Part 19~ 'Meramaikan'

"Selamat datang dan selamat bergabung untuk anggota keluarga baru kita..." sesosok wanita paruh baya berkharisma, sedikit gemuk dan terlihat disegani oleh yang lainnya mengambil alih acara pertemuan kali ini.

"Mari bu, perkenalkan diri terlebih dahulu..." pintanya memberi ruang untuk Dina.

Clemira mendorong-dorong Dina untuk segera memperkenalkan dirinya di depan para istri prajurit lainnya. Tak sampai terpikirkan untuk speak up di depan khalayak ramai begini, Dina cukup dibuat berdehem tak nyaman karenanya.

Otaknya kini berputar harus seperti apa perkenalan formalnya di depan para istri prajurit berseragam ini, ditambah di depannya kini hadir pula istri komandan sebagai pimpinan ranting, makin saja ia dilanda demam panggung.

"Gue mesti gimana? Ngga mungkin sah hay doang kan? Apalagi pake bahasa thailand atau inggris..." tanya nya panik diantara apitan Zea dan Clemira.

Zea berdecak, "udah sii gampang aja, sebutin nama lengkap, jabatan sama unit om Pras bernaung...." jawabnya enteng, tak taukah Zea jika Dina tak sampai mengingat itu, mana lelaki itu tak bilang pula identitasnya! Tau gitu tadi di rumah nanya dulu!

Ia tak sampai hafal apa jabatan dan berada di unit apa Prasasti bernaung. Yang diingatnya adalah berapa nominal gaji Pras setiap bulannya.

"Mamposss! Ngga afal gue, Cle.." akuinya pada Clemira dan Zea berbisik padahal di depan sana mereka sudah menunggu Dina.

"Dih, peak...terus elu taunya apa oon? Masa kerjaan suami sendiri ngga afal..." geram Cle.

"Duit bulanannya lah..." jawabnya membuat Zea meledakan tawanya, "saravvv.." gumamnya pelan.

"Udah maju aja dulu, kelamaan disini lo mau bikin kesel bini prajurit se batalyon?" titah Zea.

"Terus gue mesti bilang apa?" tanya Dina.

"Serah lo..suka-suka lo." jawab Cle. Dina beranjak dari kursinya, kenapa pula harus berkenalan toh, saat menikah pun ia sudah say hay pada istri danru dan istri danyon, nyusahin!

Gadis itu menarik-narik ujung rok dan bajunya agar sedikit rapi, karena mendadak...dirinya merasa menjadi orang yang paling kusut.

Senyuman terukir ramah menyambut Dina, dan gadis itu membalasnya, "terimakasih bu-----" Dina memutar bola matanya mendadak amnesia, "komandan..." lanjutnya cari aman.

Zea sudah kembali menyemburkan dengusan gelinya, "pfffttt...ampun gue," ia mengusap wajahnya, belum apa-apa wajah nyengir dan polos Dina telah membuat seluruh sarafff wajahnya geli. Jika ia benar, maka selanjutnya temannya itu akan membuatnya ingin pipis di celana.

Sementara Cle, wanita itu sudah sejak tadi menggigit bibir bawahnya menahan tawa.

"Assalamu'alaikum semua, selamat siang, salam sejahtera, om swastiastu, salam kebajikan, sawadikap, afternoon..., Ni hao, Li-ho..." ucap Dina.

Sejauh ini Zea dan Cle mengangguk, aman.

"Gong xi fa cai, merry christmas-----" lanjutnya.

"And happy new year..." lanjutnya lagi namun kini digumami hal yang sama oleh Zea dan Clemira, sejurus kemudian kedua rekannya itu melotot di tempat dan menepuk-nepuk lutut masing-masing menahan semburan tawa yang sudah sampai di kerongkongan.

Clemira tak henti-hentinya tertawa sepanjang jalan. Belum lagi teguran pertama di hari perdana Dina ikut pertemuan gara-gara branded tas dan sepatu miliknya yang mencolok.

"Apa salahnya sih, istri prajurit pake Dior! Toh ngga minta suaminya buat beliin..." bibirnya yang julid bin nyinyir itu berucap setajam silet sambil mendengus manyun. Persis waktu kena razia pas SMA.

"Jadi inget waktu di razia pak Bram..." kikik Zea.

"Dan sepatu nih anak paling banyak numpuk di BK!" Clemira meneruskan seraya mendorong kepala Dina pelan.

"Ruang BK tuh udah kaya lemari koleksi sepatu dia doang..." keduanya menertawakan kejadian masa lalu.

"Eh, sepatu lo berdua juga ada ya...inget banget tuh gue!" sanggah Dina menunjuk kedua temannya itu.

"Hmmmm----" Dina menghentikan langkahnya sesaat setelah melewati gedung serbaguna dan memandang langit hangat menuju sore, "sadar ngga sih, yang jodoh tuh bukan lo sama bang Saga...bukan juga lo sama bang Tama...atau gue sama om om rese..."

"Tapi kita bertiga," pungkasnya, "bosen ngga?"tanya Zea balik.

Dina mengangkat alisnya sebelah, lantas menyeringai, "ya engga lah! Gila aja!" Dina merangkul kedua temannya itu, "dulu, Allah kasih kita nasib buat kuliah di beda tempat, sampe beda negara pula...karena Allah tau kita itu udah terlalu sering bikin ramai satu sekolah..."

"Sekarang Allah lengkapkan lagi formasi kita, biar apa cobak?" tanya Dina memainkan alisnya, dan Clemira tertawa, "kamvretto..."

"Buat meramaikan kesatuan udara lah!" kembali Dina bersuara.

"Woooo!" seru dua lainnya, segini saja kegaduhan mereka sudah diperhatikan orang-orang.

.

.

.

Dina membuka pintu rumahnya setelah berpisah di blok berbeda, ia menghela nafasnya saat menemukan kesunyian kembali menyergap. Jangankan sambutan hangat mami atau susu hangat bibi, kondisi rumah saja gelap karena lampu yang belum ia nyalakan, beginikah hidup mengembara sendiri, beginikah kehidupan istri prajurit.

Trek!

Dina menyalakan lampu rumahnya, baru saja kakinya melangkah masuk suara berisik mengejutkannya dari arah dapur.

Grombyangggg!

"Setannn!" Dina langsung berbalik dan menutup pintu rumahnya kembali. Ia bahkan bergidik ngeri dan memegang dadanya.

"Aaaa---gue takut ih!" rengeknya. Dina mondar-mandir di depan terasnya. Beberapa kali ia mencoba menghubungi Prasasti, "nih om-om rese kemana sih, masa nugas sampe sore begini! Ck!" kesalnya menggaruk kepala tak gatal, bahkan sepatu dan tasnya sudah bergeletakan di teras.

"Bu Pras..." sapa tetangga yang tadi sempat berkenalan dan hadir di pertemuan istri.

"Bu," angguk Dina nyengir.

"Lagi nunggu om Pras ya bu, emhhh---romantisnya..."

Jika saja si ibu tau kalo Dina nunggu Pras hanya karena ia takut, mungkin si ibu akan menertawakannya.

Dina hanya mengulas senyum garing saja, "mampir ke rumah saya bu," tunjuknya tepat di depan rumah Pras.

"Iya bu, lain kali..." jawab Dina.

"Mari bu, saya masuk dulu..." balasnya masuk ke dalam pintu rumah diangguki Dina.

"Mari..." sahut Dina, sedetik kemudian rasa membuncah di kantung kemihnya tak dapat tertahankan, "duhhhh! Pengen pipis," keluhnya menahan rasa geli di bawah sana. Ia celingukan seperti maling ke kaca jendela rumahnya sendiri, ingin masuk tapi rasa takut begitu melingkupi.

"Tapi gue takut!"

Dina melompat-lompat sambil mondar-mandir di teras demi menahan rasa ingin buang air kecilnya, tetangga yang sudah masuk pun sempat mengerutkan dahinya saat tak sengaja mendapati pemandangan di luar jendela sambil tertawa kecil, "lagi olahraga atau lagi ngapain to, itu?"

Baru kali ini Dina melangitkan do'a meminta Pras segera datang untuknya, "kalo sampe gue ngompol di celana, gue usir om Pras keluar dari rumah malam ini..." dumelnya berkacak pinggang.

Langkah berat sepatu delta menjejak semakin dekat, dengan seragam kotor bercampur peluh ia membawa serta perasaan lega selepas bertugas.

Ia berjalan dengan senyuman mendapati sosok gadis berbalut seragam lavender di depan rumah, satu kata untuknya...cantik.

"Assalamu'alaikum..."

Bugh!

Serangan dadakan ia dapatkan dari si cantik yang kini sudah cemberut, "wa'alaikumsalam. Lama banget, ngga tau apa! Dari tadi Dina kebelet pi pis! Temenin!"

Alisnya langsung berkerut, tak sempat menolak Dina langsung menarik dirinya masuk ke dalam rumah.

Sorot pandangan kini kembali mengernyitkan alisnya, "oalah...dari tadi aja ditungguin, sekarang suaminya datang malah digebokin...saking kangennya, dasar penganten anyar..." gumam si ibu yang nyatanya masih mengintip di balik tirai kaca jendela rumah.

.

.

.

.

.

.

Terpopuler

Comments

Lalisa

Lalisa

ampun si Dina

2024-11-15

1

Lalisa

Lalisa

siti Kus bukan sih 🤣🤣

2024-11-15

0

Lalisa

Lalisa

😂😂😂😂

2024-11-15

0

lihat semua
Episodes
1 Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2 Part 2 ~ Gagal move on
3 Part 3 ~ Bartender untukmu
4 Part 4 ~ Ngga kenal
5 Part 5~ Titip Separuh hati
6 Part 6 ~ Hati yang terluka
7 Part 7 ~ Keputusan besar
8 Part 8 ~ Terkejut-kejut
9 Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10 Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11 Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12 Part 12 ~ Meyakinkan hati
13 Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14 Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15 Part 15 ~ Soto susu
16 Part 16 ~ Touching
17 Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18 Part 18 ~ Pemanasan
19 Part 19~ 'Meramaikan'
20 Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21 Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22 Part 22~ A lot of change
23 Part 23~ Benih-benih bersemi
24 Part 24 ~ See you again
25 Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26 Part 26 ~ Kasmaran
27 Part 27~ Kasmaran 2
28 Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29 Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30 Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31 Part 31 ~ Perwira sayang istri
32 Part 32 ~ Bittersweet 1
33 Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34 Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35 Part 35 ~ Rayuan maut
36 Part 36~ Candu
37 Part 37~ Judul kisah kita
38 Part 38 ~ Takut Hamil
39 Part 39~ Teror
40 Part 40~ Saksi kunci
41 Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42 Part 42~ Snow White
43 Part 43~ Membaik
44 Part 44~ Bertemu
45 Part 45~ More than anything
46 Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47 Part 47 ~ Kerja bakti
48 Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49 Part 49~ Surprise
50 Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51 Part 51~ Penampakan
52 Part 52 ~ Si Jahil
53 Part 53~ Sensitif
54 Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55 Beda jalur otak
56 Part 56~ Show the world
Episodes

Updated 56 Episodes

1
Part 1~ Milk Bun Rasa Thai tea
2
Part 2 ~ Gagal move on
3
Part 3 ~ Bartender untukmu
4
Part 4 ~ Ngga kenal
5
Part 5~ Titip Separuh hati
6
Part 6 ~ Hati yang terluka
7
Part 7 ~ Keputusan besar
8
Part 8 ~ Terkejut-kejut
9
Part 9 ~ Masa lalu vs masa depan
10
Part 10 ~ Drama Cinderella ngambek
11
Part 11 ~ Sebentar cinta sebentar kesal
12
Part 12 ~ Meyakinkan hati
13
Part 13 ~ Kisah kita adalah skenario Tuhan
14
Part 14 ~ Bunga puteku (Bunga putihku)
15
Part 15 ~ Soto susu
16
Part 16 ~ Touching
17
Part 17 ~ Beban dunia akhirat
18
Part 18 ~ Pemanasan
19
Part 19~ 'Meramaikan'
20
Part 20 ~ Bukti Cinta Prasasti
21
Part 21 ~ Menyadarkan jiwa yang telah lelah
22
Part 22~ A lot of change
23
Part 23~ Benih-benih bersemi
24
Part 24 ~ See you again
25
Part 25 ~ Hey hati, apa kamu baik-baik saja?
26
Part 26 ~ Kasmaran
27
Part 27~ Kasmaran 2
28
Part 28 ~ Proyek Cahaya Senja
29
Part 29 ~ Rendrayasa Jennar
30
Part 30 ~ Menyayangi dengan caranya
31
Part 31 ~ Perwira sayang istri
32
Part 32 ~ Bittersweet 1
33
Part 33 ~ Kesetiaan sampai akhir (bittersweet 2)
34
Part 34 ~ Getirnya hidup (Bittersweet 3)
35
Part 35 ~ Rayuan maut
36
Part 36~ Candu
37
Part 37~ Judul kisah kita
38
Part 38 ~ Takut Hamil
39
Part 39~ Teror
40
Part 40~ Saksi kunci
41
Part 41 ~ Cahaya yang menuntunku untuk pulang
42
Part 42~ Snow White
43
Part 43~ Membaik
44
Part 44~ Bertemu
45
Part 45~ More than anything
46
Part 46~ Melanglangbuana bersamamu
47
Part 47 ~ Kerja bakti
48
Part 48~ Menghemat pasokan minyak bumi
49
Part 49~ Surprise
50
Part 50 ~ Lebih menyeramkan
51
Part 51~ Penampakan
52
Part 52 ~ Si Jahil
53
Part 53~ Sensitif
54
Part 54~ Sekarang, esok dan seterusnya
55
Beda jalur otak
56
Part 56~ Show the world

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!