Berhari-hari telah terlewati, sangat baik, penuh warna, suka cita, dengan bersama-sama teman-teman baiknya. alhamdulillah semuanya ada, dan sangat mendukung selama ini. dengan banyak kata semangat dari mereka, untuk hidup lebih baik serta penuh keceriaan.
"Mah, lihat baju olahraga ku dikursi?" tanya kak Handi, pada mama yang sedang menyapu rumah.
"Mama, sudah letakkan dimeja setrika. disitu juga, ada celana training mu. mama sudah setrika dengan rapi."
"Baik mah, terimakasih."
"Kamu mau kemana nak?"
"Biasa mah, teman-teman ngajakin main bola bareng di lapangan."
"Pulang jam berapa nak? Ini siang hari, kamu malah main bola."
"Tidak tahu juga mah, mungkin agak sore."
"Baiklah, hati-hatilah dan jaga diri dengan baik."
Dan tak lama, dari jaraknya kepergian kak Handi untuk bermain bola. Nila terbangun dari tidurnya, dan ngajakin aku main boneka. boneka yang terbuat dari sarung, dan terus-terusan mengguncangkan bahu, tanpa kata lelah, selalu mengajak bermain. meski suaranya mulai pelan-pelan dan seperti hilang tenggelam di tenggorokan. dia sangat bersemangat dan tidak ada kata menyerah ataupun berpasrah diri.
"Kak ayo main. Nila, ada boneka yang cantik." celoteh riang adikku, membangunkan lamunanku mengenai sikap kak handi, yang seperti memusuhi.
"Selama ini kak Handi mendiami ku dirumah. entah apa maksudnya. selalu saja, memberikan tatapan tajamnya itu. apa salah dariku, ya Allah. apa dia begitu membenciku?" batin berbicara dari hati ke hati.
"Hmm, kakak. Ayo main."
"Ayo kita mainin bonekanya."
"Yaa horeee."
Hari minggu adalah, hari yang menyenangkan bagi semua anak-anak. namun aku malas kemana-mana, dan dirumah hanya kebosanan yang menemani waktuku yang terbuang banyak. aku bermain boneka, bersama dengan adikku, hanya untuk menyenangkannya. apapun itu, aku lakukan untuk bisa membahagiakan adik perempuanku satu-satunya. wajahnya begitu berseri, dengan bermain boneka sarung bersamaku. sungguh pemandangan yang menggemaskan, bagi orang-orang dewasa yang menonton kami bermain.
"Assalamualaikum dik."sapa kak Ari, dengan lambaian tangan, pada kami yang sedang bermain boneka.
"Waalaikumsalam kak."jawab kami berbarengan dengan mata menatap serius.
"Adik-adikku ini, sedang main apa?" tanya kak ari dengan nada candaan.
"Ini kak, boneka." ucap balas dari adikku Nila.
"Kak Ari, kemana saja tadi pagi? Kenapa baru pulang kak?"tanyaku padanya dengan sedikit ada rasa penasaran.
"Ini kakak, ada kerja kelompok dirumah teman."
"Kakak, jarang dirumah. rumah begitu sunyi tanpa adanya kakak."
"Hmm, kamu rindu kakak ya?"
"Rindu juga, bukan kak. hanya saja, kami merasa tidak ada teman dirumah. kak Ari, sudah tahu toh! kak Handi, terus-terusan pergi main sama temannya dan jarang dirumah. kenapa kalian sibuk dengan diri sendiri? lalu, waktu buat kami? mana coba kak?"
"Iya deh, kakak bakal mengajari kamu membaca. supaya adikku yang cantik ini, tetap dikelas yang diinginkan."
"Benarkah kak?"
"Iya dong, kalian adalah adik perempuanku yang manis dan menggemaskan."
"Terimakasih kak Ari, kakak yang manis juga." ucap Nila sebagai perwakilan aku.
"Ok, kakak mau istirahat dikamar. kalian lanjut bermain dan bersenang-senang."
"Hmmm."
Jam dinding berbunyi, menyanyikan lagu merdu dan terdengar nyaring ditelinga. sebuah pertanda waktu memasuki sore, ternyata sudah pukul 15.30. saatnya aku beranjak dari tempat, dan pergi kekamar mandi. segalanya sudah disiapkan, dari pakaian rumahan, ditata rapi dimeja setrika, peralatan mandi, semuanya ada dikamar mandi. Aku hanya langsung menggunakan nya, karena mamaku adalah sosok ibu yang penuh tanggungjawab dan sangat diandalkan dalam hal kebutuhan rumah tangga.
"Nila, ayo dik. mandi supaya segar!"
"Kak, nanti aja deh."
"Ini sudah sore loh. nanti mama marah-marah lagi, kamu tidak mandi. apalagi bau badanmu asem. Sangat tidak enak dicium."
"Kak Dilla, bawel juga deh. aku masih mau main kak."
"Mainnya bisa dilanjut lagi."
"Tapi kak, masih mau main."
Dengan gerakan cepat oleh tangan ini, aku merapikan bonekanya kedalam lemari serta menguncinya. Nila susah untuk diajak kerjasama apalagi masalah kebersihan. mama terus berpesan padaku, agar memperhatikan Nila, yang susah mandi. Itulah mengapa disaat mama, sedang tidur atau tidak ada dirumah. akulah yang ditugaskan untuk memerintahnya mandi dan bersih-bersih. Jika perlu aku yang memandikan Nila. dan sementara aku memilih pakaian yang akan dikenakan Nila, ada ketukan keras diluar pintu rumah kami, sedang aku kunci, oleh karena aku merasa takut tanpa adanya orang tua di rumah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." sahutku dengan disertai, mengintip celah pintu yang berlubang, memastikan siapa yang datang.
"Papah." ucapan dalam diam.
Aku yang sempat melamun, dengan segera membukakan pintu untuk papah, kedatangannya yang selalu aku nanti-nantikan, sehingga dia berdiri di hadapanku, dengan senyum sumringah yang menyapa putri tersayang. sungguh pemandangan yang manis dan luar biasa.
"Oh, ternyata anakku yang membukakan pintu, untuk papah?"
"Papah kok baru pulang?"
"Maaf, papah baru bisa pulang nak."
"Kenapa pah?"
"Papah menunggu hasil tani, sayang."
"Papah sudah menjualnya?"
"Iya."
"Mana pah? aku mau uang pah." menadahkan tangan pada papanya untuk diberi uang.
"Kecil-kecil sudah pintar minta uang."
"Papah, aku butuh jajan di sekolah."
"Apa?! Kamu sekolah nak?" wajah papa terheran-heran memandangku.
"Apa papah belum tahu?"
"Iya sayang. papa baru tahu hari ini."
"Mama belum mengabari papah?"
"Mamamu gak pernah bilang."
"Papa aku sekolah itu sudah dua minggu loh!"
"Benarkah?"
"Selama dua minggu juga, aku nungguin papah. Aku mau bilang, aku sekolah pah."
"Sayang, gimana ceritanya. Kamu bisa sekolah nak."
"Waktu itu, aku bilangin mama. mah aku mau sekolah."
"Lalu?"
"Mamah mencarikan aku baju seragam di lemari. tapi.. bajunya sudah bolong dan tak layak pakai. lalu, mama membawaku kerumah tante. minta baju seragam disana."
"tante yang mana itu nak?"
"Tante Pindu pah."
"Ooh."
"Lalu sekarang bajunya ada dikasih sama kamu nak."
"Iya pah."
"Baiklah papah, bakal belikan kamu baju seragam baru, tas, dan sepatunya. Apa kamu suka ide papah?"
"Benar pah?"
"Iya sayang."
Dekapannya yang hangat, membuang segala kerinduan dalam dada. papah akhirnya pulang ke rumah, setelah dua minggu menunggunya pulang. namun, ada yang aneh. papah seperti menangis dalam posisi aku dipeluknya. ada rembesan-rembesan air yang mengaliri kebawah punggung. kenapa papah bersedih? apa itu karena kerinduan yang tertahan, dengan putri kesayangan papah? usap-usapan hangat di kepala, terus-terusan mengulang beberapa kali, kalau dihitung sudah sepuluh kali. apa papah begitu sakit? saat tahu aku sekolah? ada apa dengan papah?
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam!"jawab papah dengan semangat.
"Papah kapang pulang?"mama bertanya dan menyalami papah dengan takzim.
"Ini baru tadi. satu jam lalu."
"Mah, apa benar Dilla kembali sekolah?"
"Iya pah. maaf mama, belum bisa mengabari."
"Kenapa?"
"Takut mengganggu pekerjaan papa di kota."
"Gak kok mah. papa malah senang ada kabar gembira ini."
"Papa gak marah?"
"Kenapa?"
"Mama tidak beritahu papa. mengenai Dilla sekolah."
"Gak kok. mama sudah jelaskan alasannya."
"Syukurlah, pa."
"Mah, papa sudah pulang!"sapa kak Handi, dari habis main bola.
"Iya nak. tuh, papamu sedang makan bareng Dilla dan Nila.
"Papah."
"Handi sini nak, makan bareng kita."
"Tidak pah, Handi sudah kenyang."
"Ya sudah kamu, bersihkan badanmu saja dulu dan makanlah sesudahnya."
"Baik pah."
"Papa pulang!"kak Ari, melangkah kearah kami dan menyalami tangan papah takzim.
"Kamu habis bangun tidur Ri?"
"Iya pah."
"Biasakan tidur tuh, jangan terlalu lama. ini sudah jam berapa? gak baik anak bujang tidur kelamaan.
"Baik pah. aku pamit mandi dulu."
"Mah, mana Ferdi?"
"Dia dalam ayunan, sedang bobok pa."
"Ya udah setelah bangun. mandiin Ferdi, dan beri pada papa. papa kangen mereka, dan mengajak anak-anak bermain."
"Pah, mama pamit ke dapur dulu. ada masakan belum mama selesaikan "
"Hmmm."
"Anak-anak masih mau tambah makanan?"
"Cukup pah."jawab mereka serempak dan sambil senyum-senyum kecil.
"Baiklah nak, tunggu papah diruang keluarga. papa mau membersihkan badan dulu."
"Iya pah."
Mereka semuanya sudah berkumpul di ruangan keluarga. mengobrol, bercanda, dan nonton TV film kesayangan. kak Handi terus mengajak papah mengobrol, tentang kehebatan bermain bola di lapangan. papah sangat antusias mendengar, kehebohan kak Handi menjelaskan kehebatan main bola. aku melihat kak Handi, begitu bahagia bisa bersama papah. sedang kak Ari, seperti menjaga jarak pada papah. dia hanya bicara seperlunya saja, tidak pernah saya lihat kak Ari, bercerita tentang kepintarannya di sekolah. apa yang terjadi pada mereka? mengapa juga kak Handi seperti menganggap aku musuh. Ini benar-benar membuatku bingung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments