Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)

"Mbok yo ojo seng aneh-aneh to, le. Ketemu dimana?!" lengkingnya seketika menggebrak kesadaran Pras, belum lagi Pratiwi yang masih terheran-heran dengan bapaknya. Si bapak keselek kopi apa gimana? Mendadak darting!

Sementara ibu hanya menggeleng prihatin.

"Gadis angin mamiri iku yo pake uang pana-yiii..." sewot bapak, sampai kopi yang di mulutnya muncrat-muncrat dan menerpa Pratiwi yang posisinya berada di dekatnya.

"Pana-yii iku opo, toh?" Pratiwi menoleh pada bapak, ibu dan Pras dengan sorot mata meminta penjelasan.

"Panai atau panaik, bukan pana-yiii..." ralat Pras yang justru kelewat santai mencomot singkong goreng di depannya yang masih terasa hangat.

"Sama saja!" decak bapak. Dan Pratiwi semakin mengernyit menatap ibu sambil berbisik, "opo, bu?"

"Panai, itu disebut juga dui' menre' bagi masyarakat angin mamiri, uang yang diberikan dari calon mempelai pria pada keluarga calon mempelai wanita untuk keperluan pembelanjaan pesta, bisa juga dibilang uang pembeli calon mempelai wanita tersebut dari pihak lelaki pada pihak keluarga perempuan, karena biasanya jumlah uang tersebut disesuaikan dengan pendidikan dan strata sosial si gadis." jelas ibu begitu jelas dan santai.

Dari ketiganya, mungkin hanya ibu yang sejak tadi santuy.

"Setau ibu, di tanah air, gadis angin mamiri lah yang menempati posisi termahal uang panai'nya. Berapa yang mereka minta, le?" wajah ibu sudah getir menatap pasrah pada Pras, bersiap meminta putranya itu ikhlas melepas sang pujaan hati jika uang panai yang diminta melebihi batas kemampuan mereka.

"Yo pastinya lebih dari puluhan juta iku, bu. Wong gadisnya saja kuliah di luar negri..."

"Subhanallahhhhh!" kini Pratiwi yang menyeru terkejut, "nyebut mas nyebuttt! Sing eliingggg! Mas Pras iku bukan pangeran Charless!"

Prasasti mele nguh lelah, belum apa-apa ia sudah capek.

"Bu, pak...begini..."

(...)

"Bajuku wes rapi tak?" tanya bapak pada ibu. Seketika ia dilanda panik dan gugup berlebih melihat dimana ia berada sekarang, istana kah?

Bapak berusaha untuk tak ssmaput saat mengetahui jikalau calon besannya itu adalah pengusaha batubara ternama di tanah air, lihatlah....cincin emas dan berlian saja melingkar sebesar-besar biji jengkol di jemarinya sementara ia? polosan setandus padang savana, kalo bukan sisa daki yang nyempil di sela-sela kuku.

Orang sewaan yang bertugas sebagai peminang sudah berucap komat kamit sejak tadi yang bahkan bahasanya saja tak bapak mengerti, selain dari anggukan-anggukan tanda sopan saja.

"*Iyaro bunga puteta- tepu tabbaka toni, engkanaga sappona*?" ujarnya bertanya dalam artian ungkapan atau kiasan halus.

(Bunga putih yang sedang mekar, apakah sudah memiliki pagar?)

"*De'ga pasa ri kampotta, balanca ri liputta mulinco mabela*?"

(Apakah ada pasar di kampung yang jualan di tempat anda, sehingga anda harus pergi jauh?)

"*Engka pasa ri kampokku, balanca ri lipukku, naekiya nyawami kusappa*."

(Ada pasar di kampungku yang jualan di tempatku tapi yang kucari adalah hati yang suci/ berbudi pekerti yang baik)

"*Iganaro maelo ri bunga puteku, temmakkedaung, temmakkecolli*."

(Siapakah yang minat terhadap putiku, tidak berdaun tidak pula berpucuk.)

Suasana yang didominasi gold dan marron itu begitu khusyuk dengan para tetua dari tanah angin mammiri yang berbicara serius namun penuh keramahan bersama bapak dan beberapa sanak saudara Prasasti, hingga disepakatilah panai yang disanggupi oleh pihak Pras.

