Alvaro merasa kikuk karena Abbey melepaskan genggaman tangan Alvaro padanya. Entahlah, sekarang Alvaro lebih berani, sejak kemarin saat disuapi oleh Abbey perasaan nya menjadi lain.
Alvaro sendiri juga tidak mengerti tentang perasaannya. Namun tadi saat melihat meja kerja Abbey kosong, dirinya seakan tidak bergairah.
Disaat ia mendengar kabar Abbey kecelakaan, dia menjadi lebih khawatir. Mungkin karena takut kehilangan sekretaris multitalenta, atau ada perasaan lain?
"Maaf," ucap Alvaro. Abbey tersenyum tipis.
"Sebaiknya bos kembali ke perusahaan. Aku ada mama yang menjaga," usir Abbey dengan cara halus.
Sebenarnya Abbey juga tidak sedang baik-baik saja. Apalagi setelah insiden diruang kerja bos nya itu. Hanya saja Abbey lebih pandai menutupi perasaannya.
"Baiklah, nanti sore aku datang lagi. Istirahat yang cukup dan cepat sembuh ya," pesan Alvaro. Abbey mengangguk, kemudian Alvaro bangun dari duduknya dan mengelus rambut Abbey.
Sunita yang duduk tidak jauh dari mereka seolah tidak dianggap. Tapi tidak apa-apa, Sunita malah senang jika ada seorang pria yang perhatian kepada putrinya.
Belasan tahun setelah perceraian nya dengan suaminya. Belasan tahun pula Abbey tidak tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang pria yang disebut ayah.
Abbey hidup mandiri karena keadaan. Sang Papa menikah lagi karena sudah mendapatkan yang lebih kaya. Sunita perlahan menghapus airmata nya mengingat perjuangan Abbey dari kecil hingga sekarang.
"Aku pamit," ucap Alvaro. Untuk kesekian kalinya ia mengucapkan itu, namun tidak juga pergi.
"Sana pergi, pekerjaan lebih penting!"
"Aku pergi dulu!" katanya lagi.
Abbey pun dibuat jengah dengan sikap bos itu. Kemudian ia menutupi seluruh tubuhnya hingga kepala dengan harapan bos nya segera pergi.
Namun Alvaro malah tertawa, dimatanya kini Abbey adalah gadis yang menggemaskan. Kemudian Alvaro pun pergi setelah berpamitan kepada Sunita. Setelah kepergian Alvaro, barulah Abbey membuka selimut nya.
"Sepertinya dia menyukaimu, Nak!" kata Sunita.
"Tidak mungkin ma, dia bos dingin gak doyan perempuan."
"Masa sih, tampan dan gagah begitu masa tidak doyan perempuan."
"Benar ma, gak percaya banget sama anak sendiri."
"Sudah, sebaiknya kamu istirahat. Cepat sembuh biar bisa kerja kembali."
Sunita tahu jika anaknya tidak mungkin bolos kerja jika terjadi sesuatu kepadanya. Dia tau jiwa putrinya yang pekerja keras hanya demi uang untuk mengubah perekonomian keluarga mereka.
Alvaro tiba di perusahaan, saat berjalan di lobby perusahaan, Mustika sengaja menumpahkan air ke jas miliknya. Alvaro menatap kesal pada cleaning service tersebut.
"Maaf tuan, maaf," ucapnya. Mustika mencoba mencari perhatian dengan mengusap air pada jas Alvaro dengan tisu.
Mustika membawa segelas air kopi dan pura-pura tersandung hingga mengenai Alvaro.
"Biar saya cuci jas nya tuan," kata Mustika hendak melepas jas milik Alvaro.
"Tidak perlu!" jawab Alvaro tegas. Alvaro memanggil manager keuangan. Dan meminta manager untuk memotong gaji Mustika sebagai ganti ruginya.
Mustika terduduk lemas dilantai. Niatnya ingin mendekati Alvaro malah gagal. Bahkan gajinya sebagai cleaning service juga dipotong.
"Rasain," ucap karyawan wanita yang kebetulan melihat situasi ini. Tapi dia tidak berani mendekat.
Alvaro tiba dilantai tempatnya bekerja. Melihat meja sekretarisnya kosong, entah mengapa hatinya terasa hampa. Seolah semangatnya untuk bekerja lenyap.
Dary belum menyadari kalau bos nya itu sudah datang. Karena ia sibuk mengerjakan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh sekretaris, tapi malah dia yang mengerjakan nya.
"Keruangan ku sekarang!" perintah Alvaro sambil menyembulkan kepalanya dipintu ruang kerja Dary.
"Aiish, mengapa gak sekalian masuk sih, malah menyuruh keruangannya," gerutu Dary, tapi hanya bisa ia ungkapkan dalam hati.
"Baik bos," jawab Dary dan malah ikut-ikutan memanggil bos.
Dary mengikuti Alvaro dari belakang, Alvaro duduk dikursi kebesarannya. Dan dan Dary juga ikut duduk. Dary menanyakan keperluan bos nya itu.
"Pekerjaan Abbey untuk sementara kamu yang handle, mungkin untuk beberapa hari ini dia tidak masuk bekerja."
"Saya sudah kerjakan tuan, tapi belum selesai karena tuan mengganggu."
"Jadi kamu anggap aku ini pengganggu?"
"Bukan begitu bos, tapi saya sedang bekerja dan bos menyuruh saya ke ruangan si bos. Jadi pekerjaan saya terganggu."
"Sensi amat, kaya orang lagi pms aja," batin Dary.
"Keluar sekarang, aku tidak ingin di ganggu. Oya, pesankan aku makan siang dan antar ke ruanganku."
"Dasar si bos memerintah seenak jidatnya saja," gumam Dary.
"Apa kamu bilang?" tanya Alvaro, karena gumaman Dary tidak terdengar jelas.
"Tidak ada," jawab Dary segera pergi dari tempat itu.
Alvaro menyandarkan tubuhnya disandaran kursi. Kepalanya menengadah ke langit-langit ruangan itu. Sedetik kemudian ia tersenyum saat mengingat momen mereka terjatuh dan saat Abbey menyuapi nya makanan.
"Apa yang kamu pikirkan sayang?"
Alvaro tersentak saat mendengar suara yang sudah sangat dikenalnya. Alvaro gelagapan sehingga kursi yang ia duduki terjungkal kebelakang.
"Sayang!" Ardina segera berlari menghampiri putranya itu.
"Aduh pinggangku," keluh Alvaro.
"Sakit ya, ayo kerumah sakit."
"Mama sih, ngagetin aja."
"Loh, mana Mama tau kalau kamu kaget. Kita ke rumah sakit saja ya."
Alvaro menggeleng. Sedetik kemudian ia mengangguk. Kemudian menggeleng lagi. Ardina menjadi bingung dengan sikap anaknya yang tidak biasa.
"Mama kenapa kemari?"
"Tadi mama mau beli gado-gado, tapi ternyata tutup. Jadi mama mampir kemari."
"Jelas tutuplah ma, orangnya lagi dirumah sakit."
"Loh kok kamu bisa tau, sayang?"
"Ah ... Itu, eee aku cuma nebak aja. Ya nebak aja," jawab Alvaro gugup.
"Aneh nih anak, semakin gak jelas," batin Ardina.
"Ma, bisa gak si Desi dikembalikan saja. Aku risih ma, selalu mengganggu," pinta Alvaro.
"Sebenarnya Mama juga gak enak dengan Tante mu, dia terlalu menyayangi anak itu. Dan sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri."
Ya Alvaro dan Dary sudah tau kalau Desi bukan anak kandung Arina. Tapi mereka merahasiakan hal itu dari Desi sendiri. Karena terlalu dimanja, membuat Desi seperti itu.
Padahal dulunya dia anak baik, namun seiring waktu semua berubah menjadi anak nakal dan liar. Hal itu semakin membuat Alvaro ilfil.
"Kalau mama tidak bisa, biarkan aku saja yang mengatasinya sendiri."
"Apa yang ingin kamu lakukan, Nak?"
"Membuatnya sadar dan kembali ke habitatnya semula."
"Jangan Nak, kasihan Tante mu, dia sangat menyayangi anak itu."
"Ma, jika dibiarkan kehidupan nya semakin hancur!"
"Apa maksudmu?"
"Sebenarnya dia pemakai ma, apakah harus dibiarkan?
Ardina menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ardina benar-benar syok, jujur selama ini dia tidak tahu tentang semua itu.
Alvaro pun menceritakan saat mereka kuliah, dimana Desi ketahuan memakai barang itu. Kemudian ia ditangkap dan dimasukkan keruang rehabilitasi selama 3 bulan.
Semua itu dirahasiakan dari Tantenya, karena takut Tante nya akan syok. Alvaro pikir Desi sudah sembuh, namun ternyata ia kembali lagi mengkonsumsi barang tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 100 Episodes
Comments
LENY
DASAR DESI WANITA GAK TAHU MALU ANAK ANGKAT GAK SADAR DIRI SALAH DIDIK TANTE NYA ALVARO SIH. JADI BEGITU
2025-01-16
1
💕Bernadet Wulandari💕
si Desi udah diangkat jadi anak ga tahu diri banget.
2024-07-13
3
Isabela Devi
knp ga tobat sih
2024-06-28
1