"Gimana Dil? Papamu membolehkan kamu, ikut ke kota?"
"Menurutmu ras?"
"Gak tahu."
"Papaku itu adalah.. sosok belahan jiwaku, menemani hari-hariku penuh bahagia. Dia gak mau melihat aku bersedih, bahkan ia tidak mampu menyaksikan kesedihanku dimatanya."
"Benarkah?"
"Begitulah."
"Artinya?"
"Papaku setuju, aku ikut ke kota."
"Wow, luar biasa kamu Dil."
"Ya begitulah, aku anak papah."
"Hehehe, kamu anak papah banget."
"Ya itu."
"Kapan rencana ke kota?"
"Minggu depan."
"Selamat berlibur ya."
"Ya selamat juga buat kamu."
"Untuk apa kamu mengucapkan selamat buatku?"
"Ya selamat menerima libur."
"Hehehe."
Hari H pun tiba, aku sangat mengharapkan papah menepati janjinya padaku. Aku ingin melihat rumah papah di kota, bagaimana bentuk, besar, dan luasnya. Apakah disana ada taman untuk bermain? Apa disana juga banyak bunga-bunga cantik untuk dimainkan? Apa juga disana, ada seumuran dengan aku, untuk diajak berteman dan bermain? Sungguh harapanku besar? Aku ingin hari-hariku menyenangkan selama ada disana.
"Pah, udah pagi." Tiba-tiba Dilla membangunkan papanya, oleh sebab ingat hari berangkat ke kota p.
"Ada apa sayang?"
"Apa papah, gak ingat kita akan berangkat ke kota? Hari ini?"
"Papah ingat, sayangku. Tapi ini, masih sangat pagi nak."
"Kata papah ke kota p sangat jauh, jadi berangkat juga harus pagi-pagi."
"Iya papa ngerti. Tapi.. kita harus istirahat penuh, sebelum melakukan perjalanan jauh."
"Kenapa pah?"
"Kita butuh beberes dulu sayang. Pakaian dimasukkan kedalam tas, dan perlu sarapan sebelum berangkat."
"Oh begitu ya pah."
"Ya sudah, Dilla tidur bareng papa mama saja."
"Apa boleh pah?"
"Boleh dong."
"Aku dekat mama aja ya pah."
"Ok, sayangku."
"Papah."
"Ada apa sayang."
"Papa tidur juga.
"Baik."
Mereka pun tidur, di ranjang yang sama. Suara mendengkur papa menyelimuti malam mereka dan tidak ada gangguan sama sekali. Tidurnya pun terlelap menjadi lebih bertenaga dalam menyambut pagi yang cerah dan indah.
"Papa bangun."
"Ada apa mah?"
"Ini sudah pagi pah."
"Jam berapa mah?"
"Setengah enam pagi."
"Baik aku siap-siap dulu dan tolong bangunkan Dilla."
"Apa Dilla akan ikut pah?"
"Dilla ikut mah."
"Kenapa pah?"
"Dia merengek ingin ikut, dan jika tidak dibolehkan. Maka, kamu tahu sendiri gimana Dilla mah?"
"Dilla akan menangis sepanjang hari."
"Itu mama tahu."
"Aku akan bangunkan Dilla, dan membereskan bajunya untuk dipakai disana."
"Tolong ya mah."
"Eheem."
"Dilla, nak bangun."
"Mamah."
"Dilla mau ikut papah ke kota?"
"I..ya mah."
"Apa dilla tahu! Ke kota itu, sangat jauh?"
"Dilla tahu mah."
"Lalu?"
"Dilla, ingin lihat papa kerja mah."
"Kamu itu Dilla. Papa kerja itu, bukan main-main."
"Maksud mamah?"
"Papah kerja itu, bukan hal mudah sayang."
"Gimana mah?"
"Papa gak bisa membawa Dilla, ketempat kerjanya."
"Kenapa?"
"Papah akan kewalahan menjaga kamu dan sambil kerja."
"Aku gak akan ganggu papah mah."
"Tetap saja, papa tidak akan lepas tanggung jawab untuk anaknya."
