mengalami pendarahan

"kita ikuti saja lah, yang terpenting adalah kamera mu selalu on agar tuan tua percaya jika informasi yang kita dapat akurat dan tidak palsu" ucap orang itu dan di angguki oleh temannya.

Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan, dengan menunjukkan kartu identitas dari tuan tua maka mereka dengan mudah bisa masuk ke dalam bangunan itu.

Saat kaki melangkah masuk, suara bising musik langsung terdengar di telinga mereka. Irama musik keras yang cukup memekakkan telinga membuat mereka menggeleng kan kepala. Meskipun mereka termasuk preman tapi tempat tongkrongan mereka bukan yang seperti ini.

Mereka saling memberi kode lewat mata saat mereka melihat sasaran. Mereka mendatangi bartender dan memesan minuman beralkohol rendah kemudian duduk di samping seorang wanita yang sedang di pangku oleh seorang pria yang seumuran dengan nya.

"apakah perjodohan mu dengan pria itu akan tetap berlangsung sayang" tanya pria itu membelai pipi Kirana.

Kirana tampak menghela nafas, ia mencium kening pria yang menjadi kekasih nya itu kemudian menatap matanya.

"mau tidak mau Raka, bagaimana lagi. Perusahaan papa selama ini selalu bekerja sama dengan perusahaan Sadewa. Seharusnya tidak harus melakukan perjodohan karena selama ini kerja sama mereka tidak ada masalah sama sekali, tapi entahlah apa yang di inginkan oleh papa. Kenapa ngotot sekali ingin menjodohkan aku dengan Sadewa"

"apa kau tak bisa menolak nya?"

"aku bisa. tapi aku harus siap kehilangan segala fasilitas yang di berikan oleh papa. Dan aku belum siap"

pria itu terdiam. Kemudian membawa Kirana kedalam pelukannya. Mengelus lembut surai Kirana yang halus karena sering di rawat.

"maafkan aku, seandainya saja aku berasal dari keluarga kaya sudah pasti kita akan bersama Kirana. Maafkan aku, aku mau memperjuangkan cinta kita tapi aku tak mampu berhadapan dengan papa mu. Aku takut justru mereka akan memisahkan kita dan kita tak akan lagi bisa bertemu seperti sekarang"

Kirana membalas pelukan kekasih nya dengan erat. Pria ini lah yang mau menerima dirinya. Tidak harus berpenampilan tertutup seperti apa yang di inginkan tuan tua. walau sebenarnya tuan tua tak menuntut Kirana untuk berpenampilan tertutup tetapi entah mengapa sang papa selalu memaksa agar ia memakai pakaian seperti itu.

Dua anak buah yang mendengar di belakang saling pandang. Sungguh ironis sekali kisah cinta beda kasta yang terjadi pada dua pemuda pemudi di depan mereka ini. Tombol video sudah menyala sejak tadi dan ketika di rasa sudah cukup mereka pun beranjak dari tempat duduk tanpa meminum minuman yang telah di pesan.

****

Malam ini Anton harus lembur di apartemen Sadewa sebab sejak sore setelah menikmati nasi goreng buatan Anton yang menurut Sadewa sangat lezat. Sadewa tertidur hingga sekarang pukul 9 malam belum bangun. Alhasil Anton lah yang mengambil alih pekerjaan Sadewa. Beruntung ia baru saja menerima transferan bonus atas kerja keras nya memasak nasi goreng.

Anton melihat ke kamar Sadewa, tampak pria itu masih lelap dalam tidur nya sembari memeluk guling yang baru 2 Minggu lalu di belinya. Anton meninggalkan bos nya ketika hp dalam saku nya berdering.

"halo..."

"bos, ada yang ingin saya laporkan"

"datang lah ke apartemen tuan Sadewa. aku ada disini"

panggilan pun terputus. Anton menuju ruang dapur untuk membuat kopi sebagai teman menunggu nya.

***

Farhan sendiri saat ini masih asyik dengan laptop nya. Sejak ia menggeluti dunia bisnis kecil-kecilan itu ia sering begadang. Tapi tak sampai pagi hanya kadang-kadang sampai pukul tengah malam.

"dek..." panggil Adeline dari dalam kamar.

Farhan menghentikan kegiatan nya membalas pesan dari seorang klien. Ia langsung beranjak saat mendengar sang kakak memanggil namanya. Farhan membuka kamar Adeline dan membelalak kan mata saat melihat noda darah sudah merembes di atas kasur Adeline.

"mbak!!!" pekik Farhan.

Farhan langsung menggendong Adeline sembari berteriak memanggil Bu Narti.

"bi nar...."

Tapi belum sempat ia berteriak ternyata Bu Narti sudah ada di depan pintu kamar.

"ya Allah mbak Adel!" pekik bu Narti.

Bu Narti pun langsung berlari menyiapkan motor, mengeluarkan nya dan menghidupkan nya. Farhan mendudukkan Adeline di jok motor kemudian di belakang nya di dampingi oleh Bu Narti. Farhan sendiri langsung gegas menyetir motor itu dan melaju ke rumah bidan terdekat. Kondisi yang hampir tengah malam tak memungkinkan mereka untuk ke puskesmas karena jarak yang lumayan jauh.

10 menit kemudian mereka sampai di rumah bidan desa yang bernama mawar. Bu Narti yang tanggap langsung memencet bel rumah itu dengan panik. Tak lama bidan mawar pun keluar dari rumah.

"astaghfirullah, langsung bawa ke ruangan aja dek Farhan"

Farhan pun langsung membawa Adeline dan membaringkan ke ranjang pasien. Tangan nya gemetar saat melihat begitu banyak dara* yang merembes dan mengenai tangan nya. Adeline tampak pucat tapi masih dalam kondisi sadar.

"mbak Adel..." ucap Farhan dengan mata berkaca-kaca.

Adel hanya tersenyum tipis menahan nyeri dari perut nya.

"dek Farhan tolong keluar dulu, oh iya tolong siapkan air hangat di dapur ya dek. biar bik Narti disini aja membantu saya membersihkan mbak Adel."

Farhan mengangguk, ia langsung menuju dapur dan memasak air. Setelah mendidih ia menuangkan air itu dalam baskom kemudian di tambah dengan air dingin. Kira-kira hangat kuku Farhan segera membawa air itu ke ruangan sang kakak.

Farhan masuk setelah mengetuk pintu dan mendapat perintah dari bidan mawar. Tampak Adeline sudah berganti baju dan pendarahan nya sudah berhenti. Selang infus pun sudah di pasang.

"dek Farhan keluar dulu lagi ya, sebentar saja kok"

Farhan menurut, ia keluar dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu itu. Di dalam sana, Bu Narti menggosok tubuh Adeline dengan air hangat. jilbab dan daster yang tadi di kenakan sudah di lepas dan di ganti dengan baju khusus pasien.

Setelah selesai, Bu Narti membawa baskom itu ke belakang.

"mas Farhan kalau mau masuk sudah bisa"

Farhan menoleh ke arah bu Narti kemudian mengangguk. Ia pun masuk ke dalam dan melihat bidan mawar yang sedang memeriksa denyut nadi Adeline.

"Bu bidan, apa yang terjadi pada mbak Adel?" tanya Farhan.

Bidan mawar melepas stetoskop nya kemudian mengajak Farhan duduk di bangku yang ada di dalam ruangan itu.

"mbak Adel hanya kelelahan. hari ini pasti mbak Adel melakukan hal yang berat-berat hingga memicu pendarahan. tapi syukurlah pendarahan nya tidak serius dan bisa di hentikan. mulai sekarang mbak Adel harus bedrest total sampai melahirkan nanti. Boleh olahraga sekedar jalan-jalan saja jangan sampai melakukan yang berat"

"terimakasih Bu bidan"

Bidan mawar pun mengangguk kemudian membiarkan adik lelaki itu menunggu kakak nya yang masih terlelap dalam pengaruh obat bius.

