Sadewa menarik ujung bibir nya. Merasa tertarik pada gadis di depannya. Rupa nya ada yang berani melakukan tawar menawar dengan nya. tapi, Sadewa ingin mengetahui syarat apa yang akan di ajukan oleh gadis yang kini sudah duduk di tepian ranjang dan menghadap dirinya.
Sadewa duduk di samping Adeline, Adeline tampak menggeser sedikit tubuh nya saat tubuh Sadewa di rasa cukup menempel padanya.
"jadi, apa permintaan mu?"
"sa-saya ingin anda menikahi saya sebelum ki-kita... Ki-kita melaku-melakukan itu" jawab Adeline menunduk malu.
Sadewa tersenyum tipis, mungkin benar apa yang di katakan Anton jika gadis di samping nya ini masih polos.
"bagaimana jika aku tidak mau?"
"tidak mungkin" sanggah Adeline tegas.
"bagaimana bisa anda melakukan hal itu tanpa menikah terlebih dahulu"
Sadewa menatap lekat mata Adeline begitu sebaliknya. Pandangan mereka bertemu sangat lama, mereka menyelami mata masing-masing. hingga Adeline lah yang pertama memutuskan pandangan itu karena tidak ingin terjebak pada pesona om-om di depan nya.
Sadewa menarik tangan Adeline hingga gadis kepala gadis itu terjatuh di dada bidang nya. Tanpa aba-aba Sadewa Melu*at bibir Adeline dengan lembut. Adeline yang syok tampak membelalakkan matanya. Jantung nya berdebar kencang bahkan lebih kencang dari sebelum nya.
Adeline mengerjapkan matanya beberapa kali, merasakan benda kenyal yang kini menempel di bibir nya. Sementara Sadewa yang merasa Adeline tak membalas ciuman nya pun menggigit ujung bibir Adeline hingga Adeline membuka mulut nya. Sadewa bersorak dalam hati, bibir polos seorang gadis pera*an memang manis.
Adeline menepuk d*da Sadewa karena merasa tidak bisa bernafas.
"a-apa yang om lakukan?" tanya Adeline mengusap bibir nya yang basah.
Sadewa mengusap bibir nya dengan usapan yang menggoda.
"aku hanya meminta DP. Lagipula bukan kah seharusnya kita sudah melakukan hal itu berulang kali saat ini?"
"ta-ta-tapi saya ingin om menikahi saya terlebih dahulu. Saya tidak ingin melakukan itu tanpa menikah terlebih dahulu"
"hei gadis kecil! Bukan kah sebelum kau menjual dirimu kau bisa memikirkan hal ini terlebih dahulu. Jika orang lain yang membeli mu mungkin saja kau sudah habis oleh nya. Bahkan pakaian panjang mu itu mungkin sudah tak berbentuk lagi"
"tapi, bisakah om melakukan permintaan saya? Tidak harus menikah resmi, cukup menikah di bawah tangan saja. Hanya agar saat saya melakukan hal itu dengan om, saya tidak akan merasa bersalah terhadap diri saya sendiri. Setelah saya melakukan kewajiban saya, maka om akan bebas dari saya" mohon Adeline pada Sadewa.
"baiklah. menikah hanya untuk malam ini saja. Dan besok antara kita tak ada hubungan apapun lagi"
Adeline mengangguk setuju. Ia pun berdiri dan meraih ponsel nya. Begitu juga dengan Sadewa.
Tut.... Tut....
"halo bos?"
"om, semua sudah siap. Mari kita turun ke bawah"
Sadewa langsung memutuskan panggilan nya kepada Anton, sang sekretaris. Ia menatap Adeline kemudian mengangguk dan mengikuti langkah kaki gadis itu.
"ah, bos ini apakah perlu menelpon ku jika hendak melakukan itu. Meskipun ini pengalaman pertama seharusnya bos menonton blue film saja. Kenapa harus menganggu waktu makan malam romantis ku" gerutu Anton kemudian kembali ke bangku di mana gadis pujaannya tengah menunggu sembari memakan es krim vanila coklat.
