Di dalam kamar kak citra, Dilla tidur seranjang dengan kakak sepupunya. Semalaman mereka menghabiskan waktu dengan obrolan seru, dimana Dilla menjadi, pembuka awal memulainya cerita mereka. Banyak kisah yang sudah diceritakan Dilla pada sepupunya itu. Mulai dari persahabatan dengan teman-teman, tentang hari-harinya sekolah, kunjungan papah kerumah nenek melibatkan Dilla, dan kakaknya yang sering meninggalkan Dilla dan adik-adik tinggal dalam rumah. Sungguh Dilla, antusias dalam bercerita hidup.
"Dil, bangun." mengguncangkan tubuhnya dengan agak kencang.
"Ada apa kak citra?" mengucek mata yang masih belekan.
"Ayo, kita jalan-jalan ke pasar?"
"Ngapain kak?"
"Ya belanja." melihat wajah kak citra girangnya.
"Tapi, kata papah. Dilla, tidak boleh berbelanja ke pasar."
"Kenapa?"
"Anak kecil, harusnya di rumah. Jangan pernah belanja di pasar."
"Mengapa?"
"Papah pernah bilang, jadi anak harus menurut sama orang tua. Jangan jadi anak, yang suka ikut mamanya ke pasar."
"Oh gitu ta?"
"Begitulah kak citra."
"Papamu mungkin, takut kamu merepotkan mamamu di pasar."
"Kenapa begitu?*
"Mungkin saja papamu, takut kamu minta ini itu."
"Aku kan tidak pernah minta ini itu."
"Barangkali ada yang membuat, kamu tertarik dan ya langsung minta ke mamamu."
"Apa iya?"
"Bisa jadi?
Menarik selimut dan bangun dari pembaringan, menuju kamar kecil dan membersihkan muka dengan sabun. Setelahnya mengenakan pakaian yang cocok, untuk bepergian ke pasar.
"Ayo kak."
"Apa?"
"Katanya mau ke pasar? Kak citra berubah pikiran? Ayo buruan kak!"
"Eeh maaf Dil. Kakak sampai melamun begini. Kirain kamu menolak ajakanku?"
"Tadinya sih, iya. Tapi, mendengar kata-kata kakak tadi. Benar juga, kenapa aku tidak jalan-jalan."
"Baik, kakak siap-siap dulu. Tunggu sebentar ya!."
"Hmm."
Mereka baru keluar dari kamar, dan menuju ruang tamu dan berdiri tepat depan pintu keluar. Namun, langkah mereka terhenti, oleh panggilan seseorang dan tidak asing bagi mereka.
"Kalian tunggu! Kita sama-sama ke pasarnya. Cit, tolong ambil payung di rak! Kita akan berpayung untuk menghindari paparan sinar matahari langsung. Udara diluar begitu panas."
"Baik, ma."
Mereka bergandengan tangan, keluar bersama menuju pasar yang dekat rumah.
"Ibu Jumi siapa dia?" Ibu-ibu tetangga meminta penjelasan mengenai siapa anak yang sedang digandeng tangan oleh Jumi.
"Dia adalah keponakan saya, anak Hasyim"
"Anak pak Hasyim, cantik juga ya." timpal salah satu ibu-ibu
"Iya, dia seperti keturunan belanda. Rambut pirang, dan matanya indah, berwarna cokelat kemarahan." Ibu-ibu lainnya berkomentar.
"Iya, aku elus-elus rambutnya, sangat halus dan lurus lagi. Sempurna." Ibu-ibu satunya lagi, tersenyum dengan bahagianya.
"Iya, ibu-ibu. Semoga kelak anak kita seperti Dilla ini, cantik, berambut indah, serta matanya sangat menyejukkan jiwa, dan meronta-ronta ingin memeluknya."
"Baik, ibu-ibu. Kami pamit duluan. Ada yang akan kami beli di arah berbeda." ucap tante Jumi dengan melangkah kaki tergesa-gesa. Namun, terkesan menghindari ibu-ibu yang mengajak kami berbincang tadi.
"Ada apa ma?" Tanya kak citra, memandangi wajah mamanya yang terlihat tegang.
"Tidak ada nak."
"Lalu?"
"Mama hanya cemas, Dilla akan diganggu mereka." tante berbisik-bisik ke telinga kak citra. Suaranya begitu pelan, tapi aku masih bisa mendengarkan.
"Kenapa bisa ma?" Kak citra berbisik ke telinga tante Jumi, agar aku tidak mendengar. Namun, aku masih bisa mendengarkan dengan jelas.
"Mereka itu, ibu-ibu kalau suka gemes sama anak-anak, dan akhir kisah dicubit semerah-merahnya. Mama takut Dilla, menjadi korban mereka."
"Iya, citra tahu ma."
"Makanya, kita harus menghindari mereka. Bukankah itu lebih baik?"
"Benar ma, citra setuju."
"Dilla, kamu mau makan es potong?"
"Apa itu tan?"
"Coba dilihat, tuh mas-mas yang potong esnya dan dibaluti cokelat. Apa Dilla suka?
"Enak pasti tante. Apa aku bisa memakannya?"
"Dilla mau? Tante akan belikan."
"Mau tan."
"Citra, nak tolong belikan adikmu! Sekalian kamu juga pesan buat diri sendiri!"
Mereka saling bergandengan tangan, menuju mas tukang es dan membeli buat masing masing. Sepanjang jalan, mereka menatap orang lalu lalang. Mengedarkan pandangan, banyak berbagai dagangan yang dipamerkan dan akan diperdagangkan. Namun, Dilla melihat seorang anak kecil, mendagangkan barang jualan berupa sayur, buah, dan ya membuat dia tertarik. Sebuah kalung cantik, dengan berbagai macam bentuk, love, butterfly, dan Rabbit. Sungguh indah dimata Dilla, tatapan terus tertuju pada barang dagangan itu.
"Dil, kenapa?"
"Itu kak!" Tunjuk Dilla dengan wajah berseri-seri.
"Kamu mau itu?" Citra menunjuk barang itu lagi, memastikan apakah Dilla, ada kemauan memiliki barang itu.
"Cantik ya kak? Dilla, pengen ada kalung seperti itu. Ada dileher Dilla." mengutarakan kemauan pada kakak sepupu, memiliki barang cantik, dimatanya Dilla.
"Kalau mau kita tanyakan dulu harga." melangkahkan kaki menuju, anak kecil yang menjual kalung tersebut.
"Harga kalung ini dik?"
"Dua puluh lima ribu saja kak."
"Tidak bisa ditawar lagi dik?"
"Itu sudah harga pas kak."
*Ok, kami pamit dulu dik. Lain kali kami kesini lagi."
"Baik kak."
"Gimana kak?" tanya Dilla dengan rasa penasarannya.
"Maaf, Dilla. Kakak tidak cukup uang. Ini uang kakak, hanya sepuluh ribu. Uang buat bayar kalungnya, seharga dua puluh lima ribu rupiah."
"Tidak apa-apa kak. Kita pulang yuk! Kita sama-sama cari tante, dimana tante membeli ikan."
"Itu? Kayaknya mama deh."
"Mana kak?"
"Tuh! Coba lihat arah telunjukku!
"Hey anak-anak, kemari lah! Bawa barang belanjaan di tanganku nih! Berat juga, ternyata."
"Baik ma."
"Iya, tan."
Perjalanan pulang dari pasar ke rumah, memakan waktu lima menitan. Mereka sudah sampai di teras rumah dan membuka pintu secara perlahan-lahan dan mengucap salam sebelum masuk rumah.
"Assalamualaikum." ucap tante Jumi disertai kami memasuki rumah.
"Waalaikumsalam, kalian sudah pulang? Mana Dilla kak? Aku cari tadi pagi, dia tidak dikamar." tanya papa pada tante dan aku bersembunyi dibalik badan kak citra.
"Dilla, bersama kami."
"Kenapa kak Jumi tidak berkata apa-apa tadi?"
"Maaf Hasyim, tadi kami perginya dadakan."
"Lalu dimana Dilla kak?"
"Dilla, sayang. Tolong pergi kesamping papamu nak!"
"Iya tan." Dilla menunjukkan diri dihadapan papanya, dengan perasaan campur aduk.
"Sayang, apa yang papa pernah bilang?"
"Papa bilang, anak kecil harusnya dirumah dan tidak boleh ikut belanja di pasar." menundukkan wajah dengan rasa penyesalan, oleh pelanggaran yang dilakukan.
"Itu Dilla tahu!"
"Maaf pah, Dilla tidak akan mengulangi lagi."
"Baik, papa pegang kata-katamu. Dan segera masuk dalam kamar!"
"Iya pah."
"Tunggu!"
"Apalagi pah?"
"Kakak citra, yang akan mengantarmu masuk dalam kamar."
"Citra, tolong bawa adikmu dulu masuk kamar!"
"Baik om."
"Hasyim ada apa?"
"Apa kak?"
"Kenapa kamu melarang Dilla ke pasar?"
"Aku hanya ingin Dilla tahu aturan."
"Kenapa begitu?"
"Membiasakan Dilla, supaya menjadi anak yang bisa mengerti keadaan orang tua."
"Maksud?"
"Supaya iya, tidak seperti kebanyakan anak-anak."
"Aku tambah bingung lagi Hasyim."
"Kak, kalau anak kecil sering diajak belanja di pasar. Nanti dia melihat barang diinginkan dan akan membeli tapi, uang orang tuanya tidak cukup. Kebanyakan aku lihat, anak-anak sering menangis, agar kemauan segera dipenuhi. Nah! Aku tidak mau, Dilla seperti itu kak."
"Benar juga katamu Hasyim. Maaf kakak, tidak berpikir sejauh itu."
"Tidak apa-apa kak. Lain kali, aku minta tolong jangan bawa Dilla ke pasar. Biarkan dia di rumah saja."
"Siap Hasyim."
Sementara didalam kamar, seorang gadis remaja dan adinda Dilla. Berbicara dari hati ke hati, tentang penyesalan citra mengenai ajakan pasar tadi.
"Dilla, kakak meminta maaf atas semuanya. Gara-gara aku, kamu dimarahi papamu."
"Tidak masalah kak citra. Begitulah sikap papah. Kalau dia tahu, aku belanja ke pasar."
"Kakak janji, kita tidak perlu ke pasar lagi. dirumah saja, sudah cukup."
"Hmm."
"Mari kita, main bongkar pasang."
"Ayo kak, kayaknya seru!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments