garis dua

Huekk hueekk

Adeline mengeluarkan semua sarapan nya di wastafel. Perut nya terasa kosong sekarang. Tapi rasanya juga lega. Entah mengapa tiba-tiba perut nya terasa seperti di aduk-aduk.

"apakah magh ku kambuh" gumam nya.

Setelah merasa lebih baik Adeline mencuci mulut dan tangan nya kemudian berjalan ke arah kulkas. Di buka nya kulkas itu tapi kemudian di tutup kembali. Ia berjalan ke depan dan memanggil sang adik.

"dek!"

Farhan yang merasa di panggil pun menoleh kemudian mengernyit saat melihat wajah sang kakak yang pucat. Dengan cepat remaja itu menghampiri Adeline.

"kakak sakit?" tanya Farhan.

"sedikit. Mungkin magh kakak kambuh. Kamu tolong belikan kakak obat magh kemudian buah-buahan yang masam ya"

Farhan menerima selembar uang merah yang di berikan Adeline. Dengan berjalan kaki ia pun menuju warung yang berada 500 meter dari rumah nya.

setelah Farhan berlalu, Adeline pun masuk ke dalam kamar untuk mengistirahatkan tubuh nya.

***

"mama masak apa?" tanya Sadewa menghampiri sang mama.

"oh Arya, tumben udah bangun?"

"iya ma, tiba-tiba aku pengen makan nasi goreng seafood"

Ratna mengernyit, sudah sejak 10 tahun yang lalu putra nya tak pernah meminta nasi goreng lagi. Tapi kemudian ia tersenyum.

"duduk lah, kebetulan ada persediaan bahan nya. mama akan buat kan untuk mu"

Dengan patuh Arya Sadewa pun duduk sembari memperhatikan sang mama yang cekatan menyiapkan udang, telur, sosis dan bumbu-bumbu untuk membuat nasi goreng.

Aroma sedap menguar memenuhi dapur itu, tapi kemudian....

Hueek...

Ratna meminta pelayan yang membantu nya untuk melanjutkan masakan nya dan menghampiri sang putra.

"kamu kenapa nak?" tanya Ratna khawatir.

Sadewa tak menjawab sebab ia masih memuntahkan seluruh isi perut nya.

"papa!!!" seru Ratna memanggil sang suami.

"paaa!!!!"

Ervan yang sedang melakukan olahraga pagi pun segera menghampiri sang istri yang berteriak memanggil nya.

"kenapa ma?" tanya Ervan panik.

"Arya kenapa ma?" tanya Ervan kemudian ketika sadar bahwa istri nya tengah memapah sang anak.

"panggil dokter Raihan pa, tiba-tiba Arya muntah-muntah"

"Arya ngga papa ma" ucap Arya lemas.

"tapi kamu pucat Arya"

"bantu Arya ke atas aja pa, Arya mau istirahat"

Ervan pun mengangguk kemudian memapah sang anak naik ke lantai atas.

"ada apa Ratna?" tanya tuan tua yang baru turun dari tangga sebelah dan melihat cucunya tengah di papah oleh anak nya menaiki tangga menuju kamar Arya Sadewa.

"nggak tau pa, tiba-tiba aja muntah-muntah"

"sudah di panggil kan dokter?"

"sudah pa, Egi sudah menelpon dokter Raihan"

Tuan tua mengangguk kemudian menyusul Arya ke kamar nya. Sekesal dan semenjengkel kan apapun Arya Sadewa, pemuda itu tetap lah cucunya. Satu-satunya pewaris seluruh kekayaan nya. Jadi jika terjadi sesuatu padanya sebagai kakek tentu lah ia merasa khawatir.

"nyonya, 5 menit lagi dokter Raihan sampai" ucap Egi, sang kepala pelayan di rumah itu.

"terima kasih Egi"

Egi mengangguk hormat kemudian meminta pelayan menyiapkan susu dan nasi goreng seafood pesanan tuan muda mereka.

Sementara Ratna gegas ke depan untuk menyambut dokter keluarga mereka. Ratna mondar mandir di ruang tamu dengan sesekali melihat ke arah pintu untuk menanti kedatangan dokter Raihan. Hingga suara pintu di buka membuat Ratna langsung menoleh.

"ayo Rai, langsung ke kamar Arya saja"

dokter Raihan pun mengangguk dan mengikuti langkah nyonya Ratna yang terlihat tergesa.

Sesampainya di kamar Arya, tampak pemuda itu sedang di pijit oleh sang papa. Di hidung nya tampak menghirup minyak kay* put*h dan membuat Ratna mengernyit heran karena selama ini putra nya tak mau menghirup minyak hijau itu.

"biar saya periksa dulu om" ucap dokter Raihan mendekat ke arah tuan Ervan.

Arya Sadewa membuka matanya untuk melihat kedatangan dokter sekaligus sahabat nya itu.

"aku baik-baik saja Rai" ucap Sadewa dengan suara yang lemas.

"diam lah, setelah ku periksa baru kau boleh berkomentar"

Sadewa hanya diam dan menurut sampai Raihan memeriksa denyut nadi Sadewa dan tidak merasakan apapun. Meskipun memang kondisi Sadewa cukup lemas dan pucat tapi tak ada masalah apapun dalam dirinya.

"sepertinya Sadewa hanya kecapean saja om, jadi tidak perlu khawatir"

"syukurlah. Tapi kenapa tadi Arya muntah-muntah Rai?" tanya tuan tua.

"itu karena Sadewa masuk angin kek, mungkin akhir-akhir ini Sadewa sering lembur dan terkena angin malam"

"baiklah, terima kasih sudah memeriksa nya"

Raihan mengangguk, ia merapikan peralatan nya kemudian berpamitan.

"Raihan pamit dulu, tidak perlu mengantar ku Tante. Oh iya, jangan lupa ingat kan Sadewa untuk meminum obat yang aku berikan"

nyonya Ratna mengangguk kemudian mendekat ke arah Sadewa.

"aku rindu istri ku" gumam Sadewa lirih.

"kau mengatakan sesuatu sayang?"

Sadewa hanya menggeleng, entah mengapa tiba-tiba ia merindukan gadis yang satu bulan lalu telah ia nikahi.

'bagaimana kabar istri ku ya' batin Sadewa.

***

Tak berbeda jauh dengan kondisi Sadewa, Adeline juga sedang terbaring lemas dengan selang infus yang menggantung di sebelah kiri nya.

"ayo mbak makan dulu" bujuk Farhan menyodorkan sesendok bubur ayam yang tadi di beli nya.

"enggak dek, mbak ngga pengen makan. Kamu kupasin mbak buah jeruk aja. Kayak nya seger"

Farhan pun menurut, karena setiap kali di paksa maka Adeline pasti akan muntah.

"mbak ngga mau ngasih kabar ke lelaki itu kalau sekarang mbak lagi hamil?"

"enggak. Kan kamu tau hubungan kami kayak gimana dek. Kalau bukan karena hutang yang di sebab kan oleh ayah sudah pasti mbak belum menikah saat ini"

Farhan menghela nafas memahami. Masih untung pria itu mau menikahi kakak nya secara resmi jadi jika ada warga yang bertanya mengenai kehamilan kakak nya, kakak nya tak akan merasa malu.

***

hari-hari berlalu, kondisi Adeline sudah lebih baik apalagi kandungan nya sudah menginjak dua bulan. Selama itu pula tak ada masalah dengan tetangga ataupun pihak mana pun. hanya saja akhir-akhir Adeline merasa seperti ada seseorang yang selalu memperhatikan dirinya dari jarak jauh. Tapi Adeline tak mau ambil pusing dan mencoba abai. Lagipula di rumah ini ada adiknya.

"mbak, aku mau ke rumah yoga dulu ya. Mau tanya-tanya tentang perkuliahan" pamit Farhan.

"iya dek. pulang nya jangan siang-siang ya. Nanti siang mbak pengen masak nasi goreng buatan kamu"

Farhan mengangguk kemudian mencium tangan sang kakak dan berlalu. Cukup berjalan kaki karena jarak rumah nya dengan rumah yoga hanya beberapa ratus meter saja.

