nasionalnya.

"Lo mau denger saran gue sebagai temen lo ngga Din?" kini Zea berujar serius, mengesampingkan piring kentang yang telah hampir habis setengah, lalu menarik tissue. Dina yang sejak tadi memangku dagunya lesu hanya menatap Zea malas sembari terus saja mengaduk-aduk minumannya, "apa? Menyesatkan ngga?"

"Si alan." tawa Clemira, "setan kali ah...sesat, biar ngga tersesat pake guugle map..."

"Mendingan sekarang lo datengin pengajian mamih gue, terus minta ustadzahnya jelasin dalil sabar dan ikhlas, karena menurut gue, baiknya mulai sekarang lo mesti belajar ikhlas menerima kenyataan...."

Dan semakin meledaklah tawa Clemira, "saravvv. Belajar ikhlas mah ngga usah kejauhan sampe nyamperin guru ngaji tante Rieke, peak...."

Bibir Dina semakin manyun saja, hingga tiba-tiba notifikasi ponselnya berbunyi di samping gelas yang sedang ia aduk-aduk saja isinya sejak datang dari dapur, kali aja kan tuh capuccino berubah jadi adonan roti kalo terus diaduk.

"Nomor siapa nih? Yayasan yatim piatu bukan, sih?" Dina mentap icon pesan whatsapp itu dan isinya membuat kesabaran yang setipis tissue itu benar-benar musnah, "lo ngasih tau nomor gue sama om Pras, ya Cle?!" sungutnya menyalak lantas memperlihatkan isian pesannya.

*Hey calon istri...siang ini ditunggu di kantor kesatuan, ada interview buat jadi calon pengantin. Atau* ***andi*** *mau abang jemput*?

Cle menyipitkan matanya termasuk Zea, "lah...salah kirim kaliii!" sewot Clemira, "ini si pengirim mau jemput si andi..." tunjuknya sukses membuat Zea menyemburkan jus strawberry hingga meleleh di mulutnya.

"Ih jorok!" sahut Cle dan Dina.

"Ini kita tuh kumpulan apa sih, kok isinya cantik tapi tak berbobot?" tanya Zea mendesis mengelap bibirnya.

"Andi tuh maksudnya adek, kacanggggg!" sungut Zea pada Clemira. Clemira meringis sementara Dina akhirnya dapat tersenyum meskipun hanya tipis, meski kemudian fokusnya kembali teralihkan dengan pesan dari nomor yang tak ia save.

*Save! Ini nomor pangeranmu*....

Dina bergidik jijik, namun ada rasa tergelitik yang terasa di hatinya membaca itu. Ini sih fix nomor om-om julid itu...dari bahasanya aja udah keliatan!

Dina yang emoh-emohan akhirnya ditarik paksa oleh Clemira dan Zea. Ia bahkan digusur sejak dari cafe, Zea yang mengemudikan mobil dan Clemira menahan Dina, dasar teman-teman laknutttt, *Iyang!!!! Tolong gueeee*!

Drama tarik menarik itu berlanjut hingga lanud, bahkan adegan itu menjadi perhatian para tentara di gerbang.

Prasasti pun ada disitu, ia baru saja datang dari kantor di sela-sela jam istirahatnya. Ia cengengesan melihat Dina yang ditarik bak sapi kurban.

Matanya sedikit menyipit menghalau sinar matahari, jujur saja Dina memang cantik dan menggemaskan menurutnya, meski nantinya mungkin ia harus sedikit ekstra menghadapinya.

"Udah lepasin gue! Gue udah terima dibawa kesini!" Dina ngambek dan melipat kedua tangannya.

Matanya menatap sengit melihat Pras juga ada disana.

"Sorry babyyy, kita cuma mau yang terbaik buat lo...kalo gitu yang lancar interviewnya, yang anteng disana. Kalo lo butuh bantuan atau info...telfon aja, kita langsung meluncur ke kantor."

Keduanya masih diam menatap Clemira dan Zea yang menjauh seraya cekikikan berseloroh. Prasasti tak tunggu lama lagi, ia langsung melancarkan aksinya menghampiri si bocil milk bun-nya.

"Udah kenyang jajannya?" ia memajukan wajahnya membuat Dina melakukan gerakan ingin menggigit ujung hidungnya.

"Uhhh galaknya." Pras kembali cengengesan, "yuk..." ia memakai dan merapikan baret miliknya hingga kini terlihat kegagahannya berkali-kali lipat, lalu mengulurkan tangan pada Dina.

Dina hanya memandang itu dengan hati mencelos, beginikah akhir nasib cintanya, berkali-kali gagal dan dihianati hingga harus merasakan sakit teramat lalu akhirnya tak ada angin tak ada hujan, takdir membawanya mendarat pada seorang ksatria yudha dirgantara negri? Definisi landed on you.

Uluran tangan kekar dihiasi urat-urat yang sebagiannya terlihat kasar, apakah bisa menggenggam tangannya dengan penuh kelembutan nantinya? Sungguh diluar dugaannya, bahkan ia tidak pernah bermimpi menikah dalam waktu dekat, dengan orang asing pula.

"Kenapa? Saya baru cuci tangan. Abis dhuha juga, ganteng ya sampe ditatap lama gitu..." ujar Pras bangga.

Dina mendengus sumbang sambil membuang muka, meski selanjutnya ia kembali menatap Pras, "om serius mau kita nikah?" tanya Dina.

Prasasti menaikan alisnya sebelah, "lalu kamu pikir saya main-main? Saya sudah menyerahkan lembar pengajuan pernikahan beserta syarat-syaratnya sampe bela-belain ganggu pekerjaan hari ini. Dan kamu tau, solat dhuha kali ini saya benar-benar meminta rejeki sama Allah, biar bisa sediain panai terbaik buatmu...."

Dina bimbang, tangannya mulai terulur namun ragu, hingga akhirnya ia menurunkannya kembali, "gue udah ngga percaya cowok lagi." sengitnya menatap Pras tajam.

Prasasti menghela nafas berat, tak akan mudah membujuk dan membuka hati Dina yang telah seringkali tersakiti, "kalo gitu anggap saja saya cewek."

Dina mengernyit, "mana bisaaaa!"

Pras terkekeh, "udah buruan. Mulai panas nih, muka kamu mulai merahhh...nanti saya upahin jus jeruk abis dari kantor."

Dina menghentak langkahnya namun tak urung mendahului langkah Pras lebih dalam, "udah terlalu banyak minum, perut gue kembung!" omelnya.

"Loh, saya kira kebanyakan makan hati, makanya mau saya kasih minumnya..." susul Pras, demi apa kini Dina melepas sepatunya, sadar dengan apa yang akan Dina lakukan, Pras langsung berlari.

"Om om reseeee!" ia melempar sepatunya hingga mengenai punggung Pras, sehingga Pras mengaduh, namun tak hilang akal Pras memungut sepatu Dina dan membawanya bersamanya, "sepatu Cinderella nih!"

"Eh, om!!!!" Dina berlari mengejar sepatunya yang dibawa Prasasti.

.

.

.

.

Note:

\* Mammanu'manu : penjajakan

\* Massuro : lamaran.

Terpopuler

Comments

BukanOrang

BukanOrang

kk sin pliss banyakin novel novel abdi negara kaya gini,sumpah nagihin ga bikin bosen,love dehh😭🤣🔥

2025-02-01

3

H

H

😂😂😂😂😂

2025-03-12

0

Lalisa

Lalisa

🤣🤣🤣🤣

2024-11-14

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2 Part 2 ~ Gagal move on
3 Part 3 ~ Bartender untukmu
4 Part 4 ~ Ngga kenal
5 Part 5~ Titip Separuh hati
6 Part 6 ~ Hati yang terluka
7 Part 7 ~ Keputusan besar
8 Part 8 ~ Terkejut-kejut
9 Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10 Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11 Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12 Part 12 ~ Meyakinkan hati
13 Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14 Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15 Part 15 ~ Soto susu
16 Part 16 ~ Touching
17 Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18 Part 18 ~ Pemanasan
19 Part 19~ 'Meramaikan'
20 Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21 Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22 Part 22~ A lot of change
23 Part 23~ Benih-benih bersemi
24 Part 24 ~ See you again
25 Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26 Part 26 ~ Kasmaran
27 Part 27~ Kasmaran 2
28 Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29 Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30 Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31 Part 31 ~ Perwira sayang istri
32 Part 32 ~ Bittersweet 1
33 Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34 Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35 Part 35 ~ Rayuan maut
36 Part 36~ Candu
37 Part 37~ Judul kisah kita
38 Part 38 ~ Takut Hamil
39 Part 39~ Teror
40 Part 40~ Saksi kunci
41 Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42 Part 42~ Snow White
43 Part 43~ Membaik
44 Part 44~ Bertemu
45 Part 45~ More than anything
46 Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47 Part 47 ~ Kerja bakti
48 Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49 Part 49~ Surprise
50 Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51 Part 51~ Penampakan
52 Part 52 ~ Si Jahil
53 Part 53~ Sensitif
54 Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55 Beda jalur otak
56 Part 56~ Show the world
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2
Part 2 ~ Gagal move on
3
Part 3 ~ Bartender untukmu
4
Part 4 ~ Ngga kenal
5
Part 5~ Titip Separuh hati
6
Part 6 ~ Hati yang terluka
7
Part 7 ~ Keputusan besar
8
Part 8 ~ Terkejut-kejut
9
Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10
Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11
Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12
Part 12 ~ Meyakinkan hati
13
Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14
Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15
Part 15 ~ Soto susu
16
Part 16 ~ Touching
17
Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18
Part 18 ~ Pemanasan
19
Part 19~ 'Meramaikan'
20
Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21
Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22
Part 22~ A lot of change
23
Part 23~ Benih-benih bersemi
24
Part 24 ~ See you again
25
Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26
Part 26 ~ Kasmaran
27
Part 27~ Kasmaran 2
28
Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29
Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30
Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31
Part 31 ~ Perwira sayang istri
32
Part 32 ~ Bittersweet 1
33
Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34
Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35
Part 35 ~ Rayuan maut
36
Part 36~ Candu
37
Part 37~ Judul kisah kita
38
Part 38 ~ Takut Hamil
39
Part 39~ Teror
40
Part 40~ Saksi kunci
41
Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42
Part 42~ Snow White
43
Part 43~ Membaik
44
Part 44~ Bertemu
45
Part 45~ More than anything
46
Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47
Part 47 ~ Kerja bakti
48
Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49
Part 49~ Surprise
50
Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51
Part 51~ Penampakan
52
Part 52 ~ Si Jahil
53
Part 53~ Sensitif
54
Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55
Beda jalur otak
56
Part 56~ Show the world

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!