Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal

Jika harus satu begini ia jadi jalan terpincang-pincang, Dina menghentikan langkahnya dan membuka sepatu lainnya.

Belum kawin aja udah diginiin, tega njirr! Wajahnya sejak tadi merengut kecut, tak ada niatan untuk menebar senyum. Lihatlah si om-om kurang ajar di depan, ya jalan duluan, ya sepatunya di liat-liat sampe ke dalam.

"Ukuran kaki kamu kecil banget cil..." kritiknya.

Bodo amat, abaikan! Dina justru memilih menyipitkan matanya menjadikan kepala Pras target lemparan sepatu sebelahnya, sementara pria itu sibuk menganalisa sepatu sebelah Dina.

"Bismillah, lancarkan aksi jahat gue ya Allah! Kalo bisa sampe tuh om-om amnesia jadi ngga inget kalo pernah ngajuin pernikahan...dan ngga inget sama gue..." gumamnya berdo'a.

Wingggg!

Tapi tiba-tiba Dina tersentak kaget, lemparannya justru seketika ditangkap Pras, lelaki itu membalikan badannya bersamaan dengan Dina yang melempar.

"Wuitsss....." Pras menangkap dengan kedua tangannya memancing geraman kesal sekaligus lengu han kecewa Dina, "aaaaa----ngga kena lagi!" gerutunya menggeram.

Prasasti cekikikan melihatnya, "sayang sekali, andi belum beruntung...ini maksudnya mau dikasiin ke saya? Makasih loh! Kira-kira kalo saya jual laku berapa, ini Cahnel asli kan? Second gini lumayan lah ya buat nyawer biduan di acara nikahan nanti?"

Dina menggerutu, "Cahnel...Cahnel....lidah om tuh mesti diserut dulu kayanya serutan pensil..."

Ada saja jawaban yang membuat perutnya serasa di kocok, Prasasti kembali menghampiri Dina yang mogok melanjutkan perjalanannya, ealah! Ke kantor aja ngabisin waktu 15 menit, dan mereka belum ada setengah perjalanan. Ada saja aksi Dina yang membuat Pras harus memutar otaknya demi membujuk Dina, meski kebanyakan ia tak tahan pula untuk mengusili gadis itu.

Pras berjongkok di depan kaki-kaki putih nan mulus yang kini sedikit kotor karena berjalan di atas jalanan beraspal tanpa alas apapun.

Ia mendongak ke arah Dina dengan kernyitan alis menghalau sinar mentari yang semakin membumbung naik, "may i? Kaki-kaki kamu nanti merah, kalau sampe nginjek batu atau paku saya juga yang susah..." pintanya bermaksud ingin memasangkan sepatu di kaki Dina.

"Bilang aja om mau pegang-pegang, JANGAN NGAREP!" sengaknya kini berjongkok dan merebut sepatunya dari Pras masih dengan wajah tak bersahabat dan justru semakin tajam menusuk.

Melihat keringat yang mengucur dari pelipis ke area garis wajah Dina yang mulai memerah, Pras tersenyum tak tega.

"Panas ya?" ia melepas baret miliknya dan memasangkan itu di kepala Dina lalu cengengesan manis, "cocok. Cantik...my persit..." tak kencang, namun ucapan lirih itu begitu mengena dan langsung membuat Dina mengalihkan pandangan ketusnya salah tingkah, entahlah! Kali ini ia tak berniat melarang, menegur ataupun menghempas topi kebangaan para prajurit negri itu.

Pras beralih membantu Dina membuat simpul tali sepatunya, dan lagi-lagi Dina tak berhasil menepis tangan-tangan besar itu menyentuh tali sepatunya lalu membiarkannya begitu saja.

Dan kali ini, Pras tidak berjalan duluan, namun ia berhasil menggenggam tangan Dina yang meskipun pasif namun kini gadis itu tak memberontak seperti biasanya, lebih jinak. Entah mungkin, karena cuaca panas membuat otaknya ikutan meleleh dan oleng.

"Setiap jengkal langit bumi pertiwi aja aku jagain, apalagi setiap jengkal diri kamu..." ocehnya.

Niat hati bikin romantis, ucapan gombal itu justru memantik alis yang menukik dari Dina, "jijik."

Prasasti meledakan tawanya melihat dan mendengar reaksi Dina, karena gadis itu kemudian menarik tangannya dari genggaman Pras dan memukul keras bahu lelaki itu, bukannya diberi pujian sepaket senyuman manis, ia malah diberi tamparan keras, dasar bocilll! Ngga bisa diromantisin!

"Pikiran om-om tuh ngeres aja!" omel Dina berjalan meninggalkan Pras membuat Prasasti menyusulnya dengan larian kecil.

"Ini tesnya kaya gimana? Persis UTBK atau tes psikolog?" tanya nya duduk di ruang tunggu bersama Pras yang sesekali bertegur sapa dengan beberapa rekan, senior bahkan junior.

"Ya, semacam itu." angguk Pras.

Dina menarik nafas dan membuangnya berkali-kali sempat merapikan rambutnya yang panjang juga berkali-kali, "ini aku udah rapi belum, om?" tanya nya. Tidak dengan baju kelewat rapi persis orang yang lamar kerjaan. Hanya dress putih selutut dengan lengan panjang, tanpa hiasan yang menghalangi keindahan alami rambut seorang Dinata Mahika Jennar, akibat dari acara yang dadakan, karena awalnya ia memang tak berniat datang ke kantor kesatuan.

Bahkan Prasasti cukup dibuat terpukau dengan wajah cantik tanpa make up berlebih, yang orang-orang bilang make up ala korean girl itu.

"Ini coba rambutnya sebelah sini," pinta Pras modusnya yang memang ingin menyentuh Dina, gadis itu menurut saat Pras mengelus dan terlihat gelagat merapikan rambutnya. Jarak mereka yang terbilang dekat untuk ketiga kalinya setelah kejadian club malam, dan cafe arena golf itu membuat da rah Pras berdesir menumbuhkan satu rasa yang mampu membuat salivanya mendadak jadi pasir, berasa seret ditelan.

Dan adegan pamungkasnya adalah saat Dina dengan mata bulat terbingkai mascara dan eyeliner itu mengerjap padanya, "udah rapi? Kira-kira nanti om-om atau tante-tante di dalemnya galak ngga?"

Jakunnya naik turun lalu menyudahi aksi yang akan membuat dirinya tak bisa tidur nyenyak itu, "udah." Prasasti menggeleng, "insya Allah mereka baik, wong mereka manusia, bukan singa. Kecuali kalo mendadak berubah jadi macan, genggam tangan abang erat-erat."

Dina terkekeh renyah, dan tawanya itu serenyah wafer, menjiwir ujung hidung Pras begitu manja bagi Pras, "erat-erat, om manusia apa balon?"

"Mau masuk apa pacaran disitu, bang?" tegur staf disana yang rupanya sejak tadi nungguin keduanya manja-manjaan begitu.

"Ya?" keduanya membeo menoleh cepat.

Dina menarik-narik ujung dressnya bermaksud merapikan, hingga tak sadar menjatuhkan tas clutch miliknya yang ia taruh di pangkuan, "eh..." begitupun niat baik Pras yang hendak mengambilkan clutch Dina bersamaan dengan Dina yang ingin memungutnya juga.

Dug! Kening keduanya beradu.

"Aduh!"

"Njirrr ih!"

Mata indah itu menyengit dan mengusap keningnya, "om tuh kalo mau nunduk atau ngambilin bisa konfirmasi dulu ngga sih?"

"Kamu mestinya tau, gerak refleks saya itu cepat. Masa saya mau nunduk kamu ngga ngeuh..." Pras tak selebay Dina yang mengusap keningnya kencang sampai mengkilat, ia bahkan seperti tak merasakan apapun.

Staf kantor kesatuan sampai cekikikan melihat keduanya, baru sedetik yang lalu keduanya masih mesra, bikin nyamuk-nyamuk saja pada ngiri, namun kini keduanya malah berdebat sengit. Pasangan apa pula ini? Seriusan mau menikah kah?

"Ya om lah yang salah! Gue bisa ambil sendiri kok," sengitnya lagi.

"Ditolongin malah marah, nanti ngga ditolongin bilangnya ngga peka..." debat Pras.

