"Suruh bibi aja sihh om! Dina masih ngantuk!" keluh dan gerutunya dengan posisi Prasasti yang masih menangkup wajahnya, bahkan pria itu kini sudah mencapit pipi dan memonyong-monyongkan bibir Dina seperti ikan.
Sepertinya pikiran Dina masih nyangkut di rumah mewahnya hingga tak sadar jika kini ia lah bibi rumah asrama ini.
"Bibi disini itu, ya andi..." jawab Pras, ia berkali-kali menghela nafas demi mengumpulkan kesabarannya, dosa apa yang ia perbuat hingga membuat dirinya memiliki istri dengan sifat yang menguras kesabaran dan emosi begini?
Alisnya masih berkerut, kelewat gemas, Prasasti menyarangkan kecupannya di mulut mon yong Dina, manissss!
Praktis gadis itu mengerjap dan mencoba lepas dari cengkraman om-om mesum itu, sadar jika mata Pras sudah mengelam seperti semalam, Dina berusaha keluar dari romansa pagi itu. Bahkan mukena yang membalutnya pun tak lantas menurunkan gairah yang menggebu, dan Dina belum siap untuk adegan seperti semalam, mungkin saja kali ini tangisannya tak akan mampu menghentikan Prasasti untuk berbuat lebih, macam semalam.
Ia takut, takut kecewa untuk kesekian kalinya....sungguh, bukan karena Prasasti, melainkan karena hatinya telah terluka beberapa kali oleh lelaki.
Pernikahan sungguh bukan jaminan bertahannya sebuah hubungan, survei membuktikan lebih dari setengah hubungan pernikahan di dunia mengalami kegagalan yang disebabkan oleh berbagai macam sebab dan salah satunya adalah hadirnya orang ketiga...jika boleh jujur, Dina sempat meriset dan membaca beberapa artikel tentang banyaknya hubungan gagal seorang prajurit sesaat sebelum mereka menikah.
Bayangan kegagalan kisah cintanya di waktu lalu sedikit banyaknya membuat Dina membentengi diri, membawa persepsinya bahwa lelaki semuanya sama saja.
"Ck. Iya...iya! Dina bikinin!" ia segera ambil langkah seribu dengan terburu-buru.
Anak kost seperti dirinya sudah khatam dengan masak telor atau mie doang. Begitupun dengan masak nasi dalam penanak nasi instan.
"Ini berasnya dimana?!" teriaknya dari dapur seraya celingukan membuka setiap pintu lemari yang ada dan bibirnya melengkung mencebik, "kosong banget, waaa....ini asrama atau kampung spiderman? Isian pintu didominasi sarang laba-laba."
Prasasti memperhatikan gelagat Dina yang mencari-cari beras dan bahan makanan, "beras di toples besar deket kulkas, ndi.." ia menyadari jika Dina tengah menghindar dan kabur dari dirinya, apakah ia terlalu memaksa dan terburu-buru? Hingga membuat Dina menghindar. Prasasti menyenderkan punggungnya di tembok dekat gawang dapur, memperhatikan Dina yang saat ini sibuk memasak.
Dina membawa seluruh surai indahnya itu menjadi satu ke atas, mungkin dibandingkan Zea dan Clemira, gadis ini lebih intens melakukan perawatan diri. Lihatlah rambut blonde yang panjangnya sampai menyentuh pinggang itu, begitu bervolume dan sehat. Belum lagi wajah mulus dan setiap inci kulit Dina, jangan lupakan pahatan setiap inci wajahnya yang terbilang cantik.
Ia hanya tak habis pikir dengan para lelaki yang menghianati Dina, gadis secantik Dina mereka permainkan....
"Dina cuma bisa masak omelet, om. Cuma kadang ditambahin bahan lain, ngga apa-apa kan?" tanya nya menyadarkan Pras dari lamunannya.
"Oh, ngga apa-apa. Apapun abang makan." Diangguki Dina, "sip lah! Abang ngga pilih-pilih," pujinya mengoceh sambil mengocok telur yang ia ambil dari kulkas. Sambil menunggu nasi yang sudah ia masak dalam penanak, Dina menyiapkan temannya, termasuk meracik kopi yang meski dengan bahan seadanya, ia begitu luwes dan mahir.
