Raisa kemudian memasukkan semua temuan harta milik Raisa itu ke dalam tas kerjanya. Yang rencananya besok Raisa akan meminta ijin kepada Mas Iwan suami Raisa untuk bermalam ke rumah orangtuanya.
Raisa berharap Mas Iwan tidak ikut pulang juga. Kalau sampai Mas Iwan ikut, bisa menggagalkan rencana yang telah Raisa susun secara rapi.
Setelah selesai Raisa melanjutkan tidurnya yang sebelumnya memang kamarnya masih Raisa kunci. Biarlah Mas Iwan mau tidur dimana saja sesuka hatinya. Raisa tak peduli itu.
Raisa saat ini masih pingin sendiri tidak ingin siapapun mengganggu tidurnya termasuk Mas Iwan suaminya itu.
Tumben libur kerja sudah rapi. Mau kemana kamu Raisa," tanya Ibu Mertua Raisa yang baru saja keluar dari kamarnya.
Mau ke rumah Mama mumpung libur kerja Bu," jawab Raisa penasaran.
Oh, masak apa kamu hari ini," tanya Ibu Mertua Raisa lagi.
Raisa gak masak bu, dikulkas sudah ada bahan - bahan buat masak komplit, sayur juga komplit Kalau Ibu mau masak silahkan masak sendiri," jawab Raisa sambil memoleskan wajahnya dengan bedak tabur viva yang baru saja Raisa beli kemarin saat di koperasi.
Apa kamu gak masak Raisa. Terus buat makan kita dirumah apa," tanya Ibu Mertua Raisa sambil menaikan satu oktaf nada bicaranya.
Ibu kan bisa masakkan. Apa susahnya sih masak sebentar ke dapur. Orang yang butuh makan kalian bukan Raisa juga," cibik Raisa kesal
Dasar mantu kurang ajar. Sudah berani ya kamu ngejawab perintah saya. Saya ini mertua kamu. Kamu wajib berbakti ke saya.
Inget ya Raisa posisi kamu dirumah ini apa cuma mantu. Gak usah gak tahu diri kamu. Tau kamu!!! Suara Ibu Mertua semakin melengking membentak Raisa yang tidak menggubris omongan Ibu Mertuanya.
Kalau orangtua ngomong itu di dengarkan Raisa bukan malah pura - pura budeg !!!
Ibu Mertua Raisa yang terhormat. Gak perlu bentak - bentak Raisa. Kuping Raisa masih normal dan Raisa gak TULI!!!
Raisa tau Raisa dirumah ini cuma Mantu. Dan Raisa gak wajib berbakti ke Ibu Mertua karena ibu bukan Mama yang melahirkan Raisa dan juga yang membesarkan Raisa.
Raisa cukup berbakti sama Mama Raisa dan juga Papa Raisa karena Mereka yang melahirkan, membesarkan, merawat, menyayangi Raisa dan juga membiayai Raisa sampai Raisa bisa sampai saat ini.
Dan juga Mama Raisa dan Papa Raisa juga yang memberikan Raisa motor dan juga rumah ini. Jadinya Raisa wajib berbakti sama mereka. Raisa gak lupa kok Ibu Mertua Raisa terimakasih ya sudah mengingatkan Raisa untuk itu," sindir Raisa kesal.
Dan ingat juga ya Ibu Mertua yang terhormat selama ini yang menumpang dengan Raisa itu kalian. Bukan Raisa yang menumpang hidup dengan kalian, jadi jangan ngajari Raisa. Yang seharusnya TAHU DIRI ITU KALIAN DASAR BENALU!!!," cibik Raisa kesal.
Heh Raisa kamu kalau bicara sama orangtua yang sopan ya. Apa orangtua kamu tidak mendidik kamu dengan baik," suara Ibu mertua Raisa semakin marah.
Jangan bawa - bawa orangtua saya ya Ibu Mertua. Saya menghargai, menghormati anda itu karena Ibu itu orangtua dari Mas Iwan. Kalau bukan karena Mas Iwan kamu itu bukan siapa - siapa buat saya," ujar Raisa dengan tatapan penuh dengan kebencian.
Ibu Mertua Raisa hanya mengerucutkan mulutnya sambil menahan kesal sama Raisa.
Pagi - pagi bukannya membawa aura yang positif. Ini malah membawa aura yang aur - auran yang gak jelas bentuknya.
Setelah dandan dan merapikan pakainnya. Raisa langsung menyambar kunci yang Raisa letakkan di atas meja makan. Setelah itu Raisa keluar rumah untuk berpamitan ke suaminya Mas Iwan
Mas Raisa pamit dulu, mau main ke rumah mama ya. Mumpung weekend," pamit Raisa sopan. Raisa langsung menyalami tangan suaminya yang saat ini sedang asik bersantai di teras rumah sambil menikmati minum kopi dan juga asik bermain game di ponsel miliknya.
Balik kapan kamu," tanya Mas Iwan yang masih sibuk main game.
Senin paling sampai rumah mas," jawab Raisa pelan.
Hah apa. Gila kamu Raisa ninggalin rumah sampai senin. Terus nanti yang bersihin rumah siapa, yang nyuci baju siapa , yang masak siapa," tanya Mas Iwan dengan berbagai pertanyaan kepada Raisa.
Kan Kamu bisa bisa toh nyuci baju tinggal masukkan ke mesin cuci lalu dijemur, nyapu, ngepel juga kamu bisa juga kan," seru Raisa enteng.
Masak toh ada Ibu kamu. Kata kamu masakan Ibu kamu paling enak. Itukan yang kamu selalu omongin saat nyinyirin masakan dari aku. Mana cukup uang sepuluh ribu buat makan serumah. Gila kamu Mas!!! Cibik Raisa kesal.
Suruh tuh Ibu kamu masak biar gak Ongkang - ongkang terus di rumah kerjanya. Biar gak enakkan jadi nyonya besar di rumah. Padahal selama ini kalian yang numpang hidup sama Raisa. Dasar Benalu," sengaja Raisa meninggikan suaranya biar Ibu Mertua Raisa di dalam rumah bisa mendengar suara sindiran dari Raisa.
Raisa yang sopan kamu sama Ibu. Itu Ibu yang melahirkan aku," Suara Mas Iwan meninggi dua oktaf sambil menahan marah yang dia tahan. Tanpa sadar Tangannya menampar kencang pipi Raisa dengan sangat keras.
Mas Iwan kamu berani nampar Raisa. Lihat saja kamu Mas. Raisa gak bakalan lagi mencukupi kebutuhan kalian lagi. Kalian akan menyesal sudah menyakiti Raisa. Dasar Mandul Brengsek,!!! Bentak Raisa menatap Iwan penuh dengan kebencian dengan suara yang bergetar hebat menahan airmata yang akan jatuh.
Iwan yang sadar sudah menampar istrinya hanya diam membisu tanpa mengeluarkan satu kata patah pun untuk minta maaf.
Raisa kesal langsung menyambar tas yang Raisa letakkan di atas lantai dan langsung mensetater motor miliknya dan bergegas segera pergi meninggalkan rumah menuju ke rumah orangtuanya.
Sepanjang perjalanan akhirnya Raisa tak tahan untuk menangis. Raisa singgah sebentar ke rumah Rio untuk menanyakan kepada kakaknya persyaratan apa saja yang diperlukan Raisa untuk menggugat cerai Mas Iwan suaminya di Pengadilan Agama.
Raisa sudah membulatkan tekadnya untuk menceraikan Mas Iwan segera. Karena sikap dan perlakuan Mas Iwan selama ini kepada Raisa yang sudah sangat diluar batas kesabaran Raisa.
Walaupun dulu Raisa sangat mencintai Mas Iwan. Tapi karena sikap dan perlakuan Mas Iwan kepada Raisa apalagi Ibu dan juga adiknya yang semakin ngelunjak. Semena - mena dengan Raisa.
Membuat Rasa cinta itu memudar seketika dan sekarang menghilang tak membekas sama sekali.
Sehingga Raisa putuskan akan menceraikan Mas Iwan dengan segera. Raisa tidak mau berlama - lama hidup dalam satu atap dengan para benalu seperti mereka yang tidak tahu terimakasih.
Apalagi semalam Raisa mendengar Niat busuk Mas Iwan mau menikah lagi untuk yang kedua kali. Walaupun di Agama Islam memperbolehkan suami memiliki istri lebih dari empat.
Tapi Raisa tidak mau di poligami oleh suaminya.
Tekad Raisa semakin bulat untuk menceraikan Mas Iwan.
Dilajukan motor Raisa dengan sedikit lebih kencang agar Raisa bisa segera pulang ke rumah orangtuanya itu.
Tapi sebelumnya Raisa mau mampir sebentar ke rumah Rio untuk bertemu dengan Kakaknya. Yang katanya Rio, kakak perempuannya itu bekerja di Pengadilan Agama. Jadi Raisa ingin berkonsultasi sebentar kepada Kakak perempuannya Rio untuk masalah perceraian dirinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 152 Episodes
Comments