****

"Anton!!!!" teriak Sadewa dari dalam kamar.

Anton yang sedang duduk bersama dua anak buah nya pun terkejut kemudian berlari menghampiri Sadewa.

"bos!!!" pekik mereka bertiga

Episodes
1 orang asing
2 akhirnya menikah
3 Pulang
4 memutuskan pergi
5 terbongkar
6 terpaksa menerima
7 garis dua
8 wanita tak benar
9 sanksi
10 wanita bau
11 kehamilan simpatik
12 mengalami pendarahan
13 ikatan batin
14 Rindu ibu
15 kecurigaan Ratna
16 ngidam sirsak
17 bayi pintar
18 keluar negeri
19 kontraksi
20 melahirkan
21 terbang pulang
22 bertemu kembali
23 mas?
24 berniat memperbaiki
25 bertemu ibu
26 maafkan ibu
27 pesona ketampanan suami Adeline
28 memulai dari awal
29 jatuh cinta
30 Raka menagih janji
31 cinta membutakan mata
32 pengumuman
33 kejutan
34 menyesal?
35 kembali
36 sarapan bersama
37 kejutan di pagi hari
38 sarapan bersama
39 Arsen sakit
40 kembali nya tuan tua
41 beruntung
42 makan malam
43 akhirnya....
44 Sadewa tau
45 malam manis
46 penuh semangat
47 mengunjungi Adeline
48 berniat melamar
49 kejutan
50 menemukan alasannya
51 kabar bapak
52 surprise
53 surprise 2
54 trauma Adeline
55 kebahagiaan Anton
56 kisah lalu
57 5 tahun kemudian
58 none
59 gejala ngidam
60 positif+
61 program adik untuk Arsen
62 ....
63 teman lama Karina
64 Arsen dan sandi
65 kisah masa lalu
66 Draft
67 bertemu masa lalu
68 masa lalu Nina
69 .....
70 cerita Nina
71 bertemu masa lalu nina
72 orang yang sama
73 program adik
Episodes

Updated 73 Episodes

1
orang asing
2
akhirnya menikah
3
Pulang
4
memutuskan pergi
5
terbongkar
6
terpaksa menerima
7
garis dua
8
wanita tak benar
9
sanksi
10
wanita bau
11
kehamilan simpatik
12
mengalami pendarahan
13
ikatan batin
14
Rindu ibu
15
kecurigaan Ratna
16
ngidam sirsak
17
bayi pintar
18
keluar negeri
19
kontraksi
20
melahirkan
21
terbang pulang
22
bertemu kembali
23
mas?
24
berniat memperbaiki
25
bertemu ibu
26
maafkan ibu
27
pesona ketampanan suami Adeline
28
memulai dari awal
29
jatuh cinta
30
Raka menagih janji
31
cinta membutakan mata
32
pengumuman
33
kejutan
34
menyesal?
35
kembali
36
sarapan bersama
37
kejutan di pagi hari
38
sarapan bersama
39
Arsen sakit
40
kembali nya tuan tua
41
beruntung
42
makan malam
43
akhirnya....
44
Sadewa tau
45
malam manis
46
penuh semangat
47
mengunjungi Adeline
48
berniat melamar
49
kejutan
50
menemukan alasannya
51
kabar bapak
52
surprise
53
surprise 2
54
trauma Adeline
55
kebahagiaan Anton
56
kisah lalu
57
5 tahun kemudian
58
none
59
gejala ngidam
60
positif+
61
program adik untuk Arsen
62
....
63
teman lama Karina
64
Arsen dan sandi
65
kisah masa lalu
66
Draft
67
bertemu masa lalu
68
masa lalu Nina
69
.....
70
cerita Nina
71
bertemu masa lalu nina
72
orang yang sama
73
program adik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!