Sore hari..
"Dil, yuk jalan-jalan ke tempat penampungan buah cokelat!"
"Ngapain kak?"
"Kita kesana, melihat keadaan buah cokelat. Kita pelajari! Tentang langkah-langkah menjemur buah cokelat seperti apa?"
"Itu sih gampang kak. Tinggal kita jemur dibawa terik matahari. Setelahnya beres!"
"Siapa bilang begitu?"
"Aku kak."
"Kamu ini ya! Ngada-ngada. Pertama itu, membuka buah cokelat, kedua mengeluarkan buah cokelat dari rumahnya dan terakhir menjemur dengan menata buah terpisah-pisah agar tidak saling menempel, dilanjut lagi menjemur dibawa teriknya matahari.
"Itu benar kak. Hehehe, kak citra hebat."
"Citra Lusia, hehhehe."
"Kakak, ternyata lucu juga dan ceria."
"Yuk! Lanjut ke rumah cokelatnya."
Melangkah mendekati rumah cokelat yang dimaksud. Namun, terhalang kehadiran dua orang tua yang sangat dikenali oleh mereka berdua.
"Gimana ya Dil? Mereka berdua ada disana." Telunjuk citra mengarah ke posisi orang tua yang mereka kenal dan merupakan hal yang mendasari mereka berhenti tanpa masuk rumah cokelat.
"Tidak apa-apa kak. Mereka tidak akan mengusir kita."
"Kata siapa?"
"Dilla berkata tadi kak."
"Itu menurutmu."
"Kenapa begitu kak?"
"Om dan Tante, melarang anak-anak memasuki rumah cokelat."
"Kenapa?"
"Katanya anak-anak akan mengacaukan pekerjaan yang hampir selesai."
"Gimana ceritanya kak?"
"Katanya begini, kalau ada anak kecil bermain dirumah cokelat. Biasanya anak kecil akan memainkan sesuatu yang dianggapnya menarik. Misal buah cokelat menarik buat mereka, tentu akan mereka mainkan saat itu juga. Lalu? Buah cokelat bisa saja rusak kualitas, dengan buah bercampur dengan tanah atau mereka potong-potong buah cokelat dengan berbagai macam bentuk."
"Ya juga sih kak. Ya sudah, kita pulang saja."
"Sepertinya, kakak ada ide lain?"
"Apa itu kak?"
"Kita kan niatnya jalan-jalan?"
"Lalu?"
"Ayo jalan-jalan dengan cara berbeda!"
"Tambah bingung kak."
"Kita jalan-jalan dengan bersepeda. Gimana?"
"Asyik juga sih kak. Sekalian cari angin sejuk, mengitari rumah-rumah penduduk sekitar sini."
"Sayangnya, kakak tidak punya sepeda."
"Jadi?"
"Kita pinjam sepeda."
"Sepeda siapa kak?"
"Coba ikuti.. arah telunjukku!! Kira-kira sepeda siapa yang akan kita pinjam." telunjuk kak citra, berhenti pada rumah cokelat dengan diantara dua orang depan pekarangan rumah.
"Om Suardi?"
"Ya itu Dilla."
"Apa kak citra yakin?"
"Aku yakin, Om Suardi akan meminjamkan sepedanya padamu."
"Aku ragu-ragu kak."
"Ada apa?"
"Papah aja melarang aku bersepeda."
"Kenapa begitu?"
"Aku pernah jatuh, dan hampir patah tulang. Papah ada kecemasan tersendiri. Maka, aku sangat ragu om Suardi akan meminjamkan sepedanya. Bisa saja, papah sudah memberi peringatan pada om Suardi, agar menolak permintaan aku meminjam sepedanya."
"Kalau masalah itu, kamu tidak usah cemas. Kakak, yang akan mengambil kemudi sepedanya."
"Begitu ya kak?"
"Iya, yuk buruan!"
"Pagi om, tante." sapa kak citra, mengawali keakraban antara mereka.
"Pagi juga anak-anak." ujar om Suardi dengan senyuman.
"Dilla, kamu juga disini nak." ucap tante Ani menyadari kehadiran Dilla diantara mereka.
"Om, tante. Katanya Dilla ingin berbicara? Ada hal yang Dilla akan minta, pada om dan tante."
"Apa itu Dilla?" tanya tante Ani dengan wajahnya yang keheranan.
"Begini om, tante. Kami mau jalan-jalan dengan menaiki sepeda, mengelilingi rumah-rumah penduduk sekitarnya."
"Lalu?" Tanya balik om suardi dengan ekspresi lucunya.
"Kami mau meminjam sepeda om ini. Apa boleh kami meminjam sepedanya om?"
"Maaf Dil, apa papamu tahu?"
"Tidak om."
"Om sudah janji pada papamu, agar menolak permintaan Dilla, sewaktu-waktu akan meminjam sepeda. Maafkan om nak." Mengelus pucuk kepala Dilla dengan sayang.
"Tapi om, bukan Dilla yang akan menjalankan sepedanya. Tapi, kak citra om."
"Apa benar begitu citra?" Bertanya dan menatap wajah citra untuk meminta penjelasan.
"Benar om, citra yang ambil kemudi sepedanya."
"Biarkan saja sayang, mungkin mereka bersenang-senang sebentar dan tidak akan lama pulangnya."
"Aku khawatir dengan kak Hasyim."
"Tidak ada yang terjadi! Apalagi mereka sampai jatuh bersepeda. Kamu tahu citra! Bisa bersepeda dengan sangat baik."
"Baiklah anak-anak, om akan meminjamkan sepedanya. Tapi, bawanya hati-hati dan jaga diri kalian baik-baik."
"Yeah, akhirnya kak citra. Kita bisa jalan-jalan dengan bersepeda."
"Hmm, lya Dilla. Aku juga sangat bahagia."
Sepeda mulai berjalan dengan perlahan-lahan, citra begitu mahir dalam mengendarainya. Berbagai lubang jalanan, mereka lalui dengan baik. Sepedanya pun berukuran jumbo, sepeda yang dikhususkan untuk orang dewasa. Namun, bagi citra sepeda tetaplah sepeda. Apapun bentuk dan besarnya, citra akan tetap bisa mengemudikan dengan sangat baik.
"Kak citra, Lihat deh! Rumah-rumah warga. Disini ternyata banyak rumah juga. Aku tidak menyangka, bisa mengelilingi rumah-rumah mereka."
"Apa kamu senang?"
"Tentulah kak. Hari ini sangat menyenangkan dan aku berharap hari-hari ku selama disini. Aku bisa seceria ini."
"Maafkan aku dik. Mungkin hanya hari ini, kakak bisa menemanimu untuk berjalan-jalan."
"Kenapa kak?"
"Mulai besok, aku banyak kerjaan sekolah dan harus diselesaikan sebelum masuk sekolah."
"Sebelum berakhir liburan sekolah kak?"
"Ya begitulah."
"Kenapa begitu kak?"
"Tugas yang diberikan guru disekolah. Kakak harus menyelesaikan, sebelum berakhir masa liburan sekolah."
"Berarti Dilla, akan kesepian dirumah."
"Maafkan kakak dik."
"Iya deh kak. Tidak masalah, apalagi tugas seorang murid harus bisa menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan bapak/ibu guru di sekolah. Kalau tidak, maka masalah besar menimpah murid. Bisa saja, murid malah tinggal kelas, karena tidak ada tugas yang masuk."
"Ya itu Kamu benar dik. Kakak harap kamu mengerti!"
"Hmm."
Beberapa menit berlalu, mereka masih mendayung sepeda dengan santai. Namun pemandangan didepan mereka yang membuat sedikit menegang.
"Awas kak, ada batu besar depan kita!" mengerem dengan cepat, citra begitu panik dengan situasi saat itu. Namun, keberuntungan menyertai mereka, sehingga tidak ada yang terjadi dan sangat aman terkendali.
"Maaf kakak, kurang fokus dengan jalan. Kamu tidak apa-apa Dil? Apa ada yang lecet? Apa kamu merasa kesakitan?"
"Tidak kak, hanya shock takut jatuh aja."
"Tolong jangan di cerita, apalagi papamu tahu! Aku takut disalahkan karena kecerobohan."
"Kak citra, tidak usah cemas. Kita sama-sama salah kak. Aku juga, tidak akan berani bercerita macam-macam sama papah."
"Ini rahasia kita, Ok!" Saling menautkan jari kelingking mereka untuk kesepakatan janji terjalin diantara mereka.
"Kita janji."
"Janji." Mereka sepakat untuk merahasiakan apa yang terjadi tadi.
"Huee, hueee, hehehhehe." Bocah nampak mengejek disalah satu rumah warga, yang mereka akan lewati. Seketika mereka sejenak berhenti, melihat bocah siapa itu.
"Dilla, siapa bocah itu?"
"Aku juga kurang tahu kak. Apa dia anaknya, yang punya rumah itu."
"Sepertinya, dia anak kurang waras."
"Seperti apa itu kak?"
"Anak pasien rumah sakit jiwa."
"Anak yang sakit jiwa gitu."
"Itu kamu tahu!"
"Kakak, dia mendekat ke kita. Awas kak! Dia bawa batu segala. Sepertinya akan melempari kita batu."
"Kakak, akan ayunkan sepeda secepatnya. Alhamdulillah kita tidak kena batunya, hanya bagian depan sepeda yang sedikit bengkok."
"Gimana nih kak? Gawat! Om pasti marah." Mimik wajah mereka seketika pucat dan merasa ketakutan.
"Kakak, juga bingung Dil."
"Tapi kak, kita akan kembali dirumah itu."
'iya juga sih, karena akan putar balik lagi kesana. Jalan pulang kembali, arahnya juga disana."
"Apa anak itu masih disitu kak."
"Coba lihat jam tanganmu! Sudah jam berapa?"
"Sudah sore kak, pukul 17.00 ."
"Kita harus kembali Dil. Papamu dan mamaku, akan sama-sama mencari kita jika telat pulang."
"Baik kak, tidak ada jalan lagi."
"Hmm. Siap."
"Siap."
Melajukan sepeda, putar balik, kearah yang tadi. Setelahnya..
"Hehehehe, huuuu, hoooo, aaaahhh, hihihi."
"Kak citra, anak itu terlihat mengerikan ya?"
"Iya Dil. Aku saja gemetaran nih sejak tadi."
"Aku tahu itu kak, sejak tadi kakak belum bergerak dan sepertinya kak citra, mengambil aba-aba sebelum ayunkan sepeda."
"Aku juga, ingin kamu siap mental. Dan tetap pantau itu batunya, dan hindari kemungkinan kena batu lemparan."
"Apa kamu siap dll?"
"Sangat siap kak."
"Baik..."
"Alhamdulillah kita selamat!"
***
Keesokan harinya, Dilla hanya melihat kesibukan banyak orang. Dari kak citra pergi kerja kelompok, tante, dan sepupu laki-lakinya siap-siap pergi berkebun cokelat. Sedang papanya sedang sibuk mengemasi cokelat yang kering dijual di pasar.
"Papah, Dilla boleh ikut?"
"Tidak sayang , papa akan ke pasar menimbang coklat."
"Kenapa Dilla tidak boleh ikut pah?"
"Dilla masih kecil dan lebih baik dirumah saja."
"Tapi pah, Dilla sepi disini."
"Papa kan, pernah bilang sama Dilla. Papa ke kota itu, kerja nak. Jadi dilla tidak usah ikut papa ke kota. Begini orang kerja nak, anak kecil tidak boleh ikut orang tua disaat kerja, karena akan mengganggu pekerjaan."
"Kenapa begitu pah?"
"Perhatian akan tersita oleh pekerjaan dan anak. Bagaimana papa, akan membagi waktu kerja dan bersama anak-anak."
"Tapi Dilla bisa menemani papah kerja."
"Dilla bisa kerja apa coba?"
"Bisa menemani papah menimbang cokelat dan sambil mengobrol gitu."
"Dilla, dirumah aja ya nak! Papa akan belikan Dilla ekstrim setelah pulang."
"Tapi pah."
"Tidak ada bantahan lagi Dilla. Dan masuk dalam rumah!"
"Baik pah." Melangkahkan kaki memasuki rumah dengan lesu.
"Andai mereka ada bersamaku? Aku tidak akan sunyi seperti ini. Sungguh aku merindukan mereka semua." Gumaman Dilla dalam diamnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments