"Sini dik, sesuai janji kakak kemarin. Hari ini, banyak waktu untuk mengajarimu membaca. Mana bukunya?."
"Ini kak."
"Ooh, KHADIJAH ISTRI RASULULLAH YANG AMAT DIRINDUKAN DAN DICINTANYA. buku ini dapat darimana dik?"
"Aku pinjam dari perpustakaan kak."
'hmmm, isinya ini mengenai perjalanan cinta Rasullullah Saw bersama istrinya Khadijah. Cerita ini, sangat bagus dibaca. Disini, banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dan diamalkan. Kita bisa belajar dari pengalaman-pengalaman mereka. Sebuah perjalanan cinta yang sangat memiliki arti dalam hidup."
"Kak, kok seperti menghayati cerita mereka?"
"Benarkah?"
"Sepertinya begitu!"
"Sini aku jelaskan siapa Baginda Rasulullah Saw. Menepuk sofa dan menyuruh adiknya mendekat dan duduk disampingnya.
"Nabi Muhammad SAW adalah keturunan bani Hasyim dari suku Quraisy. Menurut sejumlah Sirah Nabawiyah, nama Nabi Muhammad SAW berasal dari kakeknya, Abdul Muthalib. Nama "Muhammad", sendiri berarti orang yang terpuji. Pada saat itu nama tersebut belum pernah dipakai oleh orang-orang Arab pada masa pra-Islam."
"Oh, begitu ya kak? Baginda Rasulullah Saw dari suku Quraisy dan nama Muhammad diberikan oleh kakeknya bernama Abdul Muthalib."
"Pintar sekali sayang."
"Kak, kapan mulai belajar?"
"Ok, sini merapat dan duduk tenang disamping kakak."
"Hmm."
Halaman pertama mulai dibuka oleh kak Ari. Dia mulai pelan-pelan mengeja setiap kalimat yang dibacanya. Jika diperhatikan, dia sosok kakak yang sangat penyabar dan penyayang.
"Ok kakak, mulai dari pengenalan Khadijah dulu."
"Siti Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita sukses yang berprofesi sebagai pedagang besar di antara kaum Quraisy. Kisah cinta Sayyidah Khadijah dengan Nabi Muhammad SAW bermula ketika ia mencari seseorang yang dapat dipercaya untuk membantu bisnisnya. Khadijah dikenal sebagai perempuan yang lahir dari keluarga terhormat dan mulia. Masyarakat pada zaman Jahiliyah bahkan memberinya julukan at-Thahirah, yaitu seorang wanita yang suci. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa Khadijah berstatus janda sebelum menikah dengan Rasulullah. Beliau sudah menikah sebanyak dua kali, akan tetapi kedua suaminya meninggal sehingga Khadijah menjadi seorang janda."
"Coba kamu baca ulang ini dengan benar dan baik."
"Baik, pak bos."
"Siti Khadijah, binti Khuwailid adalah, seorang wanita sukses, yang berprofesi, sebagai pedagang besar, di antara kaum Quraisy. Kisah cinta Sayyidah, Khadijah dengan Nabi, Muhammad, SAW, bermula ketika ia, mencari seseorang yang, dapat dipercaya untuk, membantu bisnisnya. Khadijah dikenal, sebagai perempuan yang, lahir dari keluarga, terhormat dan mulia. Masyarakat pada zaman, Jahiliyah bahkan, memberinya julukan, at-Thahirah, yaitu seorang wanita, yang suci. Beberapa riwayat , menyebutkan bahwa, Khadijah berstatus janda, sebelum menikah, dengan Rasulullah. Beliau sudah menikah, sebanyak dua kali, akan tetapi kedua, suaminya meninggal, sehingga Khadijah, menjadi, seorang janda."
"Alhamdulillah, adik sudah bisa membaca. Meski bacanya, masih belum lancar tapi, insya Allah kamu cepat bisa syg."
"Terimakasih kak."
"Belajarnya cukup dulu dik. Kakak ada kerja sekolah untuk bahan praktikum fisika."
"Baik kak."
"Dah sayang." Mencium pipi kanan adiknya, sebelum menuju keruang tengah dan mengerjakan tugas sekolah.
"Kak Ari, kebiasaan deh. Cium-cium begini."
"Jangan monyongin bibir. Nanti kakak kecup loh."
"Iih, pergi sana kak. Aku gak suka digituin."
"Ok, kak Ari ngalah. Bye sayang."
"Bawel."
"Hahaha."
Itulah kebiasaan dari Abang satunya, selalu senang mengerjai adik-adiknya. katanya kami adik perempuan, adalah seperti boneka hidup, yang lucu dan menggemaskan. Maka, mengerjai kami, adalah hobi terbaru dan menyenangkan. Sungguh pikiran konyol! Dia Abang yang menyebalkan sangat membutuhkan kesabaran extra untuk menghadapinya.
"Sayang bangun. kok malah tidur di sofa."
"Maaf mah, aku ketiduran tadi."
" Ya gak apa-apa."
"Bereskan bukumu, dan simpan di lemari. dan bergabung bersama saudara-saudarimu untuk tidur."
"Baik mah." berjalan kearah tempat tidur dengan tidur bersama-sama.
"Mah, mana anak-anak?"
"Mereka tidur pah."
"Ayo, kita juga tidur dikamar."
"Papah bisa aja deh."
"Emang kamu berpikir apa coba?"
"Gak ada pah?"
" Mama mau ya?"
"Apa sih pah?"
"Bilang aja."
"Gak lah."
"Malu-malu kucing."
"Apaan sih."
" Ya udah, papa mau mah."
"Papah, kalau ngomong tuh, pelan-pelan. Anak-anak nanti mendengar, dan berpikir yang macam-macam.
"Emang kenapa?"
"Pikir aja pah."
"Aku cuma mau bermesraan dengan istri. Apa salah?"
"Kita bukan anak ABG lagi pah."
Cup. cup. cup.
"Papah."
"Ayo masuk sayang."
Dikamar mereka bercengkrama, dan melakukan ritual orang dewasa. Sepasang suami istri yang saling merindukan satu sama lain. Menyatukan cinta mereka dengan kemesraan dalam kamar, berbisik-bisik dan menyampaikan rasa sayang dan cinta, melalui sentuhan halus dan usapan lembut. Mereka menghabiskan malam bersama, dengan diselimuti dinginnya malam. Sungguh mereka berbahagia, bisa menyalurkan rasa rindu mereka, dalam penyatuan cinta dan menuntaskan hasrat kerinduan yang mendalam dan sangat menyiksa, dan akhirnya mereka bisa bersama lagi dalam menyambut kesunyian malam dan menenangkan.
"Bangun sayang." Mama membangunkan kami secara bergiliran.
"Semuanya bangun dan mandi." Papah pun membangunkan kami, dengan mengguncang tubuh kami satu-satu.
"Gimana pah? Mereka susah bangun."
"Aku juga bingung mah."
"Ini sudah pukul 7.30, tentu mereka bakal telat masuk sekolah."
"Yang sabar mah. Begini jadi orang tua. Banyak ujian yang mesti dijalani bersama."
"Aku punya ide pah?"
"Apa itu mah?"
" Kita percikan air, ke wajah mereka masing-masing. Daripada mereka tidak bangun pah."
"Itu ide yang bagus mah. Lagian mereka harus bangun dan bersiap-siap untuk mandi serta berangkat sekolah."
"Mama ke kamar mandi dulu pah." Dan tak lama ibu anak-anak, keluar dengan dua gayung yang terisi penuh air, dan satunya diberikan pada saya, guna membantu istri membangunkan anak-anak.
"Mamah, ada apa ini?" Muka handi sedikit kesal, dengan wajahnya yang basah dan secepat kilat bangun dari pembaringan.
"Maaf nak, mamah hanya membangunkan tidurmu, kamu susah untuk bangun nak."
"Tapi mah.."
"Coba lihat, sudah jam berapa?" Handi mengucek mata yang agak berat terbuka, dan sungguh dia kaget dengan waktu yang berjalan cepat.
"Bangun sayang."
"Papah, kok membangunkan Dilla dengan menyiram wajah."
"Maaf nak, kamu susah bangun."
"Papah, aku bukan bunga loh."
"Tapi ini sudah jam berapa coba."
"Astaga pah, aku telat bangun."
" Ya sudah kamu sana mandi nak."
"Hmmm."
"Ari, Ari bangun nak." Mama mengguncang tubuh sang anak, yang susah bangun.
" Ari..Ari.., nak." Ulangan kata sampai sepuluh kali, hingga dengan setengah air di gayung ditumpahkan oleh sang ibu, ke wajah anaknya.
"Tolong, tolong, tolong.......!" kepanikan Ari saat ia mulai terbangun.
"Ada apa ini mah?"
"Kebiasaan ya kamu Ari. Susah buat bangun tidur."
"Maaf mah, aku kecapean kemarin malam."
"Emang kamu lagi kerja apa semalam?"
"Kerja tugas fisika mah."
"Ya sudah, kamu sana mandi."
"Baik mah."
"Pah, aku ke dapur dulu buat masak."
"Ya mah."
Makanan pun sudah tersuguh dimeja makan, dengan menu ala kadarnya. Nasi goreng dengan telur ceplok, dengan dilengkapi oleh susu, teh, dan air putih. Dan tak menunggu lama lagi, mereka berkumpul untuk makan bersama. Tiada satu kata, yang terucap dari mereka. Mereka hanya akan makan dengan berselera dan lahap oleh makanan di atas meja.
"Mah, Handi butuh uang. Buat bayar kerja kelompok praktikum IPA."
"berapa nak?"
"50 ribu mah."
"Ini uangnya."
"Terimakasih mah."
"Mah, papah mana?"
"Papah dikamar nak."
"Kenapa mah? Apa papa sakit?"
"Papa kamu sedikit flu."
"Baik mah, aku pamit dulu sekolah."
"Hati-hati ya nak." Menyalami tangan mamanya sebelum keluar rumah.
"Mah, mana yang lain?"
"Handi sudah berangkat sekolah, sedang kakakmu Ari tidak sekolah hari ini."
"Kenapa kak Ari, tidak sekolah mah?"
"Katanya tidak enak badan."
"Sakit kenapa mah?"
"Dia kecapean katanya."
"Papah mana mah?"
"Dikamar nak."
"Papah, juga sakit?"
" Iya."
"Sakitnya parah mah?"
"Tidak sayang, sedikit flu."
"Huff, syukurlah mah."
"Dilla, sudah siap berangkat sekolah nak?"
"Sedikit lagi mah. Tinggal membereskan buku kedalam tas."
"Ya sudah, cepatlah nak. Ingat sudah jam 8 loh!"
"Baik mah, tinggal mengenakan sepatu."
"Ini uang jajan mu, mamah masukin kedalam tas ya."
"Baik mah." Menyalami tangan mamanya sebelum berangkat sekolah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments