Kirana tak menikmati sarapan pagi nya. Ia hanya mengaduk-aduk makanan dalam piring nya.
"sayang, apakah sarapan nya tidak cocok untuk mu?" tanya sang mama.
Kirana hanya menggeleng, ia kemudian beranjak tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"ada apa dengan anak itu?" gumam sang mama.
"ini lagi papa kemana, kenapa sudah dua hari nggak pulang ke rumah" lanjut nya.
Kirana memasuki kamar nya, merebahkan tubuh nya dan mulai merenungi pembicaraan antara dirinya dan Sadewa tadi malam.
Flashback tadi malam...
Kirana terbatuk saat menyadari bahwa yang berdehem adalah Sadewa. pria yang dijodohkan dengan nya, tapi tentu saja tak ada rasa cinta dalam hatinya.
Sementara Raka, kekasih dari Kirana itu terpaku. jika di banding dirinya, Sadewa jelas lebih segala-galanya. Tapi boleh kah jika ia egois, karena ia sangat mencintai Kirana sejak mereka bertemu untuk pertama kali saat mereka kuliah dulu.
Raka ingin beranjak, tapi tangan nya di tahan oleh Kirana. Dan itu tak lepas dari pandangan Sadewa. Jelas terlihat bahwa mereka berdua saling mencintai. hanya saja papa dari Kirana sangat mencintai uang. Ups, ralat. Dia sangat Mencintai istri muda dan rela melakukan apa saja demi istri muda nya yang sedang hamil. Dan jika di lihat pasti lah istri muda nya seumuran dengan Kirana.
"tak perlu pergi, aku ingin bicara dengan kalian" ucap Sadewa duduk di samping Raka.
"pak, pesan bakso nya satu ya. tanpa mie" teriak Sadewa.
"iya mas" sahut sang pemilik kedai.
Raka takjub, ternyata orang kaya sejak lahir seperti Sadewa juga doyan makanan pinggir jalan.
"apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Kirana merasa tak nyaman. Apalagi saat ini gadis itu tengah mengenakan dres pendek.
"kau tampak berbeda dengan penampilan seperti ini" ucap Sadewa.
Kirana kikuk, memang seperti ini lah penampakan dirinya sebenarnya. Tapi, rasanya ia malu untuk mengakui.
"aku nyaman seperti ini"
"jika kau nyaman kenapa harus mengenakan sesuatu yang tidak nyaman saat kau bertemu dengan keluarga ku"
"aku terpaksa"
"aku tau. Dia kekasih mu?" tanya Sadewa menatap Raka.
"iya, kami sudah bersama sejak awal kuliah dulu"
"lalu kenapa kau menerima perjodohan dengan ku?"
"aku terpaksa"
Sadewa tersenyum, cukup kagum dengan kejujuran Kirana.
"kenapa tak mengatakan jika kau sudah memiliki kekasih"
"aku sudah pernah mengatakan nya. Tapi papa justru mengancam ku akan melepas semua fasilitas ku jika sampai aku nekad bersama Raka. Kak Dewa, aku sungguh mencintai Raka. Aku yakin jika kakak yang mengatakan ingin membatalkan perjodohan kita pasti papa dan mama tak akan memaksa ku lagi."
"perjodohan kita memang akan batal Kirana" ucap Sadewa.
Kirana tersenyum, ia ingin bertanya kembali tapi penjual bakso telah datang mengantar pesanan Sadewa.
"benarkah? Apakah karena kakak tau penampilan ku yang sebenarnya?"
Sadewa tak menjawab sebab ia masih menikmati benda bulat yang terbuat dari daging itu.
"bukan karena kau"
"lalu???"
Sadewa menghabiskan bakso nya dengan cepat. Kemudian menatap Kirana dan Raka bergantian.
"aku bisa membantu kalian untuk terus bersama. Tapi aku juga butuh bantuan kalian"
"bantuan seperti apa yang tuan Sadewa ingin kan?" tanya Raka yang sejak tadi hanya diam menyimak.
"aku akan mengatakan nya kelak. untuk sekarang ada hal yang lebih penting daripada perjodohan antara aku dan Kirana" ucap Sadewa.
"apa itu kak?"
Sadewa tak menjawab, ia mengeluarkan sesuatu dari saku nya dan meletakkan di atas meja tepat di hadapan Karina.
Kirana mengernyit, ia menatap benda kecil yang merupakan flashdisk pemberian Sadewa.
"apa ada sesuatu sayang?" tanya Raka.
"entahlah, aku akan membuka nya nanti di rumah"
Raka mengangguk, mereka pun melanjutkan makan dalam diam.
Flashback off.
"flashdisk itu? Ya, pasti ada sesuatu di dalam flashdisk itu"
Kirana beranjak, mencari tas slempang yang di pakai nya tadi malam. Dan ia memekik girang saat menemukan benda kecil yang belum sempat ia lihat isinya. Dengan cepat ia mencolokkan flashdisk itu pada laptop dan mencari sesuatu yang tampak aneh.
Di dalam flashdisk itu hanya ada satu video dan beberapa gambar yang masih belum jelas. Tapi begitu di buka, ekspresi Kirana tampak syok.
"a-apa ini???" tanya Kirana.
Ia memperbesar gambar itu dan terpampang lah dengan jelas bahwa itu memang benar....
"ini benar papa?" tanya nya dengan mata berkaca-kaca.
"Lisa, ini adalah Lisa. tidak mungkin bukan jika papa dan Lisa...."
Air mata Kirana menetes. Apakah mungkin papa yang selama ini ia banggakan bisa bersikap seperti lelaki yang kurang ajar dan berkhianat pada sang mama.
Penasaran dengan isi video nya, Kirana langsung menekan play dan kemudian ia membekap mulut nya. Jantung nya berpacu dengan cepat. Tidak mungkin! Ini sungguh di luar akal sehat.
"jadi selama ini papa...."
Kirana menggeleng, hendak menolak kenyataan itu tapi ternyata itu adalah fakta. sakit hatinya, dada nya terasa sesak seperti di himpit sebuah batu besar. Kirana menangis sejadi-jadinya. Papa nya telah berkhianat. dan itu adalah kenyataan paling pahit. dan satu lagi yang membuat nya sakit hati dan kecewa.
Papa nya menjodohkan nya dengan Sadewa demi harta! Karena perusahaan sang papa di ambang kehancuran!
"kenyataan apa ini tuhan!"
***
Waktu dua bulan berlalu dengan cepat. Selama itu pula Karina menjadi pendiam dan sering kali pulang malam. Sang mama menjadi khawatir, sebab Kirana yang biasanya selalu bercerita dengan hari-hari yang di lalui nya kepada sang mama.
Tapi, papa nya tampak acuh. Pria setengah baya itu pun sering tak tidur di rumah dengan alasan lembur di kantor. Padahal jelas Kirana tau bahwa keadaan kantor sudah kembali stabil saat pihak A.S company menyumbangkan dana yang begitu besar.
Yang tidak di ketahui oleh orang tua Kirana adalah bahwa anak gadis mereka kini hidup di pinggiran kota. Menyewa kostan kecil dan bekerja sebagai penjaga toko kue. Kirana menjalani kehidupan itu dengan bahagia. Ia juga sudah bertekad untuk menikah dengan sang kekasih, Raka.
berbeda dengan kehidupan Kirana, kini Adeline juga sedang menikmati peran nya menjadi calon ibu. Hari perkiraan lahir adalah sekitar 3 hari yang akan datang.
pagi ini, dengan di temani oleh bidan mawar Adeline melakukan yoga khusus untuk ibu yang hendak melahirkan. Meskipun sebenarnya Adeline merasa perut nya sedikit terasa mulas sejak bangun tidur. Tapi ia tetap melakukan yoga karena ia ingin saat melahirkan ia melahirkan secara normal.
Setelah 20 menit yoga pelan, Kirana duduk di sofa sementara bidan mawar sudah kembali di rumah. tak lama Farhan datang membawa susu hangat untuk Adeline.
"kenapa mbak?" tanya Farhan.
"nggak papa, mbak cuma ngerasa perut mbak sedikit mulas"
Farhan gegas meletakkan gelas yang di bawa nya kemudian memanggil buk Narti.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Partini Minok Nur Maesa
knp dewa tdk cari adel
2024-08-09
0
Aurora
wah makin seru
2024-06-05
0
PANJUL MAN
saking penasaran dengan ceritanya sampe gak sempat komen
2024-03-09
0