"Ma, apa baju papa sudah dibereskan kedalam tas dan baju-baju Dilla juga."
"Iya mama sudah bereskan pa."
"Dilla, kamu nak pergi mandi dan siap-siap sebentar lagi, kita akan berangkat ke kota."
"Yeee."
"Anak ini. Kalau sudah senang, banyak saja tingkah lucunya."
"Papah." ujar Handi, ketika melihat papanya hendak untuk sarapan pagi."
"Handi, sini nak! Makan bareng kami disini."
"Apa papah akan berangkat ke kota? Hari ini?"
"Iya nak."
"Papah ajak Dilla juga."
"Iya benar."
"Papah, gak bawa aku ke kota juga."
"Tidak nak."
"Kenapa pah?"
"Handi, jaga mama dan adik-adik disini."
"Kenapa begitu pah?"
"Handi anak cowok dan tugasnya menjaga orang rumah."
"Ada kak Ari juga pah."
"Kalian berdua harus, jaga mama kalian, selama papa ada di kota."
"Papah-"
"Tidak ada bantahan Handi."
"Rasanya papah, gak adil sama Handi. Dan hanya Dilla, Dilla, dan Dilla lagi."
"Papa gak mau ada bantahan lagi Handi."
"Baik pah." ujar kak Handi dengan wajah cemberutnya, dan berlalu masuk kamar.
Dan adik-adikku masih mematung ditempat, dan bermain dengan boneka dan mobil-mobilan. Adik perempuanku menatap heran dan berlalu keruang tengah memainkan bonekanya lagi, dan adik laki-laki hanya memandang aku, dan papah bergantian dengan cerianya bermain mobil-mobilan.
"Dilla, sini nak!" panggil papa, mendekati dan meraih pinggangku untuk diukur, dengan tali selempang tas agar aku gak jatuh dari motor.
"Ada apa pah?"
"Papa hanya, jaga-jaga untuk keselamatanmu, dijalan nak."
"Papah."
"Iya nak."
"Sepertinya kak Handi tadi. Marah pah?"
"Sayangku, itu tidak benar!"
"Lalu?"
"Apanya nak?"
"Kak Handi bilang' Dilla, Dilla, dan Dilla lagi. Dan setelahnya wajahnya cemberut. Apa coba itu pah?"
"Dilla, kakakmu itu hanya kecapean saja. Makanya, bicaranya hanya asal."
"Papah, hanya menutupinya saja."
"Bukan begitu nak."
"Lalu?"
"Papa, pikir kita harus bersiap-siap untuk berangkat."
"Itu, papa. Bahas yang lain, agar Dilla lupa tentang kak Handi."
"Udah lah sayang kita berangkat yuk!"
"Ok pah."
"Salim mamamu dulu, dan kita berdoa bersama, sebelum melakukan perjalanan jauh."
"Baik."
Doa pun dimulai, untuk mengawali hari yang baru. Semoga perjalanan aku dan papah, selamat hingga kota P. Aku yang sudah siap dibelakang papah. Tubuhku diikat dengan tali selempang tas, guna untuk mencegah jatuh dari motor. Papaku, seorang pelindung bagiku. Apa yang menurut papah bahaya, bagi anak tersayang. Maka, ia punya cara sendiri untuk menjagaku.
"Papah, jangan terlalu kencang! Dilla, sakit ini."
"Maaf sayang, papah menyakitimu."
"Gak apa-apa pah."
"Gimana sayang? Apa sudah gak kencang?"
"Ya begitu saja pah."
"Udah enakan begini nak?"
"Iya pah."
"Mah, kami pamit dulu ya."
"Hati-hati pa dijalan. Jangan ngebut bawa motornya." ujar mama sambil menyalami tangan papa takzim.
Papa mengulur tangan saat itu dengan senyum sumringah dan mengusap-usap kepala mama dengan sayang. Setelah semuanya itu, kami pun membelah jalan raya dengan kecepatan sedang. Aku yang hanya ingat membaca, aku pun mengingat-ingat kalimat yang sudah aku baca sebelumnya dan mengulangi kata-katanya untuk mendalami pengetahuan baca ku, agar lebih lancar lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments