Hueekk hueek
Sadewa mengeluarkan semua isi perut nya hingga tak tersisa. Kemudian ia menggelepar lemas di atas ranjang. Anton yang sudah biasa dengan hal itu pun membersihkan bekas muntahan Sadewa dengan di bantu salah satu anak buah nya. Sementara satu anak buah nya lagi sedang menjemput dokter Raihan karena dokter muda itu tak bisa di telpon.
"ambilkan aku jeruk Ton" pinta Sadewa.
"tuan, perut anda kosong. Memakan sesuatu yang masam di tengah malam seperti ini saya takut hal itu akan menganggu kenyamanan perut anda"
"kau menolak perintah ku?" tanya Sadewa menatap tajam Anton.
Anton spontan menggeleng, ia pun segera berlari mengambil jeruk di dalam kulkas. Bukan jeruk manis yang di simpan dalam kulkas Sadewa melainkan jeruk yang memiliki rasa asam. Tak lama Anton kembali dengan membawa dua buah jeruk.
"bantu aku untuk duduk"
Anton pun membantu Sadewa duduk di headboard ranjang dan mulai mengupas kan jeruk. Sedangkan anak buah nya yang sudah selesai membersihkan lantai pun ke dapur untuk merebus air dan membuatkan susu untuk sang Sadewa. Sementara untuk dirinya dan Anton ia membuat teh hangat tawar.
"kenapa aku merasa sedikit gelisah" ucap Sadewa tiba-tiba.
"apakah anda memikirkan sesuatu tuan?" tanya Anton.
Sadewa menggeleng, ia hanya diam sembari memakan jeruk yang sangat manis itu, menurut nya. Jika menurut Anton jeruk itu sangat masam hingga ketika ia mencicipi jeruk itu ia merasakan sakit di perut nya.
Tak lama datang anak buah Anton membawa nampan berisi satu gelas susu dan dua gelas teh hangat.
"duduk lah disini" ucap Anton.
Pria itu mengangguk dan duduk di kursi di sebelah Anton.
"katakan apa yang akan kau laporkan, sekalian agar bos bisa mendengar laporan mu"
pria itu mengangguk dan menatap Sadewa. Sejenak ia merasa ngilu saat melihat Sadewa yang lahap memakan jeruk.
"saya dan anak-anak yang lain berhasil melacak cctv jalan yang di lalui oleh nona Adeline. Terakhir mobil yang membawa nona Adeline berhenti di bank BR* untuk menarik sejumlah uang. Nona Adeline di temani oleh seorang pria muda dan mereka...."
"pria muda?" tanya Sadewa dengan tajam. Anton dan anak buah nya merasa merinding dengan tatapan Sadewa.
"be-betul bos. Dia adalah adik kandung nona Adeline" jelas nya.
suasana agak berubah. Sadewa kembali menikmati jeruk masam milik nya dan mendengar celotehan anak buah nya.
"saat kami hampir putus asa mencari keberadaan nona Adeline kami akhirnya menemukan keberadaan adik nya. Farhan, nama adik nona Adeline sekarang sedang menggeluti bisnis menjual buah dan sayuran segar. buah jambu kristal misal nya, bahkan jambu kristal itu sudah di kelola oleh perusahaan anda menjadi minuman laris jus jambu kristal yang sedang ramai di masyarakat"
"benarkah?"
"benar tuan. Tetapi yang saya dengar akhir-akhir kesehatan nona Adeline sedikit tidak baik karena beberapa bulan lalu hampir saja mengalami keguguran harus bedrest total"
"keguguran?" tanya Sadewa.
Bukan hanya Sadewa, tetapi juga Anton. Ia terkejut sekaligus syok. tapi karena ia sudah menduga hal ini sebelumnya ia tak kaget lagi. Yang merasa kaget adalah Sadewa.
'jadi wanita itu hamil? Apakah hamil anakku atau anak pria lain?' batin Sadewa.
"usia kandungan nona Adeline berjalan 7 bulan ini, tetapi keadaan perut nona Adeline yang lebih besar daripada ibu hamil pada umum nya membuat nona Adeline sudah mengalami kesulitan berjalan"
"cukup! Apakah kau tau dimana dia berada sekarang?"
Anak buah Anton pun mengangguk kemudian mengatakan alamat dimana Adeline tinggal.
Brak!!
Mereka bertiga menoleh saat mendengar pintu di buka dengan keras. Tampak dokter Raihan tergopoh-gopoh mendekati Sadewa hingga membuat Anton dan anak buah nya hampir terjungkal.
"apa yang terjadi padamu?"
Sadewa menggeleng. Ia menatap Anton dam memberi kode agar membawa dua anak buah nya keluar. Anton yang paham pun segera keluar dari kamar dengan di ikuti anak buah nya.
"jadi katakan padaku apakah ada yang aneh dalam tubuh ku? Kau mengetahui sesuatu bukan?" tanya Sadewa.
Raihan menghela kasar. Kemudian duduk di kursi yang tadi di duduki oleh Anton. menyesap teh yang belum sempat di minum dan mengernyit.
"kenapa teh ini rasanya tawar?" gumam nya.
"jadi apakah kau merasakan sesuatu lagi?"
Sadewa mengangguk, padahal baru sore tadi ia merasakan nikmat nya memakan nasi goreng super pedas tapi Tengah malam kemudian ia harus memuntahkan nasi goreng itu.
"apakah kau menyebar benih mu?" tanya Raihan membuat Sadewa menatap nya tajam.
"hei, selow bung. Aku hanya sekedar bertanya. sebab melihat dari kondisi tubuh mu yang tidak mengalami masalah apapun aku jadi menduga bahwa kau mengalami syndrome kehamilan simpatik" jelas Raihan.
"apa itu?"
Raihan menghela nafas nya, lagi-lagi ia harus menjelaskan mengenai kehamilan simpatik.
"kehamilan simpatik adalah syndrome yang bisa saja di alami oleh seorang suami ketika istri nya sedang hamil. itu bisa juga di namakan sebagai ikatan batin antara ayah dengan sang calon anak. Oleh sebab itu aku bertanya apakah kau menyebar benih mu hingga benih itu tumbuh menjadi calon bayi?"
"perempuan mana yang sudah kau hamili Dewa?"
Sadewa terdiam, dalam hati kecil nya ia merasa syok tapi juga terharu.
***
Kondisi Adeline sudah lebih baik pagi ini, tetapi ia belum di perbolehkan pulang sebab takut jika akan mengalami pendarahan kembali. Adeline sudah sadar dari obat bius dan sedang di suapi sarapan oleh Farhan. Sarapan bubur nasi putih dan suwiran ayam kampung yang tadi di masak oleh bu Narti.
Ya, melihat kondisi majikan nya Bu Narti menjadi tidak tenang dan akhirnya memilih untuk memasak menu sarapan daripada tidur kembali. Tentu saja masak di rumah Adeline karena setelah Adeline terlelap Bu Narti meminta Farhan untuk mengantar nya kembali ke rumah.
"assalamualaikum"
Farhan dan Adeline menoleh. tampak beberapa orang masuk ke ruangan Adeline setelah salam nya di jawab.
"gimana keadaan nya mbak?" tanya Bu RT yang ikut serta dalam rombongan itu.
"Alhamdulillah lebih baik buk" jawab Adeline lemas.
"suaminya ngga kembali mbak? Padahal istri nya lagi sakit begini?" tanya Bu Marni dengan julid.
Farhan langsung menatap tajam Bu Marni, hingga membuat keadaan menjadi canggung. Tampak juga wajah Bu RT yang merasa bersalah sebab mengajak Bu Marni menjenguk Adeline.
"Bu Marni kalo ngga bisa menjaga mulut lebih baik pulang aja deh" ucap salah satu ibu yang pernah merasakan kebaikan dan keramahan Adeline.
Bu Marni hanya menatap sinis mereka kemudian keluar tanpa pamit. setelah kepergian Bu Marni, Bu RT memegang tangan Adeline kemudian meminta maaf.
"saya minta maaf ya mbak Adel, seharusnya saya ngga ngajak Bu Marni tadi"
"enggak apa buk, memang dengan kondisi saya yang sedang hamil tanpa di temani suami begini bisa mengundang asumsi negatif orang-orang" jawab Adeline yang menambah rasa bersalah Bu RT.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Aurora
tetangga julid ini
2024-06-05
0