**Tap...tap...tap**....

Dina turun dengan baju bodo bernuansa merah da rah kental dihiasi bando khas gadis angin mammiri, dimana bando itu berupa kelopak-kelopak daun berbahan emas meskipun tak seberat *saloko pinang goyang*. (mahkota pengantin wanita angin mamiri)

Jumlah gelang emas yang dipakai di pergelangan hingga lengan adalah bentuk dari strata sosial keluarganya.

Dan degupan jantung kencang itu semakin tak terelakan oleh Pras, bocil milk bun-nya itu bak bermetamorfosis menjadi wanita cantik.

"Ayune, mas..." bisik Pratiwi.

Pras tersenyum simpul, mimpi apa ia semalam bisa mendapatkan Dina, durian runtuh kah? *Bunga puteku*....

Cincin tanda pengikat itu tersemat di jari manis Dina, pria itu nyengir menatap Dina yang mengundang tawa renyah Dina.

Hanya berselang 1 minggu, akhirnya pernikahan digelar. Tak sederhana, namun pula digelar begitu mewah ngalahin anak sultan.

Dina berjalan diantara payung pedang bersama Pras dan menerima kotal simbolis atas bergabungnya ia dengan persatuan istri prajurit negri.

Lagi-lagi Iyang tak dapat hadir di acara pernikahan temannya, karena kesibukan. Dan hanya mengirimkan hadiah pernikahan untuk Dina dan Pras.

"Baik-baik disana sayang," peluk mami diangguki Dina.

"Jaga adik gue Pras. Dia emang manja, ngeselin tapi dia adek kesayangan gue..." Pras mengangguk sembari mendengus geli, begitupun Dion, "doi bodo kalo masalah ranjang.." bisiknya, "tapi gue ngga nyangka, sama lo tau-tau bunting..."

Pras terkekeh, seandainya mereka tau jika Dina tak hamil, mungkin pernikahan ini akan mereka batalkan.

"Papi, Dina pamit ikut om Pras..." peluknya, pria berwajah ciri khas suku ba tak itu tak bisa untuk tak melow ketika apapun yang menyangkut putri bungsunya itu, "hati-hati sayang, papi...." ia sudah beberapa kali mengecup kening Dina berulang kali dan beralih mengusap perut datar Dina, "jaga calon cucu papi."

Dina benar-benar mendelik pada Pras yang justru sudah cengengesan.

Salah siapa? Seolah ia berkata.

"Kalo gitu Dina pamit..."

Dina dan Pras pamit dari kediaman mewah Dina demi tinggal di gubuk kesatuan.

Tidak membawa mobil Dina namun Pras memesan taksi online, sesuai sumpah Dina diatas kertas putih yang telah ia sepakati dengan pejabat kesatuan.

Sebagai istri prajurit yang tidak boleh bermewah-mewah ria.

"Om ngutang dimana bisa dapet uang panai segitu?" tanya Dina, dengan sengaja gadis ini menaruh koper diantara dirinya dan Pras, katanya menjaga dirinya dari sesuatu yang tidak diinginkan atau makhluk buas.

"Saya jual ginjal..." jawab Pras sekenanya membuat Dina berdecih, meskipun jumlahnya tidak mencapai batas ketentuan, tapi untuk ukuran prajurit letnan satu yang berasal dari keluarga pas-pasan uang yang diberikan Pras sebagai doi' menre' cukup besar.

"Ngga mungkin." cebik Dina.

"Ngga percaya? Apa harus saya buka di depan andi?" hampir saja Pras menarik ujung kaosnya memperlihatkan badan bagian atas miliknya di depan Dina, tapi Dina segera menegur dan melarangnya, "eh...eh! Mau ngapain?!" sewotnya sudah panik.

"Ngga usah por no aksi di depan gue sama mamang supir! Ngga tau malu...." gerutunya, sejak tadi supir taksi online itu sudah menggelengkan kepala dan melipat bibirnya melihat kelakuan sepasang pengantin baru ini.

"Maaf ya pak, suami aku emang gila..." ucap Dina, sang supir hanya menoleh singkat sambil tersenyum, dan selanjurnya menyaksikan kembali aksi dagelan mereka dari rear vision.

Pras terkekeh, "gila-gila gini juga kamu mau," godanya mencolek dagu si andi manis-nya hingga sontak membuat Dina refleks mengelak dan mengusap dagunya.

"Jangan colek-colek ya! Dikira gue selai coklat!" marahnya sewot.

Dan demi apa? Moment beginilah yang membuat Pras selalu greget berada dekat Dina, menggodanya hingga marah dan sewot.

