"Bang, grape jack..."
Ditatapnya Dina dari samping demi memastikan jika penglihatannya tak salah, Prasasti menyunggingkan senyumnya miring, "aturannya bocil tuh jam segini udah tidur di rumah, apa perlu saya kelonin?"
Dina menoleh ke samping dimana suara sumbang bapak-bapak terasa menyapa dirinya dengan mengerutkan dahi, akibat minuman yang sudah ia teguk penglihatannya sedikit mengabur, bahkan Pras saja jadi berbayang. Dina menggeleng dan mendengus sebal saat menyadari kehadiran Prasasti layaknya sebuah lelucon dari Tuhan untuknya, ia sampai celingukan ke sisi kanan dan kiri memastikan kalau ia tidak kepedean jika menjawab, "om nanya gue?"
Prasasti malah cengengesan, rupanya gadis ini sudah setengah mabuk.
"Pengennya ngga ketemu, tapi kenapa ya Tuhan tuh kirim terus orang kaya om di hidup gue, karma apa gimana sih?"ocehnya. Bukankah ocehan manusia diambang ketidaksadaran biasanya itulah isi hati yang sebenarnya? Apa ini?! Apakah pertemuan dengan pria seperti Pras adalah sebuah penyesalan?! Bocil! Emang minta di cipoxx sampe sesek nafas ini!
"Om sendiri ngapain disini?" tanya nya dengan alis yang mengernyit, ia lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling jika tempat dimana ia berada masih remang-remang, masih bersuara bising musik remix hasil karya dj, "ngga mungkin dong markas tentara pindah kesini?!" tawanya renyah meraih gelas berisi sisa wine yang tinggal sepertiganya dan hendak menyeruput isinya.
Pandangan Prasasti kini jatuh pada gelas yang dipegang dan hendak didekatkan dengan mulut, "disini tuh dilarang minum sendirian, ngga tau aturannya ya?" tangan Dina ditahan Pras, namun tak kehilangan akal, gadis ini justru memajukan wajah dan bibirnya ke arah gelas yang ada di tangannya demi bisa menyeruput minumannya.
Prasasti terkekeh gemas, "bocil...bocil...banyak banget akal bulusnya. Kalo saya bilang ngga boleh, ya engga..." ia menepuk kening halus Dina. Busettt! Itu kening apa tempat ice skating? Licinnn!
Alis hasil sulamannya kini mengerut kisut percuma saja, disulam seharga sawah sepetak kalo dipake ngernyit tetep aja bentukannya kisut, "kok ngatur-ngatur? Emangnya om siapa? For your information, aku udah hidup bebas sejak keluar dari rumah loh om, pokoknya hidupku itu gimana aku..." oceh Dina.
Prasasti tak kehilangan akal demi melarang Dina kembali minum, sebelum kesadaran gadis ini benar-benar hilang, entah kenapa hati nurani Pras begitu teriris melihat Dina begini, kemana gadis polos nan menggemaskan yang mendebatnya tadi di batalyon.
"Ini negri khatulistiwa, dan saya aparat penegak hukumnya. Maka kamu....warga bandel, mesti ikuti aturan saya.." ucapnya memajukan wajah dengan tatapan tegas memberikan peringatan dan lihatlah kedipan lugu Dina yang setengah mengantuk itu memancing rasa gemas Pras.
"Dan saya adalah warga negara yang ngga pernah telat bayar pajak...aparat itu digaji sama uang rakyat. Jadi harus nurut sama yang punya uang...ngga ada aturannya bos nurut sama karyawan."
Damn! She's right! Prasasti mengangguk seraya mendengus sumbang, Give applause untuk gadis ini, ia pintar.
"Kalo semua bosnya kaya kamu, maka negara ini hancur. Mari saya tunjukan bagaimana teori kamu itu bekerja, kalau pelayan itu melayani dan melakukan semua yang dilakukan bosnya."
"Kamu, minum maka saya temani dan saya layani..." Pras turun dari bangku bulatnya lalu berjalan menuju belakang meja bartender membuat Dina semakin mengernyit begitupun bartender yang terusir posisinya oleh pria ini.
Ia berbisik meminta sejenak menjadi bartender pribadi Dina, "oke. Apa yang kamu suka?" tanya Pras.
Dina menatap angkuh dan egois, jiwa kekanakannya muncul dengan begitu mendominasi, seolah ia ingin menunjukan sisi kekuasaan dirinya di depan Pras, bahwa ia tak terkalahkan.
"Cherry Wine '97. Pake es yang banyak."
"Kamu mau coba racikan saya?" tawar Pras menaikan sebelah alis Dina, "saya jamin kamu suka..."
Mulutnya melengkung meremehkan, "boleh. Kalo ngga enak gue ngga mau bayar dan om harus ganti kerugian bar!"
"Setuju!" jawab Pras. Lelaki ini dengan lihainya mencampur dan meracik minuman untuk Dina tanpa mengalihkan perhatian dari Dina sembari pendengaran yang mendengarkan mandat dan laporan dari road runner, kawannya.
Tatapannya mengunci netra lesu Dina, mata gadis itu sayu seperti menahan beban hati teramat, semakin membuat Pras iba sekaligus penasaran akan sosok Dina.
Segelas minuman tersaji di gelas mungil nan bening, sejenak Dina memperhatikan itu dengan seksama, "bukan racun kan?"
Pras yang telah kembali duduk di samping Dina menggeleng, "kalo racun saya yang masuk bui. Toh ada saksinya," tunjuk Pras pada bartender yang kini menggeleng melambai tak mau ikut terlibat masalah keduanya.
"Oke." tanpa menunggu lama-lama Dina meraih gelas itu, membauinya sekejap, "emhhh lemon..." nilainya diangguki Pras, "tapi aku suka cherry, om."
"Coba dulu."
Terlihat Dina yang meneguk dalam sekali tegukan, Pras sampai membuang pandangan demi menyadari jika Dina peminum, jujurly ia tak tega melihat gadis secantik ini dirusak minuman, akan jadi apa generasi muda bangsa.
Clap...clap...
Dina merasai dan menyipitkan matanya.
"Gimana?" tanya Pras, rasa baru nan nagih membuat alis Dina mengernyit sedikit, "enak...enak...untuk hal ini om keren," akuinya, "apa ini namanya? Siapa tau nanti aku bisa catet buat request.an..."
"Itu hanya saya yang punya resepnya." jawab Pras.
"Pelit," cebik Dina, "lagi dong om..." pintanya merengek. Tentu saja Pras menggeleng menolak, "sudah cukup, sebaiknya kamu pulang..."
Dina menggeleng, "masih mau disini."
"Mas!" Dina malah memesan kembali minuman.
"Cil!" tegur Pras menjauhkan gelas berisi minuman itu hingga membuatnya dan Dina berebut.
"Siniin om! Buruan, biar sakit hati aku ilang!" rengeknya memohon.
"Orang lain tuh cuma bisa bilang sabar--sabar doang, tapi ngga bisa ngerasain apa yang aku rasain...!" Dina justru menitikan air matanya di depan Pras.
Prasasti menggeleng, menahan gelas dari tangan Dina, namun Dina malah semakin kuat ingin merebut itu dari Pras hingga terpaksa Pras meneguknya sendiri hingga air mukanya sedikit nyengir saat minuman itu masuk ke dalam indera perasanya, "saya temani kamu minum," akhirnya ia tak tega meninggalkan Dina.
Wajah Dina datar menanggapinya, ia tak menggubris dan lebih memilih memesan kembali, "bilang aja pengen minum tapi ngga punya duit!" omel Dina.
Road runner come in, target menuju lantai dansa....
Pras tersadar ia sempat lalai dan lupa akan tugasnya, terpaksa ia harus meninggalkan Dina barang sejenak.
"Oke."
Ia lalu memegang kedua bahu Dina, "kamu tunggu disini. Biar nanti saya antar pulangnya."
Dina malah ketawa-ketiwi sendiri membalas peringatan Pras, tanda jika dirinya sudah mulai hilang kesadaran memancing lengu han berat Pras.
Lantas Pras berpesan pada sang bartender, "saya titip cewek ini, dia adik saya jangan sampai ada yang menyentuh...dan jangan dibiarkan dia pergi dari sana sebelum saya yang bawa!" ucapnya mewanti-wanti bartender, diangguki oleh pria itu.
Black shadow masuk dan ambil alih. Ucapnya melangkah besar.
Prasasti menyerahkan tugasnya pada personel lain ketika target operasi sudah berada di luar jangkauannya, ia menatap lelah sambil berkacak pinggang melihat Dina yang telah tepar tertidur di atas meja bartender.
"Cil...cil," gadis ini benar-benar sudah tak berdaya dan Prasasti mengangkatnya untuk ia antar pulang. Jam tangannya menunjukan jika waktu sudah pukul 1 malam.
Prasasti mengantarkan Dina dengan mengendarai mobil Dina, ia mendengus geli saat melihat mobil mewah itu, mengingat kejadian tadi siang saat Dina menegurnya yang disangka melongo karena terpukau dengan mobilnya, padahal gadis itu tak tau saja Pras terpukau dengan si empunya, pandangan Pras beralih pada gadis yang kini sedang digendongnya.
Ditatapnya lama-lama wajah tenang yang bak bidadari itu, pahatan paling sempurna yang pernah Prasasti temui selama hidupnya, "kamu itu cantik, saya saja sampe suka, cil. Tapi minus kamu itu mulut kamu yang kadang kaya ngga tau diuntung. Apa yang bikin kamu jadi kaya gini?"
Prasasti menyayangkan aksi Dina yang peminum ini, di kala usianya masih muda begini, gadis ini sudah berurusan dengan dunia malam, hidupnya terlalu bebas, lantas ia melirik keseluruhan lekuk tubuh Dina yang terbilang sexy itu, "astaghfirullah." ia menggeleng saat kesadarannya mulai dikuasai hawa nafffsuu dan memilih mengikat tubuh Dina dengan seatbelt. Kalo bisa ia akan menyelimuti badan Dina dengan karung sekalian biar ngga bikin sesuatu yang ada di dalam kelojotan.
Dilihatnya gerbang setinggi 2 meter di depannya, begitu mewah dan besar, lalu bergantian dengan ktp Dina, "ini rumahnya," satu kalimat saat Prasasti melihat itu jika nyatanya Dina memanglah anak orang berada.
Sadar jika kedatangannya disambut oleh pintu gerbang yang terbuka, memunculkan sosok security, Prasasti keluar dan berbicara dengan pihak security secara baik-baik.
Dina dibawanya ke dalam hanya sampai kursi teras depan saja. Untuk urusan selanjutnya biar security rumahnya saja yang memberitahukan itu pada keluarga Dina, dan ia pamit.
"Terimakasih pak."
Pras mengangguk dan untuk terakhirnya ia menoleh demi melihat Dina untuk yang terakhir kalinya lalu pergi.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Lalisa
kebelet kawin nih om Pras 🤣🤣
2024-11-13
1
◌ᷟ⑅⃝ͩ●Maldini●⑅⃝ᷟ
cantikk om🤭🤭😂
2024-05-11
3
༄༅⃟𝐐༄SN⍟MakMikha ˢ⍣⃟
Nikahin dulu baru di kelonin Om
2024-04-19
4