Muallaf

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah.

 "Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah".

Sah....!!!

Pada akhirnya aku resmi menjadi penganut agama islam, disaksikan oleh pihak keluarga Aan tanpa satupun dari keluargaku.

Penetapan tanggal pernikahan pun sudah disepakati pihak keluarga Aan, tepatnya 3 minggu setelah aku muallaf.

Ayah Aan menyuruhku tetap untuk memberitahu tanggal pernikahan itu ke keluargaku, alih - alih menghargai.

Ini membuatku kembali menjadi dilema dan tak bisa membayangkan respon yang akan aku dengar dari saudaraku semuanya.

Semenjak ayah Aan berbicara dengan abangku, entah mengapa beliau berubah menjadi sangat dingin dan terkesan terburu - buru, tidak sedikitpun bisa dibantah semua harus seperti kemauannya, bahkan mama Aan pun tidak berani untuk menyelanya.

" Cepat hubungi dan beritahu ke saudaramu, sebelum ayah mertuamu bertanya lagi nanti",

kata nenek Aan padaku sembari mengusap kepalaku.

Nenek sangat mengerti tekanan yang kuhadapi namun beliau pun tidak dapat membantu karena memang hanya itu jalan terbaik.

Aku mengumpulkan segala kekuatan dan keberanian dalam diriku, aku mengusap perutku sembari membatin bahwa ini kulakukan demi memperjuangkan nyawa dalam perutku, nyawa yang tidak bersalah.

Dreeerttt

Dreerrrt

Aku menghubungi nomor abangku, panggilan pertamaku tidak diangkat begitu juga panggilan kedua, aku berniat jika panggilan ketiga kali tidak diangkat maka aku akan menghubungi kakak saja.

Namun tiba - tiba,

" Hallo",

sapa suara disebrang,

" Ba..ng....", sahutku dengan terbata.

" Kenapa?",

jawab abangku sangat dingin.

Aku berusaha mengabaikan nada suara yang dikeluarkan abangku.

Aku memberitahu bahwa tanggal pernikahan sudah ditetapkan dan aku juga sudah muallaf.

Aku hanya meminta maaf dan memohon agar aku diijinkan menikah.

Abangku hanya diam yang artinya aku sudah tidak perlu mendengar jawaban, aku berusaha sekuat hati untuk meminta jika berkenan datang melihatku menikah dan tetap saja tidak mendapatkan jawaban apapun.

Pada akhirnya aku memutuskan untuk menutup telpon.

Aku kembali menangis, karena diam itu adalah jawaban yang menyakitkan kurasa , itu adalah respon tertinggi atas penolakanku.

Aku menarik nafas berulang kali mencoba menenangkan diri, kembali mengumpulkan kekuatan dan keberanian untuk menghubungi kakakku.

Hal yang sama pun kudapatkan, tak ada lagi respon marah atau umpatan. Hanya diam.

Ya sudahlah... dalam hatiku.

Ayah Aan menemuiku dan mempertanyakan apakah aku sudah memberitahu keluargaku , aku menganggukkan kepala saja.

" Baguslah...yang penting mereka sudah dikabari, jika dalam keadaan yang sudah seperti ini tidak ada yang bisa diperdebatkan lagi, apalagi membuat pilihan itu adalah yang mustahil, disyukuri saja segala niat baik",

cecar ayah Aan padaku.

Aku menjadi bertanya - tanya dalam hati apakah abangku sewaktu itu membuat permintaan, trus pilihan apa, aku hanya bisa menerka - nerka saja dalam hati.

Kabar tentang pernikahanku pun menyebar, termasuk ke pacar yang tak sempat kuputuskan dan kepada teman- temanku dilingkungan kampus, organisasi muda - mudi dan banyak lagi yang lainnya.

Seminggu menjelang pernikahan, teman organisasi muda - mudi datang berkunjung kerumah, berkenalan dengan keluarga dan Aan tentunya.

Kami duduk bercerita.

Mertuaku senang dan menyambut mereka dengan sangat baik. Salah satu dari mereka mengusulkan untuk membawaku jalan - jalan untuk terakhir kalinya sebelum melepas masa lajang dan ide itu disetujui sama yang lainnya.

"Pak, kami ijin untuk membawa mili keluar sebagai acara perpisahan, boleh ya pak?",

ucap salah satu abang pembina.

Ayah Aan segera mengangguk,

" Tapi usahakan sebelum magrib udah nyampe rumah ya", sahutnya.

"Iya pak", jawab abang pembina.

Aan melihatku seakan membuat penolakan, namun karena ayahnya sudah memberi ijin, Aan tidak berani membantah.

Kami pun segera bergegas dengan menaiki mobil yang dibawa oleh teman organisasiku.

Sampai di tempat makan, tempat biasa kami nongkrong jika sedang dalam keadaan mumet atau tidak punya ide dalam kegiatan keorganisasian kami.

Aku aktif bahkan sebagai pembina dan panitia, namun semenjak aku mengenal Aan, aku jarang ikut dan bahkan menghindar.

Organisasi kami adalah kumpulan muda - mudi satu daerah yang berada di perantauan, mulai dari pelajar, mahasiswa dan yang sudah bekerja.

Setelah memesan minuman dan cemilan, kami memilih meja panjang agar bisa duduk bersamaan.

Semua diam beberapa saat, saling pandang - pandangan.

" Kak...apakah pernikahan kakak memang atas dasar keinginan kakak atau tekanan?",

tanya salah satu teman.

" Maksudnya? tekanan apa?", tanyaku balik.

Mereka saling memandang seakan ada sesuatu yang mereka sudah pikirkan sebelumnya.

" Bukankah kakak tidak menjalin hubungan dengannya sebelumnya? kakak kan pacaran sama yang lain? trus kok bisa nikah sama yang ini? belum wisuda lagi?", tanyanya lagi.

Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaannya.

" Maksud kami mengajakmu kesini adalah untuk bertukar pikiran, memastikan jika pernikahanmu terjadi berdasarkan keinginan bersama. jika memang tidak seperti itu, kami siap membantu dengan segala cara",

ucap salah satu tim pembina.

" Jujur saja ka...kami tidak rela jika kakak menikah dengan cara begini, masuk islam pula...apa kakak bisa melupakan agama yang sudah kakak anut sekian lama? hanya untuk seorang pria yang baru beberapa hari kakak kenal?",

cecar salah satu juniorku.

"Iya ka, pikirkan lagi kak...jika kakak mau, kami bisa membawa kakak pulang. kami akan mendampingi kakak, jika perlu membawa kakak jauh dari sini untuk sementara waktu. kami siap menghadapi apapun itu", sahut yang lain.

" Kak... sekian lama kita bersama, dari sekolah dikampung sampai tiba di kota ini, kami kenal seperti apa kakak, makanya kami tidak yakin dengan keputusan kakak kali ini, maaf kak...kami benar - benar tidak bisa menerima kenyataan. kami merasa ada yang salah dengan ini semua...",

Suasana berubah menjadi sendu.

Aku begitu terharu atas perhatian yang mereka berikan. mereka perduli padaku.

aku sama sekali tidak menyalahkan cara berpikir mereka, karena memang semua terkesan begitu terburu - buru.

" Kamu yakin bisa tidak memakan lagi makanan yang diharamkan di islam?,"

celetuk salah satu abang pembina yang memang pribadinya ceria dan bersemangat.

" Lihat tuh didepan, warung makan B2 tempat biasa kita perbaikan gizi...", celetuknya lagi.

Kami serentak melihat warung yang ditunjuknya, dan tertawa bersama.

" Yuk kesitu yuk, makan B2 ajalah kita, untuk terakhir kali pun gak apalah, aku yang bayarin...", ucap yang lain.

Sontak semua bangkit dengan riang. aku hanya mengikut saja. aku tidak mau mengubah keceriaan mereka hanya karena aku.

Tiba diwarun, abang pembina yang janji membayar langsung memesan tanpa bertanya lagi.

Aku pun saat itu hanya berpikir mungkin karena terbawa suasana mereka lupa kalau aku muallaf, jadi kuikuti saja kemauan mereka.

Sambil menunggu pesanan B2 datang, kembali fokus mereka padaku. mereka tetap menunggu jawaban dariku.

" Aku tidak punya pilihan, ini bukan masalah terpaksa, dipaksa atau semacamnya, tapi mereka baik mau bertanggung jawab dengan kesadaran tanpa harus dipaksa. aku juga yang salah, bermain dengan api yang pada akhirnya aku terbakar oleh api itu sendiri...",

tidak kusadari air mata mulai mengalir.

" Aku yang bodoh bisa dipengaruhi oleh hawa nafsu, sampai aku lupa apa yang menjadi fokus utamaku berada di kota ini, bahkan tidak mempertimbangkan perasaan keluargaku sendiri",

uraiku sembari menangis lagi dan lagi.

" Belum terlambat ka...masih bisa diperbaiki...belum ada ucap janji nikah", sela salah satu junior.

" Diperbaiki gimana dek? apakah kakak aborsi saja? atau merawat dan melahirkan anak tanpa suami?", sahutku spontan.

Semua terdiam. Suasana jadi tegang.

" Apakah ada pilihan yang lebih baik lagi dari yang kuhadapi saat ini?", tanyaku pada mereka.

" Jika memang begitu, kan bisa saja menikah tetapi tidak harus kakak yang pindah agama? kenapa tidak abang itu saja yang masuk kristen?", tetap juniorku ini ngotot.

" Bisakah gadis yang sudah hamil diluar nikah meminta itu? jika bisa, mungkinkah dituruti? atau malah sebaliknya?", tanyaku pelan

Semua diam seakan berpikir untuk mencari cara lain, agar aku berubah pikiran.

Namun sepertinya mereka juga menemui jalan buntu.

Pesanan datang, semua fokus pada makanan dan mulai lirik - lirikan.

Aku tetap santai menerima makanan yang disediakan.

Hingga pada saat makanan itu berada tepat didepanku, aku merasakan mual dan pusing. Membuat yang lain terkejut dan terheran.

Aku berusaha menjauhkan makanan itu dan membiarkan mereka menikmatinya. Aku tetap meminta mereka untuk menikmatinya.

Setelah siap makan, akupun meminta maaf dan mengucapkan terimakasih atas segala perhatian dan keperdulian mereka, sekaligus mengundang mereka untuk datang di hari pernikahanku.

Acara tangis - tangisan pun terjadi, saling berpelukan sehingga mengundang perhatian para pengunjung yang makan di tempat itu.

Episodes
1 Kenikmatan Sesaat
2 Diluar nalar
3 Nikmat yang terlarang
4 Tak terbendung
5 Tersadar akan nikmat
6 Merajut asa
7 Godaan
8 Harus menikah
9 pertentangan
10 Ijin Paksa
11 Ijin yang tak bertepi
12 Muallaf
13 Menikah pasrah
14 Perangkap cinta
15 Mengurai Takdir
16 Mengurai takdir selanjutnya
17 Bahagia yang menyakitkan
18 Muallafku kupertanyakan
19 Muallaf karena suami
20 Menguji diri
21 Mencoba yang terbaik
22 Sandiwara tak terduga
23 Jebakan
24 Harapan
25 Awal yang baik, menyakitkan.
26 Perlawanan
27 Mencoba lebih baik
28 Kehangatan ditengah kesakitan
29 Perlakuan berbeda
30 Bersama yang terpaksa
31 Salah yang benar
32 Terpaksa karena harus
33 Uji coba yang tragis
34 Salah tempat
35 Merangkak
36 Refleksi diri
37 Suasana berbeda
38 Membuka mata
39 Terpuruk, Harus berdiri
40 Sandiwara terkadang dibutuhkan
41 Pelarian
42 Sebab Akibat
43 Kendali diri
44 Kerapuhan
45 Niat yang salah
46 Buah Simalakama
47 Kebutuhankah atau keinginan
48 Kenyataan pahit
49 Proses berliku
50 Usaha yang kemelut
51 Jalan terbaik
52 Berusaha Saling Melupakan
53 Sakit Tetapi Harus
54 Melawan Rasa
55 Pindah Kembali
56 Fokus pada karir
57 Terlahir kembali
58 Titik Baru Harapan
59 Kerikil Kehidupan
60 Bantuan dadakan
61 Demi Uang
62 Tidak Seperti Yang Terlihat
63 Tidak tertakar dan Tertukar
64 Dilema batin
65 Agama Turunan
66 Diam tidak didengar, maka bicaralah
67 Kerja keras tidak selalu tentang Uang
68 Penulis Skenario Terbaik
69 Jodoh main - main
70 Ujian Kesetiaan
71 Badai yang menguatkan
72 Menilai rasa
73 Perasaan Atau Kenyamanan?
74 Modus atau Tulus
75 Perjodohan
76 Misteri mertua
77 Misteri Mulai Terungkap
78 Pernikahan tersembunyj
79 Topeng Dan Luka
80 Harapan Tetap Ada
Episodes

Updated 80 Episodes

1
Kenikmatan Sesaat
2
Diluar nalar
3
Nikmat yang terlarang
4
Tak terbendung
5
Tersadar akan nikmat
6
Merajut asa
7
Godaan
8
Harus menikah
9
pertentangan
10
Ijin Paksa
11
Ijin yang tak bertepi
12
Muallaf
13
Menikah pasrah
14
Perangkap cinta
15
Mengurai Takdir
16
Mengurai takdir selanjutnya
17
Bahagia yang menyakitkan
18
Muallafku kupertanyakan
19
Muallaf karena suami
20
Menguji diri
21
Mencoba yang terbaik
22
Sandiwara tak terduga
23
Jebakan
24
Harapan
25
Awal yang baik, menyakitkan.
26
Perlawanan
27
Mencoba lebih baik
28
Kehangatan ditengah kesakitan
29
Perlakuan berbeda
30
Bersama yang terpaksa
31
Salah yang benar
32
Terpaksa karena harus
33
Uji coba yang tragis
34
Salah tempat
35
Merangkak
36
Refleksi diri
37
Suasana berbeda
38
Membuka mata
39
Terpuruk, Harus berdiri
40
Sandiwara terkadang dibutuhkan
41
Pelarian
42
Sebab Akibat
43
Kendali diri
44
Kerapuhan
45
Niat yang salah
46
Buah Simalakama
47
Kebutuhankah atau keinginan
48
Kenyataan pahit
49
Proses berliku
50
Usaha yang kemelut
51
Jalan terbaik
52
Berusaha Saling Melupakan
53
Sakit Tetapi Harus
54
Melawan Rasa
55
Pindah Kembali
56
Fokus pada karir
57
Terlahir kembali
58
Titik Baru Harapan
59
Kerikil Kehidupan
60
Bantuan dadakan
61
Demi Uang
62
Tidak Seperti Yang Terlihat
63
Tidak tertakar dan Tertukar
64
Dilema batin
65
Agama Turunan
66
Diam tidak didengar, maka bicaralah
67
Kerja keras tidak selalu tentang Uang
68
Penulis Skenario Terbaik
69
Jodoh main - main
70
Ujian Kesetiaan
71
Badai yang menguatkan
72
Menilai rasa
73
Perasaan Atau Kenyamanan?
74
Modus atau Tulus
75
Perjodohan
76
Misteri mertua
77
Misteri Mulai Terungkap
78
Pernikahan tersembunyj
79
Topeng Dan Luka
80
Harapan Tetap Ada

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!