"Gue ngga gitu ya! Gue wanita mandiri...."

"Mandi sendiri maksudnya?" debat Pras. Bibir manyun itu kembali, "gue ngga mau masuk kalo gitu, om aja masuk sendiri..."

Pras hampir saja menggigit kepalan tangannya dan menghela nafasnya panjang kalo bisa ngga usah dibuang-buang, "eeuuu..." geramnya mengepal gemas.

"Oke. Abang minta maaf sama andi, ya. Abang yang salah....nanti-nanti, kalo abang mau nolong lagi, abang woro-woro dulu, lewat masjid sekalian biar andi denger..." ujarnya, dan staf kantor tadi mengehkeh dengan getaran di bahunya akibat tertawa tanpa suara.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

H

H

😂😂😂😂😂😂

2025-03-12

0

Lalisa

Lalisa

duh 😂😂

2024-11-14

1

Lalisa

Lalisa

doamu ko jelek ya Din😅😅

2024-11-14

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2 Part 2 ~ Gagal move on
3 Part 3 ~ Bartender untukmu
4 Part 4 ~ Ngga kenal
5 Part 5~ Titip Separuh hati
6 Part 6 ~ Hati yang terluka
7 Part 7 ~ Keputusan besar
8 Part 8 ~ Terkejut-kejut
9 Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10 Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11 Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12 Part 12 ~ Meyakinkan hati
13 Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14 Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15 Part 15 ~ Soto susu
16 Part 16 ~ Touching
17 Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18 Part 18 ~ Pemanasan
19 Part 19~ 'Meramaikan'
20 Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21 Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22 Part 22~ A lot of change
23 Part 23~ Benih-benih bersemi
24 Part 24 ~ See you again
25 Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26 Part 26 ~ Kasmaran
27 Part 27~ Kasmaran 2
28 Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29 Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30 Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31 Part 31 ~ Perwira sayang istri
32 Part 32 ~ Bittersweet 1
33 Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34 Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35 Part 35 ~ Rayuan maut
36 Part 36~ Candu
37 Part 37~ Judul kisah kita
38 Part 38 ~ Takut Hamil
39 Part 39~ Teror
40 Part 40~ Saksi kunci
41 Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42 Part 42~ Snow White
43 Part 43~ Membaik
44 Part 44~ Bertemu
45 Part 45~ More than anything
46 Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47 Part 47 ~ Kerja bakti
48 Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49 Part 49~ Surprise
50 Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51 Part 51~ Penampakan
52 Part 52 ~ Si Jahil
53 Part 53~ Sensitif
54 Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55 Beda jalur otak
56 Part 56~ Show the world
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2
Part 2 ~ Gagal move on
3
Part 3 ~ Bartender untukmu
4
Part 4 ~ Ngga kenal
5
Part 5~ Titip Separuh hati
6
Part 6 ~ Hati yang terluka
7
Part 7 ~ Keputusan besar
8
Part 8 ~ Terkejut-kejut
9
Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10
Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11
Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12
Part 12 ~ Meyakinkan hati
13
Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14
Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15
Part 15 ~ Soto susu
16
Part 16 ~ Touching
17
Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18
Part 18 ~ Pemanasan
19
Part 19~ 'Meramaikan'
20
Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21
Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22
Part 22~ A lot of change
23
Part 23~ Benih-benih bersemi
24
Part 24 ~ See you again
25
Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26
Part 26 ~ Kasmaran
27
Part 27~ Kasmaran 2
28
Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29
Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30
Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31
Part 31 ~ Perwira sayang istri
32
Part 32 ~ Bittersweet 1
33
Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34
Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35
Part 35 ~ Rayuan maut
36
Part 36~ Candu
37
Part 37~ Judul kisah kita
38
Part 38 ~ Takut Hamil
39
Part 39~ Teror
40
Part 40~ Saksi kunci
41
Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42
Part 42~ Snow White
43
Part 43~ Membaik
44
Part 44~ Bertemu
45
Part 45~ More than anything
46
Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47
Part 47 ~ Kerja bakti
48
Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49
Part 49~ Surprise
50
Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51
Part 51~ Penampakan
52
Part 52 ~ Si Jahil
53
Part 53~ Sensitif
54
Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55
Beda jalur otak
56
Part 56~ Show the world

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!