Farhan membuka dua surat nikah milik sang kakak dan sang suami. Mereka yang ada di sana terpaku. Selain itu Farhan juga menunjukkan kartu keluarga asli yang memang sengaja di bawa oleh Adeline.
"saya adalah adik kandung dari mbak Adel. Bukan berondong simpanan seperti yang di katakan oleh ibu Narti!" ucap Farhan tajam.
"dan ini adalah bukti bahwa mbak Adel sudah menikah. Saat ini mbak Adel memang berpisah dengan suami karena kakak ipar saya sedang ada urusan. Apakah ibu-ibu juga kepo dengan urusan apa yang sedang di kerjakan oleh kakak ipar saya? Apakah ibu-ibu ini juga merasa senang jika urusan keluarga nya di campuri sampai sedalam ini?"
Farhan menatap tajam para ibu-ibu yang sekarang menyesali perbuatan arogan nya tadi pagi. Seandainya mereka tak merasa iri dengan Adeline sudah tentu mereka tak akan bertindak bodo*.
"silahkan di lihat keaslian surat-surat ini pak" Farhan menyerahkan surat nikah dan kartu keluarga itu kepada pak lurah.
Pak lurah dan beberapa perangkat desa pun melihat dengan seksama surat itu kemudian saling pandang dan saling mengangguk.
"surat ini asli. Mbak Adel sudah menikah 3 bulan yang lalu dan jika kehamilan mbak Adel sekarang berusia dua bulan maka itu adalah hal yang wajar" ucap pak lurah.
"jadi saya ingin mereka bertanggung jawab atas apa yang telah mereka lakukan kepada mbak Adel pak"
"apa yang mas Farhan ingin kan?"
"denda? Atau masuk penjara selama seminggu atas dasar penganiyaan terhadap ibu hamil"
Kelima ibu-ibu langsung merasakan lemas pada kaki nya.
"tolong pak, jangan penjarakan kami. Kami masih memiliki anak. Bagaimana mereka jika kami di penjara pak" Raung mereka menangis sesenggukan.
"apakah sebelum melakukan hal seperti tadi pagi ibu-ibu tak memikirkan akibatnya?" tanya seorang perangkat desa yang bernama pak Arif.
"ya benar. Saya sungguh merasa kecewa kepada kalian karena mengganggu seseorang yang bahkan tidak pernah mengganggu kalian" sahut pak lurah.
"saya sendiri merasa kecewa. ingat ibu-ibu setiap ucapan yang kalian katakan bisa menjadi doa. Kalian memiliki seorang anak gadis bagaimana bisa kalian menuduh anak perempuan lain hamil di luar nikah? Bagaimana jika itu terjadi pada keluarga kalian?" sela Bu lurah.
"kami minta maaf Bu, kami bodo*. Tolong maafkan kami"
"minta maaf lah kepada mbak Adel. karena mbak Adel yang telah kalian sakiti"
Mereka berlima mendekati Adeline, dengan menangis sesenggukan mereka duduk di lantai dan menatap Adeline.
"maafkan kami mbak Adel, kami sungguh menyesal. Kami... Kami merasa bersalah. Maafkan kami"
"tid...."
"ibu-ibu harus membayar denda berupa uang masing-masing 500 ribu kepada kakak saya"
"dek" Tegus Adeline.
"tidak mbak. Dengan mereka yang sudah bersikap kasar mbak Adel jangan bersikap lembek. karena bisa saja mereka akan mengulangi kesalahan yang sama kedepannya" tegas Farhan.
"ya, ya kami akan membayar denda. Tolong maafkan kami"
"sekarang kalian boleh pulang dan mengambil uang itu. Datang lagi kesini untuk menandatangani surat bermaterai agar ibu-ibu tidak melanggar janji kedepannya"
Mereka berlima pun keluar dari kamar, daripada di mendekam di jeruji besi lebih baik kehilangan uang 500 ribu.
***
"Anton!!" teriak Sadewa memanggil Anton.
"iya tuan?" jawab Anton yang datang tergopoh-gopoh.