"Nih ya, meski bahannya cuma seadanya yang ada di laci om. Dina bisa bikin enak..."
Kali ini Prasasti terpukau dengan aksi Dina, gadis itu tak semanja yang terlihat dan tak semanja seperti dugaannya selama ini. Sudah mirip-mirip barista saja, ia.
"Dina belajar dari temen barista di cafe yang ada di singa putih, om. Sama-sama perantau, tapi dia kuliah jurusan kuliner, tata boga. Emang sengaja, katanya mau nerusin bisnis keluarganya yang dari borneo. Punya perkebunan kopi di Borneo sama Gayo...satu pulau sama keluarga Clemira, meski ngga sebesar kebun kopi Ananta."
Dina duduk menyajikan kopi susu racikannya yang entah ditambah apa, Pras tidak begitu memperhatikan aksinya, ia lebih fokus memandang wajah cantik Dina, sepertinya ia benar-benar jatuh cinta pada Dina.
"Try," pinta Dina memainkan alisnya.
"Yakin nih, ngga akan jadi racun?" tanya Pras jelas berseloroh karena pria ini sudah meraih gelas berisi kopi.
"Ck. Kalo mati, paling Dina jadi janda..." jawabnya ngeselin. Dina juga tak lupa memberikan sentuhan taburan lada bubuk di atas omelete buatannya sesaat setelah menyajikan kopi.
Prasasti mengedutkan alisnya, tak ia pungkiri selain jago minum minuman keras dan tau jenisnya, gadis ini juga tau pasal kopi. Pengalaman memang guru terdaebak.
"Abang mau kopi ini ada di list pagi abang setiap harinya," ucap Pras disenyumi Dina, "ngga gratis loh!"
Pras kemudian merogoh saku belakang dan mengambil dompetnya, mengeluarkan selembar kartu tipis, "abang kirim uang bulanan rumah tangga kita kesini. Dan andi gunakan itu dengan bijak. Abang hanya ambil uang rokok dan sedikit tabungan saja untuk jaga-jaga, sesuaikan dengan kebutuhan kita sampai tanggal gajihan. Untuk bulan depan sudah pasti tunjangan istri masuk, simpan untuk tabunganmu membeli barang yang andi suka di kemudian hari...." dorongnya ke depan Dina, ia juga memperlihatkan saldo di dalam m-bankingnya yang tidak meninggalkan dusta. Karena langkah pertama Pras demi meraih kepercayaan Dina adalah dengan membuang semua ego, dan berlaku transparan.
"Om yakin percayain uangnya sama Dina?" tanya nya tak percaya saat melihat sisa saldo di rekening Pras dan isian rekening atm yang lelaki itu serahkan untuk Dina. Pasalnya baru Pras lah lelaki yang seterbuka ini dan seroyal ini pada dirinya, jumlah uang miliknya tak sebanyak jumlah yang Pras berikan untuk Dina.
"Why not, andi istri abang. Manager keuangan rumah tangga. Jika keuangan rumah tangga bobrok, maka andi yang abang evaluasi....sejak abang ucapkan ijab kabul di depan papi dan Allah, maka tujuan abang bekerja dan mengabdi adalah untuk menafkahi hidup andi," jawabnya, cukup memutar otak untuk memilih padanan kata yang tepat agar Dina mau mulai mempercayainya.
Dina sering menyimpan uang berjumlah ratusan juta di saldo rekeningnya, bahkan ia tak sungkan untuk menghamburkannya demi kepuasan pribadi, tapi entah kenapa saat menerima uang rumah tangga dari Prasasti yang tak seberapa jumlahnya, ada rasa khawatir dan segan tersendiri, apa karena si pemilik telah dengan ikhlas memberikan hasil kerja kerasnya setiap hari?
"Duh, kok Dina jadi merinding gini sih..." ucapnya menggumam yang mampu membuat Prasasti tertawa renyah.
"Udah abang jampein tuh, biar awet. Makanya bikin merinding disko!"
"Ish!" Dina menyambar kartu itu, suara jepretan penanak nasi menyudahi obrolan tentang biaya hidup.
Rasa makanan buatan Dina memang tak diragukan, sekian lama hidup mengembara menjadikan gadis manja ini mandiri dalam hal mengurus diri sendiri.
