Part 2 ~ Gagal move on

Prasasti

Matanya tak bisa untuk tak memperhatikan gadis milk bun di depannya yang manis persis rasa gulali, bahkan memandangnya saja ia sudah merasa sakit gigi saking manisnya saat ia berbicara dan tersenyum. Fix, ia kelewat matang, ngeliatin gadis yang gayanya selangit persis personel black pink itu kok ya sangkur-nya langsung tegang, shiitt! Tole, bisakah kau tenang barang sedikit saja, minimal sampai menemukan yang halal! Olahraga nyatanya bikin fisik dan libi doonya terjaga dengan baik.

"Hey, om...hello!!! Turun udah nyampe! Om yang dari tadi cengo ini sawan naek mobil mewah apa gimana?" tegur Dina memecah lamunan mesum Pras.

Clemira benar-benar tergelak melihat wajah asem Pras, "ta ilerin juga nih mobil...sembarangan banget kalo ngomong." jangankan mobil non, pesawat tempur, kapal selam, bahkan onta betina pun sudah pernah ia tunggangi, ngga ada tuh acara melongo sampe ngiler!

"Hey bocil, jangankan mobil begini...macan betina aja saya tunggangi..." balasnya mengundang tatapan Tama dengan alis naik sebelah, mencoba mengartikan makna frasa yang ambigu itu sementara Dina, gadis itu sampai menutup mulutnya saking kaget, "ihhh, om ngga normal! Makanya kawin om, masa dari sekian juta perempuan di negri ini ngga ada satupun yang mau, sampe om harus nunggangin macan betina?!" Dina kini tertawa puas.

Clemira dan Tama tertawa dengan pemikiran Dina yang di luar nurul, maksud Pras belok kanan, otak Dina malah ngasih sen kiri.

"Peak, njirr.." umpat Cle yang langsung kena sentil Tama di bibir bawahnya.

"Ck. Otak kamu itu cil kacau ck...ck....udah 21+, ngga beres! Mesti dapet guru yang bener!!" balas Pras berdebat di depan rumah dinas Tama.

"Ya emang iya, umur gue udah 21 lebih 2 minggu kok. Kurang bener gimana, kampus gue kampus Internasional, loh...dengan dosen yang bergelar semua!" jawab Dina tak mau kalah. Perdebatan keduanya malah bikin tuan rumah pusing 7 keliling, Tama memilih melenggang masuk lebih dalam membiarkan kedua tamunya berdebat di depan rumah, tanpa mau menggadaikan kewarasannya meladeni kedua insan kurang akhlak itu, "dek. Coba tolong hangatkan lauk di meja," pinta Tama diangguki Cle.

"Om Pras ikut mampir dulu?" ajak Clemira yang sudah mengekori Tama masuk begitupun dengan Dina.

Sebenarnya ia mau, lumayan kan bisa numpang makan gratis, belum lagi kehadiran bocil 21 + itu, sepertinya Pras akan punya teman debat yang asik sambil nyemil tak seperti Tama yang banyak diamnya kalo diusilin.

Tapi mengingat di rumah belum cuci piring bekas makan tadi jadinya ia lebih memilih pulang saja, takut jika tikus gusur-gusur piring bekas makannya, mana piring di rumahnya cuma tinggal setengah lusin lagi.

"Ngga dulu, Cle. Saya langsung pulang saja deh..." pamitnya, Dina hanya menatap Pras dengan malas berharap tak bertemu kembali dengan teman dari suami temannya itu, "bye om! Besok-besok kalo aku kesini, diusahakan om jangan ke rumah Cle ya!"

Dan demi apa?! Ucapan Dina barusan membuat langkah Pras yang sudah menjauh barang 3 langkah kini kembali mundur dan memutuskan untuk masuk ke halaman rumah Tama, "ngedadak saya pingin minta makan, Tam."

Dina merengut kesal, "ck."

Emhhh! Dina menikmati klepon yang gulanya sampe lumer-lumer di mulut tanpa terganggu hal kecil apapun termasuk tatapan aneh Prasasti, "ini tuh apa ya, gue kok lupa Cle?! Maklum lah udah lama ngga balik, jadi lupa sama makanan tradisional negri sendiri..."

"Klepon." jawab Clemira dan Prasasti bersamaan, mata indah itu memicing mendelik pada Pras yang duduk di kursi sofa depan, "gue nanya nya Cle, bukan Clemira jejadian...nama om Clemira juga?"

Dan untuk apapun yang ada di dunia ini, hadirnya Prasasti yang selalu ngerecokin hidup Cle dan Tama saja sudah bikin rusuh, ditambah sekarang Dina bikin rumah sepasang pengantin baru ini bak arena tinju saat ini, atau lebih kepada panggung wayang?

