"mama rasa ada aneh dari Sadewa pa"
"aneh gimana ma?"
"papa apa nggak ngerasa ada yang aneh dari Sadewa. Sekarang anak kita itu suka makan pedas dan asam padahal selama 26 tahun Sadewa belum pernah makan sesuatu yang asam pa. Apalagi makanan pedas, dulu aja dia kapok makan pedas karena setelah itu dia diare seharian penuh sampe di infus" jelas nyonya Ratna.
tuan Ervan terdiam, karena kesibukan nya di kantor membuat ia sedikit abai dengan sang putra.
"tadi mama sempat berbicara dengan Raihan"
"lalu apa kata Raihan ma?"
"Raihan bilang kalau...."
Flashback tadi siang.....
Karena rasa penasaran dengan apa yang di alami oleh putra nya beberapa bulan ini akhirnya nyonya Ratna pun menemui dokter pribadi keluarga, dokter Raihan secara pribadi.
Sebelum nya ia membuat janji terlebih dahulu karena takut dokter muda itu sedang tidak berada di rumah. Meskipun sudah mendapat gaji tetap dari keluarga Sadewa tapi tetap saja sebagai seorang dokter ia masih bekerja di rumah sakit. ya, walaupun prioritas nya tetap lah keluarga Sadewa.
Saat ini, nyonya Ratna sudah di persilahkan masuk oleh Raihan. Mereka duduk di ruang tamu, Raihan duduk di sebelah nyonya Ratna setelah dari belakang untuk mengambil minuman dan kudapan.
"kenapa harus repot-repot Rai"
"nggak repot kok Tante"
"oh iya, Tante langsung saja sebenarnya kamu tau kan apa yang terjadi sama Sadewa?"
"maksud Tante?"
"Raihan, meskipun Tante sebenarnya ragu dan merasa tidak percaya tapi dari apa yang terjadi pada Sadewa Tante jadi menduga hal yang tidak-tidak. Apalagi 26 tahun yang lalu mas Ervan pernah mengalami hal yang sama ketika....."
"ketika Tante hamil Sadewa?"
nyonya Ratna menoleh, kali ini apa tebakan nya benar.
"jadi apakah benar jika....?"
"menurut diagnosa Raihan apa yang terjadi pada Sadewa bisa saja karena faktor syndrome kehamilan simpatik Tante. Tapi sampai saat ini Sadewa masih bungkam tentang apa yang sebenarnya terjadi"
Nyonya Ratna terdiam, entah apa yang ia pikirkan tapi sesaat kemudian ia berpamitan tanpa menyentuh hidangan yang ada di atas meja. Raihan pun membiarkan saja karena paham dengan apa yang di rasakan oleh wanita yang menjadi ibu teman nya itu.
"Sadewa, wanita mana yang kau buat hamil?" lirih Raihan kemudian menghela nafas.
flashback off
"jadi maksud mama Sadewa sudah menghamili seorang gadis?"
Nyonya Ratna tak menjawab, tapi terdengar isakan dari bibir nya. tuan Ervan pun memeluk istrinya itu dan menepuk pundak nya untuk menenangkan. Apa yang terjadi jika sang putra memang benar telah menghamili gadis di luar nikah?
atau mungkin putra nya sudah menikah tapi tak mau berbicara dengan mereka? Apakah gadis itu berasal dari keluarga kelas bawah. Tapi bukan kah Sadewa tau jika keluarga nya tak memandang seseorang dari materi.
"mama tenang saja, semua nya masih kemungkinan belum tentu benar. besok kita ke apartemen Sadewa untuk menanyakan nya agar jelas"
***
"semua sudah saya kirim ke hp anda mas. Dan saya masih disini untuk memantau keadaan"
Farhan mematikan panggilan telepon nya kemudian membuka aplikasi hijau yang terdapat banyak pesan dari nomor yang ia beri nama A.