Bukannya kapok, Pras justru mencubit pipi Dina, "gue...gue...mulutnya itu..."

"Aduhh ih!" gadis itu menyarangkan pukulannya di bahu Pras, yang baginya tak terasa apapun, "bisa kan itu bahasanya diperhalus sedikit, sama suami loh ini...."

"Ya, pak?" kini Prasasti meminta suara si bapak supir, "ngga pantes kan, kalo istri manggilnya lo gue? Dosa kan ya pak?" tanya Pras.

"Kalo suaminya se-nyebelin om Pras tuh wajar digituin!"

"Tuh...tuh....dosa tuh!" tunjuk Pras sukses bikin wajah Dina masam di depan supir online, ia merasa dipermalukan dan kalah disana.

"Om-om rese!"

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Anita Sari

Anita Sari

ini bahasa Bugis bukan angin mamiri atau makassar. Thor jd bingung akunya.. dina org Bugis apa angin mamiri?

2025-01-15

1

Lalisa

Lalisa

q pun kepo om 🤣

2024-11-14

0

Lalisa

Lalisa

🤦🤦🤦🤦

2024-11-14

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2 Part 2 ~ Gagal move on
3 Part 3 ~ Bartender untukmu
4 Part 4 ~ Ngga kenal
5 Part 5~ Titip Separuh hati
6 Part 6 ~ Hati yang terluka
7 Part 7 ~ Keputusan besar
8 Part 8 ~ Terkejut-kejut
9 Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10 Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11 Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12 Part 12 ~ Meyakinkan hati
13 Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14 Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15 Part 15 ~ Soto susu
16 Part 16 ~ Touching
17 Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18 Part 18 ~ Pemanasan
19 Part 19~ 'Meramaikan'
20 Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21 Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22 Part 22~ A lot of change
23 Part 23~ Benih-benih bersemi
24 Part 24 ~ See you again
25 Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26 Part 26 ~ Kasmaran
27 Part 27~ Kasmaran 2
28 Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29 Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30 Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31 Part 31 ~ Perwira sayang istri
32 Part 32 ~ Bittersweet 1
33 Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34 Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35 Part 35 ~ Rayuan maut
36 Part 36~ Candu
37 Part 37~ Judul kisah kita
38 Part 38 ~ Takut Hamil
39 Part 39~ Teror
40 Part 40~ Saksi kunci
41 Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42 Part 42~ Snow White
43 Part 43~ Membaik
44 Part 44~ Bertemu
45 Part 45~ More than anything
46 Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47 Part 47 ~ Kerja bakti
48 Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49 Part 49~ Surprise
50 Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51 Part 51~ Penampakan
52 Part 52 ~ Si Jahil
53 Part 53~ Sensitif
54 Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55 Beda jalur otak
56 Part 56~ Show the world
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2
Part 2 ~ Gagal move on
3
Part 3 ~ Bartender untukmu
4
Part 4 ~ Ngga kenal
5
Part 5~ Titip Separuh hati
6
Part 6 ~ Hati yang terluka
7
Part 7 ~ Keputusan besar
8
Part 8 ~ Terkejut-kejut
9
Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10
Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11
Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12
Part 12 ~ Meyakinkan hati
13
Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14
Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15
Part 15 ~ Soto susu
16
Part 16 ~ Touching
17
Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18
Part 18 ~ Pemanasan
19
Part 19~ 'Meramaikan'
20
Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21
Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22
Part 22~ A lot of change
23
Part 23~ Benih-benih bersemi
24
Part 24 ~ See you again
25
Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26
Part 26 ~ Kasmaran
27
Part 27~ Kasmaran 2
28
Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29
Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30
Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31
Part 31 ~ Perwira sayang istri
32
Part 32 ~ Bittersweet 1
33
Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34
Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35
Part 35 ~ Rayuan maut
36
Part 36~ Candu
37
Part 37~ Judul kisah kita
38
Part 38 ~ Takut Hamil
39
Part 39~ Teror
40
Part 40~ Saksi kunci
41
Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42
Part 42~ Snow White
43
Part 43~ Membaik
44
Part 44~ Bertemu
45
Part 45~ More than anything
46
Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47
Part 47 ~ Kerja bakti
48
Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49
Part 49~ Surprise
50
Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51
Part 51~ Penampakan
52
Part 52 ~ Si Jahil
53
Part 53~ Sensitif
54
Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55
Beda jalur otak
56
Part 56~ Show the world

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!