"apa yang kau lakukan? kenapa lambat sekali jalan mu padahal ruangan mu ada di sebelah ku!" sentak Sadewa.
"apa yang bisa saya bantu tuan?"
"belikan aku ayam geprek super pedas dan juga es Bob* coklat. ingat waktu mu hanya 15 menit dari sekarang" ucap Sadewa.
"ta-tapi bos" Anton melirik jam nya.
Pukul 11 lewat 45 menit. pasti jalanan ramai dan macet sekarang. Sudah pasti waktu 15 menit tidak akan cukup. Apalagi jika nanti harus mengantri..
"waktu mu sudah terlewat 1 menit Anton" tegur Sadewa.
Anton pun langsung berlari keluar dan melewati tangga darurat agar lebih cepat sampai ke lantai bawah. entah mengapa akhir-akhir ini bos nya menjadi lebih suka marah hanya karena hal-hal kecil.
***
Seorang gadis dengan gamis dan hijab berwarna mocca glossy tampak mengetuk pintu sebuah rumah mewah. Tak lama tampak seorang pria baya membuka kan pintu dan menyambut ramah gadis itu. Tapi, gadis itu hanya menatap sinis dan langsung masuk ke dalam rumah padahal belum di persilahkan. sangat tidak sopan!
Egi hanya menggelengkan kepalanya, sungguh sayang sekali jika nona ini yang akan menjadi nyonya muda nya di masa depan. Sangat tidak menghargai seorang pekerja. Egi hanya menghela nafas, lagipula ia hanya lah pelayan disini jadi wajar jika seorang nona muda kaya tak akan memandang nya dengan segan apalagi hormat.
"Kirana? Kamu sudah sampai sayang?" sapa Ratna yang baru saja turun dari lantai atas.
"iya Tante, Kirana mau nganter makan siang buat kakak Sadewa"
"baiklah. Kebetulan juga Tante mau ke kantor Sadewa. Mari kita kesana bersama"
Kirana pun mengangguk dan tersenyum manis. Namun berbeda di dalam hatinya yang merutuki Ratna. karena sebenarnya Kirana memiliki rencana sendiri siang ini. Bagaimana ia akan menjalankan rencana nya jika ada Ratna disana.
dengan mengendarai mobil pribadi milik Ratna dan di supiri oleh Ratna sendiri mereka berdua pun berangkat ke kantor Sadewa. Tak butuh waktu lama sebab jalanan tampan lenggang mereka sudah sampai di depan gedung pencakar langit milik Sadewa.
"mari kita langsung ke atas"
Kirana membuntuti Ratna, di tangan nya memegang rantang berisi menu makan siang yang sebenarnya ia beli dari restoran tapi ia ganti ke rantang untuk di berikan kepada Sadewa.
Sampai di lobi, Ratna di sambut hangat oleh security dan juga resepsionis. Ratna pun dengan hangat balik menyapa mereka. Sedang Kirana mau tak mau pun mengikuti Ratna yang tersenyum kepada setiap karyawan. Hingga saat mereka masuk lift Kirana bisa menghela nafas lega karena tidak harus berpura-pura ramah.
tujuan mereka adalah lantai 17 dimana Sadewa berada. Beberapa menit kemudian mereka sampai di lantai tujuan yang memang di lantai itu khusus ruangan Sadewa dan Anton, sekretaris nya.
Ratna menggandeng tangan Kirana dan langsung masuk ke ruangan yang di pintu nya terdapat tulisan 'CEO A.S Company'.
Sadewa yang sedang fokus dengan laptop nya menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. berbeda dengan Kirana yang langsung sumringah, Sadewa justru menatap datar ke arah gadis itu.
Ratna membawa Kirana duduk di kursi yang hanya berbatasan meja besar Sadewa. Namun, saat langkah Kirana semakin dekat tiba-tiba Sadewa seperti mencium bau amis yang menusuk hidung dan mengaduk-aduk perut nya hingga kemudian..........
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 73 Episodes
Comments
Dbz Mar
sang calon debay pintar banget ngelindungi ayahnya..biar si ulet keket tak bisa merayu si ayah
2024-08-02
0