Disana terdapat gambar rumah yang tampak sederhana. Farhan. mengelus gambar itu, masih sama dan tak berubah. Kemudian Farhan menggilir layar dan menekan tombol play pada video yang di kirim. Tangan Farhan tampak mengepal saat melihat dan mendengar video itu.
"dasar istri boros! Masa uang 100 ribu seminggu ngga cukup. Kamu itu emang ngga bisa ngatur keuangan. dasar bo*oh" maki seorang pria pada wanita yang hanya duduk diam saja.
"kalau seandainya dua anak mu masih disini aku tak perlu susah kerja seperti ini. Menyusahkan saja!" lanjut nya kemudian pergi.
"kemana sih anak itu, pergi cuma ngasih uang 10 juta aja. Mana cukup buat biaya makan sampai 8 bulan ini" ucap wanita itu setelah kepergian sang suami.
Farhan menatap datar pada video yang sudah habis itu.
"lihat lah mbak, jangan kan rindu. Kabar pun mereka tak ingin tau. Kenapa kau rindu pada orang tua yang bahkan tak pernah peduli pada kita" lirih Farhan.
"dan ibu, sampai kapan ibu bertahan pada lelaki seperti itu. Apakah ibu tidak merasa sakit saat di rendah kan. Kenapa harus mengorbankan perasaan kami demi perasaan cinta ibu pada ayah. Ya, mungkin memang benar hidup berjauhan seperti ini lebih baik daripada harus bersama tapi hanya terluka. semoga ibu lekas sadar dan tetap baik-baik saja"
***
"jadi dia sudah memiliki kekasih?"
"benar bos"
"kekasih nya adalah teman masa kuliah nya? Tapi bukan orang kaya oleh sebab itu Ayah dari Kirana yak merestui hubungan mereka?"
"iya bos"
"cih, terlihat sekali dia hanya menginginkan harta keluarga ku dari perjodohan ini. Kau sudah memberikan informasi ini kepada kakek tua itu?"
"belum tuan. tapi sepertinya tuan tua juga menyelidiki nona Kirana. Sebab ketika saya memantau nona Kirana ada dua pria yang berpakaian rapi sedang memantau nya juga"
Sadewa mengangguk paham. kakek nya tentu tau apa yang harus di lakukan. Dan sekarang Sadewa bisa tenang karena sepertinya setelah ini tidak akan ada lagi pembicaraan tentang perjodohan di meja makan. Sadewa bisa pulang dan tenang saat berada di rumah.
"oh iya, belikan aku martabak manis sekarang"
Bawahan nya itu termangu, melirik jam tangan milik nya yang sudah menunjukkan pukul 2 malam. Dimana mencari martabak di waktu dini hari seperti ini?
"ba-baik bos"
Pria itu segera keluar dari apartemen Sadewa. Ketika sampai di bawah ia merutuki kebodohan nya yang menyanggupi permintaan aneh bos nya. tapi jika tidak di turuti apakah ia akan bisa keluar dalam keadaan baik-baik saja.
Pria itu bersandar di atas motor nya. melihat ke arah jalanan yang rata-rata para pedagang sudah tutup. Ya, wajar memang karena saat ini sudah dini hari.
"dimana aku harus mencari martabak?" tanya nya gusar.
Ia asyik dalam kebingungan hingga kemudian ada seseorang yang menepuk bahu nya dan membuat ia hampir terjungkal karena kaget.
"astaga!" pekik nya.
Ia kemudian menoleh dan mendapati satpam apartemen itu yang sedang memperhatikan nya.
"nyari apa mas?" tanya satpam itu.
"nyari martabak pak. Bos saya pengen martabak"
"lagi ngidam ya mas bos nya?"
"eh, i-iya pak. Kira-kira dimana ya pak nyari martabak di daerah sini?"
"gampang mas. Disini ada warung makan yang buka 24 jam. Mas nya lurus aja ke jalan kanan ini nanti ketemu deh"
Bawahan Sadewa itu menghela nafas. Ia bergegas menuju warung yang di katakan oleh satpam itu setelah sebelumnya mengatakan terima kasih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments