Rumah sudah tampak rapi dan bersih. Dihirup dalam-dalam udara pagi yang sejuk, dihalaman rumah. perumahan kecil keluarga kami, dengan lincahnya tangan menyapu halaman , yang cukup luas dan asri, dengan adanya ragam tanaman bunga, diantara jejeran pot ukuran besar, sedang, dan kecil memenuhi pekarangan rumah. Maha suci Allah atas anugerah dan nikmatnya. Kehidupan masih ada, bagi kami berkesempatan untuk menjalaninya.
"Bangun nak, sudah pagi. Katanya mau bersekolah? Ayo nak, mama tunggu kamu sampai selesai mandi, dan setelahnya bersiap yah untuk sarapan." Tutur halus mama, membisikkan setiap kata dengan lemah lembut.
"Hoeemm, iya mah. Aku masih ngantuk, dan mata berat untuk bangun." Kataku dengan menutup mata lagi.
"Nak, seperti inilah orang sekolah. Bangun pagi-pagi untuk mandi, bersiap-siap berdandan rapi, sarapan pagi, dan berangkat ke sekolah. Katanya mau sekolah? Yah.. tugas anak sekolah, yang pertama adalah bangun pagi-pagi, kedua yaitu mandi, ketiga ya berdandan rapi dan mengenakan segala atributnya, dan terakhir adalah berangkat sekolah." Ucap mama dengan ulangan kata-kata yang sama dengan mimik wajah tegas.
Sementara aku yang sedang terkantuk-kantuk, menahan mata berat. Dengan keterpaksaan, harus bangun dari pembaringan. Mengucek mata, dan tampil senyum sumringah, menyambut mama menyapa pagi hari.
"Gimana sayang? Apa sudah bisa bangun dan bersiap? Mama sudah merapikan bajumu, tas, dan sepatu." Ucap mama berjalan kearah ruang tengah.
"Mah, apa papah mau pulang? Tanya Dilla penuh harap pada mamanya.
"Mungkin papamu pulang, dua Minggu lagi nak. Apa kamu merindukannya?" Binar bahagia terbit dibibir mama.
"Iya mah, sangat rindu. Papah juga tidak tahu, kalau aku bakal sekolah. Mama, bagaimana cara bilangnya? Apa papa tidak akan marah?" Tanyanya antusias dan berharap jawaban enak didengar.
"Insyaallah nak, papamu pasti senang, dengan kamu kembali ke sekolah. Seperti anak-anak lain, yang juga butuh pendidikan, agar kelak jadi orang sukses. Papamu juga, berpikiran seperti itu nak." Ucap mama dengan semangat.
"Tapi.. mah! Aku mau nanti, satu kelas sama temanku. Apa mama bisa membantu? Aku tetap bersama teman-temanku." Kataku dengan mimik wajah memelas.
"Mama tidak bisa janji, tapi.. mama bakal usaha keras, agar keinginan anak manis ini, dapat terwujud." Ucap mama dengan ketegangan.
"Mah, wajah mama aneh? Kayak ragu-ragu gitu." Ucapku pada mama, dan membuat dia salah tingkah.
"Mama, sudah siapkan semuanya. Baju kamu, tas, dan sepatu di sofa ya nak. Kamu tinggal pakai semua, dan setelahnya kesini lagi, mama mau merapikan rambutmu, dan diikat agar terlihat rapi." Mama berkata, untuk mengalihkan pertanyaan dariku.
"Siap mah, aku mandi dulu, dan bersiap-siap." Jawabku dengan cengiran khas anak kecil.
"Sana pergi mandi! Jangan lupa gosok gigi yang benar. Usahakan semua badanmu terkena sabun dan bersih seluruhnya." Omelan mama, mengingatkan aku untuk mandi yang bersih.
Beberapa menit berlalu, dan acara mandinya sudah selesai. Dilla mengambil pakaian yang disiapkan mamanya, dan segera mengenakannya. Wangi dari pakaian menembus indra hidung, membuatnya semakin mengagumi mamanya, pandai dalam segala hal pekerjaan. Mulai dari mengurus makanan, anak-anak mama, tentunya mama punya banyak anak, selain aku anaknya. Sekarang ini kami berenam bersaudara, kakak tertua laki-laki, kakak kedua laki-laki juga, aku anak ketiga, dan punya adik tiga, 2 perempuan dan satu laki-laki, serta yang bungsu, adik bungsu kami berumur bulanan masih merah.
"Mah, aku sudah selesai. Mama bisa merapikan rambutku, sekarang ini." Sapaku mendekati mama yang sedang memandang lekat diriku.
Adikku memandangi kami bergantian. Adik laki-laki umurnya tiga tahunan, hanya bisa mendengar dan melihat, sedang yang bungsu dalam ayunan bayi. Satu lagi adik perempuan sedang bersekolah di taman kanak-kanak dekat rumah.
"Marilah nak, dan mendekat. Mama mau merapikan rambutmu dengan ikat dua, gimana apa sudah rapi nak?" Ucap mama dengan sepenuh jiwa.
"Saya suka mah, dengan rambutku. Mah, apa bapak kepala sekolah, mau menerima aku bersekolah?" Tanyanya dengan gugup.
"Ya usaha dulu nak, insyaallah bapak kepala sekolah menerimamu jadi murid. Dilla senang bisa bersekolah?" Sedikit menegang menjelaskan pada anaknya.
"Iya mah, aku sangat senang jadi murid. Hari ini, adalah waktu yang ditunggu-tunggu, agar bisa bertemu teman dan bermain bersama." Ucapku kali ini dengan antusiasnya.
Waktu menunjukkan pukul 08.00 pagi, ibu dan anak itu sudah berada dihalaman sekolah. Dilla memperhatikan keadaan sekitarnya, dari mamanya membawa dilla bertemu bapak/ibu guru disana. mereka berbincang tentang banyak hal, khususnya aku yang mau bersekolah.
"Apa benar Dilla mau bersekolah Bu? apa dia sudah sehat dan bisa kembali sekolah? Apa kata dokter tentang Dilla ingin bersekolah?" Mereka bertanya pada ibu dengan ekspresi keheranan luar biasa.
"Insyaallah Bu, Dilla bisa melewati dengan baik. Doakan saja, agar Dilla lebih baik lagi." Tatapan sendu mama, begitu menusuk relung jiwa.
"Mah, kenapa mereka berkata aku tidak sehat?! Apa aku sakit-sakitan selama ini?!" Tanyaku dengan nada berapi-api.
"Nak, jangan dengarkan kata mereka. Tugas Dilla hanya belajar dengan baik disekolah. Jalani tugas-tugas sebagai murid yang sopan, patuh, rajin, dan terus berdoa agar kedepannya hidup lebih baik." Ucap mama menyemangati.
"Ayo nak, temui bapak kepala sekolah di ruangannya. Ingat pesan mama! Bersikap sopan saat menyapa, dan jangan banyak tanya,Ok!" Tutur mama dengan Omelan.
Tok! Tok! Tok!
Mama mengetuk pintu dengan agak sedikit keras. Orang-orang didalam pun menyahut, membuka pintu, dan memperhatikan kami yang berdiri didepan pintu, dan mempersilahkan masuk dan tatapan mereka berharap, kami segera menjelaskan maksud kedatangan kami ke kantor.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Bu, Pak." Mama menyapa mereka dengan hangat.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh." Jawab mereka serempak, dan memandangi kami dengan serius.
"Ada perlu apa yah Bu?" Jawab salah seorang ibu guru dengan penasaran.
"Bapak kepala sekolah ada Bu, Pak?" Mama bertanya pada mereka, dengan tatapan penuh harapan.
"Ada Bu, saya panggilan dulu. Bapak ada di ruangannya. Ibu tunggu dulu disini yah." Jawab seorang bapak guru, dan mempersilahkan kami duduk dibangku yang kosong.
Dan tak lama, bapak kepala sekolah, muncul menghadap kami. Senyum ramah, dia berikan untuk kami dalam menyapa. sungguh menegangkan menghadapi bapak kepala sekolah, dengan maksud untuk mendaftar di sekolah yang dia pimpin.
"Maaf Bu, dik. Ada perlu apa yah? Apa ada yang bisa saya bantu?" Ucap kepsek dengan memandangi kami satu-satu.
"Begini loh Pak, anak saya ini, mau daftar sekolah disini. Apa masih menerima murid baru?"
"Maaf Bu, sebenarnya anda sudah terlambat mendaftarkan anak anda untuk sekolah. sekarang ini, sudah masuk bulan sembilan. Anda lebih baik pulang, dan tunggu tahun depan." Ucap kepsek dengan tegas.
"Tapi pak, anak saya ingin sekali bersekolah. saya tidak mungkin membuat dia kecewa. semenjak dia mengatakan mau sekolah, tiap malam, terus bertanya tentang sekolah. sekolah itu seperti apa? apa di sekolah banyak teman? bisakah belajar bareng dan bermain disana. saya mohon pak, untuk terima anak saya, sebagai murid baru disini."ucap mama dengan tatapan sendu.
"Maaf Bu, saya tahu tentang cerita anak anda ini. Dimana dia ada penyakit kelainan jiwa, dan tentunya, harus lebih baik dirawat di rumah sakit. Seharusnya ibu bisa mengerti, tempatnya bukan untuk bersekolah. Namun, ada baiknya dia dirawat inap dirumah sakit khusus jiwa." Tutur kepsek dengan tegas dan tatapan tajam kearah kami.
"Tapi pak, anak saya sudah sembuh. coba lihat diri anak saya, dia bisa merespon dengan baik, dan bapak bisa tanyakan beberapa hal kepada anak saya. Insyaallah dia bisa menjawab dengan baik." ucap mama dengan tatapan sendu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments