Dinata Mahika
Rasanya lelah. Menangis dan bersedih karena kecewa itu sungguh menguras tenaganya, ditambah perdebatan keluarganya dan Pras yang seolah-olah mendominasi hari tanpa ampun, tak membiarkannya sendiri, bikin kepala tambah mumet.
Belum Dina buka suara untuk bercerita, namun mereka sudah bertanya so tau dan menjudge dirinya duluan...Ia bukan ingin dihakimi, di debat atau sedang ingin menjelaskan apapun saat ini, malas--benar-benar malas, otaknya lelah, hatinya pun berdenyut nan lelah.
Kamu hamil?
Apa? Hamil?! Dinata Mahika jawab mamih, jangan bikin malu!!
Dasar lelaki kurang ajar!
Dina baru saja ingin bersuara, namun mama sudah menyerang Pras, begitupun Pras yang memandangnya melotot nan sewot. Mood yang sudah hancur karena kehamilan seseorang, semakin merosot ketika semuanya salah paham.
Dina awalnya ingin kembali bersuara, namun lidahnya mendadak menggulung tak mau, rasa sedih dan kecewa itu membuatnya urung menjelaskan. Tak mengertikah mereka, jika dirinya sakit? Begitu enggan menjelaskan tentang siapa yang hamil, wanita yang jika namanya disebutkan maka kenangan pahit tentang penghianatan betul-betul menguasai akal pikiran Dina untuk tetap terpuruk?
Ia hanya ingin diam dan merenungi semuanya sendiri, titik. Biarlah mereka meributkan yang tengah mereka ributkan....
Dina menyeka mata dan hidungnya sembari beranjak, "cape gue..." gumamnya lirih.
Tanpa memperdulikan Prasasti yang juga tiba-tiba mencecarnya seraya mengguncang bahunya kasar dengan refleks tanpa mau mendengar ia selesai berucap kini tengah disidang oleh keluarganya, Dina melengos begitu saja menuju ke kamarnya membawa seluruh perasaan sakit dan lelahnya.
Emang dasar bocil minus akhlak! Ia ditinggalkan begitu saja saat sudah terperosok dalam kubangan masalah, "cil! Bocil! Saravvv---" umpatnya melongo dalam hati membiarkan ia menghadapi masalah ini sendirian, yang punya masalah siapa yang tanggung jawab akhirnya siapa. Doi malah santuy ngamar... Gila..benar-benar gila!
"Din...Dina!" bahkan ketiga penghuni ruang tamu lainnya memanggil Dina, namun Dina seolah tuli, "Dina capek pa...ma...pengen istirahat dulu."
Kini lirikan mata sayu itu mendarat pada Pras, "Om, thanks ya udah anter gue balik..." ucapnya lagi, tak sadarkah gadis itu jika kini ia sedang menenggelamkan Prasasti dalam satu kesalahpahaman yang ia buat?
Prasasti mele nguh menatap keluarga Dina yang kembali menyorot penuh intimidasi, dengan tatapan lesunya. Setelah membubuhkan tanda tangan hitam di atas putih untuk sebuah perjanjian pernikahan, bahkan Pras harus sampai mengeluarkan kartu sakti miliknya sebagai bukti dari ucapannya, barulah ia dibiarkan pulang.
Cukup lama ia berada di kediaman Dina, bahkan Pras sampai mendongak ke arah langit saat bisa terbebas dari rumah Dina, "berapa lama gue di dalem? Udah gelap aja... Setaun? Dua taun?" gumamnya bertanya, adakah para serangga malam bisa menjawabnya, karena menurutnya setiap detik saat berada di dalam sana berasa kaya seharinya di neraka, lama!
Ia kebingungan...tak tau arah jalan pulang, otaknya mendadak tinggal separo. Pras memilih memesan ojek online terlebih dahulu untuk bisa pulang ke batalyon.
"Mas..." si bapak ojol sampai mengu lum bibirnya kencang-kencang, karena jelas-jelas Prasasti menamai akun pengemudinya dengan nickname ***biji toge***.
"Iya, biji toge." angguk Pras lalu menyambar helm dari si bapak ojek. Pikir si bapak, biji toge aja segede gini lantas biji duren segede apa?
Sepanjang deru angin malam menyapu wajahnya yang ia pikirkan adalah tentang kejadian hari ini, bagaimana caranya menjelaskan hal ini pada simbok dan bapaknya, jika tiba-tiba ia menikah, apakah mereka akan bertanya-tanya? Apa sudah terasa tanda-tanda penuaan, sampe mau kawin? Karena selama ini disuruh cari pendamping aja Pras mengatakan masih belum cukup umur.
Bukan ke arah dimana messnya berada, melainkan langkah kakinya justru merujuk ke arah rumah Tama.
Tidak langsung mengetuk, atau memanggil si empunya rumah, melainkan yang ia lakukan adalah duduk di kursi rotan teras semeter rumah Tama dan menatap langit malam, sambil terkekeh-kekeh sumbang sendirian. Tak menyangka *lelakon* hidupnya akan seperti ini.
Tama yang baru saja beres makan malam membantu Clemira mencuci piring keduanya, "mas udah sama aku aja, tolongin itu aja...buangin ke luar, takut ada tikus kalo di dalem." pintanya diangguki Tama, tangannya mmebuat gerakan simpel mengikat kresek hitam kecil, sampah dapur hari ini.
Ceklek!
"Astaghfirullah!" Tama cukup terkejut saat melihat satu sosok yang kini tengah duduk sambil ketawa tiwi sendiri.
Namun hal itu tak mengurungkannya untuk membuang sampah. Setelah tangannya bebas dari kresek sampah ia lantas menghampiri makhluk tak sopan itu, "kenapa ngga permisi atau ketok pintu? Ada perlu?" tanya Tama.
"Saya mau nikah Tam," ucapnya sukses menaikan alis Tama, pria itu mengangguk-angguk, "saya ngga jualan, Pras. Mau nikah kok datangnya ke rumah saya?" apakah rumahnya itu sudah bukan lagi terlihat rumah seorang tentara, dan lebih mirip KUA?
Prasasti mendelik, "maksudnya saya mau kasih tau kalo saya mau nikah."
"Oh." Jawaban singkat terkesan tak peduli itu lantas membuat Pras menoleh, "kok cuma oh doang to, Tam? Kamu ngga pengen tau saya nikah sama siapa gitu, *gembell*...kebangetan kamu, Tam." omel Pras persis emak-emak.
Sayup-sayup Clemira mendengar suara orang mengobrol di depan, sepertinya ada tamu Tama, "siapa yang namu malem-malem?" ia mengibas-ngibaskan tangannya yang basah di wastafel lalu mengelapnya dengan lap tangan yang menggantung. Karena penasaran ia pun ikut menyerbu gawang pintu rumah dan melongokan kepalanya saat samar-samar telinganya hafal dengan suara itu, "om Pras kayanya."
"Siapa?" tanya Tama.
"Saya mau menikah dengan Dina, konco bojomu..."
"Hah?!!" Clemira langsung saja menghampiri dan refleks duduk di kursi samping Pras, "ah yang bener?!! Kok bisa?! Dina ngga kasih tau apa-apa!"
"Kaget to, kaget? Samaaaa....saya juga." Jawab Pras. Berbeda dengan Clemira yang terkejut tak percaya, wanita itu bahkan sudah berlari ke dalam demi mencari ponselnya, "masss! Liat hape aku ngga?" jeritnya.
"Kalo ngga salah di kasur, dek!" jawab Tama.
"Kenapa bisa?" tanya Tama, pria ini memang bisa diandalkan dalam situasi panik begini, karena ketenangan Pras bisa sedikit mereda kehebohan Cle bahkan diri Prasasti.
Prasasti bingung harus bercerita darimana, karena yang pasti kalo ia memotong jalur tengah maka tidak menutup kemungkinan Tama akan menghadiahinya dengan pukulan juga di wajahnya.
Clemira sibuk menelfon Dina, namun sepertinya usahanya sia-sia, ia sampai mencebik marah-marah.
Prasasti mendengus sumbang, "pasti ngga diangkat. Percuma saja Cle, wong tadi saja pas saya digebukin keluarganya dia pun cuma jadi tim hore, makin ngomporin."
Clemira menyemburkan tawanya, ulah apa yang dilakukan temannya itu, sampe-sampe perwira sekelas Prasasti bisa kena sawan gini.
Prasasti menegakan posisi yang semula bersandar lesu kini jadi tegak mengarah Clemira, "tuh bocil sebenernya ada masalah apa? Imbasnya jadi saya?" tanya Pras.
"Sebentar, ini tuh gimana ceritanya bisa jadi kaya gini?"
Pras mulai mengambil nafas panjang, malam ini akan menjadi malam panjangnya ....)
Clemira meledakan tawanya kedua kalinya mendengar setiap kata yang Pras tuturkan, *apes bener! Mandi kembang sono*!
Clemira menggeleng, "Dina ngga mungkin kaya gitu, om!" ia kembali tertawa, "dia tuh be go. Tapi kalo urusan dicolak-colek cowok apalagi sampe maenan om-om ngga mungkin. Dia tuh orang tajir melintir, anak pengusaha batu bara asal angin mammiri, mau nyari apanya sama om-om?" Clemira sampai memegang perutnya karena geli.
"Mampusss," umpat Pras.
Clemira mengangguk setuju, "iya mamposss. Karena buat nikahin Dinata om Pras harus nyiapin uang panai, sesuai pendidikan dan strata sosial keluarga Dina. Punya ngga kira-kira?" tantang Clemira.
"Satu alasan yang bikin anak-anak di SMA pada minder sama Dina, terutama cowok...karena Dina itu mahal. Mau ngapelin Dina tuh mesti jual ginjal dulu!"
Tama tak bisa untuk tak tertawa, jakunnya bahkan naik turun dengan cepat saking merasa geli, nasib temannya itu tak lebih beruntung dari kucing oyen di luar pagar rumahnya.
"Anyinnnkkkk," guguknya.
"Makanya kalo mau ambil keputusan tuh dipikir dulu! Hah, sekarang gimana tuh?! So so'an kamu mau nikahi anak gadis orang," Tama mengomel.
"Kalo ngga salah itung, Cle taksir untuk Dina yang sebentar lagi lulus sarjana itu uang cashnya aja sekitar 50 juta. Belum lagi jumlah emas yang diminta itu nanti berapa suku gitu, satu sukunya perkiraan 6,7 gram yang 24 karat. Biasanya disertakan pula hewan sapi atau ke bo dan barang seserahan lainnya sesuai strata sosial keluarga Dina."
Tama tersedak salivanya sendiri sama tak percaya dengan Pras yang sudah menganga syok,"mau saya bantu postingkan ginjalmu di sosial media?" tanya Tama mencibir.
"Si alan!"
Mendadak jiwa Pras naik ke atas awan mendengar penjelasan jumlah panai dari Clemira, "itu uang semua?" tanya nya mendadak oon.
Clemira tergelak, "karena uang panai mahal itulah, Dina tau harus menjaga dirinya baik-baik demi calonnya suatu saat nanti. Karena panai yang dikeluarkan calon lakinya mesti sepadan sama marwah yang senantiasa dijaga."
"Siapa juga yang mau kalo mesti semahal itu?! Gilakkk! Saya harus cari pinjaman kemana untuk uang sebanyak itu?!" ia hampir tersedak empedunya sendiri, bunuh saja! Bunuh dirinya!
*Harga lo cil*! Gelengnya meratapi nasib. Emang bener-bener di luar nurul! *Awas kamu, cil! Sudah menarik saya dalam pusara masalah ini*.
Tama masih tak bisa menghentikan tawanya, ngenes amat jalan hidupmu, kawan! Kebelet kawin, sekalinya kawin kejedot tembok beton, bikin geger otak.
"Puas kamu, Tam.." rutuknya sewot, makin saja ia pusing dan mengacak rambut pendeknya itu.
"Wes, menurut saya. Kamu bicara saja dengan Dina dan keluarganya, jika kemampuanmu hanya sebatas apa adanya, maka kembalikanlah lagi keputusan pada Dina dan keluarganya..."
"Betul!" angguk Clemira, "yaa....sebenernya kalo emang udah kaya gini kasusnya, bisa aja om Pras biarkan keluarga Dina taunya Dina hamil sama om Pras, maka mereka mau tak mau harus mau menerima berapapun yang om kasih. Jujur aja kalo om Pras ngga bisa menyanggupi, jikalau uang panai sebesar ketentuan suku adat mereka..."
Maka demi apa? Saran Clemira dan Tama itu bak angin segar untuk Prasasti. Segaris senyumnya terbit malam itu, sepasang suami istri ini memang teman curhat terbaiknya. Bahkan ide cemerlang Clemira tanpa sadar bisa ia jadikan ide untuknya balas dendam, biarlah ia menikah dengan bocil milk bun itu, rasa suka yang sempat ia berikan untuk Dina akhirnya bisa ia tumpahkan seluruhnya nanti.
Prasasti kini bisa cengengesan kembali setelah sebelumnya dibuat *tak eling-eling* oleh jumlah panai Dina.
"Siap-siap, kamu mohon-mohon sama saya, cil!" tawanya jahat.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
H
😂😂😂😂
2025-03-12
0
Lalisa
masih kurang itu🤣🤣
2024-11-13
1
Lalisa
🤣🤣🤣🤣🤣
2024-11-13
0