Di tengah jalan, Farhan bertemu dengan segerombolan ibu-ibu yang menatap sinis ke arah nya. Tapi Farhan mencoba untuk tersenyum ramah. Tapi, melihat ke arah mana ibu-ibu itu berjalan Farhan berhenti sejenak dan memperhatikan. sesuai dugaan nya segerombolan ibu-ibu itu memang datang ke rumah nya. Farhan tersenyum karena kakak nya akan memiliki teman sampai ia kembali nanti.

Tapi Farhan tidak tau, bahwa ia telah salah paham kepada ibu-ibu itu.

Episodes
1 orang asing
2 akhirnya menikah
3 Pulang
4 memutuskan pergi
5 terbongkar
6 terpaksa menerima
7 garis dua
8 wanita tak benar
9 sanksi
10 wanita bau
11 kehamilan simpatik
12 mengalami pendarahan
13 ikatan batin
14 Rindu ibu
15 kecurigaan Ratna
16 ngidam sirsak
17 bayi pintar
18 keluar negeri
19 kontraksi
20 melahirkan
21 terbang pulang
22 bertemu kembali
23 mas?
24 berniat memperbaiki
25 bertemu ibu
26 maafkan ibu
27 pesona ketampanan suami Adeline
28 memulai dari awal
29 jatuh cinta
30 Raka menagih janji
31 cinta membutakan mata
32 pengumuman
33 kejutan
34 menyesal?
35 kembali
36 sarapan bersama
37 kejutan di pagi hari
38 sarapan bersama
39 Arsen sakit
40 kembali nya tuan tua
41 beruntung
42 makan malam
43 akhirnya....
44 Sadewa tau
45 malam manis
46 penuh semangat
47 mengunjungi Adeline
48 berniat melamar
49 kejutan
50 menemukan alasannya
51 kabar bapak
52 surprise
53 surprise 2
54 trauma Adeline
55 kebahagiaan Anton
56 kisah lalu
57 5 tahun kemudian
58 none
59 gejala ngidam
60 positif+
61 program adik untuk Arsen
62 ....
63 teman lama Karina
64 Arsen dan sandi
65 kisah masa lalu
66 Draft
67 bertemu masa lalu
68 masa lalu Nina
69 .....
70 cerita Nina
71 bertemu masa lalu nina
72 orang yang sama
73 program adik
Episodes

Updated 73 Episodes

1
orang asing
2
akhirnya menikah
3
Pulang
4
memutuskan pergi
5
terbongkar
6
terpaksa menerima
7
garis dua
8
wanita tak benar
9
sanksi
10
wanita bau
11
kehamilan simpatik
12
mengalami pendarahan
13
ikatan batin
14
Rindu ibu
15
kecurigaan Ratna
16
ngidam sirsak
17
bayi pintar
18
keluar negeri
19
kontraksi
20
melahirkan
21
terbang pulang
22
bertemu kembali
23
mas?
24
berniat memperbaiki
25
bertemu ibu
26
maafkan ibu
27
pesona ketampanan suami Adeline
28
memulai dari awal
29
jatuh cinta
30
Raka menagih janji
31
cinta membutakan mata
32
pengumuman
33
kejutan
34
menyesal?
35
kembali
36
sarapan bersama
37
kejutan di pagi hari
38
sarapan bersama
39
Arsen sakit
40
kembali nya tuan tua
41
beruntung
42
makan malam
43
akhirnya....
44
Sadewa tau
45
malam manis
46
penuh semangat
47
mengunjungi Adeline
48
berniat melamar
49
kejutan
50
menemukan alasannya
51
kabar bapak
52
surprise
53
surprise 2
54
trauma Adeline
55
kebahagiaan Anton
56
kisah lalu
57
5 tahun kemudian
58
none
59
gejala ngidam
60
positif+
61
program adik untuk Arsen
62
....
63
teman lama Karina
64
Arsen dan sandi
65
kisah masa lalu
66
Draft
67
bertemu masa lalu
68
masa lalu Nina
69
.....
70
cerita Nina
71
bertemu masa lalu nina
72
orang yang sama
73
program adik

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!