Bab 17 Dua Hari Di kota P, Dilla Bosan Dan Rindu Kepada Bestie

Sore hari..

"Dil, yuk jalan-jalan ke tempat penampungan buah cokelat!"

"Ngapain kak?"

"Kita kesana, melihat keadaan buah cokelat. Kita pelajari! Tentang langkah-langkah menjemur buah cokelat seperti apa?"

"Itu sih gampang kak. Tinggal kita jemur dibawa terik matahari. Setelahnya beres!"

"Siapa bilang begitu?"

"Aku kak."

"Kamu ini ya! Ngada-ngada. Pertama itu, membuka buah cokelat, kedua mengeluarkan buah cokelat dari rumahnya dan terakhir menjemur dengan menata buah terpisah-pisah agar tidak saling menempel, dilanjut lagi menjemur dibawa teriknya matahari.

"Itu benar kak. Hehehe, kak citra hebat."

"Citra Lusia, hehhehe."

"Kakak, ternyata lucu juga dan ceria."

"Yuk! Lanjut ke rumah cokelatnya."

Melangkah mendekati rumah cokelat yang dimaksud. Namun, terhalang kehadiran dua orang tua yang sangat dikenali oleh mereka berdua.

"Gimana ya Dil? Mereka berdua ada disana." Telunjuk citra mengarah ke posisi orang tua yang mereka kenal dan merupakan hal yang mendasari mereka berhenti tanpa masuk rumah cokelat.

"Tidak apa-apa kak. Mereka tidak akan mengusir kita."

"Kata siapa?"

"Dilla berkata tadi kak."

"Itu menurutmu."

"Kenapa begitu kak?"

"Om dan Tante, melarang anak-anak memasuki rumah cokelat."

"Kenapa?"

"Katanya anak-anak akan mengacaukan pekerjaan yang hampir selesai."

"Gimana ceritanya kak?"

"Katanya begini, kalau ada anak kecil bermain dirumah cokelat. Biasanya anak kecil akan memainkan sesuatu yang dianggapnya menarik. Misal buah cokelat menarik buat mereka, tentu akan mereka mainkan saat itu juga. Lalu? Buah cokelat bisa saja rusak kualitas, dengan buah bercampur dengan tanah atau mereka potong-potong buah cokelat dengan berbagai macam bentuk."

"Ya juga sih kak. Ya sudah, kita pulang saja."

"Sepertinya, kakak ada ide lain?"

"Apa itu kak?"

"Kita kan niatnya jalan-jalan?"

"Lalu?"

"Ayo jalan-jalan dengan cara berbeda!"

"Tambah bingung kak."

"Kita jalan-jalan dengan bersepeda. Gimana?"

"Asyik juga sih kak. Sekalian cari angin sejuk, mengitari rumah-rumah penduduk sekitar sini."

"Sayangnya, kakak tidak punya sepeda."

"Jadi?"

"Kita pinjam sepeda."

"Sepeda siapa kak?"

"Coba ikuti.. arah telunjukku!! Kira-kira sepeda siapa yang akan kita pinjam." telunjuk kak citra, berhenti pada rumah cokelat dengan diantara dua orang depan pekarangan rumah.

"Om Suardi?"

"Ya itu Dilla."

"Apa kak citra yakin?"

"Aku yakin, Om Suardi akan meminjamkan sepedanya padamu."

"Aku ragu-ragu kak."

"Ada apa?"

"Papah aja melarang aku bersepeda."

"Kenapa begitu?"

"Aku pernah jatuh, dan hampir patah tulang. Papah ada kecemasan tersendiri. Maka, aku sangat ragu om Suardi akan meminjamkan sepedanya. Bisa saja, papah sudah memberi peringatan pada om Suardi, agar menolak permintaan aku meminjam sepedanya."

"Kalau masalah itu, kamu tidak usah cemas. Kakak, yang akan mengambil kemudi sepedanya."

"Begitu ya kak?"

"Iya, yuk buruan!"

"Pagi om, tante." sapa kak citra, mengawali keakraban antara mereka.

"Pagi juga anak-anak." ujar om Suardi dengan senyuman.

"Dilla, kamu juga disini nak." ucap tante Ani menyadari kehadiran Dilla diantara mereka.

"Om, tante. Katanya Dilla ingin berbicara? Ada hal yang Dilla akan minta, pada om dan tante."

"Apa itu Dilla?" tanya tante Ani dengan wajahnya yang keheranan.

"Begini om, tante. Kami mau jalan-jalan dengan menaiki sepeda, mengelilingi rumah-rumah penduduk sekitarnya."

"Lalu?" Tanya balik om suardi dengan ekspresi lucunya.

"Kami mau meminjam sepeda om ini. Apa boleh kami meminjam sepedanya om?"

"Maaf Dil, apa papamu tahu?"

"Tidak om."

"Om sudah janji pada papamu, agar menolak permintaan Dilla, sewaktu-waktu akan meminjam sepeda. Maafkan om nak." Mengelus pucuk kepala Dilla dengan sayang.

"Tapi om, bukan Dilla yang akan menjalankan sepedanya. Tapi, kak citra om."

"Apa benar begitu citra?" Bertanya dan menatap wajah citra untuk meminta penjelasan.

"Benar om, citra yang ambil kemudi sepedanya."

"Biarkan saja sayang, mungkin mereka bersenang-senang sebentar dan tidak akan lama pulangnya."

"Aku khawatir dengan kak Hasyim."

"Tidak ada yang terjadi! Apalagi mereka sampai jatuh bersepeda. Kamu tahu citra! Bisa bersepeda dengan sangat baik."

"Baiklah anak-anak, om akan meminjamkan sepedanya. Tapi, bawanya hati-hati dan jaga diri kalian baik-baik."

"Yeah, akhirnya kak citra. Kita bisa jalan-jalan dengan bersepeda."

"Hmm, lya Dilla. Aku juga sangat bahagia."

Sepeda mulai berjalan dengan perlahan-lahan, citra begitu mahir dalam mengendarainya. Berbagai lubang jalanan, mereka lalui dengan baik. Sepedanya pun berukuran jumbo, sepeda yang dikhususkan untuk orang dewasa. Namun, bagi citra sepeda tetaplah sepeda. Apapun bentuk dan besarnya, citra akan tetap bisa mengemudikan dengan sangat baik.

"Kak citra, Lihat deh! Rumah-rumah warga. Disini ternyata banyak rumah juga. Aku tidak menyangka, bisa mengelilingi rumah-rumah mereka."

"Apa kamu senang?"

"Tentulah kak. Hari ini sangat menyenangkan dan aku berharap hari-hari ku selama disini. Aku bisa seceria ini."

"Maafkan aku dik. Mungkin hanya hari ini, kakak bisa menemanimu untuk berjalan-jalan."

"Kenapa kak?"

"Mulai besok, aku banyak kerjaan sekolah dan harus diselesaikan sebelum masuk sekolah."

"Sebelum berakhir liburan sekolah kak?"

"Ya begitulah."

"Kenapa begitu kak?"

"Tugas yang diberikan guru disekolah. Kakak harus menyelesaikan, sebelum berakhir masa liburan sekolah."

"Berarti Dilla, akan kesepian dirumah."

"Maafkan kakak dik."

"Iya deh kak. Tidak masalah, apalagi tugas seorang murid harus bisa menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan bapak/ibu guru di sekolah. Kalau tidak, maka masalah besar menimpah murid. Bisa saja, murid malah tinggal kelas, karena tidak ada tugas yang masuk."

"Ya itu Kamu benar dik. Kakak harap kamu mengerti!"

"Hmm."

Beberapa menit berlalu, mereka masih mendayung sepeda dengan santai. Namun pemandangan didepan mereka yang membuat sedikit menegang.

"Awas kak, ada batu besar depan kita!" mengerem dengan cepat, citra begitu panik dengan situasi saat itu. Namun, keberuntungan menyertai mereka, sehingga tidak ada yang terjadi dan sangat aman terkendali.

"Maaf kakak, kurang fokus dengan jalan. Kamu tidak apa-apa Dil? Apa ada yang lecet? Apa kamu merasa kesakitan?"

"Tidak kak, hanya shock takut jatuh aja."

"Tolong jangan di cerita, apalagi papamu tahu! Aku takut disalahkan karena kecerobohan."

"Kak citra, tidak usah cemas. Kita sama-sama salah kak. Aku juga, tidak akan berani bercerita macam-macam sama papah."

"Ini rahasia kita, Ok!" Saling menautkan jari kelingking mereka untuk kesepakatan janji terjalin diantara mereka.

"Kita janji."

"Janji." Mereka sepakat untuk merahasiakan apa yang terjadi tadi.

"Huee, hueee, hehehhehe." Bocah nampak mengejek disalah satu rumah warga, yang mereka akan lewati. Seketika mereka sejenak berhenti, melihat bocah siapa itu.

"Dilla, siapa bocah itu?"

"Aku juga kurang tahu kak. Apa dia anaknya, yang punya rumah itu."

"Sepertinya, dia anak kurang waras."

"Seperti apa itu kak?"

"Anak pasien rumah sakit jiwa."

"Anak yang sakit jiwa gitu."

"Itu kamu tahu!"

"Kakak, dia mendekat ke kita. Awas kak! Dia bawa batu segala. Sepertinya akan melempari kita batu."

"Kakak, akan ayunkan sepeda secepatnya. Alhamdulillah kita tidak kena batunya, hanya bagian depan sepeda yang sedikit bengkok."

"Gimana nih kak? Gawat! Om pasti marah." Mimik wajah mereka seketika pucat dan merasa ketakutan.

"Kakak, juga bingung Dil."

"Tapi kak, kita akan kembali dirumah itu."

'iya juga sih, karena akan putar balik lagi kesana. Jalan pulang kembali, arahnya juga disana."

"Apa anak itu masih disitu kak."

"Coba lihat jam tanganmu! Sudah jam berapa?"

"Sudah sore kak, pukul 17.00 ."

"Kita harus kembali Dil. Papamu dan mamaku, akan sama-sama mencari kita jika telat pulang."

"Baik kak, tidak ada jalan lagi."

"Hmm. Siap."

"Siap."

Melajukan sepeda, putar balik, kearah yang tadi. Setelahnya..

"Hehehehe, huuuu, hoooo, aaaahhh, hihihi."

"Kak citra, anak itu terlihat mengerikan ya?"

"Iya Dil. Aku saja gemetaran nih sejak tadi."

"Aku tahu itu kak, sejak tadi kakak belum bergerak dan sepertinya kak citra, mengambil aba-aba sebelum ayunkan sepeda."

"Aku juga, ingin kamu siap mental. Dan tetap pantau itu batunya, dan hindari kemungkinan kena batu lemparan."

"Apa kamu siap dll?"

"Sangat siap kak."

"Baik..."

"Alhamdulillah kita selamat!"

***

Keesokan harinya, Dilla hanya melihat kesibukan banyak orang. Dari kak citra pergi kerja kelompok, tante, dan sepupu laki-lakinya siap-siap pergi berkebun cokelat. Sedang papanya sedang sibuk mengemasi cokelat yang kering dijual di pasar.

"Papah, Dilla boleh ikut?"

"Tidak sayang , papa akan ke pasar menimbang coklat."

"Kenapa Dilla tidak boleh ikut pah?"

"Dilla masih kecil dan lebih baik dirumah saja."

"Tapi pah, Dilla sepi disini."

"Papa kan, pernah bilang sama Dilla. Papa ke kota itu, kerja nak. Jadi dilla tidak usah ikut papa ke kota. Begini orang kerja nak, anak kecil tidak boleh ikut orang tua disaat kerja, karena akan mengganggu pekerjaan."

"Kenapa begitu pah?"

"Perhatian akan tersita oleh pekerjaan dan anak. Bagaimana papa, akan membagi waktu kerja dan bersama anak-anak."

"Tapi Dilla bisa menemani papah kerja."

"Dilla bisa kerja apa coba?"

"Bisa menemani papah menimbang cokelat dan sambil mengobrol gitu."

"Dilla, dirumah aja ya nak! Papa akan belikan Dilla ekstrim setelah pulang."

"Tapi pah."

"Tidak ada bantahan lagi Dilla. Dan masuk dalam rumah!"

"Baik pah." Melangkahkan kaki memasuki rumah dengan lesu.

"Andai mereka ada bersamaku? Aku tidak akan sunyi seperti ini. Sungguh aku merindukan mereka semua." Gumaman Dilla dalam diamnya.

Episodes
1 Bab 1 Niat Sekolah
2 Bab 2 bertemu kepsek
3 Bab 3 Tes Masuk Sekolah Oleh Pak Kepsek
4 Bab 4 Masa Lalu Ortu (POV MAMA)
5 Bab 5 Hari Pertama Sekolah
6 Bab 6 Mengenal Satu Sama Lain
7 Bab 7 Empat Gadis Imut, Adalah Bestie!
8 Bab 8 Papah pulang!
9 Bab 9 Belajar Membaca, oleh Abang Ari laksmana
10 Bab 10 Masa Lalu Ortu (POV PAPA)
11 Bab 11 lulus Membaca, Dan Besti Bersambut Riang
12 Bab 12 Rencana berlibur, ikut papah ke kota
13 Bab 13 Satu Minggu Sudah Liburnya, Aku Pun Ikut Papah Ke Kota P
14 Bab 14 Singgah Dirumah Kakek-Nenek Tua
15 Bab 15 Tiba Di kota P, Dan Bertemu Kakak Sepupu Citra
16 Bab 16 Pagi Di Kota P, Dilla Dibawa Keliling Pasar
17 Bab 17 Dua Hari Di kota P, Dilla Bosan Dan Rindu Kepada Bestie
18 Bab 18 Upah Cokelat Dibagi Papah, Dilla Hanya Dapat Bagian Kecil
19 Bab 19 Malam Terakhir Di Kota P, Paginya Kami Pulang Kampung
20 Bab 20 (POV) Citra Lusia
21 Bab 21 Tiba Dirumah, Mamah, Adik-Adik Menyambut Gembira
22 Bab 22 Hadiah Dari Tante Mita, Aku Dan Adikku Membukanya
23 Bab 23 Dilla Kelas Empat SD, Nila Baru Masuk SD
24 Bab 24 Kelas Baru dan Guru Baru
25 Bab 25 Bertemu Ibu Guru Baru, Belajar Masih Momen Libur
26 Bab 26 Seminggu Hanya Absensi Guru Dan Belajar Mandiri Di Kelas
27 Bab 27 Papah Ke Jakarta?
28 Bab 28 Mata Pelajaran Matematika, Solusi Adalah Kalkulator.
29 Bab 29 Hadiah Dari Jakarta Oleh Papah
30 Bab 30 Tas Baru Dan Sorakan Meriah Bestie-bestie
31 Bab 31 Mata Pelajaran Agama, Oleh Bapak Baskoro Ayahanda Abdil
32 Bab 32 Ceritaku Pada Mamah, Setelah Pulang Sekolah
33 Bab 33 Kakek Datang Ke Rumah, Mamah Malah Bercerita Masa Kecilku
34 Bab 34 Malam Senin Penuh Rasa Luka
35 Bab 35 Tibalah Mapel Matematika? Aku Dan Bestie Dapat Seratus
36 Bab 36 Dua mapel sekarang, PKN dan IPA setelah dua Minggu Lalu
37 Bab 37 Bernyanyi Seru Bareng Bestie, Menyambut Mapel Masuk
38 Bab 38 Menunggu Jam Mapel Terakhir Masuk Dan Bergosip
39 Bab 39 Marilah Kita, Belajar Bahasa Indonesia, Teman-teman
40 Bab 40 Pulang Ke Rumah Masing-Masing, Dilla Dan Rasti Berbeda
41 Bab 41 Mapel Jumat Diganti Dengan Gotong Royong Bersih-Bersih
42 Bab 42 Berolahraga Ria Di Pagi Hari
43 Bab 43 Rasti Mengajak Bermain Di Pelabuhan Labuang
44 Bab 44 Pulang Sekolah, Di Rumah Rasti Dan Membahas Matematika
45 45 Malam Hari Yang Mencemaskan Di Empat Rumah
46 Bab 46 Mari Kita Hadapi Bersama-sama
47 Bab 47 Agama Penting, Dan Setoran Doa Untuk Guru Agama Di Kelas
48 Bab 48 Belajar IPS Dan saling tanya jawab antar teman
49 Bab 49 Mari Teman2, Kita Sama2 Bercerita Perubahan Tahun Ketahun
50 Bab 50 Gotong Royong Membersihkan Halaman Sekolah, Rasti Dilla?
51 Bab 51 Olahraga Lagi, Dan Bertemu Siswa Di Sekolah Sebelah
52 Bab 52 Kak Ari Pekerja Di Pelabuhan Kapal Dan Kak Handi Juga
53 Bab 53 Menguntit Abang Sampai Ke Pelabuhan Kapal
54 Bab 54 Aku Belajar Di Kesunyian Malam
55 Bab 55 Amukan Ibu Guru Oleh Kecurangan Kami Murid-Muridnya
56 Bab 56 Berdiskusi Di Pohon Mangga, Rasa Menyesal Berbuat Curang
57 Bab 57 Belajar Mengenal Pemerintahan Desa Dan kecamatan Sendiri
58 Bab 58 Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
59 Bab 59 Pulang Sekolah Aku Dapati Si Kecil Ferdi Ngompol Nangis
60 Bab 60 Belajar Bahasa INA Dengan Memahami Cerita Dan Menjawabnya
61 Bab 61 Makan Es Kelapa Buatan Kak Ari, Di Siang Hari Panas-panas
62 Bab 62 Menanam Bunga-Bunga Cantik Di Pekarangan Sekolah
63 Bab 63 Adu Kekuatan Di Pagi Hari
64 Bab 64 Sepulang Dari Sekolah, Erwin Di Marahi Mamanya
65 Bab 65 Tamu Di Malam Hari, Datang Temui Papah Dengan Mobil Taksi
66 Bab 66 Membawa Adik Kecil Ke Sekolah
67 Bab 67 Ketahuan Ibu Guru, Bawa Bayi Kecil Dalam Tas
68 Bab 68 Cerita Setelah Ketahuan Oleh Ibu Guru
69 Bab 69 Cerita Mama Setelah Pulang Sekolah, Katanya Ferdi Nakal
70 Bab 70 Ujian Semester Ganjil Berakhir, Kami Bersenandung Riang
71 Bab 71 Papah Pulang Dari Kota, Ketika Di Hari Ke Empat Libur Sekolah
72 Bab 72 Malam Yang Tak Biasanya
73 Bab 73 Murka Handi, Aku Mendapati Masa Lampau Buruk Dan Berduka
74 Bab 74 Dilla Dipaksa Untuk Jujur
75 Bab 75 Kekecewaan Dan Amarah Besar Kedua Orang Tua
76 Bab 76 POVE Ari Laksmana
77 Bab 77 Murka Papah Yang Tidak Tertahan Lagi
78 Bab 78 Handi Mendapat Pelajaran Dari Papahnya
79 Bab 79 POVE PAPAH!
80 Bab 80 Desakan Mama Kepada Handi
81 Bab 81 POVE MAMA!
82 Bab 82 Dapat Teman Baru Di Kelas Dari Kalimantan
83 Bab 83 Sisi Lemah Mino Dihadapan Kami Berempat
84 Bab 84 Pertama Kali Berkemah, Kami Bersorak Gembira Menyambut
85 Bab 85 Hari Pertama Di Perkemahan Tepat Di Atas Gunung
86 Bab 86 Berburu Bendera Merah Putih Untuk Menjawab Teka-Teki
87 Bab 87 Tepar Nya Kami Sepulangnya Dari Perkemahan
88 Bab 88 Pamit Mino Sebelum Pulang Ke Kalimantan
89 Bab 89 Paman Pinjam Motor, Kenapa Marah?
90 Bab 90 Kemarahan Nenek Oleh Aduan Paman
91 Bab 91 Luapan Air Mata Di Rumah Tetangga
92 Bab 92 Lebaran Fitri Pertama Bagiku
93 Bab 93 Ujian Semester Genap
94 Bab 94 Tragedi Naik Kelas Lima
95 Bab 95 Amir Pulang Ke Rumahnya
96 Bab 96 Kabar Amir Pindah Sekolah
97 Bab 97 Patah Hati, Amir Pindah Sekolah
98 Bab 98 Ibu Guru Mungil, Ramping, Dan Cantik
99 Bab 99 Perkenalan Pertama Ibu Guru Cantik, Senyuman Gigi Kelinci
100 Bab 100 POVE Guru Cantik
101 Bab 101 Cerita Kami Di Pelabuhan
102 Bab 102 Dilla Melamun Di Teras Rumah
103 Bab 103 Jadwal Mata Pelajaran Kelas Lima
104 Bab 104 Tema Peta Konsep Terkait Hiburan
105 Bab 105 Bernyanyi Bareng Nila Dan Ferdi
106 Bab 106 Tugas Berat Bagi Kami Semua
107 Bab 107 Nila Kegirangan Melihat Bintang Jatuh
108 Bab 108 Alat Pernapasan Manusia
109 Bab 109 Malam Yang Penuh Nyamuk
110 Bab 110 Bertemu Ibu Guru Cantik
111 Bab 111 Tanya jawab Peninggalan sejarah Hindu-Budha dan Islam
112 Bab 112 Nila Batuk-batuk Dan Ferdi Juga Demam Tinggi
113 Bab 113 Mamah Merasa Capek Dari Sekolah
114 Bab 114 Yuk Belajar Matematika
115 Bab 115 Erwin Heran Dengan Kedatangan Kami
116 Bab 116 Menulis Surat at-Tin.
117 Bab 117 Pencuri Kecil Di Pelabuhan (Jeruk Cina)
118 Bab 118 Kebohongan Kecil Rasti Menyelamatkanku
119 Bab 119 Menyimak Cerita Tokoh Srikandi Tari
120 Bab 120 peraturan perundang-undangan
121 Bab 121 Rasa Malas Dilla Setelah Sekolah
122 Bab 122 Malam Bersenda Gurau
123 Bab 123 Tumbuhan Hijau
124 Bab 124 Kangen Papah!
125 Bab 125 Keragaman kenampakan dan pembagian wilayah waktu di Indonesia
126 Bab 126 Ferdi Menangis Minta Bertemu Papah
127 Bab 127 Belajar dan Menyimak
128 Bab 128 Main Jingkrak Disamping Rumah Rasti
129 Bab 129 Setoran At-Tin
130 Bab 130 Rasti Jatuh Cinta?
131 Bab 131 Nur Aini?
132 Bab 132 Kapal Berlabuh Indah Dilautan
133 Bab 133 Semester Genap
134 Bab 134 Syakillah Ada Pacar?
135 Bab 135 Musim Buah Mangga
136 Bab 136 Bermain Ketapel
137 Bab 137 Mangga Depan Rumah
138 Bab 138 Teguran Main Di Samping Rumah
139 Bab 139 Cerita Luka Keluarga
140 Bab 140 Sekolah Dirobohkan?
141 Bab 141 Berita Amir Sekolah
142 Bab 142 Kami Numpang Belajar
143 Bab 143 Masuk Siang
144 Bab 144 Rezeki Ikan Pagi
145 Bab 145 Aku Kerja Di Sekolah
146 Bab 146 Menyambut Bulan Suci
147 Bab 147 Hasil Kerjaku Di Bulan Suci
148 Bab 148 Hari Kemenangan Bersama
149 Bab 149 Amir Berulah Di Sekolah Kami
150 Bab 150 Sanksi Untuk Amir
151 Bab 151 Abang Handi Di Sengat Ikan Pari
152 Bab 152 Abang Handi Terbaring Lemah
153 Bab 153 POVE MAMA!
154 Bab 154 Abang Handi Kesakitan
155 Bab 155 POVE Rasti!
156 Bab 156 Abang Handi Pulih Total
157 Bab 157 Penamatan Qur'an Sekampung
158 Bab 158 Patah hati, Bu Syakillah!
159 Bab 159 POVE Syakillah!
160 Bab 160 Kemarahan Untuk Bu Syakillah!
161 Bab 161 Menjelang Ujian Nasional
162 Bab 162 POVE HANDI!
163 Bab 163 Ujian Nasional
164 Bab 164 Nilai Ujian Nasional Tinggi
165 Bab 165 Sisi lain ibu Rasti!
166 Bab 166 Perpisahan Sekolah
167 Bab 167 Kabar Bu Syakillah menikah!
168 Bab 168 Mata Haru Papah!
169 Bab 169 POVE PAPAH!
170 Bab 170 POVE MAMA!
171 Bab 171 Akhir Sebuah Kisah!
Episodes

Updated 171 Episodes

1
Bab 1 Niat Sekolah
2
Bab 2 bertemu kepsek
3
Bab 3 Tes Masuk Sekolah Oleh Pak Kepsek
4
Bab 4 Masa Lalu Ortu (POV MAMA)
5
Bab 5 Hari Pertama Sekolah
6
Bab 6 Mengenal Satu Sama Lain
7
Bab 7 Empat Gadis Imut, Adalah Bestie!
8
Bab 8 Papah pulang!
9
Bab 9 Belajar Membaca, oleh Abang Ari laksmana
10
Bab 10 Masa Lalu Ortu (POV PAPA)
11
Bab 11 lulus Membaca, Dan Besti Bersambut Riang
12
Bab 12 Rencana berlibur, ikut papah ke kota
13
Bab 13 Satu Minggu Sudah Liburnya, Aku Pun Ikut Papah Ke Kota P
14
Bab 14 Singgah Dirumah Kakek-Nenek Tua
15
Bab 15 Tiba Di kota P, Dan Bertemu Kakak Sepupu Citra
16
Bab 16 Pagi Di Kota P, Dilla Dibawa Keliling Pasar
17
Bab 17 Dua Hari Di kota P, Dilla Bosan Dan Rindu Kepada Bestie
18
Bab 18 Upah Cokelat Dibagi Papah, Dilla Hanya Dapat Bagian Kecil
19
Bab 19 Malam Terakhir Di Kota P, Paginya Kami Pulang Kampung
20
Bab 20 (POV) Citra Lusia
21
Bab 21 Tiba Dirumah, Mamah, Adik-Adik Menyambut Gembira
22
Bab 22 Hadiah Dari Tante Mita, Aku Dan Adikku Membukanya
23
Bab 23 Dilla Kelas Empat SD, Nila Baru Masuk SD
24
Bab 24 Kelas Baru dan Guru Baru
25
Bab 25 Bertemu Ibu Guru Baru, Belajar Masih Momen Libur
26
Bab 26 Seminggu Hanya Absensi Guru Dan Belajar Mandiri Di Kelas
27
Bab 27 Papah Ke Jakarta?
28
Bab 28 Mata Pelajaran Matematika, Solusi Adalah Kalkulator.
29
Bab 29 Hadiah Dari Jakarta Oleh Papah
30
Bab 30 Tas Baru Dan Sorakan Meriah Bestie-bestie
31
Bab 31 Mata Pelajaran Agama, Oleh Bapak Baskoro Ayahanda Abdil
32
Bab 32 Ceritaku Pada Mamah, Setelah Pulang Sekolah
33
Bab 33 Kakek Datang Ke Rumah, Mamah Malah Bercerita Masa Kecilku
34
Bab 34 Malam Senin Penuh Rasa Luka
35
Bab 35 Tibalah Mapel Matematika? Aku Dan Bestie Dapat Seratus
36
Bab 36 Dua mapel sekarang, PKN dan IPA setelah dua Minggu Lalu
37
Bab 37 Bernyanyi Seru Bareng Bestie, Menyambut Mapel Masuk
38
Bab 38 Menunggu Jam Mapel Terakhir Masuk Dan Bergosip
39
Bab 39 Marilah Kita, Belajar Bahasa Indonesia, Teman-teman
40
Bab 40 Pulang Ke Rumah Masing-Masing, Dilla Dan Rasti Berbeda
41
Bab 41 Mapel Jumat Diganti Dengan Gotong Royong Bersih-Bersih
42
Bab 42 Berolahraga Ria Di Pagi Hari
43
Bab 43 Rasti Mengajak Bermain Di Pelabuhan Labuang
44
Bab 44 Pulang Sekolah, Di Rumah Rasti Dan Membahas Matematika
45
45 Malam Hari Yang Mencemaskan Di Empat Rumah
46
Bab 46 Mari Kita Hadapi Bersama-sama
47
Bab 47 Agama Penting, Dan Setoran Doa Untuk Guru Agama Di Kelas
48
Bab 48 Belajar IPS Dan saling tanya jawab antar teman
49
Bab 49 Mari Teman2, Kita Sama2 Bercerita Perubahan Tahun Ketahun
50
Bab 50 Gotong Royong Membersihkan Halaman Sekolah, Rasti Dilla?
51
Bab 51 Olahraga Lagi, Dan Bertemu Siswa Di Sekolah Sebelah
52
Bab 52 Kak Ari Pekerja Di Pelabuhan Kapal Dan Kak Handi Juga
53
Bab 53 Menguntit Abang Sampai Ke Pelabuhan Kapal
54
Bab 54 Aku Belajar Di Kesunyian Malam
55
Bab 55 Amukan Ibu Guru Oleh Kecurangan Kami Murid-Muridnya
56
Bab 56 Berdiskusi Di Pohon Mangga, Rasa Menyesal Berbuat Curang
57
Bab 57 Belajar Mengenal Pemerintahan Desa Dan kecamatan Sendiri
58
Bab 58 Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
59
Bab 59 Pulang Sekolah Aku Dapati Si Kecil Ferdi Ngompol Nangis
60
Bab 60 Belajar Bahasa INA Dengan Memahami Cerita Dan Menjawabnya
61
Bab 61 Makan Es Kelapa Buatan Kak Ari, Di Siang Hari Panas-panas
62
Bab 62 Menanam Bunga-Bunga Cantik Di Pekarangan Sekolah
63
Bab 63 Adu Kekuatan Di Pagi Hari
64
Bab 64 Sepulang Dari Sekolah, Erwin Di Marahi Mamanya
65
Bab 65 Tamu Di Malam Hari, Datang Temui Papah Dengan Mobil Taksi
66
Bab 66 Membawa Adik Kecil Ke Sekolah
67
Bab 67 Ketahuan Ibu Guru, Bawa Bayi Kecil Dalam Tas
68
Bab 68 Cerita Setelah Ketahuan Oleh Ibu Guru
69
Bab 69 Cerita Mama Setelah Pulang Sekolah, Katanya Ferdi Nakal
70
Bab 70 Ujian Semester Ganjil Berakhir, Kami Bersenandung Riang
71
Bab 71 Papah Pulang Dari Kota, Ketika Di Hari Ke Empat Libur Sekolah
72
Bab 72 Malam Yang Tak Biasanya
73
Bab 73 Murka Handi, Aku Mendapati Masa Lampau Buruk Dan Berduka
74
Bab 74 Dilla Dipaksa Untuk Jujur
75
Bab 75 Kekecewaan Dan Amarah Besar Kedua Orang Tua
76
Bab 76 POVE Ari Laksmana
77
Bab 77 Murka Papah Yang Tidak Tertahan Lagi
78
Bab 78 Handi Mendapat Pelajaran Dari Papahnya
79
Bab 79 POVE PAPAH!
80
Bab 80 Desakan Mama Kepada Handi
81
Bab 81 POVE MAMA!
82
Bab 82 Dapat Teman Baru Di Kelas Dari Kalimantan
83
Bab 83 Sisi Lemah Mino Dihadapan Kami Berempat
84
Bab 84 Pertama Kali Berkemah, Kami Bersorak Gembira Menyambut
85
Bab 85 Hari Pertama Di Perkemahan Tepat Di Atas Gunung
86
Bab 86 Berburu Bendera Merah Putih Untuk Menjawab Teka-Teki
87
Bab 87 Tepar Nya Kami Sepulangnya Dari Perkemahan
88
Bab 88 Pamit Mino Sebelum Pulang Ke Kalimantan
89
Bab 89 Paman Pinjam Motor, Kenapa Marah?
90
Bab 90 Kemarahan Nenek Oleh Aduan Paman
91
Bab 91 Luapan Air Mata Di Rumah Tetangga
92
Bab 92 Lebaran Fitri Pertama Bagiku
93
Bab 93 Ujian Semester Genap
94
Bab 94 Tragedi Naik Kelas Lima
95
Bab 95 Amir Pulang Ke Rumahnya
96
Bab 96 Kabar Amir Pindah Sekolah
97
Bab 97 Patah Hati, Amir Pindah Sekolah
98
Bab 98 Ibu Guru Mungil, Ramping, Dan Cantik
99
Bab 99 Perkenalan Pertama Ibu Guru Cantik, Senyuman Gigi Kelinci
100
Bab 100 POVE Guru Cantik
101
Bab 101 Cerita Kami Di Pelabuhan
102
Bab 102 Dilla Melamun Di Teras Rumah
103
Bab 103 Jadwal Mata Pelajaran Kelas Lima
104
Bab 104 Tema Peta Konsep Terkait Hiburan
105
Bab 105 Bernyanyi Bareng Nila Dan Ferdi
106
Bab 106 Tugas Berat Bagi Kami Semua
107
Bab 107 Nila Kegirangan Melihat Bintang Jatuh
108
Bab 108 Alat Pernapasan Manusia
109
Bab 109 Malam Yang Penuh Nyamuk
110
Bab 110 Bertemu Ibu Guru Cantik
111
Bab 111 Tanya jawab Peninggalan sejarah Hindu-Budha dan Islam
112
Bab 112 Nila Batuk-batuk Dan Ferdi Juga Demam Tinggi
113
Bab 113 Mamah Merasa Capek Dari Sekolah
114
Bab 114 Yuk Belajar Matematika
115
Bab 115 Erwin Heran Dengan Kedatangan Kami
116
Bab 116 Menulis Surat at-Tin.
117
Bab 117 Pencuri Kecil Di Pelabuhan (Jeruk Cina)
118
Bab 118 Kebohongan Kecil Rasti Menyelamatkanku
119
Bab 119 Menyimak Cerita Tokoh Srikandi Tari
120
Bab 120 peraturan perundang-undangan
121
Bab 121 Rasa Malas Dilla Setelah Sekolah
122
Bab 122 Malam Bersenda Gurau
123
Bab 123 Tumbuhan Hijau
124
Bab 124 Kangen Papah!
125
Bab 125 Keragaman kenampakan dan pembagian wilayah waktu di Indonesia
126
Bab 126 Ferdi Menangis Minta Bertemu Papah
127
Bab 127 Belajar dan Menyimak
128
Bab 128 Main Jingkrak Disamping Rumah Rasti
129
Bab 129 Setoran At-Tin
130
Bab 130 Rasti Jatuh Cinta?
131
Bab 131 Nur Aini?
132
Bab 132 Kapal Berlabuh Indah Dilautan
133
Bab 133 Semester Genap
134
Bab 134 Syakillah Ada Pacar?
135
Bab 135 Musim Buah Mangga
136
Bab 136 Bermain Ketapel
137
Bab 137 Mangga Depan Rumah
138
Bab 138 Teguran Main Di Samping Rumah
139
Bab 139 Cerita Luka Keluarga
140
Bab 140 Sekolah Dirobohkan?
141
Bab 141 Berita Amir Sekolah
142
Bab 142 Kami Numpang Belajar
143
Bab 143 Masuk Siang
144
Bab 144 Rezeki Ikan Pagi
145
Bab 145 Aku Kerja Di Sekolah
146
Bab 146 Menyambut Bulan Suci
147
Bab 147 Hasil Kerjaku Di Bulan Suci
148
Bab 148 Hari Kemenangan Bersama
149
Bab 149 Amir Berulah Di Sekolah Kami
150
Bab 150 Sanksi Untuk Amir
151
Bab 151 Abang Handi Di Sengat Ikan Pari
152
Bab 152 Abang Handi Terbaring Lemah
153
Bab 153 POVE MAMA!
154
Bab 154 Abang Handi Kesakitan
155
Bab 155 POVE Rasti!
156
Bab 156 Abang Handi Pulih Total
157
Bab 157 Penamatan Qur'an Sekampung
158
Bab 158 Patah hati, Bu Syakillah!
159
Bab 159 POVE Syakillah!
160
Bab 160 Kemarahan Untuk Bu Syakillah!
161
Bab 161 Menjelang Ujian Nasional
162
Bab 162 POVE HANDI!
163
Bab 163 Ujian Nasional
164
Bab 164 Nilai Ujian Nasional Tinggi
165
Bab 165 Sisi lain ibu Rasti!
166
Bab 166 Perpisahan Sekolah
167
Bab 167 Kabar Bu Syakillah menikah!
168
Bab 168 Mata Haru Papah!
169
Bab 169 POVE PAPAH!
170
Bab 170 POVE MAMA!
171
Bab 171 Akhir Sebuah Kisah!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!