"Selamat datang dan selamat bergabung untuk anggota keluarga baru kita..." sesosok wanita paruh baya berkharisma, sedikit gemuk dan terlihat disegani oleh yang lainnya mengambil alih acara pertemuan kali ini.
"Mari bu, perkenalkan diri terlebih dahulu..." pintanya memberi ruang untuk Dina.
Clemira mendorong-dorong Dina untuk segera memperkenalkan dirinya di depan para istri prajurit lainnya. Tak sampai terpikirkan untuk speak up di depan khalayak ramai begini, Dina cukup dibuat berdehem tak nyaman karenanya.
Otaknya kini berputar harus seperti apa perkenalan formalnya di depan para istri prajurit berseragam ini, ditambah di depannya kini hadir pula istri komandan sebagai pimpinan ranting, makin saja ia dilanda demam panggung.
"Gue mesti gimana? Ngga mungkin sah hay doang kan? Apalagi pake bahasa thailand atau inggris..." tanya nya panik diantara apitan Zea dan Clemira.
Zea berdecak, "udah sii gampang aja, sebutin nama lengkap, jabatan sama unit om Pras bernaung...." jawabnya enteng, tak taukah Zea jika Dina tak sampai mengingat itu, mana lelaki itu tak bilang pula identitasnya! Tau gitu tadi di rumah nanya dulu!
Ia tak sampai hafal apa jabatan dan berada di unit apa Prasasti bernaung. Yang diingatnya adalah berapa nominal gaji Pras setiap bulannya.
"Mamposss! Ngga afal gue, Cle.." akuinya pada Clemira dan Zea berbisik padahal di depan sana mereka sudah menunggu Dina.
"Dih, peak...terus elu taunya apa oon? Masa kerjaan suami sendiri ngga afal..." geram Cle.
"Duit bulanannya lah..." jawabnya membuat Zea meledakan tawanya, "saravvv.." gumamnya pelan.
"Udah maju aja dulu, kelamaan disini lo mau bikin kesel bini prajurit se batalyon?" titah Zea.
"Terus gue mesti bilang apa?" tanya Dina.
"Serah lo..suka-suka lo." jawab Cle. Dina beranjak dari kursinya, kenapa pula harus berkenalan toh, saat menikah pun ia sudah say hay pada istri danru dan istri danyon, nyusahin!
Gadis itu menarik-narik ujung rok dan bajunya agar sedikit rapi, karena mendadak...dirinya merasa menjadi orang yang paling kusut.
Senyuman terukir ramah menyambut Dina, dan gadis itu membalasnya, "terimakasih bu-----" Dina memutar bola matanya mendadak amnesia, "komandan..." lanjutnya cari aman.
Zea sudah kembali menyemburkan dengusan gelinya, "pfffttt...ampun gue," ia mengusap wajahnya, belum apa-apa wajah nyengir dan polos Dina telah membuat seluruh sarafff wajahnya geli. Jika ia benar, maka selanjutnya temannya itu akan membuatnya ingin pipis di celana.
Sementara Cle, wanita itu sudah sejak tadi menggigit bibir bawahnya menahan tawa.
"Assalamu'alaikum semua, selamat siang, salam sejahtera, om swastiastu, salam kebajikan, sawadikap, afternoon..., Ni hao, Li-ho..." ucap Dina.
Sejauh ini Zea dan Cle mengangguk, aman.
"Gong xi fa cai, merry christmas-----" lanjutnya.
"And happy new year..." lanjutnya lagi namun kini digumami hal yang sama oleh Zea dan Clemira, sejurus kemudian kedua rekannya itu melotot di tempat dan menepuk-nepuk lutut masing-masing menahan semburan tawa yang sudah sampai di kerongkongan.
Clemira tak henti-hentinya tertawa sepanjang jalan. Belum lagi teguran pertama di hari perdana Dina ikut pertemuan gara-gara branded tas dan sepatu miliknya yang mencolok.
"Apa salahnya sih, istri prajurit pake Dior! Toh ngga minta suaminya buat beliin..." bibirnya yang julid bin nyinyir itu berucap setajam silet sambil mendengus manyun. Persis waktu kena razia pas SMA.
"Jadi inget waktu di razia pak Bram..." kikik Zea.
"Dan sepatu nih anak paling banyak numpuk di BK!" Clemira meneruskan seraya mendorong kepala Dina pelan.
"Ruang BK tuh udah kaya lemari koleksi sepatu dia doang..." keduanya menertawakan kejadian masa lalu.
"Eh, sepatu lo berdua juga ada ya...inget banget tuh gue!" sanggah Dina menunjuk kedua temannya itu.
"Hmmmm----" Dina menghentikan langkahnya sesaat setelah melewati gedung serbaguna dan memandang langit hangat menuju sore, "sadar ngga sih, yang jodoh tuh bukan lo sama bang Saga...bukan juga lo sama bang Tama...atau gue sama om om rese..."
"Tapi kita bertiga," pungkasnya, "bosen ngga?"tanya Zea balik.
Dina mengangkat alisnya sebelah, lantas menyeringai, "ya engga lah! Gila aja!" Dina merangkul kedua temannya itu, "dulu, Allah kasih kita nasib buat kuliah di beda tempat, sampe beda negara pula...karena Allah tau kita itu udah terlalu sering bikin ramai satu sekolah..."
"Sekarang Allah lengkapkan lagi formasi kita, biar apa cobak?" tanya Dina memainkan alisnya, dan Clemira tertawa, "kamvretto..."
"Buat meramaikan kesatuan udara lah!" kembali Dina bersuara.
"Woooo!" seru dua lainnya, segini saja kegaduhan mereka sudah diperhatikan orang-orang.
.
.
.
Dina membuka pintu rumahnya setelah berpisah di blok berbeda, ia menghela nafasnya saat menemukan kesunyian kembali menyergap. Jangankan sambutan hangat mami atau susu hangat bibi, kondisi rumah saja gelap karena lampu yang belum ia nyalakan, beginikah hidup mengembara sendiri, beginikah kehidupan istri prajurit.
Trek!
Dina menyalakan lampu rumahnya, baru saja kakinya melangkah masuk suara berisik mengejutkannya dari arah dapur.
Grombyangggg!
"Setannn!" Dina langsung berbalik dan menutup pintu rumahnya kembali. Ia bahkan bergidik ngeri dan memegang dadanya.
"Aaaa---gue takut ih!" rengeknya. Dina mondar-mandir di depan terasnya. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Prasasti, "nih om-om rese kemana sih, masa nugas sampe sore begini! Ck!" kesalnya menggaruk kepala tak gatal, bahkan sepatu dan tasnya sudah bergeletakan di teras.
"Bu Pras..." sapa tetangga yang tadi sempat berkenalan dan hadir di pertemuan istri.
"Bu," angguk Dina nyengir.
"Lagi nunggu om Pras ya bu, emhhh---romantisnya..."
Jika saja si ibu tau kalo Dina nunggu Pras hanya karena ia takut, mungkin si ibu akan menertawakannya.
Dina hanya mengulas senyum garing saja, "mampir ke rumah saya bu," tunjuknya tepat di depan rumah Pras.
"Iya bu, lain kali..." jawab Dina.
"Mari bu, saya masuk dulu..." balasnya masuk ke dalam pintu rumah diangguki Dina.
"Mari..." sahut Dina, sedetik kemudian rasa membuncah di kantung kemihnya tak dapat tertahankan, "duhhhh! Pengen pipis," keluhnya menahan rasa geli di bawah sana. Ia celingukan seperti maling ke kaca jendela rumahnya sendiri, ingin masuk tapi rasa takut begitu melingkupi.
"Tapi gue takut!"
Dina melompat-lompat sambil mondar-mandir di teras demi menahan rasa ingin buang air kecilnya, tetangga yang sudah masuk pun sempat mengerutkan dahinya saat tak sengaja mendapati pemandangan di luar jendela sambil tertawa kecil, "lagi olahraga atau lagi ngapain to, itu?"
Baru kali ini Dina melangitkan do'a meminta Pras segera datang untuknya, "kalo sampe gue ngompol di celana, gue usir om Pras keluar dari rumah malam ini..." dumelnya berkacak pinggang.
Langkah berat sepatu delta menjejak semakin dekat, dengan seragam kotor bercampur peluh ia membawa serta perasaan lega selepas bertugas.
Ia berjalan dengan senyuman mendapati sosok gadis berbalut seragam lavender di depan rumah, satu kata untuknya...cantik.
"Assalamu'alaikum..."
Bugh!
Serangan dadakan ia dapatkan dari si cantik yang kini sudah cemberut, "wa'alaikumsalam. Lama banget, ngga tau apa! Dari tadi Dina kebelet pi pis! Temenin!"
Alisnya langsung berkerut, tak sempat menolak Dina langsung menarik dirinya masuk ke dalam rumah.
Sorot pandangan kini kembali mengernyitkan alisnya, "oalah...dari tadi aja ditungguin, sekarang suaminya datang malah digebokin...saking kangennya, dasar penganten anyar..." gumam si ibu yang nyatanya masih mengintip di balik tirai kaca jendela rumah.
.
.
.
.
.
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments
Lalisa
ampun si Dina
2024-11-15
1
Lalisa
siti Kus bukan sih 🤣🤣
2024-11-15
0
Lalisa
😂😂😂😂
2024-11-15
0