Adeline menggeliat, perlahan membuka mata indah nya dan memindai sekitar. Kening nya mengkerut dalam ketika mendapati dirinya tak berada di dalam kamar nya sendiri. Ia kemudian menoleh ke arah samping dan tertegun. Ohh Adeline baru ingat jika dirinya sudah menjadi seorang istri tadi malam. Melakukan pernikahan tanpa di hadiri oleh keluarga bahkan orang tua dari kedua belah pihak. Mata Adeline menjadi berkaca-kaca jika mengingat nya.
Padahal yang di inginkan nya adalah pernikahan seumur hidup dengan seseorang yang sangat ia cintai dan juga mencintai nya. tapi kini harapan nya telah pupus, karena semalam ia sudah melangsungkan pernikahan dengan seorang pria asing. Yaa meskipun hanya pernikahan siri tapi tetap saja dalam agama nya ia tetap lah seorang istri sekarang.
Adeline meraih blazer panjang milik nya yang tadi malam sempat ia letakkan di atas nakas.
"shhh...."
Adeline meringis sakit menyentuh area inti nya. Terasa sakit dan perih saat kaki nya hendak menapak pada lantai.
Apakah memang seperti ini jika baru saja melewati malam pertama.. Ohh andaikan saja ia melewati malam panas tadi malam bersama pria yang di cintai nya pasti akan sangat menyenangkan, tapi sayang sekali..
Ah sudah lah, daripada membayangkan penyesalan yang tidak berujung. Adeline memilih turun dari ranjang dan berjalan tertatih dengan sesekali mulut nya meringis karena merasakan sakit yang teramat di area bawah nya.
Setelah pintu kamar mandi tertutup, Sadewa membuka mata nya kemudian duduk di head board kasur. Ia melirik ke samping di mana terdapat bercak merah di sana. Sebuah senyum terukir di bibirnya. Ternyata gadis tadi malam yang ia nikahi secara siri benar-benar masih suci.
Senyum Sadewa semakin melebar ketika ia mengingat betapa menggemaskan nya wajah Adeline yang meringis kesakitan namun kemudian berteriak nikmat setelah merasakan sesuatu yang selama ini belum pernah di rasakan nya.
"sia*" umpat Sadewa. Membayangkan pertempuran nya tadi malam membuat rudal nya kembali berdiri tegak.
"om udah bangun?" tanya Adeline.
Sadewa menoleh, ia hanya mengangguk kemudian mengambil handuk di atas nakas dan berlalu ke kamar mandi. Adeline mengendikkan bahu acuh. Gadis yang sudah tidak peraw*n itu membuka tas punggung nya dan mengambil mukena. Kemudian bersiap melakukan sholat subuh.
***
"kamu pulang nya saya antar aja" tawar Sadewa.
"ngga usah om, saya udah pesan ojek kok"
"ojek?"
"iya, saya mabuk kendaraan jika naik mobil" ucap Adeline tersenyum lebar menunjukkan giginya yang putih.
"oh iya, ini untuk kamu"
Adeline menerima sebuah bag yang di berikan oleh Sadewa. Tanpa malu Adeline langsung membuka tas itu di depan Sadewa dan Sadewa pun tak terganggu.
"om... I-ini...."
"ya, saya memutuskan untuk mengurus pernikahan kita agar sah secara agama dan negara"
"tapi...."
"kamu jangan senang dulu, saya melakukan ini hanya karena agar saya tidak di paksa menikah oleh keluarga saya lagi. Dan saya bisa mengulur waktu agar perjodohan yang keluarga saya lakukan bisa di undur lebih lama"
Adeline mengangguk mengerti. Lagipula siapa lah dirinya yang berharap berlebihan. Adeline menghela nafas. Dengan adanya surat pernikahan ini maka sudah di pastikan ia akan kesulitan melepaskan diri dan menikah lagi di kemudian hari. Tapi bukan kah itu menguntungkan juga bagi nya. Dengan surat nikah yang di miliki nya maka ia tak akan menikah lagi di kemudian hari.
"baiklah, terima kasih om"
"dan ini untuk mu"
Sadewa merogoh saku jas nya dan mengeluarkan amplop coklat tebal kemudian menyerahkan nya kepada Adeline.
"apa ini om?"
"pergunakan sebaik mungkin, karena setelah ini kita tak akan bertemu lagi"
Adeline menerima amplop coklat itu kemudian melongo memperhatikan Sadewa yang sudah keluar dari kamar.
Adeline membuka amplop itu dan mata nya langsung membelalak kaget. Ia syok, karena ternyata di dalam sana terdapat banyak lembaran uang berwarna merah.
"oh Tuhan... aku kaya" seru Adeline.
***
Di dalam sebuah kamar sederhana seorang pria remaja berusia 18 an tahun itu tampak mondar mandir. Sesekali matanya melirik ke arah jam kemudian melirik ke arah jendela kayu yang sengaja ia buka.
"kemana mbak Adel, kenapa belum pulang juga" ucap nya khawatir.
remaja itu menghentikan langkah nya saat mendengar suara motor berhenti tak jauh dari jalanan rumah nya tapi tampak jelas jika di lihat dari jendela kamar nya yang mengarah ke jalan.
"itu mbak Adel" pekik nya langsung keluar dari kamar.
Sementara itu, Adeline melangkah kan kakinya dengan biasa meskipun terasa perih sekali di area nya. Berulang kali ia menarik nafas untuk menetralkan irama jantung nya yang terus terpacu tak beraturan.
"kamu bisa Adeline, kamu bisa"
Adeline melanjutkan langkah nya, di tangan nya tampak membawa plastik hitam kecil.
"mbak...." sapa seseorang yang Adeline kenal.
"dek...." Adeline tersenyum menatap remaja yang membuka kan pintu untuk nya.
Tapi senyum nya tak lama kemudian pudar saat menyadari keberadaan lelaki yang tidak ingin ia temui. Adeline memasang raut wajah datar saat pandangan nya bertemu dengan pak Burhan, ayah nya.
Wajah pak Burhan tampak memerah karena menahan amarah. Adeline tau itu, tapi apa pedulinya?
"bagus!!! Keluar rumah dari kemarin pagi baru pulang pagi lagi mau jadi perempuan apa kamu?" ucap pak Burhan.
"menurut ayah?"
Pak Burhan tak menjawab, ia melangkah kan kaki nya mendekat pada Adeline dan kemudian..
Plak....
"mbak!!" teriak sang adik.
Adeline tersenyum, ia mengusap sudut bibir nya yang terasa anyir. Ia memandang jempol nya yang tampak noda merah di sana.
Adeline tak menangis, tak juga mengaduh. Hanya menatap datar pada sang ayah.
"apakah kau belajar menjadi wanita Pela*ur hah?"
"jawab!!!"
"iya... Aku memang telah menjual diriku" jawab Adeline tegas.
Plak....
Adeline memejamkan mata, menenangkan diri nya. Sabar Adeline, dengan begini meyakinkan dirimu untuk meninggalkan rumah yang terasa seperti neraka ini.
"dan Ayah tau apa penyebab aku jual diri? itu ayah sendiri" ucap Adeline tegas.
"jika seandainya saja ayah mau sedikit saja bekerja untuk memenuhi kebutuhan maka sudah pasti aku tak akan bingung mencari tambahan uang kemana pun. Dan lagi, hutang yang ayah punya itu tak banyak. Siapa yang di tagih oleh rentenir itu? Aku, aku capek di kejar-kejar rentenir setiap hari. Bukan aku yang hutang uang, bahkan aku tak tau uang itu di gunakan untuk apa. tapi siapa yang mereka tagih? Aku. Apa ayah tau total hutang itu.?"
Pak Burhan diam, dalam hati ia memang mengakui itu semua. Tapi ia terlalu malu untuk mengakui kesalahannya.
"50 juta. Apakah aku sanggup membayar nya dengan gajiku yang 300 ribu perbulan. Sedang aku masih harus menanggung semua biaya hidup keluarga ini? Di tambah dengan uang sekolah Farhan?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Aurora
kasihan harus memikul beban keluarga
2024-06-05
0