Bukan jawaban yang mereka dapatkan dari Dinata, gadis itu malah semakin keras sesenggukan dan terisak, tubuhnya sudah meluruh ke lantai.
Mama semakin murka, dan Pras dilanda panick attack, mana posisinya ia lah yang terduga disini, karena lelaki asing yang bukan mahrom Dina hanya dirinya selain dari security di depan.
"Kamu hamil?! Dinata Mahika! Jawab mamih!" wanita paruh baya dengan dress rumahan itu mengguncang bahu Dina kencang, tak peduli jika putrinya itu kesakitan ataupun otaknya tumpah-tumpah keluar dari lubang telinga.
"Ya ampunnn!" serunya syok, asam lambung, hipertensi, kolesterol berkumpul jadi satu bikin kepalanya kleyengan mendadak, sampai bibir yang terolesi liptint berwarna nude itu pucat seketika.
"Udah lari kemanapun tetep aja ngga bisa lupa. Hati Dina hancur...mau mati aja biar lupa," ocehnya menangis pilu dan semakin ambruk di teras marmer kediamannya itu.
"Kamu!" kini pandangan mengilat mama justru menunjuk pada Pras, "kamu lelaki kurang ajar!" ia meraih jaket Pras dan mendongak dengan wajah murkanya seorang ibu.
Mimpi apa ia semalam, jadi bulan-bulanan ibu-ibu begini?
"Tunggu bu, biar putri ibu menjelaskan dulu duduk permasalahannya. Saya tidak tau menau masalahnya. Hanya sekedar menolong saja saat putri ibu hendak diamuk masa di depan batalyon tadi." jelas Pras, tapi seolah tuli, ia tak mau mendengar ucapan Pras dan lebih percaya dengan apa yang ia lihat sekarang, kenyataan jika putrinya sedang menangisi kehamilannya.
"Bohongggg! Kamu harus tanggung jawab, anak saya jadi begini!" jerit mama semakin panik melihat Dina yang semakin terisak kencang. Sejak tadi dada dan bahu Pras digebukin layaknya samsak, untung saja ia terlatih untuk itu dan bahunya bukan terbuat dari adonan kue jadi tak langsung hancur saat mama Dina memukulnya berkali-kali.
"Dia ngga mikirin perasaan aku...huuhuuu..." Dina terus saja mengoceh semakin menggiring pemikiran mamahnya jika benar Prasasti adalah lelaki breng sek yang telah menghamili Dina.
"Saya prajurit bu, tidak mungkin saya begitu..." tolak Pras semakin dibuat pusing mendengar kedua wanita ini berisik, yang satu marah-marah sambil berusaha menyiksanya sampai menjadi bubuk rengginang, dan yang satu sibuk ngoceh ngga karuan sambil nangis pilu persis orang kena rampok serumah-rumah.
Prajurit pun manusia, pikir mama Dina, punya naf suuu!
Prasasti hanya bisa menggaruk kepalanya tak gatal karena bingung, terdampar dimanakah ia saat ini, apa isian rumah mewah ini adalah perempuan ga jelas semua?
Security yang mendengar tuannya menangis histeris kaya ketemu setan berikut majikan besarnya berteriak-teriak sambil ngamuk pada Prasasti persis orang kesurupan, langsung menghampiri.
"Bu, bu! Sabar bu! Ada apa ini?" tangannya refleks menahan sang tuan sembari wajah yang sedikit menjauh takut juga terkena pukulan wanita yang tengah diliputi kemarahan ini, salah-salah ia bertindak kena timpuk juga, keningnya ikut terluka, mana cincin yang terpasang di jari-jari majikannya itu bentukannya cukup mengerikan. Definisi ditabok berlian sebenarnya nyatanya tak semenggiurkan saat bernada selorohan.
"Tangkap orang ini, pak. Seret dia ke kantor polisi! Dia sudah hamilin anak saya!" jeritnya menunjuk-nunjuk wajah Pras, memancing reaksi terkejut dari security rumah.
"Waduh, engga gitu kejadiannya...aduhhh gimana ini?!" Pras dibuat bingung 7 puteran, tangannya masih sibuk mempertahankan dirinya dari serangan mama Dina yang memba bbii buta, tapi mulutnya sudah komat-kamit mengelak.
"Cil, ngomong dong! Jelasin ini kenapa, bukan saya pelakunya...." pinta Pras begitu membuat iba.
Namun Dina justru menoleh dengan wajah yang lebih menyedihkan, menatap Pras dengan tatapan nanar, "bisa ngga om, gue ikut om perang aja ke timur? Biar bisa langsung ditembak mati para pemberontak, gue ngga kuat mesti nanggung beban hati...pindah negara terus gue cape, toh ngga akan merubah apapun..." ia sudah kembali menepuk-nepuk dadanya keras tak peduli kesalahpahaman yang terjadi saat ini, termasuk tak peduli jika Prasasti nantinya akan digebukin sampai bonyok.
Dan pernyataan ambigu itu semakin membuat kesalahpahaman ini semakin larut.
"Cil!" bentak Pras.
"Waduuhhh..mas harus ikut ke kantor polisi ini..." ucap security.
"Tunggu dulu, pak." Tahan Pras.
"Tahan dia pak. Tunggu sampai suami saya datang! Kamu harus tanggung jawab!" kini mama Dina memberikan keputusannya sambil menunjuk hidung Pras meski harus sedikit mendongak.
Mama Dina menyeret lengan Pras yang masih berada disana ke dalam rumah, pikiran untuk memukul Pras sampai binasa pun diurungkannya.
"Masuk kalian! Bikin malu!"
Niat hati mengantarkan Dina dan membantu gadis ini justru berakhir dengan ia yang kena fitnah begini, hofftt! Kenapa ribet begini hidupnya?! Apakah karena ia yang kurang sedekah selama perjalanan hidupnya?
Papa yang diberitahu oleh mama langsung bergegas pulang dari luar kota, memakai jet pribadi, hingga tak membutuhkan waktu lama. Begitupun kakak lelaki Dina, Dion, sosok pria yang mungkin seumuran Prasasti itu mengikuti jejak papanya menjadi businessman.
Sudah dapat ditebak bagaimana reaksi keduanya, bahkan wajah kacau Dina memberikan gambaran jelas jika Pras adalah lelaki durjana yang memaksa gadis muda seperti Dina untuk melayaninya. Dan untuk itulah Pras dihadiahi bogeman-bogeman mentah dari papa dan kakak Dina, meskipun sudah jelas pria ini dapat mengelak dan menghindar.
"Lo apain adek gue?!" ia mencengkram jaket Prasasti, namun tak seperti sebelumnya Prasasti kini membela dirinya meski tak melakukan hal yang sama dengan Dion, ia tak mengeluarkan emosinya yang jika diukur dengan gelas ukur mungkin sudah tumpah-tumpah.
Ia ingat harus sebijak mungkin mengolah emosi, pamor aparat sudah cukup buruk karena beberapa oknum yang arogan, jangan sampai ia melakukan hal yang sama yang dapat merugikan institusi.
"Kurang ajar!!! Saya habisi kamu, karena sudah berani macam-macam! Kamu mau main-main dengan saya?! Kamu tidak tau siapa saya?!" Papa Dina melangkah ke arah ruang kerjanya hendak mengambil sesuatu. Untuk selanjutnya ia melihat mama Dina yang berlari menyusul, "pa jangan pa!"
Ck...ck....terdengar seperti suara tarikan pelatuk senjata.
Karena terhalang oleh tubuh bang Dion yang masih menahannya agar tak pergi, sesuatu yang kini sedang dipegang papa Dina tak begitu jelas terlihat oleh Pras, apakah itu pistol? Yeah, ia tau suara begitu.
"Pa, jangan pa..." geleng mama menahan, dan entah apa yang mereka bicarakan selanjutnya yang jelas papa Dina seperti sedang mele nguh berat dan marah-marah.
Prasasti sudah menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak tau menau, namun kediaman Dina mematahkan pernyataan Prasasti.
Prasasti kembali mele nguh berat nan lelah, ia menatap Dina dengan sorot mata tak percaya. Daripada harus mati disini, di tangan warga sipil yang jatuhnya mencoreng nama besar militer negri jika Prasasti melawan, akhirnya ia mengambil solusi tercepatnya.
"Oke. Begini saja!" akhirnya setelah terjadi kekerasan, emosi yang mulai menurun, barulah lelaki ini mau duduk bersama demi membicarakan semuanya.
Melihat Dina yang masih diam dan justru menjerumuskan Pras dalam pusara permasalahan yang ia saja tak tau menau ini, Pras menyadari jika tak mungkin mengajak gadis itu bekerja sama. Lihat saja! Setelah gadis ini baik-baik saja maka akan ia gantung di sayap pesawat dan menjatuhkannya di belantara borneo, biar digigit harimau sekalian.
"Saya adalah seorang letnan satu di kesatuan militer negri. Memiliki sumpah setia yang saya junjung tinggi. Saya adalah abdi negara, abdi masyarakat, tidak semestinya melakukan tindakan asuuu sila yang bapak dan ibu tuduhkan. Tapi jika memang ibu dan bapak tidak percaya ucapan saya, maka----" Pras melirik Dina yang sepertinya masih melanglang buana bersama kenangan masa lalu buruknya.
"Saya akan bertanggung jawab sebagai bentuk pengabdian saya terhadap negara, masyarakat dan membuktikan sumpah setia saya terhadap kedaulatan..." ucapnya mengambil keputusan besar yang nantinya akan merubah hidupnya 180 derajat.
Keputusan besar yang ia ambil sesuai perintah naluri prajuritnya jika sedang berada dalam keadaan terdesak musuh adalah dengan mengajak musuh berunding, menawarkan solusi terbaik untuk kedua belah pihak terlebih dahulu.
Lantas ia melirik ke arah perut Dina yang masih terlihat datar, apakah benar di dalam sana ada makhluk kecil yang tumbuh? Lalu dengan siapa Dina melakukannya, apa dugaannya benar jika Dina adalah wanita nakal yang rela menjual tubuhnya demi uang? Rasanya ia tak percaya.
Ia sempat tersadar saat melihat wajah papa Dina, adalah kawan dari target operasinya yang tempo hari ada di arena golf itu, Prasasti menunduk berdehem, dugaannya tentang om-om buncit penghangat ranjang itu salah, rupanya om yang ia sangka teman mesra Dina adalah ayah Dina sendiri.
.
.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
H
😂😂😂😂🤣🤣
2025-03-12
0
H
😂😂😂😂
2025-03-12
0
kalea rizuky
dina jg diem aja
2024-11-17
1