Usapan-usapan tangan menyapu kepalaku dengan lembutnya. Kecupan di dahi, kedua pipi, serta kedua mataku seperti membasahi dan menghangatkan fisikku. Ada apa denganku? Mengapa semuanya seperti nyata? Dan elusan punggung ini, seakan menyetrum jiwaku agar lekas terbangun dan yaa.
"Papah."
"Iya sayang. Anak gadisku sudah bangun."
"Apa aku bermimpi?"
"Tidak sayang, papa bersamamu sekarang. Apa tidurmu nyenyak?"
"Sangat nyenyak pah. Dilla, sampai lupa untuk bangun."
"Syukurlah. Apa papa mengganggumu?"
"Tidak pah, aku suka papa disini."
"Papa, minta maaf dengan kejadian tadi. Apa Dilla sakit di bagian sini nak?"
"Di dada pah."
"Iya disitu nak."
"Tidak ada sakit disini pah."
"Maksud papa, Dilla tidak merasa sesak, dengan papa tadi sedikit marah."
"Kenapa papah susah memberi uang?"
"Papa hanya tidak ingin, Dilla jadi orang boros dengan uang banyak papa kasih Dilla."
"Kenapa begitu pah?"
"Banyak uang tentu, kita akan terus berbelanja dan menghabiskan uang. Contohnya begini nak, Dilla niatnya belanja di pasar untuk beli sabun. Namun, saat Dilla melihat barang yang menarik dan ingin membelinya. Kadang lupa sudah berapa banyak uang yang dibelanjakan, uang yang banyak bisa menjadikan kebiasaan buruk bagi kita nak."
"Tapi pah, kita bisa belanja dengan hemat."
"Iya, iya benar nak. Tapi, usiamu masih sangat kecil, mengerti tentang mengelola uang. Kebanyakan anak kecil, tidak bisa menahan nafsu untuk berbelanja bahkan papah pernah lihat, anak kecil sampai berlinang airmata, hanya untuk kebutuhannya dipenuhi oleh kedua orang tuanya. Paham nak?"
"Dilla mengerti pah! Papah tidak ingin, dilla jadi pemboros dan menghabiskan uang dengan menyia-nyiakan."
"Bagus, sayangku mengerti papa. Yuk! Kita makan bareng Tante dan kakak-kakak sepupumu."
"Apa mereka marah, sama Dilla pah?" Memandang lurus arah depan, tepat manik mata papanya."
"Tidak sayang, mereka malah mencemaskan Dilla." merangkul punggung Dilla dengan eratnya. Dan menepuk-nepuk pelan pipinya.
"Apa papah sayang sama Dilla?"
"Tentu, papa sayang sama putri pirang ku."
"Papah, akan tetap sayang sama Dilla. Meski rambut ini, tidak pirang." memilin rambut dengan lembut dan memperlihatkan ke arah manik mata papanya.
"Meski rambut Dilla, warnanya hitam. Papa akan tetap sayang."
"Hmm, terimakasih pah."
"Sama-sama sayang ku. Yuk! Bangkit, kita ke meja makan. Kak citra sedari tadi menunggumu nak."
"Ayo pah." mengandeng tangan papanya dengan mesra.
"Baik putri pirang ku yang cantik."
Pintu kamar terbuka lebar, dua insan yakni ayah dan anak, baru saja keluar dari kamar, dan menuju meja makan keluarga. Sungguh orang-orang yang melihatnya akan merasa, ada sedikit rasa cemburu dengan kedekatan mereka. Boleh dikata, sangat harmonis.
"Dil, sini dekat kakak!" sahutan kak citra, mengawali obrolan pertamaku setelah kejadian upah cokelat.
"Hmm." meraih kursi samping kak citra, dan duduk dengan tenang.
"Baik anak-anak, kita mulai makan ya!" ucap Tante Jumi dengan riangnya.
"Wow, makanan enak kayaknya ma" ujar kakak sepupu Hasan.
"Ini sih, menu makanan aku banget ma." timpal ucapan kak hilman dengan semangatnya.
"Ya anak-anak. Makanlah yang banyak, dan harap duduk tenang dan makan dengan baik. Jangan ada keributan di saat makan, Ok."
"Baik Om." Jawab mereka serempak, kecuali Dilla hanya menatap mereka bergantian, dengan wajah keheranan.
"Dilla, apa mau tambah sayur santan nak?" tanya Tante Jumi, menawar dengan cara lemah lembut.
"Tidak usah tan, Dilla sudah banyak makanan di piring."
"Dilla kan, bisa menambahnya lagi nak."
"Cukup, begini saja tan. Terimakasih."
"Baik Dilla. Kamu Cit, mau nambah ikannya nak?"
"Sudah banyak ma. Tambahin Dilla ikan saja ma. Coba lihat piringnya! Ikannya hanya tinggal sedikit."
"Dilla sayang, apa mau Tante tambahkan ikannya?"
"Tidak perlu tan, Dilla sudah kenyang dan makanan Dilla tinggal sedikit lagi "
"Lanjutkan makannya ya sayang." Berlalu mengambil lap tangan dan menata dimeja dengan rapi.
"Ma, kami aja. Mau ditambahin ikan dan sayurnya." ucap mereka bersamaan.
"Kalian sudah besar dan bisa ambil sendiri."
"Tapi, ma. kami masih mau bermanja-manja."
"Tidak ada istilah manja, orang sebesar kalian, masih dilayani seperti anak kecil."
"Iih mama tidak adil untuk kami." mereka ngambek dengan penuh kepura-puraan.
"Kalian tidak lucu ya! Mau menipu mama kalian? Mama tidak akan pernah tertipu, dengan tindakan kalian membohongi mama." memukul mereka dengan tongkat sapu, agak sedikit keras dan yaa mereka tertawa terbahak-bahak.
Aku Pun refleks menutup mulut, berusaha menahan tawa yang akan keluar dan semuanya gagal dan aku pun mulai menertawai mereka, kakak sepupu ku.
"Hahahaha, hahaha, hihihi hihi." Suaraku begitu renyah dan meresahkan area ketenangan makan mereka.
"Dil, kenapa sayang?"
"Tidak ada pah."
"Jangan bilang, kamu menertawakan kakakmu."
"Mereka lucu pah."
"Ya udah, kamu ke kamar saja dengan kak citra. Makananmu sudah habis dari tadi. Dan kak citra kamu juga sudah menyelesaikan makannya."
"Baik pah."
"Baik Om, kami pamit ke kamar." menggenggam jari tangan kecilku, dan mengajakku masuk dalam kamar.
"Dil, kakak minta maaf ya! Masalah upah cokelat kemarin. Kakak sudah mengembalikan uang itu, kepada papamu. Tapi Om menolak, dan berkata, uang itu hakku dan milikku." menampilkan wajah penuh penyesalan dan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa kak. Dilla, sangat senang kalau kak citra menerima uang itu." ucap Dilla dengan bahagianya.
"Kamu gak marah sama kakak?"
"Tidak akan kak, malah Dilla bersyukur kak citra menyimpan uangnya."
"Tapi, kemarin Dilla marah-marah sama Om. Gara-gara uang itu."
"Dilla, hanya berprasangka buruk pada papah waktu itu kak."
"Maksud kamu Dil?"
"Kirain Dilla, papah berbuat curang pada Dilla. Dan tidak peduli dengan Dilla anaknya sendiri."
"Serius kakak gak mengerti apa-apa."
"Begini kak, papah hanya tidak ingin, Dilla membuang-buang uang dengan sia-sia."
"Sia-sia seperti apa?"
"Seperti Dilla membeli ini itu, dan tidak berpikir tentang manfaat barang yang Dilla beli. Contohnya Dilla beli boneka Barbie, sedang masih banyak boneka di rumah, itu sama saja Dilla buang-buang uang, hanya untuk memperbanyak boneka yang sudah ada."
"Papamu benar-benar bijaksana. Aku sangat bangga dengan didikan Om kepadamu."
"Papah siapa dulu dong?" Tanyaku padanya dengan riangnya.
"Papah Dilla Arelita."
"Hahahaha."
"Hihihi Hihi."
Tok! Tok! Tok! "Kalian sudah tidur nak?" tanya papa dengan suara agak keras ditelinga kami.
"Sebentar pah, aku bukakan pintunya."
"Baik papah tunggu."
"Maaf Om menganggu waktu istirahat kalian."
"Tidak masalah Om. Silakan masuk Om."
"Maaf citra, Om minta waktu bicara dulu dengan adikmu."
"Silakan Om."
"Sayang, besok pagi. kita akan pulang kampung dan papah harap Dilla bersiap-siap dari sekarang. Semua pakaian Dilla, harus dikemasi dari sekarang ok, nak."
"Iya papah."
"Baik, kalian lanjutkan istirahat dan kalau bisa langsung tidur saja, ok."
"OK." Mereka membentuk tangan dengan simbol Ok.
"Istirahatlah bidadari kecilku." Papah berkata dan berlalu menutup pintu kamar.
***
Keesokan harinya, dengan suasana sepi, hanya ada aku, papah, kak citra, dan Tante Jumi. Kami hanya sibuk dengan perbincangan akan kepulangan kami ke kampung. Tante terus meminta papah, agar menginap satu malam lagi. Namun, papah menolak karena katanya kami harus pulang hari ini dan kepulangan kami tidak bisa ditunda oleh mama membutuhkan kami di kampung.
"Hasyim, apa tidak bisa kalian menginap satu malam lagi?"
"Tidak bisa kak, istri dan anak-anakku membutuhkan aku disana."
"Kakak hanya minta satu malam lagi."
"Tetap tidak bisa kak, istriku merindukan kami dan membutuhkan aku sebagai suaminya."
"Baiklah, kalau itu keputusanmu. Kakak hanya ingin Dilla disini satu malam lagi. Citra begitu menyayanginya dan seperti tidak rela berpisah dari adiknya."
"Iya Om. Citra pasti merindukan Dilla adikku."
"Maafkan Om ya sayang. Dilla harus pulang ke kampung karena sebentar lagi akan bersekolah."
"Apa Citra, bisa memeluk sekali saja adikku, Dilla om?"
"Tentu nak, silakan peluk adikmu."
"Aku akan merindukanmu Dilla." memeluk erat dan disertai usapan-usapan tangan dipunggung belakang Dilla.
"Aku juga akan merindukan kak citra." melepas pelukan citra dan meraih tangannya untuk salim.
"Dilla, barangnya sudah siap nak?"
"Siap pah, ada didekat Dilla nih!"
"Baik, kak Jumi kami pamit pulang. Dan citra tolong jaga mamamu dengan baik disini ya!"
"Iya om, citra akan jaga mama dengan sangat baik disini." melangkah dan menyalami omnya dan kembali memeluk adiknya dengan erat.
"Kak Jumi kami pamit pulang." mendekati kakak perempuannya dan memeluk erat.
"Dilla, pamit sama tantemu nak!"
"Baik pah."
"Tante, kami pamit pulang." meraih tangan Tante dan menyalami.
"Belajarlah dengan baik di sekolah."
"Baik Tante."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments