"Aduh.. aduh sakit pah!"
"Ada apa sayang?" Tanya papa dengan cemasnya.
"Kayaknya Dilla mau BAB pah."
"Papa menepi jalan dulu nak."
"Cepat ya pah!"
"Iya sayang."
"Perutku seperti diaduk-aduk pah."
Mereka berhenti di suatu semak tersembunyi, berjarak agak jauh dari jalan raya. Disanalah ada tanah yang berlubang dan digenangi air hujan. Mereka pun memanfaatkan air hujan untuk membilas sisa kotoran di dubur sang anak.
"Papah yakin? Kita menggunakan air hujan ini, untuk membersihkan kotoran di dubur ku."
"Tidak ada pilihan lain, sayang. Laut disini adalah tebing, jika kita ingin menurunkan diri kelaut maka, akan sangat berbahaya bagi kita."
"Pah, aku takut gatal."
"Tidak ada yang akan terjadi sayang."
"Papah."
"Ada apa lagi sayang?"
"Papah, benar ini gak gatal?"
"Air hujan, adalah berkah dari sang pencipta dan tergolong bersih nak. Jadi papa yakin, semuanya akan baik-baik saja."
"Baiklah, Dilla jadi tenang pah."
"Mari kita lanjutkan perjalanan nak!"
"Baik papah."
Rintik-rintik hujan, mulai membasahi tanah dengan menyeluruh. Sepanjang jalanan, Dilla berharap akan baik-baik saja.
"Papah, Dilla lapar."
"Baik, papa akan belikan roti dan air minum dulu."
"Baik papah."
"Ini nak ambil!"
"Terimakasih pah."
"Sama-sama sayang."
"Papah, gak mau makan?"
"Ini masih banyak pah! Menawarkan papanya, untuk dimakan bersama.
"Papa ambil ya nak!" Mengelus kepala anak dengan sayang.
"Papah, kita sampainya kapan?"
"Masih jauh nak."
"Berapa jam lagi pah?"
"Mungkin jelang magrib kita, menginap dirumah Kakek-Nenek."
"Siapa mereka pah?"
"Keluarga jauh papa."
"Kenapa tidak lanjut pah?"
"Dilla masih kecil, dan sangat berbahaya jika main hujan-hujanan kayak gini."
"Ya iya juga sih pah."
"Rumah mereka masih jauh pah?"
"Masih jauh nak."
"Tiba jam berapa?"
"Menjelang magrib, kita sudah dirumah kakek-nenek."
"Yuk lanjut lagi nak!"
Merapatkan diri ke punggung belakang papanya. Dilla merasa kedinginan di sekujur tubuh mungilnya. Pengalaman pertama bagi Dilla, melakukan perjalanan jauh.
"Nak. nak. nak. Apa kamu kedinginan?"
"Papah, Dilla sangat dingin."
"Baik kita menepi di pos ronda jaga."
"Dilla?" Diam dan tak berkata apa-apa.
"Papah, akan gendong Dilla dan membaringkan Dilla di pos ronda. Kita menghangatkan tubuh dengan api unggun, yang papa nyalakan nanti nak." Berkata seraya mengendong anaknya dengan hati-hati.
"Dilla?"
"Iya pah."
"Apa sudah baikan nak?"
"Agak mendingan pah."
"Baik istirahatlah nak dan tidurlah sebentar! Papa akan membangunkan, setelah kamu merasa enakan."
"Hmm."
"Sayang, bangun nak. Kita akan melanjutkan perjalanan."
"Baik pah."
"Dilla, baik-baik saja kan nak?"
"Dilla, sudah enakan pah."
"Kalau ada keluhan, di badan Dilla. Papa ingin Dilla, langsung memberitahukan."
"Iya papah sayang."
Azan Dzuhur berkumandang dan sudah saatnya menjalankan ibadah sholat lima waktu.
"Dilla, kita singgah dulu untuk shalat nak."
"Baik pah."
"Setelahnya, kita makan siang di warung. Dan dilanjut lagi, perjalanannya."
"Hmm."
Lima menit berlalu, mereka sudah duduk manis, diantara banyaknya kursi, meja berbaris rapi, serta pengunjung yang lahap makan menu pesanannya.
"Dilla, sayang. Anakku ini, mau makan apa?"
"Dilla, mau makan ayam pah."
"Kita akan pesan ayam bakar saja."
"Horee."
"Anakku, ternyata doyan makan ayam."
"Dilla kan, jarang makan ayam pah."
"Emang, Dilla hari-harinya dirumah. Makan apa nak?"
"Ikan, ikan, dan ikan."
"Ikan enak loh nak. Gizinya tinggi dan anakku ini, akan tambah pintar sekolahnya. Jika terus-terusan rajin makan ikan."
"Pah, tapi makan ikan membosankan."
"Dilla, jangan bilang begitu nak. Apapun kita makan, harus disyukuri."
"Tapi pah.. Dilla itu, maunya makan ayam tiap hari."
"Nak, kita sudahi obralan ini yah! Tuh, kakaknya mengantarkan makanan buat kita dan papa berharap, Dilla makan dengan tenang dan jangan bersuara."
"Baik pah."
Melanjutkan perjalanan ke kota P, detik, menit, dan jam berlalu dengan cepat dan bersambut menjelang magrib. Ada sepasang suami-isteri, yang lansia sedang menunggu makan malam, yang disiapkan oleh anak perempuannya. Suami-isteri tersebut menghabiskan waktunya, dengan membaca surah Al Baqarah penuh penghayatan.
"Assalamualaikum, om, tante." ketukan pintu dari luar, membangunkan sepasang suami-isteri dari duduk manisnya. Dengan segera menyambut tamu yang berkunjung kerumahnya.
"Waalaikumsalam salam." membalas salam, seraya membukakan pintu rumah untuk tamu.
"Hasyim, kamu sama siapa nak?" ucap tantenya, merasa heran dengan anak kecil disamping keponakan.
"Dia Dilla, anakku tante."
"Masya Allah cantiknya. Cucu Oma ternyata."
"Silakan masuk rumah nak. Sepertinya kalian kedinginan, dengan perjalanan jauh." ujar Om Hasyim, dengan merasa kasihan dengan cucu perempuannya.
"Baik om."
"Kalian mandi dulu dan segera berganti pakaian. Nanti takutnya cucuku ini, demam nanti." tutur panjang tante Hasyim.
"Baik tante, om. Kami pamit dulu kekamar mandi dan segera gabung kesini lagi."
"Nak, ayo ikut papa."
"Hmm." Mengandeng tangan kecil anaknya dengan penuh sayang.
Tante Hilda memasuki ruangan dapur dan memastikan masakan sang anak siap untuk disuguhkan dimeja makan.
"Lastri, gimana dengan masaknya? Sudah beres nak?"
"Iya ma."
"Setelah kamu menata makanan dimeja makan. Tolong bersihkan kamar tamu ya."
"Ada apa ma?"
"Hasyim, akan menginap malam ini, bersama anaknya."
"Kapan mereka tiba ma?"
"Barusan."
"Baik ma."
Di meja makan, mereka pun menyantap makanan dengan nikmatnya dan tidak ada yang bersuara.
"Hasyim, kenapa bawa Dilla ke kota P?" tanya omnya dengan mimik wajah marahnya.
"Aku gak ada rencana untuk bawa Dilla, Om. namun, Dilla memaksa ikut. Katanya dia akan tetap ikut dan jika tidak dibolehkan. Maka, dia akan menangis sepanjang waktu."
"Aduh cucu Oma, nakal ternyata."
"Oma, Dilla sering kangen ma papah."
"Kenapa begitu cuh?"
"Papah sering pergi kerja dan Dilla sering ditinggal sama mamah."
"Cucuku, manisnya dan bikin gemes Oma."
"Oma iih, nakal juga. Sakit tahu!" Omel Dilla menerima cubitan gemes Omanya.
"Ya sudah kalian, masuk kamar dan istirahat. Besok bisa lanjut perjalanan lagi, dengan tenaga cukup." ujar Om Hasyim, dengan senyum sumringah.
"Baik om, tante. Kami pamit dulu, masuk kamar."
"Dadah, cucu Oma." Melambaikan tangan pada sang gadis cantiknya.
"Bye Oma juga dan mimpi indah ya Oma." Ocehan sang gadis kecil, mengundang senyum bagi orang dewasa yang memandang.
"Pah, kamar cukup besar ya?"
"Iya nak. Dilla suka?"
"Enak pah, disini ada kasur besar dan empuk untuk ditiduri."
"Ya sudah, Dilla segera tidur. Besok pagi, kita akan lanjut perjalanan lagi ke kota P."
"Tapi pah.. Dilla masih mau ngomong."
"Dilla, anak papah. Kenapa bawel begini?"
"Dilla cewek pah, wajar banyak ngomong."
"Iya Dilla cewek, dan banyak bibirnya."
"Kenapa bilang begitu pah?"
"Makanya Dilla, tidak bisa berhenti ngomong."
"Papah iih, gak asyik."
"Sudah Dilla, kita disini tidak bisa ribut nak."
"Kenapa pah?"
"Ini bukan rumah kita dan akan mengganggu tidur orang lain."
"Tapi mereka, bukan orang lain pah."
"Tetap saja, mengganggu mereka sayang. dan tetangga dekat rumah Oma, akan terganggu sayang."
"Iya pah, Dilla akan tidur dan tidak ribut lagi."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments