Rindu ibu

Pagi ini Sadewa merasakan nyeri yang tiba-tiba pada hatinya. Jantung nya pun berdegup lebih kencang daripada biasanya. Entah mengapa juga suasana hatinya menjadi sedikit mellow. Ia jadi makin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada wanita yang pernah ia tiduri 7 bulan lalu.

"apakah benar aku akan menjadi seorang papa?" tanya lirih Sadewa.

"kenapa hatiku merasa kan sakit tanpa alasan seperti ini? Apakah ia mengalami kesusahan" lanjut nya.

"Sadewa!!!" teriak seseorang membuat Sadewa mendongak.

Tampak dari arah depan sang mama menghampiri Sadewa yang sedang duduk di kursi makan. Sementara Anton sedang menyiapkan menu sarapan permintaan Sadewa. Bakso mercon super pedas. Pagi-pagi sekali Anton harus ke supermarket untuk mencari bakso dan mengolahnya sendiri.

"Sadewa kamu baik-baik aja sayang" tanya sang mama menangis.

Nyonya Ratna menangkup pipi sang putra. Entah mengapa beberapa bulan ini putra nya suka sekali mengalami sakit yang tiba-tiba. dan lihat lah pipinya sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Bagaimana tidak kurus jika setelah makan ia akan memuntahkan kembali makanan itu beberapa jam kemudian.

"kamu makan jeruk ini?"

Sadewa melihat pada kulit jeruk yang ada di atas meja makan. Ya daripada bosan menunggu Anton memasak lebih baik mulut nya mengunyah sesuatu yang asam. Oh membayangkan nya saja sudah membuat Sadewa ingin memakan nya lagi.

"iya ma. Boleh kah Sadewa minta tolong untuk di ambil kan jeruk lagi. Sadewa merasa lemas"

Nyonya Ratna tanpa lama pun langsung mengambil jeruk permintaan sang putra. Kemudian mulai mengupas nya dan memberikan kepada Sadewa.

"emm,,, segar nya" ucap Sadewa.

Anton yang mendengar itu hanya menelan Saliva nya. Bagaimana bisa jeruk super masam yang di makan bos nya di Katai segar. Anton menuangkan bakso mercon yang sudah matang itu ke dalam mangkuk. Tampak merah dan menggoda, Anton saja sampai meneguk ludah nya beberapa kali. tapi begitu ingat berapa banyak cabai yang ia letakkan membuat ia bergedik ngeri untuk mencicipi nya.

"pesanan anda sudah siap tuan" ucap Anton menggeser kulit jeruk dan meletakkan mangkuk berisi bakso mercon yang masih mengeluarkan asap.

"waaahh,,, kau memang best Ton. Aku akan memberi mu bonus nanti" puji Sadewa.

Anton tersenyum bangga, ini lah yang di sukai Anton dari bos nya. Meskipun kadang dingin dan kejam tapi untuk masalah bonus tidak pernah pelit.

"apakah masih ada sisa?" tanya Sadewa.

"masih bos"

"baiklah, panggil dua anak buah mu aku ingin makan bersama mereka"

"hanya bersama mereka bos? Padahal saya yang memasak" ucap Anton sedih.

"apakah kau ingin sakit perut? Bukan kah kau tidak boleh memakan sesuatu yang pedas"

Anton tersenyum, rupanya bos nya ini cukup perhatian juga. Lagipula meskipun ia cukup tergiur dengan masakan nya pagi ini tapi mungkin akan ada selang infus di tangan nya jika sampai mencicipi.

Akhirnya Anton pun memanggil dua anak buah nya yang sedang menonton tv di ruang tamu. Tak perlu lama-lama akhirnya mereka sudah berkumpul di ruang makan. Akhirnya mereka menikmati bakso mercon buatan Anton, kecuali Anton sendiri dan nyonya Ratna.

Mereka berdua memakan sarapan yang di bawa oleh nyonya Ratna tadi.

***

Siang terik begitu menyengat, beberapa bulir keringat tampak mengalir di kening Farhan. Ya, siang ini Farhan baru saja selesai menanami kembali sayur sawi hijau di kebun nya. Meskipun tak setenar buah jambu kristal tapi sayur sawi ini cukup laku di pasaran. Apalagi warung-warung makan terdekat sering memesan sayur itu pada Farhan.

Selain karena Farhan menjual dengan harga yang lebih murah. Farhan merupakan satu-satunya petani sayur sawi di daerah situ. karena kebanyakan dari mereka adalah pekerja di kebun teh.

"mas Farhan, saya sudah masak SOP ayam kampung. Silahkan kalau makan siang"

Farhan menoleh ke arah bu Narti, untuk urusan kebun memang masih Farhan yang menangani. Meskipun sudah menghasilkan uang tapi Farhan belum mau merekrut pegawai. karena takut jika kedepannya ia belum mampu memberi gaji.

"masukkan dalam wadah saja Bu, mau Farhan bawa ke rumah bidan mawar"

Setelah mendengar itu, Bu Narti pun langsung kembali ke rumah dan menyiapkan menu makan siang yang sudah ia siapkan. Tak berapa lama ia kembali ke depan dan melihat Farhan sudah tak ada lagi di kebun. Bu Narti meletakkan rantang itu di meja kemudian membersihkan dapur.

Farhan memakai celana dasar dan kaos pendek dengan luaran kemeja tidak di kancing. Ia pun keluar dari kamar dan mencari Bu Narti.

"Bu, Farhan berangkat ya"

"iya mas"

Farhan membawa rantang itu dan mulai mengendarai motor nya. pagi tadi ia memang meninggalkan sang kakak yang sedang terlelap dan menitipkan nya kepada bidan mawar.

Cukup waktu 10 menit, Farhan sudah sampai di rumah bidan mawar. Farhan mengetuk pintu terlebih dahulu lalu kemudian masuk setelah mendengar sahutan dari dalam. Farhan melihat sang kakak sedang memandang ke arah luar jendela. Matanya terlihat begitu sayu dan merah seperti baru saja menangis.

Tampak bidan mawar menyambut Farhan dengan senyuman tipis. Bidan mawar berdiri kemudian menghampiri Farhan, tanpa mengatakan apapun bidan mawar menepuk pundak Farhan dan memberi kode untuk mendekati sang kakak.

Farhan duduk di kursi yang ada di dekat ranjang pasien. Meraih jemari sang kakak dengan lembut hingga membuat Adeline menoleh. Adeline tampak tersenyum manis, tapi Farhan tau senyum itu adalah senyuman terpaksa.

"kenapa mbak? Mbak kan tau kalo mbak Adel sedih adek dalam perut mbak pasti ikutan sedih" ucap Farhan lembut.

Adeline menghela nafas, dadanya terasa sesak. Ia menatap adiknya dengan mata berkaca-kaca.

"bagaimana kira-kira kabar ibu ya dek? Entah kenapa tiba-tiba mbak rindu sama ibu"

Farhan terdiam. Ia pun kini turut merasakan apa yang di rasakan oleh kakak nya. delapan bulan berada di tempat asing. Jauh dari orang tua, melewati suka duka hanya bersama kakak nya.

"mbak Adel mau ketemu ibu?"

Adeline menggeleng, tapi Farhan tau dari mata Adeline tampak ingin. Dan Farhan tau apa yang di pikirkan oleh Adeline.

"mbak Adel makan siang dulu ya. Aku juga belum makan loh, laper banget" ucap Farhan tersenyum lebar.

Adeline mengangguk, ia tadi memang berpesan pada Bu Narti agar memasak sop ayam kampung. Dan ini pasti adalah menu keinginan nya.

Mereka pun akhirnya memakan menu makan siang itu dengan lahap.

***

Malam ini setelah makan malam, nyonya Ratna mengajak sang suami untuk berdiskusi di dalam kamar. Biasanya setelah makan malam mereka akan berbicara ringan bersama tuan tua di ruang keluarga. Tapi malam ini nyonya Ratna menggeret suaminya masuk ke dalam kamar.

"ada apa ma?"

"mama mau membicarakan tentang Sadewa pa"

"ada apa lagi dengan anak itu?"

"mama merasa ada yang aneh dengan anak kita pa...."

Episodes
1 orang asing
2 akhirnya menikah
3 Pulang
4 memutuskan pergi
5 terbongkar
6 terpaksa menerima
7 garis dua
8 wanita tak benar
9 sanksi
10 wanita bau
11 kehamilan simpatik
12 mengalami pendarahan
13 ikatan batin
14 Rindu ibu
15 kecurigaan Ratna
16 ngidam sirsak
17 bayi pintar
18 keluar negeri
19 kontraksi
20 melahirkan
21 terbang pulang
22 bertemu kembali
23 mas?
24 berniat memperbaiki
25 bertemu ibu
26 maafkan ibu
27 pesona ketampanan suami Adeline
28 memulai dari awal
29 jatuh cinta
30 Raka menagih janji
31 cinta membutakan mata
32 pengumuman
33 kejutan
34 menyesal?
35 kembali
36 sarapan bersama
37 kejutan di pagi hari
38 sarapan bersama
39 Arsen sakit
40 kembali nya tuan tua
41 beruntung
42 makan malam
43 akhirnya....
44 Sadewa tau
45 malam manis
46 penuh semangat
47 mengunjungi Adeline
48 berniat melamar
49 kejutan
50 menemukan alasannya
51 kabar bapak
52 surprise
53 surprise 2
54 trauma Adeline
55 kebahagiaan Anton
56 kisah lalu
57 5 tahun kemudian
58 none
59 gejala ngidam
60 positif+
61 program adik untuk Arsen
62 ....
63 teman lama Karina
64 Arsen dan sandi
65 kisah masa lalu
66 Draft
67 bertemu masa lalu
68 masa lalu Nina
69 .....
70 cerita Nina
71 bertemu masa lalu nina
72 orang yang sama
73 program adik
Episodes

Updated 73 Episodes

1
orang asing
2
akhirnya menikah
3
Pulang
4
memutuskan pergi
5
terbongkar
6
terpaksa menerima
7
garis dua
8
wanita tak benar
9
sanksi
10
wanita bau
11
kehamilan simpatik
12
mengalami pendarahan
13
ikatan batin
14
Rindu ibu
15
kecurigaan Ratna
16
ngidam sirsak
17
bayi pintar
18
keluar negeri
19
kontraksi
20
melahirkan
21
terbang pulang
22
bertemu kembali
23
mas?
24
berniat memperbaiki
25
bertemu ibu
26
maafkan ibu
27
pesona ketampanan suami Adeline
28
memulai dari awal
29
jatuh cinta
30
Raka menagih janji
31
cinta membutakan mata
32
pengumuman
33
kejutan
34
menyesal?
35
kembali
36
sarapan bersama
37
kejutan di pagi hari
38
sarapan bersama
39
Arsen sakit
40
kembali nya tuan tua
41
beruntung
42
makan malam
43
akhirnya....
44
Sadewa tau
45
malam manis
46
penuh semangat
47
mengunjungi Adeline
48
berniat melamar
49
kejutan
50
menemukan alasannya
51
kabar bapak
52
surprise
53
surprise 2
54
trauma Adeline
55
kebahagiaan Anton
56
kisah lalu
57
5 tahun kemudian
58
none
59
gejala ngidam
60
positif+
61
program adik untuk Arsen
62
....
63
teman lama Karina
64
Arsen dan sandi
65
kisah masa lalu
66
Draft
67
bertemu masa lalu
68
masa lalu Nina
69
.....
70
cerita Nina
71
bertemu masa lalu nina
72
orang yang sama
73
program adik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!