"Abang pergi dulu, kalo ada perlu ngga usah nyari ke kantor. Abang dines lapangan ke luar lanud hari ini..."
"Iya." Dina hanya menyembulkan kepalanya saja di balik pintu rumah.
Pras sudah hampir berlalu, namun kemudian ia menghentikan langkahnya dan berbalik, "oh iya. Jangan lupa, itu lehernya diplesterin...atau jangan deh...biar ibu-ibu disana tau kalo kita baru melewati malam panas semalem!" ucapnya tertawa geli dan melanjutkan langkahnya cepat, takut singa betina itu menyadari kelakuannya semalam dan ngamuk-ngamuk.
Mata Dina membeliak dan sontak meraba-raba lehernya, gadis itu segera berlari mencari kaca dan menjatuhkan pandangannya pada noda membandel berwarna merah keunguan di bagian leher kirinya, tepat di tengah-tengah.
"Ommmm Prassss reseee!!"
****
Dina sudah janjian dengan Clemira dan Zea untuk menghadiri kegiatan rutinan para istri prajurit bersama-sama.
"Dinnn!" ketik Clemira si pintu menampilkan sosok gadis dalam balutan baju lavender namun berbibir manyun, rambutnya masih terburai acak-acakan.
"Apa-apaan nih? Gue kira elu udah siap, Din?"
"Ini bajunya ngga ada model lain gitu, Cle...." Dina berujar sedikit tak suka.
"Lo pikir istri prajurit model, bukan buat gaya-gayaan peak...buruan ntar telat!"
"Masa gini, tuh....ngga fashionable..." unjuknya pada rok dan gaya busana semi jas.
"Gue potong boleh kali ya, cuma buat jadi outer, gaya dikit bisa lah ya.." Dina masih melihat-lihat pantulan dirinya di cermin.
"Apa yang salah sih sama modelnya. Ini tuh justru ngasih aura berkharisma tau ngga!" ucap Clemira yang langsung nyelonong masuk ke kamar dan ikut mematut dirinya di cermin.
Dina menggeleng, "harusnya modelnya mengikuti jaman, kan istri prajurit ngga semuanya tua."
"Dipikir kesatuan pabrik mode..." gumam Cle mendengus sumbang. Pandangan Clemira lantas mengernyit pada leher Dina yang belum terpasang plester, lalu tertawa mencibir, "apaan tuh, dicium gajah?!" tawanya menyibakan rambut yang memang sedang Dina ikat.
"Ck. Bukan gajah, tapi drakula item!"
Clemira semakin tergelak mendengar julukan Pras dari Dina, "om Pras hot juga, baru nikah udah bikin tanda aja...gimana rasanya malam pertama, enak pasti..." senggol Clemira.
"Sakit." jawab Dina singkat.
Clemira semakin tertawa geli, "iya sih emang sakit, apalagi kalo lo sama pasangan ngga pemanasan dulu. Lo gimana sih, ngga suka tapi mau dijebol juga...bilang aja enak..."
Dina menoleh saat memasang jepitan, "dijebol apanya? Dikira tanggul...semalem gue inget kejadian si William sama Celia, waktu om Pras cium gunung gue...jadinya gue nangis, inget waktu kejadian mergokin mereka selingkuh di belakang gue, sakit hati guenya..." akuinya jujur.
"Si alan, emang bini laknut...kasian banget om Pras cuma lo kasih susu tanpa susu, kenyang engga kembung iya...layu sebelum enak-enakan dong!" toyor Clemira.
"Terus maksud lo sakit, emangnya sakit apa, Cle? Pemanasan gimana? Pemanasan olahraga? Ngapain? Keburu cape..." tanya Dina berbalik.
"Ha?" Clemira tergagap, "minta tolong om Pras deh ajarin lo, dia pasti khatam...." tukasnya cepat, "buruan, si Zee pasti udah nunggu."
Dina mengerutkan alisnya, "pemanasan? Masa gue mesti olahraga dulu mau mp'an, lari keliling lapangan. Seriusan? Biar apa? Biar cape gituh, yang ada tepar duluan kali...." gumamnya bertanya-tanya sambil merampungkan sisirannya.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Lalisa
polosnya kebangetan s Dina mah..🤦🤦
2024-11-15
1
Lalisa
😂😂
2024-11-15
0
Lalisa
hhhh
2024-11-15
0