"Mbok yo ojo seng aneh-aneh to, le. Ketemu dimana?!" lengkingnya seketika menggebrak kesadaran Pras, belum lagi Pratiwi yang masih terheran-heran dengan bapaknya. Si bapak keselek kopi apa gimana? Mendadak darting!
Sementara ibu hanya menggeleng prihatin.
"Gadis angin mamiri iku yo pake uang pana-yiii..." sewot bapak, sampai kopi yang di mulutnya muncrat-muncrat dan menerpa Pratiwi yang posisinya berada di dekatnya.
"Pana-yii iku opo, toh?" Pratiwi menoleh pada bapak, ibu dan Pras dengan sorot mata meminta penjelasan.
"Panai atau panaik, bukan pana-yiii..." ralat Pras yang justru kelewat santai mencomot singkong goreng di depannya yang masih terasa hangat.
"Sama saja!" decak bapak. Dan Pratiwi semakin mengernyit menatap ibu sambil berbisik, "opo, bu?"
"Panai, itu disebut juga dui' menre' bagi masyarakat angin mamiri, uang yang diberikan dari calon mempelai pria pada keluarga calon mempelai wanita untuk keperluan pembelanjaan pesta, bisa juga dibilang uang pembeli calon mempelai wanita tersebut dari pihak lelaki pada pihak keluarga perempuan, karena biasanya jumlah uang tersebut disesuaikan dengan pendidikan dan strata sosial si gadis." jelas ibu begitu jelas dan santai.
Dari ketiganya, mungkin hanya ibu yang sejak tadi santuy.
"Setau ibu, di tanah air, gadis angin mamiri lah yang menempati posisi termahal uang panai'nya. Berapa yang mereka minta, le?" wajah ibu sudah getir menatap pasrah pada Pras, bersiap meminta putranya itu ikhlas melepas sang pujaan hati jika uang panai yang diminta melebihi batas kemampuan mereka.
"Yo pastinya lebih dari puluhan juta iku, bu. Wong gadisnya saja kuliah di luar negri..."
"Subhanallahhhhh!" kini Pratiwi yang menyeru terkejut, "nyebut mas nyebuttt! Sing eliingggg! Mas Pras iku bukan pangeran Charless!"
Prasasti mele nguh lelah, belum apa-apa ia sudah capek.
"Bu, pak...begini..."
(...)
"Bajuku wes rapi tak?" tanya bapak pada ibu. Seketika ia dilanda panik dan gugup berlebih melihat dimana ia berada sekarang, istana kah?
Bapak berusaha untuk tak ssmaput saat mengetahui jikalau calon besannya itu adalah pengusaha batubara ternama di tanah air, lihatlah....cincin emas dan berlian saja melingkar sebesar-besar biji jengkol di jemarinya sementara ia? polosan setandus padang savana, kalo bukan sisa daki yang nyempil di sela-sela kuku.
Orang sewaan yang bertugas sebagai peminang sudah berucap komat kamit sejak tadi yang bahkan bahasanya saja tak bapak mengerti, selain dari anggukan-anggukan tanda sopan saja.
"*Iyaro bunga puteta- tepu tabbaka toni, engkanaga sappona*?" ujarnya bertanya dalam artian ungkapan atau kiasan halus.
(Bunga putih yang sedang mekar, apakah sudah memiliki pagar?)
"*De'ga pasa ri kampotta, balanca ri liputta mulinco mabela*?"
(Apakah ada pasar di kampung yang jualan di tempat anda, sehingga anda harus pergi jauh?)
"*Engka pasa ri kampokku, balanca ri lipukku, naekiya nyawami kusappa*."
(Ada pasar di kampungku yang jualan di tempatku tapi yang kucari adalah hati yang suci/ berbudi pekerti yang baik)
"*Iganaro maelo ri bunga puteku, temmakkedaung, temmakkecolli*."
(Siapakah yang minat terhadap putiku, tidak berdaun tidak pula berpucuk.)
Suasana yang didominasi gold dan marron itu begitu khusyuk dengan para tetua dari tanah angin mammiri yang berbicara serius namun penuh keramahan bersama bapak dan beberapa sanak saudara Prasasti, hingga disepakatilah panai yang disanggupi oleh pihak Pras.
**Tap...tap...tap**....
Dina turun dengan baju bodo bernuansa merah da rah kental dihiasi bando khas gadis angin mammiri, dimana bando itu berupa kelopak-kelopak daun berbahan emas meskipun tak seberat *saloko pinang goyang*. (mahkota pengantin wanita angin mamiri)
Jumlah gelang emas yang dipakai di pergelangan hingga lengan adalah bentuk dari strata sosial keluarganya.
Dan degupan jantung kencang itu semakin tak terelakan oleh Pras, bocil milk bun-nya itu bak bermetamorfosis menjadi wanita cantik.
"Ayune, mas..." bisik Pratiwi.
Pras tersenyum simpul, mimpi apa ia semalam bisa mendapatkan Dina, durian runtuh kah? *Bunga puteku*....
Cincin tanda pengikat itu tersemat di jari manis Dina, pria itu nyengir menatap Dina yang mengundang tawa renyah Dina.
Hanya berselang 1 minggu, akhirnya pernikahan digelar. Tak sederhana, namun pula digelar begitu mewah ngalahin anak sultan.
Dina berjalan diantara payung pedang bersama Pras dan menerima kotal simbolis atas bergabungnya ia dengan persatuan istri prajurit negri.
Lagi-lagi Iyang tak dapat hadir di acara pernikahan temannya, karena kesibukan. Dan hanya mengirimkan hadiah pernikahan untuk Dina dan Pras.
"Baik-baik disana sayang," peluk mami diangguki Dina.
"Jaga adik gue Pras. Dia emang manja, ngeselin tapi dia adek kesayangan gue..." Pras mengangguk sembari mendengus geli, begitupun Dion, "doi bodo kalo masalah ranjang.." bisiknya, "tapi gue ngga nyangka, sama lo tau-tau bunting..."
Pras terkekeh, seandainya mereka tau jika Dina tak hamil, mungkin pernikahan ini akan mereka batalkan.
"Papi, Dina pamit ikut om Pras..." peluknya, pria berwajah ciri khas suku ba tak itu tak bisa untuk tak melow ketika apapun yang menyangkut putri bungsunya itu, "hati-hati sayang, papi...." ia sudah beberapa kali mengecup kening Dina berulang kali dan beralih mengusap perut datar Dina, "jaga calon cucu papi."
Dina benar-benar mendelik pada Pras yang justru sudah cengengesan.
Salah siapa? Seolah ia berkata.
"Kalo gitu Dina pamit..."
Dina dan Pras pamit dari kediaman mewah Dina demi tinggal di gubuk kesatuan.
Tidak membawa mobil Dina namun Pras memesan taksi online, sesuai sumpah Dina diatas kertas putih yang telah ia sepakati dengan pejabat kesatuan.
Sebagai istri prajurit yang tidak boleh bermewah-mewah ria.
"Om ngutang dimana bisa dapet uang panai segitu?" tanya Dina, dengan sengaja gadis ini menaruh koper diantara dirinya dan Pras, katanya menjaga dirinya dari sesuatu yang tidak diinginkan atau makhluk buas.
"Saya jual ginjal..." jawab Pras sekenanya membuat Dina berdecih, meskipun jumlahnya tidak mencapai batas ketentuan, tapi untuk ukuran prajurit letnan satu yang berasal dari keluarga pas-pasan uang yang diberikan Pras sebagai doi' menre' cukup besar.
"Ngga mungkin." cebik Dina.
"Ngga percaya? Apa harus saya buka di depan andi?" hampir saja Pras menarik ujung kaosnya memperlihatkan badan bagian atas miliknya di depan Dina, tapi Dina segera menegur dan melarangnya, "eh...eh! Mau ngapain?!" sewotnya sudah panik.
"Ngga usah por no aksi di depan gue sama mamang supir! Ngga tau malu...." gerutunya, sejak tadi supir taksi online itu sudah menggelengkan kepala dan melipat bibirnya melihat kelakuan sepasang pengantin baru ini.
"Maaf ya pak, suami aku emang gila..." ucap Dina, sang supir hanya menoleh singkat sambil tersenyum, dan selanjurnya menyaksikan kembali aksi dagelan mereka dari rear vision.
Pras terkekeh, "gila-gila gini juga kamu mau," godanya mencolek dagu si andi manis-nya hingga sontak membuat Dina refleks mengelak dan mengusap dagunya.
"Jangan colek-colek ya! Dikira gue selai coklat!" marahnya sewot.
Dan demi apa? Moment beginilah yang membuat Pras selalu greget berada dekat Dina, menggodanya hingga marah dan sewot.
Bukannya kapok, Pras justru mencubit pipi Dina, "gue...gue...mulutnya itu..."
"Aduhh ih!" gadis itu menyarangkan pukulannya di bahu Pras, yang baginya tak terasa apapun, "bisa kan itu bahasanya diperhalus sedikit, sama suami loh ini...."
"Ya, pak?" kini Prasasti meminta suara si bapak supir, "ngga pantes kan, kalo istri manggilnya lo gue? Dosa kan ya pak?" tanya Pras.
"Kalo suaminya se-nyebelin om Pras tuh wajar digituin!"
"Tuh...tuh....dosa tuh!" tunjuk Pras sukses bikin wajah Dina masam di depan supir online, ia merasa dipermalukan dan kalah disana.
"Om-om rese!"
.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Anita Sari
ini bahasa Bugis bukan angin mamiri atau makassar. Thor jd bingung akunya.. dina org Bugis apa angin mamiri?
2025-01-15
1
Lalisa
q pun kepo om 🤣
2024-11-14
0
Lalisa
🤦🤦🤦🤦
2024-11-14
0