Part 12 ~ Meyakinkan hati

Dina tertawa renyah penuh rasa bangga saat keluar dari kantor, "gampang banget pertanyaannya!" sampai-sampai ia menjentikan jari kelingkingnya berjalan bersama dengan Pras keluar gedung.

"Gue pikir bakalan sesusah UTBK!" saking terhanyutnya dengan rasa bangga dan puas, jalannya sampai harus dirangkul Pras dan diarahkan pria itu, karena Dina hampir nabrak-nabrak orang saking sibuknya ia bereuforia.

"Keren ngga jawaban gue, om?" tanya Dina. Prasasti tak bisa lebih tertawa geli lagi jika mengingat jawaban-jawaban Dina di dalam tadi. Semua pertanyaan dari pejabat kesatuan mengenai sejarah dan UUD serta pancasila dapat dengan fasih Dina jawab, tapi disaat pertanyaan-pertanyaan terakhir dan pamungkas, ia tak bisa untuk tak mengu lum bibirnya, sejenak terpikirkan olehnya untuk meraih wajah Dina dan mengecupnya rakus saking gemasnya ia.

"Apa arti bumi pertiwi untuk saudari?"

"Tempat dimana saya lahir, tempat dimana saya dibesarkan, tempat dimana papih saya cari uang buat beli beras, uang sekolah, beli tas kremes mamih..."

"Apa makna nasionalisme untuk saudari?"

Tanpa harus berpikir, Dina langsung saja menembak, "oh makna nasionalisme buat saya itu dimana saya berada, dimana saya lahir dan dibesarkan, maka tanah itu yang saya junjung dalam sanubari sampai akhir hayat."

"Dan apa pendapatmu tentang gerakan pemberontakan negri?"

Dina sempat melirik Pras memancing tarikan alis Pras, apa?

Sejenak Dina terdiam, bayangan saat ia diculik bersama Zea, Clemira dan Desta X melanglang buana di otak kecilnya.

"Bukan mereka yang harus ditumpas, tapi pemikiran, sifat egois dan keserakahan manusia yang tumbuh di diri mereka. Tante tau kalo Dina pernah disandera sama pemberontak ngga?"

Prasasti mengerutkan dahinya, karena ia pun baru tau akan hal itu.

"Disaat itu Dina baru sadar, kalo bumi pertiwi itu begitu kaya...makanya harus selalu dijagain dari orang-orang serakah. Yang bahkan mereka rela mengorbankan sesama. Awalnya Dina kepengen masuk akademi militer biar bisa jagain bumi pertiwi, tapi setelah Clemira bilang untuk jadi taruni militer itu mesti bangun pagi dan panas-panasan...." Dina menggeleng.

"Akhirnya Dina batalin ngisi formulir, kebayang dong kalo Dina panas-panasan di hutan? Seharian di hutan aja pulang-pulang langsung pesen perawatan salon..." lanjutnya bercerita yang butuh ngabisin waktu 10 menit.

Ia menjawab dan berhadapan dengan staf militer begitu santai, se santai ngobrolin gosip terhangat bareng bestie, edyannn!

"And then, Dina milih lindungi negri lewat jalur lain aja. Syukur-syukur nantinya jadi menteri kaya bapaknya Zea...makanya ambil prodi hukum dan ham."

Staf itu melirik Prasasti geli, calonmu bang? Astagfirullah!

Prasasti memijit pangkal hidungnya seraya menunduk dan terkekeh geli.

Sadar akan gelagat keduanya yang tertawa geli, Dina menoleh bergantian pada keduanya, "kenapa sih? Ada yang lucu gituh?"

Bahkan Dina tak segan menarik cuping kuping Pras di depan staf kantor itu, "om ngetawain gue, ya?!"

"Engga ndi. Abang ngga ngetawain andi...justru..." Prasasti bertepuk tangan, "bravooo! Andi keren!" pujinya agar Dina lupa akan kecurigaannya barusan.

Dan meledaklah tawa staf kantor di depannya itu. Melihat Prasasti yang gelagapan ngadepin calon bini, siapa yang tak kenal si black shadow-nya kesatuan, sebelum kasus yang dialaminya tahun kemarin, nama Pras sudah berkibar sebagai salah satu prajurit dari deretan prajurit berprestasi.

"Selamat. Boleh saya jabat tangan dulu ngga bu?" Dina mengalihkan pandangan menyipitnya dari Pras, "ya?"

"Saya loloskan ya bu, tinggal nanti ke bagian tes kesehatan." Dina mengangguk meskipun kebingungan dan menjabat tangan perempuan dengan rambut pendek di depannya itu.

"Iya. Tapi tan...." jeda Dina.

"Bisa kan jangan panggil ibu, Dina aja deh...Dina risih dipanggil ibu, kesannya kaya udah seumuran mamih..." lanjutnya kembali membuatnya melipat bibir kencang-kencang, "iya bu. Maksudnya Dina."

"Mau langsung pulang? Biar saya antar andi sampai rumah?"

Dina mendelik sinis, "katanya mau nraktir es jeruk?! Cape nih, abis ujian!"

Prasasti menepuk jidatnya, "lupa. Yo wes ayok...ayok...saya traktir di kantin."

Diantara puluhan prajurit yang sedang makan siang, kini duduk sepasang anak manusia berbeda usia dengan dua gelas es jeruk dingin serta mie instan dipakein telor. Hal sederhana yang hanya bisa Pras berikan untuk si gadis mewah itu, namun Dina tak menolak, gadis itu justru ber-wah ria menerima makanan sejuta umat itu.

Surainya yang menari kesana kemari akibat tersapu angin membuat ia sibuk membawa rambutnya ke belakang telinga. Melihat kehebohan Dina, Prasasti cukup dibuat risih.

"Bawa iketan rambut?" gadis itu menggeleng, "lupa." Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri si ibu kantin.

Tangannya menggenggam beberapa buah karet nasi kuning, dan lantas berdiri begitu saja di belakang Dina, "sorry..." ucapnya mengambil alih rambut Dina dan mengikatnya dalam satu ikatan.

Dina cukup tersentak dengan sikap manis Pras, namun kembali ia tak mau memikirkan itu, dan lebih memilih melanjutkan kegiatannya menyeruput mie di depannya, hatinya seolah memberikan benteng kokoh untuk Pras meraih hatinya, "Dina bisa sendiri." Ucapnya lirih, tapi ucapannya itu tak membuat Pras menghentikan kegiatannya sampai tuntas, "tanggung."

Rambut gadis itu cukup bervolume semerbak wangi mawar nan lembut, melambai menyentuh penciuman Pras manja, memancing reaksi berdebar di dalam hati padahal si empunya saja sibuk nyeruput mie.

"Lusa saya meminta ijin cuti untuk ke Sura baya, menemui orangtua dan keluarga....kalau andi berkenan andi bisa ikut..." kini obrolan Pras serius, dan berhasil menghentikan aktivitas Dina saat ini.

Dina menatap Pras lekat dan serius pula, "om ngga bener-bener serius mau jalin hubungan suami istri sebenarnya sama Dina, kan?" Dina mendorong mangkuk bergambar ayam dan menarik gelas berembun di sampingnya, menyedot air perasan jeruk yang dibubuhi gula dan es, sementara Prasasti menatapnya keheranan, "setelah semua yang kamu hadapi, kamu masih bertanya?"

Dina menunduk menatap es jeruknya sambil mengaduk-aduk membentuk pusaran di dalam gelas.

"Om jangan terlalu berharap sama Dina." ujarnya lagi menjeda dengan helaan nafas, "hati Dina belum siap menerima seseorang lagi. Bahkan baru kemarin Dina janji sama diri sendiri, untuk tidak jatuh cinta lagi...apa yang om harapkan dari Dina?" tanya nya menatap nyalang Prasasti, "jangan menyakiti diri sendiri dengan menggantungkan harapan sama Dina."

Prasasti menghela nafasnya, bahkan mie instan miliknya hampir tak lagi berair karena ia yang belum berniat melahapnya, mendadak naf ssuu makannya mengudara.

"Kalau nyatanya saya bisa mengobati luka hatimu? Kalau ternyata hubungan pernikahan yang terpaksa ini bisa membuat hati kamu mau menerima saya, apa lantas kamu akan menyerah di awal? Kita coba..."

"Kalau kenyataannya sia-sia?" tanya Dina dengan tatapan frustasi, "Dina menolak untuk sakit hati lagi, om."

"Berikan saya dan hubungan kita kesempatan...." jawab Pras. Dina menatap Pras menyipit, "segitunya om kekeh, apa om ngga kapok aku usilin?"

Pras dapat terkekeh kembali, tangannya akhirnya mau menyentuh sendok dan melahap mie di dalam mangkok, "saya mau tau seberapa usil kamu warnain hidup saya..."

Dina menyunggingkan senyumnya kembali beralih menghabiskan sisa mie-nya tanpa berkata lagi, baru kali ini ia menemui pria bandel dan kekeh seperti Pras, disaat ia menawarkan kesakitan dan resiko, Pras justru semakin maju untuk mengobati luka hatinya, *padahal dia siapa*?

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

H

H

😂😂🤣🤣

2025-03-12

0

Lalisa

Lalisa

ahhh si om

2024-11-14

1

Susilawati

Susilawati

semangatttt om Pras 💪

2024-07-29

2

lihat semua
Episodes
1 Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2 Part 2 ~ Gagal move on
3 Part 3 ~ Bartender untukmu
4 Part 4 ~ Ngga kenal
5 Part 5~ Titip Separuh hati
6 Part 6 ~ Hati yang terluka
7 Part 7 ~ Keputusan besar
8 Part 8 ~ Terkejut-kejut
9 Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10 Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11 Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12 Part 12 ~ Meyakinkan hati
13 Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14 Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15 Part 15 ~ Soto susu
16 Part 16 ~ Touching
17 Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18 Part 18 ~ Pemanasan
19 Part 19~ 'Meramaikan'
20 Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21 Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22 Part 22~ A lot of change
23 Part 23~ Benih-benih bersemi
24 Part 24 ~ See you again
25 Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26 Part 26 ~ Kasmaran
27 Part 27~ Kasmaran 2
28 Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29 Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30 Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31 Part 31 ~ Perwira sayang istri
32 Part 32 ~ Bittersweet 1
33 Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34 Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35 Part 35 ~ Rayuan maut
36 Part 36~ Candu
37 Part 37~ Judul kisah kita
38 Part 38 ~ Takut Hamil
39 Part 39~ Teror
40 Part 40~ Saksi kunci
41 Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42 Part 42~ Snow White
43 Part 43~ Membaik
44 Part 44~ Bertemu
45 Part 45~ More than anything
46 Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47 Part 47 ~ Kerja bakti
48 Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49 Part 49~ Surprise
50 Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51 Part 51~ Penampakan
52 Part 52 ~ Si Jahil
53 Part 53~ Sensitif
54 Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55 Beda jalur otak
56 Part 56~ Show the world
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2
Part 2 ~ Gagal move on
3
Part 3 ~ Bartender untukmu
4
Part 4 ~ Ngga kenal
5
Part 5~ Titip Separuh hati
6
Part 6 ~ Hati yang terluka
7
Part 7 ~ Keputusan besar
8
Part 8 ~ Terkejut-kejut
9
Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10
Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11
Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12
Part 12 ~ Meyakinkan hati
13
Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14
Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15
Part 15 ~ Soto susu
16
Part 16 ~ Touching
17
Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18
Part 18 ~ Pemanasan
19
Part 19~ 'Meramaikan'
20
Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21
Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22
Part 22~ A lot of change
23
Part 23~ Benih-benih bersemi
24
Part 24 ~ See you again
25
Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26
Part 26 ~ Kasmaran
27
Part 27~ Kasmaran 2
28
Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29
Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30
Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31
Part 31 ~ Perwira sayang istri
32
Part 32 ~ Bittersweet 1
33
Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34
Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35
Part 35 ~ Rayuan maut
36
Part 36~ Candu
37
Part 37~ Judul kisah kita
38
Part 38 ~ Takut Hamil
39
Part 39~ Teror
40
Part 40~ Saksi kunci
41
Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42
Part 42~ Snow White
43
Part 43~ Membaik
44
Part 44~ Bertemu
45
Part 45~ More than anything
46
Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47
Part 47 ~ Kerja bakti
48
Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49
Part 49~ Surprise
50
Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51
Part 51~ Penampakan
52
Part 52 ~ Si Jahil
53
Part 53~ Sensitif
54
Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55
Beda jalur otak
56
Part 56~ Show the world

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!