Aku hanya seorang bocah sembilan tahun. Tidak tahu menahu, tentang orang-orang dewasa. ada apa dengan mereka? selalu saja ada hal-hal susah, mereka tidak terima dari anak-anak seumuran bocah seperti kami. apa pikiran mereka hanya, tentang untung dan rugi. mereka terus bersusah payah, dan terus berpikir keras. apa susah memahami anak-anak seperti kami? sehingga butuh pertimbangan matang, untuk menerima kami sebagai anak didiknya.
"Ibu yakin? Anak ibu, bakal merespon pertanyaan dari saya. apa iya bisa mengenali dirinya? dan bisa menjelaskan dengan sangat baik."
"Insyaallah saya yakin pak. Anak saya punya tekad kuat, dengan begitu.. dia bisa dengan lancar, menjawab semua pertanyaan bapak."
"Baiklah Bu, silakan duduk dengan tenang dan tolong jangan bantu untuk menjawab."
"Dik, kemari lah! apa kamu sudah siap? apapun pertanyaan dari bapak, kamu harus bisa jawab,Ok."
"Siap pak." Sedikit menegang untuk menjawab.
"Siapa namamu? nama kedua orang tuamu? kamu berapa bersaudara? Jelaskan hobi dan apa yang tidak disukai?"
"Nama saya pak, Dilla Arelita. bapak saya bernama Hasyim, dan ibu saya namanya Sitti Khoiriyah. saya enam bersaudara, saya punya kakak laki-laki dua, saya anak ketiga, adik saya tiga. hobi saya bermain, dan yang tidak saya sukai, omongan yang pedas yang saya dengar.
"Baiklah dik, mengapa mau sekolah?"
"Saya juga ingin belajar, seperti teman-teman yang lain. Datang ke sekolah pagi-pagi, dan pulang dapat pekerjaan rumah dari bapak/ibu guru. saya mau pintar pak."
"Andai saya kasih kamu kesempatan. Apa kamu bisa menerima syarat dari saya?"
"Maaf pak, syarat itu apa?"
"Ketika kamu sanggup menjalani."
"Iya saya siap pak."
"Begini dik, ibumu sudah memberi tahu saya. kamu hanya ingin satu kelas dengan temanmu, yang saya ketahui, temanmu sudah dibangku kelas 3 SD. Kamu tahu peraturan disekolah, tidak sembarang menerima siswa baru. apalagi siswanya semaunya, ingin naik tiga tingkat langsung masuk kelas. Jadi harusnya, kamu ada ditingkat pertama SD. Mengerti?"
"Iya pak, saya mohon maaf dengan sungguh-sungguh."
"Saya sudah maafkan kamu. Tapi, kalau kamu mau bersama temanmu, dalam satu kelas. kamu harus penuhi syarat ku, dengan pilihan pertama, saya kasih kamu waktu tiga bulan, agar bisa membaca. jika nanti kamu bisa membaca, meski hanya terbata-bata. nilai plus kamu dapat kelas 3 dan pilihan kedua, kamu tetap bisa sekolah dengan ditingkat satu, meski kamu gagal tes membacanya. Paham?"
" Saya mengerti pak."
"Baiklah dik, sekarang kamu bisa pulang ke rumah. minggu depan kamu bisa sekolah, Ok."
"Iya pak, terimakasih banyak." Dilla menyalami pak kepsek sebelum pulang.
"Oh yah Bu, tolong pantau anaknya. Beri bimbingan khusus, agar dia cepat membaca."
"Insyaallah pak, saya bakal membimbing anak saya dengan baik."
Percakapan mereka pun telah usai. kami sudah berada dirumah, tentu tempat yang ternyaman. mama terus mengerjakan, barang belum tertata rapi. mungkin ada yang terlewat mama membersihkan. Aku pamit pada mama untuk tidur.
"Mah, aku pamit tidur."
" Ya tidur lah nak."
Sunyi dalam rumah, begitu membuat kantuk. adik-adik pun sudah tidur, kakak juga belum pulang dari sekolahnya. Kakak sulung dibangku SMA, sedang kakak kedua dibangku SMP, aku sendiri masih SD, adik ku yang satu di taman kanak-kanak, dan duanya masih bayi (adik laki-laki yaitu batita, dan satunya bayi merah) dan akhirnya aku terlelap juga dalam pembaringan.
"Bangun kak, ayo main." Tanganku goyang, bergetar, seakan ada yang mengguncang agak keras.
"Kak, Nila bosan. Butuh bermain." Celoteh adikku, membuatku bangun dari pembaringan.
"Ada apa? mengganggu tidur kakak."
"Ayo main kak, ini aku bawa mainan. Ini ada lima orang-orangan, tinggal dimainin."
"Ini bukan mainan orang-orangan, yang kamu bilang. coba perhatikan, ini tuh hanya potongan lidi. Kamu potong beberapa bagian."
"Asal bisa dimainin, aja kak."
"Baiklah, sini kita mainin." raut wajahnya berseri dengan menerima ajakannya.
Kami bermain bersama, diruang tengah, menggerakkan mainannya seperti orang-orangan sungguhan. berdiri, berjalan, bepergian, makan, tidur seperti orang hidup saja. setelahnya serasa lelah, adikku pun langsung tidur ditempat. Ini baru jam 2 siang, wajar adik tidur siang. dan tak lama ada orang yang mengucap salam dari luar rumah. rumah dalam keadaan terbuka, langsung orangnya yang muncul depan pintu, ya ternyata orang rumah.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh dik."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh kak."
"Apa kabarmu hari ini?" Kakak sulung dengan sumringah bersapa.
"Alhamdulillah sangat baik kak."
"Saya dengar, kamu masuk sekolah. Apa kamu benar-benar sekolah dik? Gimana ceritanya?"
"Iya kak, kata bapak kepala sekolah. minggu depan aku udah masuk sekolah." melihat kakak kedua masuk rumah tanpa menyapa.
"Apa ada syarat, yang dikasih bapak kepala sekolah?"
"Benar kak, katanya aku harus bisa membaca."
"Baiklah, aku akan mengajarimu, diwaktu senggang."
"Terimakasih kak."
"Baik, kakak pamit istirahat dulu."
"Hmm."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments
Oralie
Ngakak terus-terusan!
2024-02-22
2