Bab 4 Masa Lalu Ortu (POV MAMA)

Aku anak sulung dari delapan bersaudara, ayah saya bernama Syarifuddin dan ibu saya bernama Sitti hajar. aku miliki adik laki-laki tiga, dan adik perempuan empat. Singkatnya aku menikah setelah menjadi aparatur sipil di bagian pemerintah. jabatan aku sebagai pegawai negeri sipil, dan mengajar disekolah tingkat pertama (SMP) negeri 3 sendana.

Di Usiaku yang menginjak 23 tahun, aku menikah dengan laki-laki yang kucintai. parasnya yang tampan, berkulit putih, pekerja keras, meski ia seorang anak petani. namun, kemauan untuk bersama sangat besar. mungkin dunia pun merestui kami, walau banyak pertentangan dari pihak saudara, saudari, dan terutama dari ibuku sendiri.

mereka beranggapan bahwa, aku salah pilih pasangan. aku yang seorang PNS, harusnya mencari yang lebih dari aku sendiri. setidaknya sama-sama PNS. Hidup tidak hanya mengandalkan cinta, tapi kita butuh uang, dengan uang kita bisa memenuhi segala kebutuhan. Itulah ungkapan-ungkapan hati mereka, yang sering terdengar oleh panca indra telinga.

Kehidupan yang berlalu cepat, membuat diri ini, mengambil keputusan. aku menerima lamaran pujaan hati, toh ayah merestui pilihanku. Dalam agama menjelaskan bahwa, selama wali nikah merestui, maka sahnya pernikahan dijalani oleh pasangan pengantin. ayah pun menghargai pilihan putri sulungnya. Kata ayah, yang penting putri ayah bisa bahagia, dengan laki-laki pilihan hatinya.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang mempermudah acara pernikahan ini. Tiada kata yang lebih baik, selain rasa terimakasih banyak kepada ayah, yang senantiasa menemaniku, menjalani proses ijab kabul, dan memberikan restu yang berharga.

Insyaallah kehidupan berumah tangga ini, penuh dengan banyak kebahagian. membangun keluarga kecil, yang menuntun anak-anak menuju mengabdikan hanya kepada Allah dan menjalankan ibadah dengan sangat baik. semuanya berjalan dengan semestinya.

Di usia pernikahan kami genap satu tahun setengah, aku melahirkan bayi laki-laki, anak sulungku, yang diberi nama Ari laksmana. Dia bayi yang lucu, berkulit putih, dan gemuk. rasa syukur kami panjatkan, demi lahiran normal anak laki-lakiku. Sementara aku melahirkan di rumah orang tuaku. Pernikahan kami berlangsung dirumah orang tua, dan tinggal seatap dengan mereka. Kami belum mampu beli rumah, dan ayah tetap memberi dukungan untuk tinggal bersama. Hubungan kami masih sewajarnya saja, suamiku pun bisa menyesuaikan diri dengan keluarga ku.

Anakku Ari sudah bisa merangkak, dia anak yang aktif. Banyak mengoceh dengan kata-kata yang kurang jelas, aaa-huu-maaa, terdengar lucu untuk orang-orang dewasa yang mendengarnya. tantenya terus mengajak bermain, dan mencoba meniru kata-kata ponakan dengan gemas. Adikku Isdah masih berumur 5 tahun 6 bulan, selisih anakku 5 tahun, sungguh umurnya layak kakak-adik.

Tahun keempat setelah Ari lahir, adiknya pun terlahir lagi, dengan jenis kelamin laki-laki. anak kedua pun lahir normal dirumah orang tua. kami masih tinggal di rumah orang tuaku. masih keadaan sama, orang tuaku memberi dukungan kami, tinggal bersama. setelah kejadian dua tahun yang lalu, aku pernah kehilangan bayi, dalam kandungan, adik Ari. namun, Allah memanggil untuk menghadapnya ke surga, aku tentu mengikhlaskan, semuanya sudah kehendaknya.

Anak keduaku ini, parasnya mirip kakeknya. berwajah tampan, berkulit sawo matang, dan postur tubuh tinggi, dengan rahang tegas. hidup dibumbui kebahagiaan dengan kebersamaan. kakeknya terus memanggil Ari bermain di ruang tengah, sedang aku menyusui anakku umur bulanan. Ari yang sudah masuk taman kanak-kanak, selalu mengutarakan keinginan pada kakeknya, mau bersepeda dan bermain.

"Kek, kapan yah! Kira-kira aku ada sepeda?" Tanyanya dengan mata berbinar.

"Kamu harus rajin sekolah, dan belajar dengan baik. setelahnya kakek kasih hadiah sepeda."

"Yah, jangan berkata seperti itu pada anak-anak. biarlah dia tidak memiliki nya. aku takut, Ari jadi susah untuk dibilangin."

"Khoiry, kamu jangan begitu sama anak-anak. dia cucuku, sudah pantasnya aku memberi hadiah, agar dia senang."

"Tapi..Yah, Ibu pasti tidak setuju."

"Urusan ibumu, biar Ayah yang urus. Ari cucu pertamaku, aku hanya senang jadi seorang kakek. ayah harap kamu bisa mengerti."

Semenjak perbincangan masalah Ari waktu itu, dua minggu setelahnya ayah benar-benar menepati janji, tentang hadiah yang akan diberikan pada Ari anakku. ayah antusias memanggil Ari, dan menggenggam tangan kecilnya menuju arah sepeda yang terbungkus rapi. Dengan tatapan mereka beradu, jadi terbit senyum sumringah diwajahnya.

"Kek, benar ini sepeda Ari?"

"Iya cucuku, sepeda ini milikmu sekarang."

"Sepedanya bagus kek."

"Ya sudah cucu, bawa untuk belajar di halaman rumah."

"Terimakasih ya kek."

"Sama-sama cucu."

Pandanganku teralihkan di teras rumah, aku melihat ibu sedang memperhatikan kami, lebih dalamnya arah matanya tepat, disisi anakku bermain sepeda. aku tahu ibu tidak menyukai ide ayah, memberi cucunya hadiah sepeda. kemungkinan ibu menganggap aku tidak bisa mendidik anak dengan benar. maka, terus-terusan memanjakan dan menuruti segala keinginan anak. benar saja ibu langsung memanggil setelah ayah pergi masuk dalam rumah.

"Sini khoiry! mama sudah pernah bilangin kamu. Kalau anak itu, harus dididik dengan benar. jangan asal memanjakan dan menuruti segala inginnya. lihat ayahmu, banyak pengeluaran di bulan ini, karena maunya anak manja kamu itu. ngerti?!"

"Ma, aku udah jelasin ma ayah. Tapi, ayah marah-marah, dan bilang ini karena ayah senang punya cucu."

"Tetap saja boros tahu! harusnya kalau mau sepeda. bilangin papanya, untuk belikan dia sepeda."

"Ini kamu tidak bisa mendidik dengan benar."

"Iya ma, aku minta maaf."

"Ya sudah kamu masuk kedalam, dan memasak, ok."

Pagi harinya Isdah mengajak anak-anak jagoanku, untuk jalan-jalan pagi. sekalian untuk menghibur mereka yang bosan di rumah saja. Ari dengan sepeda barunya, mulai mengitari rumah warga dengan antusias, sedang adik laki-lakinya dituntun tantenya, mengunjungi salah seorang temannya. ya tidak lain, tisa. tetangga dekat rumah, dan teman dekat isdah.

Hari pun menjelang sore, mereka pun sudah ada dirumah. Ari yang sedang capek-capeknya dengan kegiatan bersepeda, langsung beristirahat dalam kamar. Sedang adiknya yang kami beri nama Handi, sedang lelap dipangkuan tantenya. dengan keadaan mengisap jari jempol, dan sangat lucu-lucunya.

Dan tanpa terasa, Ari sudah beranjak besar, diusianya yang sekarang dalam masa pertumbuhan anak. aktif-aktifnya untuk belajar disekolah, Ari sudah dibangku SD kelas 2, yang berumur 8 tahun. Kemudian adik laki-lakinya, sudah masuk berumur 4 tahun dan masuk taman kanak-kanak. selagi lagi kami orang tua, diberi anugerah oleh Allah SWT dengan menanti kelahiran anak ketiga. dirumah orang tua, menunggu-nunggu harap cemas kapan anak kami lahir, ya beberapa jam kemudian, anak kami lahir, dihari Senin, bulan Oktober. masya Allah anakku terlahir normal, wajahnya yang cantik, berkulit putih bersih, hidung kecil, dan berambut pirang. gadisku seperti turunan belanda, dengan paras yang menawan, mampu membius setiap mata yang memandang.

Aku heran dengan paras wajahnya, anakku terlihat beda, dari kebanyakan bayi lahir dikampung ku, mereka semuanya, bertanya-tanya heran. mana bisa anakmu, secantik ini, seperti anak turunan belanda. aku hanya menghela nafas berat, mendengar setiap percakapan mereka.

"Apa yang kamu makan? Dapat bayi secantik ini?"

"Kalau ada resep? Bagi-bagi dong. kami juga ingin punya anak seperti kamu." Tutur mereka bersamaan.

"Aku hanya makan seperti kalian. Makan ikan, sayur, dan buah."

Dua minggu berlalu dengan cepat. Usia putriku, belum genap 1 bulan. banyak masalah terus berdatangan, saudari aku yang perempuan, terus banyak menuntut pertanyaan pada ibu. katanya sampai kapan?aku dan suamiku membebani orang tua dengan menumpang hidup. pikirannya aku hanya membuang pengeluaran banyak, tentang uang orang tua. Aku punya suami, harusnya bapak anak-anak yang harus menanggungnya. apalagi dihitung anakku berjumlah berapa? sungguh aku sakit hati, mendengar setiap kata-kata yang dia keluarkan. dia adikku, anak ketiga dari ibuku. namun, apa maksudnya coba mengatakan itu? aku, anak-anak, dan suamiku beban orang tua.

Selama ini aku cukup tahu diri. dengan menyisihkan uang belanja bulanan. setiap bulannya, aku beli beras satu karung, minyak goreng 2 liter, dan uang listrik, berkisar 200 ribuan. pengeluaran cukup lumayan kami belanjakan, demi bisa membuat kebutuhan makan kami terpenuhi. sungguh, ini sangat keterlaluan. aku pun punya tekad, untuk menyampaikan kepada suami, dalam dekat ini kita harus mencari rumah untuk ditinggali.

Beberapa hari setelahnya, suami pun sudah berada dirumah orang tua. aku pun tak sabaran, menceritakan segalanya, tentang rencana pindahan rumah. dan respon suami, mengiyakan keputusan itu. di suatu malam, terjadilah sesuatu yang tak terduga, tepat waktu tidur ayah, mereka sudah berdiri, berpapasan, dan menyuruh kami segera, berkemas pakaian, dan serta merta membawa anak-anak keluar rumah.

Malam berselimut dingin, kami berempat meninggalkan rumah ayah dengan keadaan sedang tidak baik-baik. Suamiku menggandeng tangan kedua jagoanku, dan aku menggendong putriku yang masih merah. sungguh pedih hati kami, terusir dari keluarga sendiri, oleh katanya kami hanya beban hidup orang tua.

"Ayo anak-anak, kalian beristirahat dulu, di teras rumah. Oh ya mah, kamu juga istirahat bersama anak-anak disini. Papa masuk dulu, membersihkan rumahnya, agar bisa ditempati malam ini." anak-anak duduk bersama mamanya dibangku panjang.

"Pa, aku mau ikut bantu."

"Tidak usa ma, kamu tidak boleh meninggalkan bayi secantik ini."

"Lagian membersihkan rumah tidak akan lama. Maaf malam ini, kamu dan anak-anak, akan tidur dengan alas tikar."

"Gak apa-apa pa, yang penting kita ada rumah. rumah yang nyaman tentu."

"Sabar yah kalian, setelah papa dapat uang banyak. Insyaallah membeli rumah ini, untuk menjadi hunian rumah selamanya."

"Amiin pa."

Episodes
1 Bab 1 Niat Sekolah
2 Bab 2 bertemu kepsek
3 Bab 3 Tes Masuk Sekolah Oleh Pak Kepsek
4 Bab 4 Masa Lalu Ortu (POV MAMA)
5 Bab 5 Hari Pertama Sekolah
6 Bab 6 Mengenal Satu Sama Lain
7 Bab 7 Empat Gadis Imut, Adalah Bestie!
8 Bab 8 Papah pulang!
9 Bab 9 Belajar Membaca, oleh Abang Ari laksmana
10 Bab 10 Masa Lalu Ortu (POV PAPA)
11 Bab 11 lulus Membaca, Dan Besti Bersambut Riang
12 Bab 12 Rencana berlibur, ikut papah ke kota
13 Bab 13 Satu Minggu Sudah Liburnya, Aku Pun Ikut Papah Ke Kota P
14 Bab 14 Singgah Dirumah Kakek-Nenek Tua
15 Bab 15 Tiba Di kota P, Dan Bertemu Kakak Sepupu Citra
16 Bab 16 Pagi Di Kota P, Dilla Dibawa Keliling Pasar
17 Bab 17 Dua Hari Di kota P, Dilla Bosan Dan Rindu Kepada Bestie
18 Bab 18 Upah Cokelat Dibagi Papah, Dilla Hanya Dapat Bagian Kecil
19 Bab 19 Malam Terakhir Di Kota P, Paginya Kami Pulang Kampung
20 Bab 20 (POV) Citra Lusia
21 Bab 21 Tiba Dirumah, Mamah, Adik-Adik Menyambut Gembira
22 Bab 22 Hadiah Dari Tante Mita, Aku Dan Adikku Membukanya
23 Bab 23 Dilla Kelas Empat SD, Nila Baru Masuk SD
24 Bab 24 Kelas Baru dan Guru Baru
25 Bab 25 Bertemu Ibu Guru Baru, Belajar Masih Momen Libur
26 Bab 26 Seminggu Hanya Absensi Guru Dan Belajar Mandiri Di Kelas
27 Bab 27 Papah Ke Jakarta?
28 Bab 28 Mata Pelajaran Matematika, Solusi Adalah Kalkulator.
29 Bab 29 Hadiah Dari Jakarta Oleh Papah
30 Bab 30 Tas Baru Dan Sorakan Meriah Bestie-bestie
31 Bab 31 Mata Pelajaran Agama, Oleh Bapak Baskoro Ayahanda Abdil
32 Bab 32 Ceritaku Pada Mamah, Setelah Pulang Sekolah
33 Bab 33 Kakek Datang Ke Rumah, Mamah Malah Bercerita Masa Kecilku
34 Bab 34 Malam Senin Penuh Rasa Luka
35 Bab 35 Tibalah Mapel Matematika? Aku Dan Bestie Dapat Seratus
36 Bab 36 Dua mapel sekarang, PKN dan IPA setelah dua Minggu Lalu
37 Bab 37 Bernyanyi Seru Bareng Bestie, Menyambut Mapel Masuk
38 Bab 38 Menunggu Jam Mapel Terakhir Masuk Dan Bergosip
39 Bab 39 Marilah Kita, Belajar Bahasa Indonesia, Teman-teman
40 Bab 40 Pulang Ke Rumah Masing-Masing, Dilla Dan Rasti Berbeda
41 Bab 41 Mapel Jumat Diganti Dengan Gotong Royong Bersih-Bersih
42 Bab 42 Berolahraga Ria Di Pagi Hari
43 Bab 43 Rasti Mengajak Bermain Di Pelabuhan Labuang
44 Bab 44 Pulang Sekolah, Di Rumah Rasti Dan Membahas Matematika
45 45 Malam Hari Yang Mencemaskan Di Empat Rumah
46 Bab 46 Mari Kita Hadapi Bersama-sama
47 Bab 47 Agama Penting, Dan Setoran Doa Untuk Guru Agama Di Kelas
48 Bab 48 Belajar IPS Dan saling tanya jawab antar teman
49 Bab 49 Mari Teman2, Kita Sama2 Bercerita Perubahan Tahun Ketahun
50 Bab 50 Gotong Royong Membersihkan Halaman Sekolah, Rasti Dilla?
51 Bab 51 Olahraga Lagi, Dan Bertemu Siswa Di Sekolah Sebelah
52 Bab 52 Kak Ari Pekerja Di Pelabuhan Kapal Dan Kak Handi Juga
53 Bab 53 Menguntit Abang Sampai Ke Pelabuhan Kapal
54 Bab 54 Aku Belajar Di Kesunyian Malam
55 Bab 55 Amukan Ibu Guru Oleh Kecurangan Kami Murid-Muridnya
56 Bab 56 Berdiskusi Di Pohon Mangga, Rasa Menyesal Berbuat Curang
57 Bab 57 Belajar Mengenal Pemerintahan Desa Dan kecamatan Sendiri
58 Bab 58 Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
59 Bab 59 Pulang Sekolah Aku Dapati Si Kecil Ferdi Ngompol Nangis
60 Bab 60 Belajar Bahasa INA Dengan Memahami Cerita Dan Menjawabnya
61 Bab 61 Makan Es Kelapa Buatan Kak Ari, Di Siang Hari Panas-panas
62 Bab 62 Menanam Bunga-Bunga Cantik Di Pekarangan Sekolah
63 Bab 63 Adu Kekuatan Di Pagi Hari
64 Bab 64 Sepulang Dari Sekolah, Erwin Di Marahi Mamanya
65 Bab 65 Tamu Di Malam Hari, Datang Temui Papah Dengan Mobil Taksi
66 Bab 66 Membawa Adik Kecil Ke Sekolah
67 Bab 67 Ketahuan Ibu Guru, Bawa Bayi Kecil Dalam Tas
68 Bab 68 Cerita Setelah Ketahuan Oleh Ibu Guru
69 Bab 69 Cerita Mama Setelah Pulang Sekolah, Katanya Ferdi Nakal
70 Bab 70 Ujian Semester Ganjil Berakhir, Kami Bersenandung Riang
71 Bab 71 Papah Pulang Dari Kota, Ketika Di Hari Ke Empat Libur Sekolah
72 Bab 72 Malam Yang Tak Biasanya
73 Bab 73 Murka Handi, Aku Mendapati Masa Lampau Buruk Dan Berduka
74 Bab 74 Dilla Dipaksa Untuk Jujur
75 Bab 75 Kekecewaan Dan Amarah Besar Kedua Orang Tua
76 Bab 76 POVE Ari Laksmana
77 Bab 77 Murka Papah Yang Tidak Tertahan Lagi
78 Bab 78 Handi Mendapat Pelajaran Dari Papahnya
79 Bab 79 POVE PAPAH!
80 Bab 80 Desakan Mama Kepada Handi
81 Bab 81 POVE MAMA!
82 Bab 82 Dapat Teman Baru Di Kelas Dari Kalimantan
83 Bab 83 Sisi Lemah Mino Dihadapan Kami Berempat
84 Bab 84 Pertama Kali Berkemah, Kami Bersorak Gembira Menyambut
85 Bab 85 Hari Pertama Di Perkemahan Tepat Di Atas Gunung
86 Bab 86 Berburu Bendera Merah Putih Untuk Menjawab Teka-Teki
87 Bab 87 Tepar Nya Kami Sepulangnya Dari Perkemahan
88 Bab 88 Pamit Mino Sebelum Pulang Ke Kalimantan
89 Bab 89 Paman Pinjam Motor, Kenapa Marah?
90 Bab 90 Kemarahan Nenek Oleh Aduan Paman
91 Bab 91 Luapan Air Mata Di Rumah Tetangga
92 Bab 92 Lebaran Fitri Pertama Bagiku
93 Bab 93 Ujian Semester Genap
94 Bab 94 Tragedi Naik Kelas Lima
95 Bab 95 Amir Pulang Ke Rumahnya
96 Bab 96 Kabar Amir Pindah Sekolah
97 Bab 97 Patah Hati, Amir Pindah Sekolah
98 Bab 98 Ibu Guru Mungil, Ramping, Dan Cantik
99 Bab 99 Perkenalan Pertama Ibu Guru Cantik, Senyuman Gigi Kelinci
100 Bab 100 POVE Guru Cantik
101 Bab 101 Cerita Kami Di Pelabuhan
102 Bab 102 Dilla Melamun Di Teras Rumah
103 Bab 103 Jadwal Mata Pelajaran Kelas Lima
104 Bab 104 Tema Peta Konsep Terkait Hiburan
105 Bab 105 Bernyanyi Bareng Nila Dan Ferdi
106 Bab 106 Tugas Berat Bagi Kami Semua
107 Bab 107 Nila Kegirangan Melihat Bintang Jatuh
108 Bab 108 Alat Pernapasan Manusia
109 Bab 109 Malam Yang Penuh Nyamuk
110 Bab 110 Bertemu Ibu Guru Cantik
111 Bab 111 Tanya jawab Peninggalan sejarah Hindu-Budha dan Islam
112 Bab 112 Nila Batuk-batuk Dan Ferdi Juga Demam Tinggi
113 Bab 113 Mamah Merasa Capek Dari Sekolah
114 Bab 114 Yuk Belajar Matematika
115 Bab 115 Erwin Heran Dengan Kedatangan Kami
116 Bab 116 Menulis Surat at-Tin.
117 Bab 117 Pencuri Kecil Di Pelabuhan (Jeruk Cina)
118 Bab 118 Kebohongan Kecil Rasti Menyelamatkanku
119 Bab 119 Menyimak Cerita Tokoh Srikandi Tari
120 Bab 120 peraturan perundang-undangan
121 Bab 121 Rasa Malas Dilla Setelah Sekolah
122 Bab 122 Malam Bersenda Gurau
123 Bab 123 Tumbuhan Hijau
124 Bab 124 Kangen Papah!
125 Bab 125 Keragaman kenampakan dan pembagian wilayah waktu di Indonesia
126 Bab 126 Ferdi Menangis Minta Bertemu Papah
127 Bab 127 Belajar dan Menyimak
128 Bab 128 Main Jingkrak Disamping Rumah Rasti
129 Bab 129 Setoran At-Tin
130 Bab 130 Rasti Jatuh Cinta?
131 Bab 131 Nur Aini?
132 Bab 132 Kapal Berlabuh Indah Dilautan
133 Bab 133 Semester Genap
134 Bab 134 Syakillah Ada Pacar?
135 Bab 135 Musim Buah Mangga
136 Bab 136 Bermain Ketapel
137 Bab 137 Mangga Depan Rumah
138 Bab 138 Teguran Main Di Samping Rumah
139 Bab 139 Cerita Luka Keluarga
140 Bab 140 Sekolah Dirobohkan?
141 Bab 141 Berita Amir Sekolah
142 Bab 142 Kami Numpang Belajar
143 Bab 143 Masuk Siang
144 Bab 144 Rezeki Ikan Pagi
145 Bab 145 Aku Kerja Di Sekolah
146 Bab 146 Menyambut Bulan Suci
147 Bab 147 Hasil Kerjaku Di Bulan Suci
148 Bab 148 Hari Kemenangan Bersama
149 Bab 149 Amir Berulah Di Sekolah Kami
150 Bab 150 Sanksi Untuk Amir
151 Bab 151 Abang Handi Di Sengat Ikan Pari
152 Bab 152 Abang Handi Terbaring Lemah
153 Bab 153 POVE MAMA!
154 Bab 154 Abang Handi Kesakitan
155 Bab 155 POVE Rasti!
156 Bab 156 Abang Handi Pulih Total
157 Bab 157 Penamatan Qur'an Sekampung
158 Bab 158 Patah hati, Bu Syakillah!
159 Bab 159 POVE Syakillah!
160 Bab 160 Kemarahan Untuk Bu Syakillah!
161 Bab 161 Menjelang Ujian Nasional
162 Bab 162 POVE HANDI!
163 Bab 163 Ujian Nasional
164 Bab 164 Nilai Ujian Nasional Tinggi
165 Bab 165 Sisi lain ibu Rasti!
166 Bab 166 Perpisahan Sekolah
167 Bab 167 Kabar Bu Syakillah menikah!
168 Bab 168 Mata Haru Papah!
169 Bab 169 POVE PAPAH!
170 Bab 170 POVE MAMA!
171 Bab 171 Akhir Sebuah Kisah!
Episodes

Updated 171 Episodes

1
Bab 1 Niat Sekolah
2
Bab 2 bertemu kepsek
3
Bab 3 Tes Masuk Sekolah Oleh Pak Kepsek
4
Bab 4 Masa Lalu Ortu (POV MAMA)
5
Bab 5 Hari Pertama Sekolah
6
Bab 6 Mengenal Satu Sama Lain
7
Bab 7 Empat Gadis Imut, Adalah Bestie!
8
Bab 8 Papah pulang!
9
Bab 9 Belajar Membaca, oleh Abang Ari laksmana
10
Bab 10 Masa Lalu Ortu (POV PAPA)
11
Bab 11 lulus Membaca, Dan Besti Bersambut Riang
12
Bab 12 Rencana berlibur, ikut papah ke kota
13
Bab 13 Satu Minggu Sudah Liburnya, Aku Pun Ikut Papah Ke Kota P
14
Bab 14 Singgah Dirumah Kakek-Nenek Tua
15
Bab 15 Tiba Di kota P, Dan Bertemu Kakak Sepupu Citra
16
Bab 16 Pagi Di Kota P, Dilla Dibawa Keliling Pasar
17
Bab 17 Dua Hari Di kota P, Dilla Bosan Dan Rindu Kepada Bestie
18
Bab 18 Upah Cokelat Dibagi Papah, Dilla Hanya Dapat Bagian Kecil
19
Bab 19 Malam Terakhir Di Kota P, Paginya Kami Pulang Kampung
20
Bab 20 (POV) Citra Lusia
21
Bab 21 Tiba Dirumah, Mamah, Adik-Adik Menyambut Gembira
22
Bab 22 Hadiah Dari Tante Mita, Aku Dan Adikku Membukanya
23
Bab 23 Dilla Kelas Empat SD, Nila Baru Masuk SD
24
Bab 24 Kelas Baru dan Guru Baru
25
Bab 25 Bertemu Ibu Guru Baru, Belajar Masih Momen Libur
26
Bab 26 Seminggu Hanya Absensi Guru Dan Belajar Mandiri Di Kelas
27
Bab 27 Papah Ke Jakarta?
28
Bab 28 Mata Pelajaran Matematika, Solusi Adalah Kalkulator.
29
Bab 29 Hadiah Dari Jakarta Oleh Papah
30
Bab 30 Tas Baru Dan Sorakan Meriah Bestie-bestie
31
Bab 31 Mata Pelajaran Agama, Oleh Bapak Baskoro Ayahanda Abdil
32
Bab 32 Ceritaku Pada Mamah, Setelah Pulang Sekolah
33
Bab 33 Kakek Datang Ke Rumah, Mamah Malah Bercerita Masa Kecilku
34
Bab 34 Malam Senin Penuh Rasa Luka
35
Bab 35 Tibalah Mapel Matematika? Aku Dan Bestie Dapat Seratus
36
Bab 36 Dua mapel sekarang, PKN dan IPA setelah dua Minggu Lalu
37
Bab 37 Bernyanyi Seru Bareng Bestie, Menyambut Mapel Masuk
38
Bab 38 Menunggu Jam Mapel Terakhir Masuk Dan Bergosip
39
Bab 39 Marilah Kita, Belajar Bahasa Indonesia, Teman-teman
40
Bab 40 Pulang Ke Rumah Masing-Masing, Dilla Dan Rasti Berbeda
41
Bab 41 Mapel Jumat Diganti Dengan Gotong Royong Bersih-Bersih
42
Bab 42 Berolahraga Ria Di Pagi Hari
43
Bab 43 Rasti Mengajak Bermain Di Pelabuhan Labuang
44
Bab 44 Pulang Sekolah, Di Rumah Rasti Dan Membahas Matematika
45
45 Malam Hari Yang Mencemaskan Di Empat Rumah
46
Bab 46 Mari Kita Hadapi Bersama-sama
47
Bab 47 Agama Penting, Dan Setoran Doa Untuk Guru Agama Di Kelas
48
Bab 48 Belajar IPS Dan saling tanya jawab antar teman
49
Bab 49 Mari Teman2, Kita Sama2 Bercerita Perubahan Tahun Ketahun
50
Bab 50 Gotong Royong Membersihkan Halaman Sekolah, Rasti Dilla?
51
Bab 51 Olahraga Lagi, Dan Bertemu Siswa Di Sekolah Sebelah
52
Bab 52 Kak Ari Pekerja Di Pelabuhan Kapal Dan Kak Handi Juga
53
Bab 53 Menguntit Abang Sampai Ke Pelabuhan Kapal
54
Bab 54 Aku Belajar Di Kesunyian Malam
55
Bab 55 Amukan Ibu Guru Oleh Kecurangan Kami Murid-Muridnya
56
Bab 56 Berdiskusi Di Pohon Mangga, Rasa Menyesal Berbuat Curang
57
Bab 57 Belajar Mengenal Pemerintahan Desa Dan kecamatan Sendiri
58
Bab 58 Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya
59
Bab 59 Pulang Sekolah Aku Dapati Si Kecil Ferdi Ngompol Nangis
60
Bab 60 Belajar Bahasa INA Dengan Memahami Cerita Dan Menjawabnya
61
Bab 61 Makan Es Kelapa Buatan Kak Ari, Di Siang Hari Panas-panas
62
Bab 62 Menanam Bunga-Bunga Cantik Di Pekarangan Sekolah
63
Bab 63 Adu Kekuatan Di Pagi Hari
64
Bab 64 Sepulang Dari Sekolah, Erwin Di Marahi Mamanya
65
Bab 65 Tamu Di Malam Hari, Datang Temui Papah Dengan Mobil Taksi
66
Bab 66 Membawa Adik Kecil Ke Sekolah
67
Bab 67 Ketahuan Ibu Guru, Bawa Bayi Kecil Dalam Tas
68
Bab 68 Cerita Setelah Ketahuan Oleh Ibu Guru
69
Bab 69 Cerita Mama Setelah Pulang Sekolah, Katanya Ferdi Nakal
70
Bab 70 Ujian Semester Ganjil Berakhir, Kami Bersenandung Riang
71
Bab 71 Papah Pulang Dari Kota, Ketika Di Hari Ke Empat Libur Sekolah
72
Bab 72 Malam Yang Tak Biasanya
73
Bab 73 Murka Handi, Aku Mendapati Masa Lampau Buruk Dan Berduka
74
Bab 74 Dilla Dipaksa Untuk Jujur
75
Bab 75 Kekecewaan Dan Amarah Besar Kedua Orang Tua
76
Bab 76 POVE Ari Laksmana
77
Bab 77 Murka Papah Yang Tidak Tertahan Lagi
78
Bab 78 Handi Mendapat Pelajaran Dari Papahnya
79
Bab 79 POVE PAPAH!
80
Bab 80 Desakan Mama Kepada Handi
81
Bab 81 POVE MAMA!
82
Bab 82 Dapat Teman Baru Di Kelas Dari Kalimantan
83
Bab 83 Sisi Lemah Mino Dihadapan Kami Berempat
84
Bab 84 Pertama Kali Berkemah, Kami Bersorak Gembira Menyambut
85
Bab 85 Hari Pertama Di Perkemahan Tepat Di Atas Gunung
86
Bab 86 Berburu Bendera Merah Putih Untuk Menjawab Teka-Teki
87
Bab 87 Tepar Nya Kami Sepulangnya Dari Perkemahan
88
Bab 88 Pamit Mino Sebelum Pulang Ke Kalimantan
89
Bab 89 Paman Pinjam Motor, Kenapa Marah?
90
Bab 90 Kemarahan Nenek Oleh Aduan Paman
91
Bab 91 Luapan Air Mata Di Rumah Tetangga
92
Bab 92 Lebaran Fitri Pertama Bagiku
93
Bab 93 Ujian Semester Genap
94
Bab 94 Tragedi Naik Kelas Lima
95
Bab 95 Amir Pulang Ke Rumahnya
96
Bab 96 Kabar Amir Pindah Sekolah
97
Bab 97 Patah Hati, Amir Pindah Sekolah
98
Bab 98 Ibu Guru Mungil, Ramping, Dan Cantik
99
Bab 99 Perkenalan Pertama Ibu Guru Cantik, Senyuman Gigi Kelinci
100
Bab 100 POVE Guru Cantik
101
Bab 101 Cerita Kami Di Pelabuhan
102
Bab 102 Dilla Melamun Di Teras Rumah
103
Bab 103 Jadwal Mata Pelajaran Kelas Lima
104
Bab 104 Tema Peta Konsep Terkait Hiburan
105
Bab 105 Bernyanyi Bareng Nila Dan Ferdi
106
Bab 106 Tugas Berat Bagi Kami Semua
107
Bab 107 Nila Kegirangan Melihat Bintang Jatuh
108
Bab 108 Alat Pernapasan Manusia
109
Bab 109 Malam Yang Penuh Nyamuk
110
Bab 110 Bertemu Ibu Guru Cantik
111
Bab 111 Tanya jawab Peninggalan sejarah Hindu-Budha dan Islam
112
Bab 112 Nila Batuk-batuk Dan Ferdi Juga Demam Tinggi
113
Bab 113 Mamah Merasa Capek Dari Sekolah
114
Bab 114 Yuk Belajar Matematika
115
Bab 115 Erwin Heran Dengan Kedatangan Kami
116
Bab 116 Menulis Surat at-Tin.
117
Bab 117 Pencuri Kecil Di Pelabuhan (Jeruk Cina)
118
Bab 118 Kebohongan Kecil Rasti Menyelamatkanku
119
Bab 119 Menyimak Cerita Tokoh Srikandi Tari
120
Bab 120 peraturan perundang-undangan
121
Bab 121 Rasa Malas Dilla Setelah Sekolah
122
Bab 122 Malam Bersenda Gurau
123
Bab 123 Tumbuhan Hijau
124
Bab 124 Kangen Papah!
125
Bab 125 Keragaman kenampakan dan pembagian wilayah waktu di Indonesia
126
Bab 126 Ferdi Menangis Minta Bertemu Papah
127
Bab 127 Belajar dan Menyimak
128
Bab 128 Main Jingkrak Disamping Rumah Rasti
129
Bab 129 Setoran At-Tin
130
Bab 130 Rasti Jatuh Cinta?
131
Bab 131 Nur Aini?
132
Bab 132 Kapal Berlabuh Indah Dilautan
133
Bab 133 Semester Genap
134
Bab 134 Syakillah Ada Pacar?
135
Bab 135 Musim Buah Mangga
136
Bab 136 Bermain Ketapel
137
Bab 137 Mangga Depan Rumah
138
Bab 138 Teguran Main Di Samping Rumah
139
Bab 139 Cerita Luka Keluarga
140
Bab 140 Sekolah Dirobohkan?
141
Bab 141 Berita Amir Sekolah
142
Bab 142 Kami Numpang Belajar
143
Bab 143 Masuk Siang
144
Bab 144 Rezeki Ikan Pagi
145
Bab 145 Aku Kerja Di Sekolah
146
Bab 146 Menyambut Bulan Suci
147
Bab 147 Hasil Kerjaku Di Bulan Suci
148
Bab 148 Hari Kemenangan Bersama
149
Bab 149 Amir Berulah Di Sekolah Kami
150
Bab 150 Sanksi Untuk Amir
151
Bab 151 Abang Handi Di Sengat Ikan Pari
152
Bab 152 Abang Handi Terbaring Lemah
153
Bab 153 POVE MAMA!
154
Bab 154 Abang Handi Kesakitan
155
Bab 155 POVE Rasti!
156
Bab 156 Abang Handi Pulih Total
157
Bab 157 Penamatan Qur'an Sekampung
158
Bab 158 Patah hati, Bu Syakillah!
159
Bab 159 POVE Syakillah!
160
Bab 160 Kemarahan Untuk Bu Syakillah!
161
Bab 161 Menjelang Ujian Nasional
162
Bab 162 POVE HANDI!
163
Bab 163 Ujian Nasional
164
Bab 164 Nilai Ujian Nasional Tinggi
165
Bab 165 Sisi lain ibu Rasti!
166
Bab 166 Perpisahan Sekolah
167
Bab 167 Kabar Bu Syakillah menikah!
168
Bab 168 Mata Haru Papah!
169
Bab 169 POVE PAPAH!
170
Bab 170 POVE MAMA!
171
Bab 171 Akhir Sebuah Kisah!

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!