"Saya bantu jawab cil, takutnya yang ditanya lagi sariawan atau justru ngga tau nama penganannya." Alibi Pras menutupi aib bahwa mulutnya memang seringkali nyerobot ucapan orang.

Clemira menggeleng kedua manusia berbeda generasi itu untuk kesekian kalinya bikin rumah adem ayem pengantin baru ini ramai seperti sidangnya maling ayam.

"Elu berdua bisa pada nyantai ngga? Ini rumah orang loh, bisa kan ngga saling debat gini, kalo berantem lagi...salah satu dari kalian, out!!" ancam Clemira. Dina melirik Pras dengan mata sinisnya yang tajam, kaya minta diasah terus dipake nombak ikan, sementara Prasasti sendiri malah tersenyum usil melihatnya, "rumah elo Cle, bukan rumah orang lain."

"Shhh--" Clemira melotot sementara Pras sudah cengengesan.

"Nih, bocil ini usir aja....suruh balik aja lagi ke singa putih." kontras dengan ucapannya, Pras justru sudah beranjak dari duduknya menuju pintu rumah, "kalo gitu sebagai the real men, saya yang pamit. Tam, ketemunya di kantor saja atau pas jogging, kebetulan malam ini saya ditugaskan oleh danru...saat ini rumahmu juga lagi ngga aman, ada macan betina lagi pms..."

Dina yang sedang melahap klepon itu seketika membeliak dan berniat melempar Pras dengan gelas, namun perwira itu keburu minggat secepat bayangan, seperti *black shadow*....julukan Pras di kesatuan.

"Si alan. Siapa sih dia? Bang Tama kenal om itu dimana, kok betah sih sama orang nyebelin gitu?!" rutuk Dina.

"Hah, lo sendiri disini mau numpang ngabisin jatah klepon gue dari mertua apa gimana?!" tegur Cle kesal, Dina nyengir dan menaruh kembali bulatan klepon ke 4nya ke atas piring, baru sadar atas kekurang ajarannya.

Tama yang sudah duduk di kursi seraya menatap layar laptop hanya tersenyum, "ngga apa-apa dek. Tamu itu wajib dijamu dengan baik. Nanti tinggal minta ibu buatkan lagi atau kamu minta resepnya mumpung masih di ibukota."

Clemira berdecak dan menyipitkan matanya ke arah Dina, "ini mah tamunya yang kebangetan, mas." gerutunya.

"Gara-gara lo nih, jadi gue mesti ngafalin resep. Otak gue masih ngebul ngafalin materi kuliah tau ngga?!" keluhnya mendapatkan tawa renyah Dina.

Kebiasaan dari negri orang sedikit banyaknya menjadi gaya hidup yang mulai melekat di diri Dina, termasuk clubing dan menggoyangkan badan di lantai dansa.

Seperti malam ini, selepas pulang dari kediaman Clemira ia tak langsung pulang melainkan mampir sejenak ke club malam yang menurut sepupunya cukup terkenal dan luxury di ibukota.

Hanya sekedar memanjakan lidah dengan bittersweetnya rasa wine atau sekedar mengobati kerinduan pada kebiasaan buruknya di negri singa putih sana bersama teman satu circlenya.

"Coba gue pingin nyicip wine disini, selengkap yang di sana apa engga?" Dina masuk ke lembah kemaksiatan itu dengan bergumam.

Suara degupan speaker dan pekaknya musik memanjakan pendengaran yang haus akan glamournya dunia malam, teringat kembali kejadian paling pahit yang masih membuat hatinya berdenyut, mendapati Wiliam sedang bercu mbu mesra dengan teman satu kelas Dina di club malam. Dina memegang dadanya yang tiba-tiba berdenyut sakit dan memilih tempat duduk di depan bartender.

Dina mengutarakan inginnya pada bartender yang segera meracik minuman miliknya, suara bising musik DJ yang meracik musik tak mampu menutupi suara hatinya yang lirih mengilasbalikan kejadian waktu lalu, dimana tempat semacam ini pula lah William menghianati cinta sucinya dan memilih pergi tanpa ucapan maaf apapun apalagi perasaan menyesal.

Hati nan remuk itu mendorong langkah Dina untuk meneguk wine sampai tandas lalu memintanya lagi pada bartender, awalnya hanya sebagai penghilang rasa sakit di hati, gelas kedua ia tujukan untuk kebahagiaannya sendiri.

Glek...matanya menyipit menahan aroma menyeruak dari minuman.

I'm just playing with you....

You don't mean anything to me....

Glek!

Minuman yang jauh dari kata sehat itu kembali meluncur menuju lambung Dina, gadis itu mengehkeh sumbang, uang tak ada artinya lagi untuknya. Tidak bisa membeli kasih sayang.....ia sibuk memejamkan matanya demi merenungi kisah yang terlukis di kertas putih hidupnya.

Selama ia sibuk meratapi nasib, nyatanya club malam yang sedang ia huni tengah menjadi target operasi militer. Beberapa orang pria masuk dengan tanpa seragam dinas loreng yang akan membuat ricuh tempat ini dalam waktu sedetik saja.

"Black shadow masuk duluan, bersama Road runner. Untuk sisanya bisa bertugas di luar dan menyergap seluruh akses keluar tempat ini..."

Siap laksanakan!

Prasasti hanya memakai celana jeans panjang sepaket jaket bomber merah ati dan sepatunya rapi, tak terlihat seperti seorang petugas aparat, sejak kasus yang menyeretnya ke bui, rupanya kemampuannya kini dibutuhkan oleh unit intel.

Bau menyengat menusuk hidung dan itu sudah biasa baginya selain karena ia yang seorang pria, mainan Pras pun seringkali keluar masuk tempat maksiat begini baik urusan pekerjaan maupun di luar itu.

"Black shadow come in..." ia melangkah mengedarkan pandangan diantara gegap gempita dan kerlap-kerlip club malam, bersama seorang rekan dan berpencar.

Netranya fokus pada satu titik dengan alis tebal yang mengernyit hebat, ia hafal betul dengan sosok yang kini duduk, bahkan pakaian yang dipakai pun masih pakaian yang sama.

"Ngapain bocil jam segini di tempat maksiat gini, cil?" gumamnya mendekati tempat dimana Dina berada.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

H

H

😂😂😂😂

2025-03-12

0

Lalisa

Lalisa

lah ketemu lagi

2024-11-13

1

Lalisa

Lalisa

si Dina kena razia

2024-11-13

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2 Part 2 ~ Gagal move on
3 Part 3 ~ Bartender untukmu
4 Part 4 ~ Ngga kenal
5 Part 5~ Titip Separuh hati
6 Part 6 ~ Hati yang terluka
7 Part 7 ~ Keputusan besar
8 Part 8 ~ Terkejut-kejut
9 Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10 Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11 Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12 Part 12 ~ Meyakinkan hati
13 Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14 Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15 Part 15 ~ Soto susu
16 Part 16 ~ Touching
17 Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18 Part 18 ~ Pemanasan
19 Part 19~ 'Meramaikan'
20 Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21 Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22 Part 22~ A lot of change
23 Part 23~ Benih-benih bersemi
24 Part 24 ~ See you again
25 Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26 Part 26 ~ Kasmaran
27 Part 27~ Kasmaran 2
28 Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29 Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30 Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31 Part 31 ~ Perwira sayang istri
32 Part 32 ~ Bittersweet 1
33 Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34 Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35 Part 35 ~ Rayuan maut
36 Part 36~ Candu
37 Part 37~ Judul kisah kita
38 Part 38 ~ Takut Hamil
39 Part 39~ Teror
40 Part 40~ Saksi kunci
41 Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42 Part 42~ Snow White
43 Part 43~ Membaik
44 Part 44~ Bertemu
45 Part 45~ More than anything
46 Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47 Part 47 ~ Kerja bakti
48 Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49 Part 49~ Surprise
50 Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51 Part 51~ Penampakan
52 Part 52 ~ Si Jahil
53 Part 53~ Sensitif
54 Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55 Beda jalur otak
56 Part 56~ Show the world
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2
Part 2 ~ Gagal move on
3
Part 3 ~ Bartender untukmu
4
Part 4 ~ Ngga kenal
5
Part 5~ Titip Separuh hati
6
Part 6 ~ Hati yang terluka
7
Part 7 ~ Keputusan besar
8
Part 8 ~ Terkejut-kejut
9
Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10
Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11
Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12
Part 12 ~ Meyakinkan hati
13
Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14
Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15
Part 15 ~ Soto susu
16
Part 16 ~ Touching
17
Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18
Part 18 ~ Pemanasan
19
Part 19~ 'Meramaikan'
20
Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21
Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22
Part 22~ A lot of change
23
Part 23~ Benih-benih bersemi
24
Part 24 ~ See you again
25
Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26
Part 26 ~ Kasmaran
27
Part 27~ Kasmaran 2
28
Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29
Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30
Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31
Part 31 ~ Perwira sayang istri
32
Part 32 ~ Bittersweet 1
33
Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34
Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35
Part 35 ~ Rayuan maut
36
Part 36~ Candu
37
Part 37~ Judul kisah kita
38
Part 38 ~ Takut Hamil
39
Part 39~ Teror
40
Part 40~ Saksi kunci
41
Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42
Part 42~ Snow White
43
Part 43~ Membaik
44
Part 44~ Bertemu
45
Part 45~ More than anything
46
Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47
Part 47 ~ Kerja bakti
48
Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49
Part 49~ Surprise
50
Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51
Part 51~ Penampakan
52
Part 52 ~ Si Jahil
53
Part 53~ Sensitif
54
Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55
Beda jalur otak
56
Part 56~ Show the world

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!