***
Adeline dan Sadewa tiba di lantai dasar hotel. tampak mereka di sambut oleh seorang pria yang memakai sorban di kepala. Empat pria lainnya memakai pakaian batik dan celana dasar sopan. Pakaian mereka tampak khas sekali.
Adeline menyalami pria yang memakai sorban itu, kemudian empat pria lainnya.
"ini calon suami mu Del?" tanya pria yang memakai sorban itu.
"iya pak ustadz. Tapi kami ingin melakukan pernikahan di bawah tangan terlebih dahulu"
Pria yang di panggil ustad itu pun mengangguk. beliau kemudian menggiring orang-orang itu termasuk Adeline dan Sadewa untuk memasuki ruangan yang telah di siapkan.
Sadewa terpaku, di dalam ruangan itu sudah ada meja untuk pelaksanaan ijab qobul. Kapan persiapan ini di lakukan. tapi ia mencoba abai sebab pada dasarnya ia memang tak peduli.
Mereka duduk pada posisi masing-masing. Sadewa menghadap penghulu dan Adeline berasa di samping kiri Sadewa.
"kau siap nak?" tanya pak ustadz.
Sadewa mengangguk. Kemudian tangan mereka pun berjabat dan pak ustadz mengucapkan kalimat ijab dan Sadewa mengucapkan kalimat qobul dengan sekali tarikan nafas saja hingga kalimat 'sah' menggema di ruangan itu.
Air mata Adeline tak bisa di tahan, bukan karena haru ataupun bahagia karena sudah menikah. Tapi karena setelah ini ia akan kehilangan sesuatu dalam dirinya yang selama ini ia jaga.
"nah, Adeline kini engkau sudah menjadi istri seorang lelaki. Kau tanggung jawab nya, lakukan kewajiban mu sebagai seorang istri dan saya berdoa semoga pernikahan kalian langgeng" ucap pak ustadz.
"terima kasih pak" jawab Sadewa.
"kalau begitu kami permisi"
Lima pria berusia 50 an tahun itu pun keluar dari ruangan itu.
"om tunggu di kamar tadi saja, saya mau menyusul pak ustadz sebentar"
Adeline langsung beranjak tanpa menunggu jawaban Sadewa. Sadewa pun keluar dari ruangan itu dan ketika hendak keluar dari pintu samar-samar ia mendengar perbincangan seseorang.
"iya, kasian sekali Adeline. harus menikah secara sembunyi-sembunyi agar tidak di ketahui oleh ayah nya. Kalau sampai pak Burhan tau sudah pasti Adeline akan di jadikan bulan-bulanan oleh ayah nya itu"
"betul itu mas, saya berharap suami nya Adel bisa menjadi sosok panutan yang penyayang bagi Adeline"
Terdengar langkah kaki menjauh, setelah yakin tidak ada orang Sadewa pun keluar dan menaiki tangga menuju kamar nomor 17 dimana ia akan menunggu Adeline, gadis yang baru saja menjadi istrinya.
"gi*a, aku pasti sudah gil*. Bagaimana bisa aku menikahi seorang gadis yang bahkan namanya baru ku ketahui sejam yang lalu. Bagaimana dengan mama jika sampai tau hal ini"
Sadewa mengacak rambut nya kasar. Ia pun melepas kancing kemeja nya karena merasa gerah. Ia melihat ke arah pintu yang masih tertutup rapat.
"ah sia*. Apakah sekarang kau juga sedang menunggu kedatangan gadis itu Dewa!" maki Sadewa kepada dirinya sendiri.
Entah berapa waktu Sadewa memejamkan matanya hingga ia merasakan pergerakan di samping ranjang. Ia membuka mata dan melihat seorang gadis sedang memperhatikan dirinya.
"om tidur?"
Sadewa tak menjawab. Ia langsung meraih tubuh gadis itu dan menghimpit nya. suasana tengah malam dan udara dingin membuat jiwa lelaki Sadewa memberontak apalagi ini adalah pertama kalinya ketika ia membuka mata ada seorang wanita di samping nya.
Tak seperti tadi, Adeline tampak pasrah dengan segala perlakukan Sadewa. yang ia harap kan malam ini akan segera berlalu dan ia akan mendapat bayaran nya. Dan setelah itu, ia akan melupakan apapun hal yang terjadi pada malam ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments