Pagi yang cerah, suara kicauan burung yang terdengar nyaring tak mampu membangunkan tidur Sadewa yang lelap. tadi malam setelah 90 menit menunggu martabak pesanan nya dan menghabiskan separuh martabak itu ia baru bisa terlelap. Dan sekarang ia masih asyik bergelung dalam selimut yang nyaman sembari memeluk boneka beruang yang berukuran sangat besar.
"sejak kapan putra kita menyukai boneka ma?" tanya tuan Ervan yang memperhatikan putra nya yang sedang tidur.
Dua orang itu berdiri di ambang pintu. Mereka datang pagi-pagi sekali sebab takut jika Sadewa pergi ke kantor. Tapi yang mereka baru tau adalah bahwa akhir-akhir ini Sadewa tidak ke kantor dan di gantikan oleh Anton. karena menurut penjelasan Anton, Sadewa akhir-akhir ini sering mengalami insomnia dan baru akan tertidur setelah memakan sesuatu yang di inginkan. Dan ketika pagi maka bos nya itu akan sulit bangun. Akhirnya dia lah menggantikan peran bos nya.
Nyonya Ratna mendekati Sadewa, di tatap nya wajah sang putra dengan raut wajah tak terbaca. Ia hanya takut jika putra nya telah menyakiti seorang wanita. Bagaimana nasib wanita itu. Apakah hidup nya baik-baik saja. Bagaimana pandangan masyarakat tentang nya jika benar dia hamil?
Tuan Ervan merangkul nyonya Ratna dari samping. Ia mengetahui apa yang di pikir kan oleh sang istri.
"semua akan baik-baik saja ma" ucap tuan Ervan menenangkan.
nyonya Ratna mengangguk, ia hanya berharap bahwa anak yang telah ia didik untuk selalu menghormati wanita tidak akan mengecewakan dirinya.
"sekarang kita tunggu Sadewa bangun di ruang depan saja. Sekalian mama bikin sarapan ya, papa laper"
nyonya Ratna menoleh ke arah sang suami kemudian tersenyum dan mengangguk. Demi anak yang sekarang masih lelap tidur mereka sampai melewatkan waktu sarapan pagi.
***
pagi ini Adeline dengan di temani Farhan sedang jalan-jalan pagi. Adeline berharap lahiran pertama nya akan normal tanpa operasi. Seumur-umur baru ketika ia hamil inilah ia merasakan di pasang selang infus di tangan nya. Rasanya sungguh sakit, tapi demi bayi yang sangat ia cintai ia rela.
Pemandangan pagi ini cukup cerah, sinar mentari sedikit menghangatkan tubuh mereka. Dengan berjalan perlahan dan sesekali menyapa siapa saja yang di temui mereka. Mereka sampai di sebuah warung, mereka berhenti untuk membeli minuman dan roti karena tadi Adeline tak berna*su untuk makan.
"aduh, itu apa bik?" tanya Adeline menunjuk ke arah buah sirsak.
"kayak nya sirsak kan ya bik?" tanya Adeline lagi.
"iya mbak. itu sirsak, kebetulan baru pertama buah dan mau di bawa ke rumah anak saya yang nggak jauh dari sini" jawab ibu pemilik warung.
"yah,, sayang sekali" gumam Adeline.
Adeline melihat pohon sirsak yang hanya berbuah satu itu. Ia menelan Saliva nya, pasti sangat segar jika mencicipi walau hanya sedikit saja buah masam itu.
Farhan yang memperhatikan kakak nya pun berinisiatif menawar buah sirsak itu.
"Bik, kalau saya beli boleh nggak? mbak saya lagi ngidam"
Adeline menoleh, adiknya ini ternyata cukup perhatian.
"aduh gimana ya mas, anak saya juga lagi hamil muda. pengen nya makan yang segar-segar"
Adeline tampak murung, tapi ia tak boleh egois. ia sendiri sudah merasakan bagaimana rasanya ketika ngidam dan menginginkan sesuatu. Jika sesuatu itu belum ada maka ia tidak akan bisa tenang.
Tanpa mereka bertiga sadari, ada seseorang yang sedang membeli roko* dan mendengar pembicaraan mereka. tanpa basa-basi ia segera menjauh setelah membayar roko* itu dan mengeluarkan ponsel nya kemudian menghubungi seseorang.
"ya sudah bik, terima kasih. Kami beli ini saja"
Farhan meletakkan dua botol air minuman dan beberapa roti serta camilan gurih kesukaan Adeline.
"kita pulang aja mbak, matahari sudah mau terik. Dan mungkin sebentar lagi orang yang mau beli jambu kristal kita datang lagi"
Adeline hanya mengangguk, ia berjalan dengan pelan dan di dampingi oleh Farhan. di masa kehamilan nya yang sudah masuk trimester ketiga ini membuat ia kesulitan berjalan. di tambah ia harus bedrest total. Berjalan pagi pun hanya boleh beberapa menit saja dan dengan sangat pelan. tapi Adeline tak menjadikan itu beban, justru ia menikmati setiap saat yang menjadi semua impian wanita yang sudah menikah.
Adeline tersenyum saat merasakan bayi di dalam perut nya menendang.
"lihat dek, keponakan kamu seneng di ajak jalan-jalan" seru Adeline tersenyum lebar.
Farhan berhenti, ia pun memegang perut sang kakak dan merasakan perut besar itu bergerak.
"iya mbak. Waahhh ternyata suka di ajak olahraga ya"
Mereka tertawa geli kemudian melanjutkan langkah nya dan menuju rumah. Beberapa saat kemudian mereka sampai di rumah dan melihat sebuah mobil pick up terparkir di halaman rumah nya. tampak dua orang pria sedang melihat-lihat sekitar rumah Adeline.
"mereka udah Dateng mbak" ucap Farhan.
"ayo lebih cepat lagi jalannya" ajak Adeline
"pelan-pelan aja mbak" seru Farhan memapah Adeline.
Dua pria itu rupanya mendengar pembicaraan Farhan dan Adeline. Mereka pun menghampiri keduanya. tanpa ada yang tau salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel nya dan memotret Adeline ketika mereka sedang asyik berbincang.
"oh iya mbak Adel, kami kebetulan tadi singgah di kebun sirsak yang ada di kota. Dan kami membawakan beberapa untuk mas Farhan dan mbak Adel. karena saya lihat di sekitar sini tidak ada tanaman sirsak" ucap salah satu pria yang di ketahui namanya oleh Farhan adalah bapak Santoso.
"benar kah?" tanya Adeline senang.
Bapak Santoso tampak sumringah. Ia segera mengambil kresek hitam besar dan memberi kan nya pada Farhan. Farhan segera membuka plastik besar itu dan melihat di dalam nya. ternyata bukan hanya buah sirsak tapi juga ada rambutan, pisang dan juga buah pepaya muda.
"terima kasih pak" ucap Farhan dan di angguki oleh bapak Santoso.
"Seto! Kamu bantu bawakan buah ini"
pria yang di panggil Seto itu pun segera membawa plastik berisi buah itu sedangkan Farhan memapah Adeline.
"ke belakang aja dek, mbak mau lihat metik jambu nya"
Farhan menurut, ia memapah sang kakak dan membawa ke belakang rumah. Tampak disana ada buk Narti yang sedang membersihkan daun-daun yang gugur.
"ehh,, ada tamu ternyata" ucap buk Narti
"iya bik, tolong siapkan minum dan camilan ya" punya Farhan.
"iya mas"
Buk Narti pun masuk ke dapur dan menyiapkan apa yang di pinta oleh Farhan. Tak lama buk Narti kembali dengan membawa nampan berisi 3 gelas kopi hitam dan segelas susu. camilan nya ada kue bolu yang sudah di iris-iris.
"duduk sini aja bik, temani aku"
Buk Narti menurut, ia duduk di bangku samping Adeline. Tiba-tiba Adeline merasakan perut nya kram, ia mencengkram tangan buk Narti hingga membuat buk Narti panik.
"mbak Adel kenapa??" pekik buk Narti
Farhan yang mendengar itu pun langsung berlari dan menghampiri sang kakak.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
PANJUL MAN
orang tua sadewa kelamaan bertindak
2024-03-09
2