Dina tertawa renyah penuh rasa bangga saat keluar dari kantor, "gampang banget pertanyaannya!" sampai-sampai ia menjentikan jari kelingkingnya berjalan bersama dengan Pras keluar gedung.
"Gue pikir bakalan sesusah UTBK!" saking terhanyutnya dengan rasa bangga dan puas, jalannya sampai harus dirangkul Pras dan diarahkan pria itu, karena Dina hampir nabrak-nabrak orang saking sibuknya ia bereuforia.
"Keren ngga jawaban gue, om?" tanya Dina. Prasasti tak bisa lebih tertawa geli lagi jika mengingat jawaban-jawaban Dina di dalam tadi. Semua pertanyaan dari pejabat kesatuan mengenai sejarah dan UUD serta pancasila dapat dengan fasih Dina jawab, tapi disaat pertanyaan-pertanyaan terakhir dan pamungkas, ia tak bisa untuk tak mengu lum bibirnya, sejenak terpikirkan olehnya untuk meraih wajah Dina dan mengecupnya rakus saking gemasnya ia.
"Apa arti bumi pertiwi untuk saudari?"
"Tempat dimana saya lahir, tempat dimana saya dibesarkan, tempat dimana papih saya cari uang buat beli beras, uang sekolah, beli tas kremes mamih..."
"Apa makna nasionalisme untuk saudari?"
Tanpa harus berpikir, Dina langsung saja menembak, "oh makna nasionalisme buat saya itu dimana saya berada, dimana saya lahir dan dibesarkan, maka tanah itu yang saya junjung dalam sanubari sampai akhir hayat."
"Dan apa pendapatmu tentang gerakan pemberontakan negri?"
Dina sempat melirik Pras memancing tarikan alis Pras, apa?
Sejenak Dina terdiam, bayangan saat ia diculik bersama Zea, Clemira dan Desta X melanglang buana di otak kecilnya.
"Bukan mereka yang harus ditumpas, tapi pemikiran, sifat egois dan keserakahan manusia yang tumbuh di diri mereka. Tante tau kalo Dina pernah disandera sama pemberontak ngga?"
Prasasti mengerutkan dahinya, karena ia pun baru tau akan hal itu.
"Disaat itu Dina baru sadar, kalo bumi pertiwi itu begitu kaya...makanya harus selalu dijagain dari orang-orang serakah. Yang bahkan mereka rela mengorbankan sesama. Awalnya Dina kepengen masuk akademi militer biar bisa jagain bumi pertiwi, tapi setelah Clemira bilang untuk jadi taruni militer itu mesti bangun pagi dan panas-panasan...." Dina menggeleng.
"Akhirnya Dina batalin ngisi formulir, kebayang dong kalo Dina panas-panasan di hutan? Seharian di hutan aja pulang-pulang langsung pesen perawatan salon..." lanjutnya bercerita yang butuh ngabisin waktu 10 menit.
Ia menjawab dan berhadapan dengan staf militer begitu santai, se santai ngobrolin gosip terhangat bareng bestie, edyannn!
"And then, Dina milih lindungi negri lewat jalur lain aja. Syukur-syukur nantinya jadi menteri kaya bapaknya Zea...makanya ambil prodi hukum dan ham."
Staf itu melirik Prasasti geli, calonmu bang? Astagfirullah!
Prasasti memijit pangkal hidungnya seraya menunduk dan terkekeh geli.
Sadar akan gelagat keduanya yang tertawa geli, Dina menoleh bergantian pada keduanya, "kenapa sih? Ada yang lucu gituh?"
Bahkan Dina tak segan menarik cuping kuping Pras di depan staf kantor itu, "om ngetawain gue, ya?!"
"Engga ndi. Abang ngga ngetawain andi...justru..." Prasasti bertepuk tangan, "bravooo! Andi keren!" pujinya agar Dina lupa akan kecurigaannya barusan.
Dan meledaklah tawa staf kantor di depannya itu. Melihat Prasasti yang gelagapan ngadepin calon bini, siapa yang tak kenal si black shadow-nya kesatuan, sebelum kasus yang dialaminya tahun kemarin, nama Pras sudah berkibar sebagai salah satu prajurit dari deretan prajurit berprestasi.
"Selamat. Boleh saya jabat tangan dulu ngga bu?" Dina mengalihkan pandangan menyipitnya dari Pras, "ya?"
"Saya loloskan ya bu, tinggal nanti ke bagian tes kesehatan." Dina mengangguk meskipun kebingungan dan menjabat tangan perempuan dengan rambut pendek di depannya itu.
"Iya. Tapi tan...." jeda Dina.
"Bisa kan jangan panggil ibu, Dina aja deh...Dina risih dipanggil ibu, kesannya kaya udah seumuran mamih..." lanjutnya kembali membuatnya melipat bibir kencang-kencang, "iya bu. Maksudnya Dina."
"Mau langsung pulang? Biar saya antar andi sampai rumah?"
Dina mendelik sinis, "katanya mau nraktir es jeruk?! Cape nih, abis ujian!"
Prasasti menepuk jidatnya, "lupa. Yo wes ayok...ayok...saya traktir di kantin."
Diantara puluhan prajurit yang sedang makan siang, kini duduk sepasang anak manusia berbeda usia dengan dua gelas es jeruk dingin serta mie instan dipakein telor. Hal sederhana yang hanya bisa Pras berikan untuk si gadis mewah itu, namun Dina tak menolak, gadis itu justru ber-wah ria menerima makanan sejuta umat itu.
Surainya yang menari kesana kemari akibat tersapu angin membuat ia sibuk membawa rambutnya ke belakang telinga. Melihat kehebohan Dina, Prasasti cukup dibuat risih.
"Bawa iketan rambut?" gadis itu menggeleng, "lupa." Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri si ibu kantin.
Tangannya menggenggam beberapa buah karet nasi kuning, dan lantas berdiri begitu saja di belakang Dina, "sorry..." ucapnya mengambil alih rambut Dina dan mengikatnya dalam satu ikatan.
Dina cukup tersentak dengan sikap manis Pras, namun kembali ia tak mau memikirkan itu, dan lebih memilih melanjutkan kegiatannya menyeruput mie di depannya, hatinya seolah memberikan benteng kokoh untuk Pras meraih hatinya, "Dina bisa sendiri." Ucapnya lirih, tapi ucapannya itu tak membuat Pras menghentikan kegiatannya sampai tuntas, "tanggung."
Rambut gadis itu cukup bervolume semerbak wangi mawar nan lembut, melambai menyentuh penciuman Pras manja, memancing reaksi berdebar di dalam hati padahal si empunya saja sibuk nyeruput mie.
"Lusa saya meminta ijin cuti untuk ke Sura baya, menemui orangtua dan keluarga....kalau andi berkenan andi bisa ikut..." kini obrolan Pras serius, dan berhasil menghentikan aktivitas Dina saat ini.
Dina menatap Pras lekat dan serius pula, "om ngga bener-bener serius mau jalin hubungan suami istri sebenarnya sama Dina, kan?" Dina mendorong mangkuk bergambar ayam dan menarik gelas berembun di sampingnya, menyedot air perasan jeruk yang dibubuhi gula dan es, sementara Prasasti menatapnya keheranan, "setelah semua yang kamu hadapi, kamu masih bertanya?"
Dina menunduk menatap es jeruknya sambil mengaduk-aduk membentuk pusaran di dalam gelas.
"Om jangan terlalu berharap sama Dina." ujarnya lagi menjeda dengan helaan nafas, "hati Dina belum siap menerima seseorang lagi. Bahkan baru kemarin Dina janji sama diri sendiri, untuk tidak jatuh cinta lagi...apa yang om harapkan dari Dina?" tanya nya menatap nyalang Prasasti, "jangan menyakiti diri sendiri dengan menggantungkan harapan sama Dina."
Prasasti menghela nafasnya, bahkan mie instan miliknya hampir tak lagi berair karena ia yang belum berniat melahapnya, mendadak naf ssuu makannya mengudara.
"Kalau nyatanya saya bisa mengobati luka hatimu? Kalau ternyata hubungan pernikahan yang terpaksa ini bisa membuat hati kamu mau menerima saya, apa lantas kamu akan menyerah di awal? Kita coba..."
"Kalau kenyataannya sia-sia?" tanya Dina dengan tatapan frustasi, "Dina menolak untuk sakit hati lagi, om."
"Berikan saya dan hubungan kita kesempatan...." jawab Pras. Dina menatap Pras menyipit, "segitunya om kekeh, apa om ngga kapok aku usilin?"
Pras dapat terkekeh kembali, tangannya akhirnya mau menyentuh sendok dan melahap mie di dalam mangkok, "saya mau tau seberapa usil kamu warnain hidup saya..."
Dina menyunggingkan senyumnya kembali beralih menghabiskan sisa mie-nya tanpa berkata lagi, baru kali ini ia menemui pria bandel dan kekeh seperti Pras, disaat ia menawarkan kesakitan dan resiko, Pras justru semakin maju untuk mengobati luka hatinya, *padahal dia siapa*?
.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
H
😂😂🤣🤣
2025-03-12
0
Lalisa
ahhh si om
2024-11-14
1
Susilawati
semangatttt om Pras 💪
2024-07-29
2