Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan

Dina bangun dengan mata bengkaknya, kesadarannya telah kembali sepenuhnya, jika dunia memang kejam. Cinta tak semanis gula-gula, dan memang butuh mental yang kuat jika memilih untuk jatuh cinta, maka ia harus siap patah hati.

Masa lalu memang pahit, tapi tidak untuk di ratapi setiap waktu. Hidup masih terus berjalan, dan ia tak mau terpuruk lagi hanya untuk sebuah rasa dari pria breng sek, hidup Dina terlalu berharga jika hanya terus bergulung dengan masa lalu.

Dina duduk di meja riasnya, menatap tampilan kusutnya yang sejak kemarin tak berganti pakaian, bahkan tangannya sudah menyisiri surai lebatnya. Wajah yang sedikit tirus terbingkai cantik oleh rambut blonde dan warna kulit putihnya. Namun mirisnya ia selalu gagal move on dari pria-pria breng sek itu.

"Ini gue serem amat sih, persis odgj perempatan. Mata gue...." rengeknya memijit-mijit area sekitaran matanya lalu bergerak mencari gel demi mengurangi rasa pegal di matanya.

Setelah mengoleskan itu Dina lantas menyambar bathrobe miliknya hendak mandi sambil bergumam lagu favoritnya, namun sebelum itu terjadi ia terlebih dahulu menengok ponsel yang terlihat tergeletak di atas ranjang dan mengingat jika pagi ini ia belum cek, karena sesorean sampai malam ia hanyut dalam kesedihan.

Alisnya mengernyit, "Cle?" jemari yang kukunya dihiasi nail art love bersama pelangi itu menatap pesan Clemira. Alis yang semula mengernyit kini terangkat bebas ke atas.

10 missed call

☀️ Clemira oon ☀️

2 unread message

Din, lo seriusan mau married sama om Pras?!

Jawab telfon gue Din!

"Apa-apaan nih, siapa juga yang married..." gumamnya bermonolog, mencoba mengingat kejadian kemarin yang------

"Njirrrrr! Jangan-jangan! " ia langsung terjengkat kaget, ia tak menyangka diam-nya ia bisa membuat keadaan menjadi separah itu. Dina menghempas bathrobe miliknya dan berlari ke bawah sambil menggenggam ponsel, "Ma! Pa!" teriaknya mencari keberadaan mama dan papanya. Namun yang ia temui hanya asisten rumah tangga yang segambreng menyapa dirinya.

"Bi, liat mami?" tanya nya dengan dada naik turun, bukan capek namun ia begitu panik.

"Non Dina, mau langsung sarapan? Ibu lagi keluar sama bapak non," jawab bi Iin seraya menaruh sepiring udang saus padang di meja makan yang masih mengepulkan asapnya. Sempat Dina melirik itu dan menelan salivanya sulit, namun ia sungguh sedang mencari penjelasan atas pertanyaan yang sudah berada di ujung tenggorokan itu.

"Engga bi. Dina bukan mau sarapan, ini ada yang lebih penting...ya udah deh," ia bergegas mencari kunci mobilnya diantara deretan kunci-kunci penting yang tergantung cantik di dekat kulkas.

"Loh, non Dina mau kemana? Bapak pesen, non Dina jangan keluar rumah dulu...." sergah bibi.

"Aduh bi, ini tuh gawat banget!" ia segera berlari menuju garasi lewat pintu sayap kiri padahal bi Iin sudah berlari mengejar, "non, non Dina!"

"Bi, Dina ngga apa-apa kok. Beneran, janji deh! Dina keluar sebentar!" teriaknya sudah masuk dan menyalakan mesin mobil.

"Pak Yoyo! Bukain gerbang!" jeritnya lagi, kepalanya muncul dari jendela mobil seraya menyetir.

"Buru!" pelototnya ketika pak Yoyo justru diam saja, gadis itu bahkan sudah mengancam ingin menabrak gerbang dengan menghantamkan mobil, "kalo ngga dibuka aku tabrak nih gerbang...bapak juga yang repot ngelas nantinya!" sungutnya, tak tau apa?! Jika ia sedang buru-buru.

Dengan anggukan takut akhirnya pak Yoyo mau tak mau membukakan gerbang, "aduhhh ngga dibukain salah ngga dibukain saya juga yang repot."

Brummm!

Dina melajukan mobilnya ke arah lanud demi mencari jawaban. Ia juga mencoba menelfon Clemira, nada dering pertama wanita itu tak mengangkatnya, ini orang pada kemana sih?!

Untung saja di dering kedua Clemira mengangkat panggilan Dina.

"Hallo..."

(...)

Dina semakin dibuat kalut dengan obrolan singkat bersama Clemira tadi, apalagi ia bilang jika Prasasti sudah menandatangani perjanjian pernikahan bersama papanya.

"Kenapa jadi ribet gini sih," gerutunya memukul-mukul stir mobilnya, tak terbayangkan jika ia mendadak jadi persit seperti Clemira atau Zea, ditambah pria yang ia nikahi adalah om-om rese macam Prasasti, hah! Hancur minah!

Yang ia cari untuk pertama kali adalah mess tempat Prasasti bermukim. Menurut Clemira, di waktu ini Pras pasti masih berada di rumahnya, belum pergi untuk dinas.

Matahari aja belum sepenuhnya muncul dan menghangatkan bumi, tapi Dina sudah masuk lanud markas militer nyari-nyari om-om tentara.

Ia celingukan diantara jendela kaca mobil yang terbuka mencari keberadaan blok rumah Pras, "ini dimana sih?" laju roda mobil berputar pelan, saking pelannya sama nenek-nenek aja kalah cepat.

Deretan rumah yang ada disini tidak sebesar rumah dinas Rayyan, namun sederhana seperti rumah dinas Clemira dan Zea.

Persis rumah kontrakan dimana penghuninya mengisi rumah-rumah itu dengan kesederhanaan. Jemuran pakaian menjadi pemandangan pertama di sisi kanan, tak ada mobil yang menghias bahkan tak ada gerbang besar pembatas rumah. Tak ubahnya rusun warga pada umumnya, hanya saja berwarna biru.

Karena ukurannya yang kecil, setiap sudut rumah itu terasa begitu hangat dan terurus. Pot-pot tanaman baik itu yang menggantung maupun yang terbuat dari kaleng bekas cat tersusun rapi di depan teras kecil mereka.

Hanya bedanya rumah-rumah disini tak harus mereka sewa.

Dari posisinya melintas ia meneliti satu persatu rumah, "kata Cle sih, rumahnya yang ngga ada apa-apanya, cuma jemuran baju sama motor matic heat biru..." gumamnya bermonolog.

Kakinya menginjak pedal rem, saat mendapati rumah sesuai dengan ciri-ciri yang ia sebutkan barusan, dan berdiam sejenak di depan sana, hingga sesosok pria jangkung memakai celana trening dan kaos dalamm an keluar membawa serta ember biru, sambil menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil yang tersampir di pundak persis tukang cilok.

"Om Pras," lirihnya menggumam, segera ia menepikan mobil dan keluar dari sana.

"Om Pras!"

Prasasti menoleh ketika namanya dipanggil. Dina menghampiri dengan wajah penuh penyesalannya, "om Pras..." rengeknya.

Ia mengatupkan kedua tangan di depan Pras yang tengah meletakan ember dan berkacak pinggang, "nah, mau apa lagi sekarang?" sengaknya persis ibu kost galak.

"Maafin Dina, om...." ucapnya menyesal.

"Om, sorry banget atas kejadian kemaren. Gue kira ngga akan jadi kaya gini....kemaren gue kalut banget om, hati gue kacau, lagian gue baru ngucap satu kata aja udah pada ngegas duluan, kalo gue hamil....giliran gue speak pikiran kalian nyambung kemana...." ia menjelaskan bagaimana perasaannya kemarin yang kebilang ancur kaya tahu bejek sehingga membuat penjelasannya terdengar ambigu, Prasasti hanya bisa mengangkat alisnya sebelah seraya melanjutkan kegiatan menjemur pakaiannya.

"So...gue mau minta maaf." Nyengirnya.

"Udah? Gitu aja cil? Kamu tau ngga kemarin saya hampir babak belur dihakimi keluarga kamu, dan kamu cuma diem persis patung kucing di depan toko, liatin saya dihajar ibu, bapak sama abangmu?" Pras memuntahkan seluruh kesakitannya kemarin sambil tangan yang mengibaskan celana dalamm lalu menggantungnya di depan.

Gebethhhh!

Airnya sampai muncrat-muncrat mengenai Dina yang refleks menjauh, "dih jorok!" ia menepis-nepis bahunya.

"Namanya juga orang lagi falling down om, ngga akan peduli sama sekitar...maaf..." kembali Dina merendahkan hatinya untuk meminta maaf.

"Maaf kamu bilang?" Prasasti mencoba berakting sambil berkacak pinggang, persis pemeran di sinetron curut ngesot yang pernah sekilas ia tonton siapa tau abis ini ada sutradara lewat nawarin peran akting.

"Saya sampe pegel-pegel semaleman, kena amukan bapak sama ibumu...nih...nih! Dipikir salep di apotek bisa dibeli pake kata maaf..." tunjuknya ke area badan yang terkena pukulan dan tamparan, membuat Dina meringis.

"Terus Dina mesti ngapain biar om maafin? Sekalian Dina minta tolong juga, siang atau sore sepulang om dinas kita ajak makan keluarga Dina, buat jelasin kalo semua ini cuma salah paham, salahnya Dina. Biar om ngga usah repot-repot nikahin Dina..." jedanya namun sebelum Pras kembali membuka suaranya ia kembali cuap-cuap.

"Sebagai bentuk penyesalan dan tanggung jawab Dina yang kemarin, apapun permintaan om Dina penuhi. Gimana?" alisnya naik turun berharap Pras mau bekerja sama dan masalah selesai, ia bisa kembali ke negri singa putih untuk berkuliah.

Pras memajukan wajahnya ke arah Dina dengan seringaian, "awalnya itu juga rencana saya. Tapi setelah dipikir-pikir....usia saya sudah matang untuk menikah. Meskipun rasanya kamu cuma nyempil doang di tenggorokan, saya ikhlas terima kamu sebagai calon istri. Kita menikah!"

"Whattt?!!!" jerit Dina, "ngga bisa gitu dong, om! Ngga fair!"

"Om ikhlas guenya yang engga!" sewot Dina, mengekori Prasasti yang sudah selesai menjemur dan beranjak menuju rumah.

"Salah siapa coba, jadi begini?" tanya Prasasti tengil.

"Om jangan ngada-ngada! Om ngga tau kalo nikahin orang angin mamiri tuh ada uang panainya. Ngga main-main loh om, uang panainya sejumlah 150 juta! Emangnya om punya duit?!" tanya Dina ngotot.

Pras membalikan badannya, "orangtua kamu pasti terima saya apa adanya, karena tau anaknya hamil sama saya..." kini Prasasti patut berbangga diri karena telah membalas perlakuan Dina kemarin terhadapnya.

"Om ih!" Dina menarik kaos tipis Pras.

"Eh..eh...sama calon suami loh ini...ngga boleh kasar!" ucapnya, "orangtua kamu sudah kasih data diri kamu semalam, dan rencananya saya mau ajukan hari ini ke kesatuan." ancamnya lagi.

Dina berdesis lirih, dan menjerit memaki Pras, tak peduli para tetangga yang kini kian ramai keluar melihat mereka berdua bertengkar.

"Om---om reseeee!" teriaknya menarik dan menghempas kaos Pras hingga kusut dan acak-acakan untung saja tak sobek. Mulutnya komat-kamit menyumpahi Pras.

Sadar akan atensi tetangga, Pras mengangguk dalam dan tersenyum, "ngga apa-apa bu, biasa drama calon pengantin..." ucap Prasasti pada mereka, semakin membuat Dina geram.

"*Wah! Om Pras mau menikah ya*?"

Dina bergidik demi mendengar pertanyaan itu dibalas senyum bangga Pras.

"Gue tuh bakalan banyak nyusahin om kalo om kekeh nikahin gue!"

"Ngga apa-apa sayang, abang bakal bimbing kamu hingga ke jannahnya Allah..." Pras begitu puas membalas Dina.

Dina menatapnya tajam, "oke kalo om ngebet nikahin gue. Nih, aksi nyebelin pertama gue yang bakalan bikin om ngelus dada!" Dina berbalik dan mengambil jemuran Pras yang baru saja ia cuci dan jemur itu dan menghempasnya jatuh ke tanah.

"Argghhhh, cucian saya! Apa-apaan kamu, cil!" Prasasti segera memungutnya dan kembali memasukannya dalam ember.

Dina memeletkan lidahnya pada Pras lalu kabur dari sana.

"Dina!" teriak Pras.

"Jangan lupa uang panainya, gue sarjana om...minimal om mesti punya 150 juta!"

Kesabaran Pras rupanya mesti dipupuk setinggi angkasa, persis langit khatulistiwa tempatnya mengudara, ditatapnya mobil Dina yang semakin menjauh bergantian dengan baju-baju yang kembali kotor, namun kekehan gelinya jelas keluar dari mulut Pras menertawakan aksi mereka pagi ini yang membuatnya merasa hidupnya lebih seru.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

jumirah slavina

jumirah slavina

aacciieeeee... udah calon suami aja nih..
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2025-02-06

2

jumirah slavina

jumirah slavina

aacciieeeee... udah calon suami aja nih..
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣

2025-02-06

2

H

H

😂😂😂

2025-03-12

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2 Part 2 ~ Gagal move on
3 Part 3 ~ Bartender untukmu
4 Part 4 ~ Ngga kenal
5 Part 5~ Titip Separuh hati
6 Part 6 ~ Hati yang terluka
7 Part 7 ~ Keputusan besar
8 Part 8 ~ Terkejut-kejut
9 Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10 Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11 Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12 Part 12 ~ Meyakinkan hati
13 Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14 Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15 Part 15 ~ Soto susu
16 Part 16 ~ Touching
17 Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18 Part 18 ~ Pemanasan
19 Part 19~ 'Meramaikan'
20 Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21 Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22 Part 22~ A lot of change
23 Part 23~ Benih-benih bersemi
24 Part 24 ~ See you again
25 Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26 Part 26 ~ Kasmaran
27 Part 27~ Kasmaran 2
28 Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29 Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30 Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31 Part 31 ~ Perwira sayang istri
32 Part 32 ~ Bittersweet 1
33 Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34 Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35 Part 35 ~ Rayuan maut
36 Part 36~ Candu
37 Part 37~ Judul kisah kita
38 Part 38 ~ Takut Hamil
39 Part 39~ Teror
40 Part 40~ Saksi kunci
41 Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42 Part 42~ Snow White
43 Part 43~ Membaik
44 Part 44~ Bertemu
45 Part 45~ More than anything
46 Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47 Part 47 ~ Kerja bakti
48 Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49 Part 49~ Surprise
50 Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51 Part 51~ Penampakan
52 Part 52 ~ Si Jahil
53 Part 53~ Sensitif
54 Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55 Beda jalur otak
56 Part 56~ Show the world
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2
Part 2 ~ Gagal move on
3
Part 3 ~ Bartender untukmu
4
Part 4 ~ Ngga kenal
5
Part 5~ Titip Separuh hati
6
Part 6 ~ Hati yang terluka
7
Part 7 ~ Keputusan besar
8
Part 8 ~ Terkejut-kejut
9
Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10
Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11
Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12
Part 12 ~ Meyakinkan hati
13
Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14
Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15
Part 15 ~ Soto susu
16
Part 16 ~ Touching
17
Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18
Part 18 ~ Pemanasan
19
Part 19~ 'Meramaikan'
20
Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21
Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22
Part 22~ A lot of change
23
Part 23~ Benih-benih bersemi
24
Part 24 ~ See you again
25
Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26
Part 26 ~ Kasmaran
27
Part 27~ Kasmaran 2
28
Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29
Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30
Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31
Part 31 ~ Perwira sayang istri
32
Part 32 ~ Bittersweet 1
33
Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34
Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35
Part 35 ~ Rayuan maut
36
Part 36~ Candu
37
Part 37~ Judul kisah kita
38
Part 38 ~ Takut Hamil
39
Part 39~ Teror
40
Part 40~ Saksi kunci
41
Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42
Part 42~ Snow White
43
Part 43~ Membaik
44
Part 44~ Bertemu
45
Part 45~ More than anything
46
Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47
Part 47 ~ Kerja bakti
48
Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49
Part 49~ Surprise
50
Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51
Part 51~ Penampakan
52
Part 52 ~ Si Jahil
53
Part 53~ Sensitif
54
Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55
Beda jalur otak
56
Part 56~ Show the world

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!