Aku anak sulung dari delapan bersaudara, ayah saya bernama Syarifuddin dan ibu saya bernama Sitti hajar. aku miliki adik laki-laki tiga, dan adik perempuan empat. Singkatnya aku menikah setelah menjadi aparatur sipil di bagian pemerintah. jabatan aku sebagai pegawai negeri sipil, dan mengajar disekolah tingkat pertama (SMP) negeri 3 sendana.
Di Usiaku yang menginjak 23 tahun, aku menikah dengan laki-laki yang kucintai. parasnya yang tampan, berkulit putih, pekerja keras, meski ia seorang anak petani. namun, kemauan untuk bersama sangat besar. mungkin dunia pun merestui kami, walau banyak pertentangan dari pihak saudara, saudari, dan terutama dari ibuku sendiri.
mereka beranggapan bahwa, aku salah pilih pasangan. aku yang seorang PNS, harusnya mencari yang lebih dari aku sendiri. setidaknya sama-sama PNS. Hidup tidak hanya mengandalkan cinta, tapi kita butuh uang, dengan uang kita bisa memenuhi segala kebutuhan. Itulah ungkapan-ungkapan hati mereka, yang sering terdengar oleh panca indra telinga.
Kehidupan yang berlalu cepat, membuat diri ini, mengambil keputusan. aku menerima lamaran pujaan hati, toh ayah merestui pilihanku. Dalam agama menjelaskan bahwa, selama wali nikah merestui, maka sahnya pernikahan dijalani oleh pasangan pengantin. ayah pun menghargai pilihan putri sulungnya. Kata ayah, yang penting putri ayah bisa bahagia, dengan laki-laki pilihan hatinya.
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang mempermudah acara pernikahan ini. Tiada kata yang lebih baik, selain rasa terimakasih banyak kepada ayah, yang senantiasa menemaniku, menjalani proses ijab kabul, dan memberikan restu yang berharga.
Insyaallah kehidupan berumah tangga ini, penuh dengan banyak kebahagian. membangun keluarga kecil, yang menuntun anak-anak menuju mengabdikan hanya kepada Allah dan menjalankan ibadah dengan sangat baik. semuanya berjalan dengan semestinya.
Di usia pernikahan kami genap satu tahun setengah, aku melahirkan bayi laki-laki, anak sulungku, yang diberi nama Ari laksmana. Dia bayi yang lucu, berkulit putih, dan gemuk. rasa syukur kami panjatkan, demi lahiran normal anak laki-lakiku. Sementara aku melahirkan di rumah orang tuaku. Pernikahan kami berlangsung dirumah orang tua, dan tinggal seatap dengan mereka. Kami belum mampu beli rumah, dan ayah tetap memberi dukungan untuk tinggal bersama. Hubungan kami masih sewajarnya saja, suamiku pun bisa menyesuaikan diri dengan keluarga ku.
Anakku Ari sudah bisa merangkak, dia anak yang aktif. Banyak mengoceh dengan kata-kata yang kurang jelas, aaa-huu-maaa, terdengar lucu untuk orang-orang dewasa yang mendengarnya. tantenya terus mengajak bermain, dan mencoba meniru kata-kata ponakan dengan gemas. Adikku Isdah masih berumur 5 tahun 6 bulan, selisih anakku 5 tahun, sungguh umurnya layak kakak-adik.
Tahun keempat setelah Ari lahir, adiknya pun terlahir lagi, dengan jenis kelamin laki-laki. anak kedua pun lahir normal dirumah orang tua. kami masih tinggal di rumah orang tuaku. masih keadaan sama, orang tuaku memberi dukungan kami, tinggal bersama. setelah kejadian dua tahun yang lalu, aku pernah kehilangan bayi, dalam kandungan, adik Ari. namun, Allah memanggil untuk menghadapnya ke surga, aku tentu mengikhlaskan, semuanya sudah kehendaknya.
Anak keduaku ini, parasnya mirip kakeknya. berwajah tampan, berkulit sawo matang, dan postur tubuh tinggi, dengan rahang tegas. hidup dibumbui kebahagiaan dengan kebersamaan. kakeknya terus memanggil Ari bermain di ruang tengah, sedang aku menyusui anakku umur bulanan. Ari yang sudah masuk taman kanak-kanak, selalu mengutarakan keinginan pada kakeknya, mau bersepeda dan bermain.
"Kek, kapan yah! Kira-kira aku ada sepeda?" Tanyanya dengan mata berbinar.
"Kamu harus rajin sekolah, dan belajar dengan baik. setelahnya kakek kasih hadiah sepeda."
"Yah, jangan berkata seperti itu pada anak-anak. biarlah dia tidak memiliki nya. aku takut, Ari jadi susah untuk dibilangin."
"Khoiry, kamu jangan begitu sama anak-anak. dia cucuku, sudah pantasnya aku memberi hadiah, agar dia senang."
"Tapi..Yah, Ibu pasti tidak setuju."
"Urusan ibumu, biar Ayah yang urus. Ari cucu pertamaku, aku hanya senang jadi seorang kakek. ayah harap kamu bisa mengerti."
Semenjak perbincangan masalah Ari waktu itu, dua minggu setelahnya ayah benar-benar menepati janji, tentang hadiah yang akan diberikan pada Ari anakku. ayah antusias memanggil Ari, dan menggenggam tangan kecilnya menuju arah sepeda yang terbungkus rapi. Dengan tatapan mereka beradu, jadi terbit senyum sumringah diwajahnya.
"Kek, benar ini sepeda Ari?"
"Iya cucuku, sepeda ini milikmu sekarang."
"Sepedanya bagus kek."
"Ya sudah cucu, bawa untuk belajar di halaman rumah."
"Terimakasih ya kek."
"Sama-sama cucu."
Pandanganku teralihkan di teras rumah, aku melihat ibu sedang memperhatikan kami, lebih dalamnya arah matanya tepat, disisi anakku bermain sepeda. aku tahu ibu tidak menyukai ide ayah, memberi cucunya hadiah sepeda. kemungkinan ibu menganggap aku tidak bisa mendidik anak dengan benar. maka, terus-terusan memanjakan dan menuruti segala keinginan anak. benar saja ibu langsung memanggil setelah ayah pergi masuk dalam rumah.
"Sini khoiry! mama sudah pernah bilangin kamu. Kalau anak itu, harus dididik dengan benar. jangan asal memanjakan dan menuruti segala inginnya. lihat ayahmu, banyak pengeluaran di bulan ini, karena maunya anak manja kamu itu. ngerti?!"
"Ma, aku udah jelasin ma ayah. Tapi, ayah marah-marah, dan bilang ini karena ayah senang punya cucu."
"Tetap saja boros tahu! harusnya kalau mau sepeda. bilangin papanya, untuk belikan dia sepeda."
"Ini kamu tidak bisa mendidik dengan benar."
"Iya ma, aku minta maaf."
"Ya sudah kamu masuk kedalam, dan memasak, ok."
Pagi harinya Isdah mengajak anak-anak jagoanku, untuk jalan-jalan pagi. sekalian untuk menghibur mereka yang bosan di rumah saja. Ari dengan sepeda barunya, mulai mengitari rumah warga dengan antusias, sedang adik laki-lakinya dituntun tantenya, mengunjungi salah seorang temannya. ya tidak lain, tisa. tetangga dekat rumah, dan teman dekat isdah.
Hari pun menjelang sore, mereka pun sudah ada dirumah. Ari yang sedang capek-capeknya dengan kegiatan bersepeda, langsung beristirahat dalam kamar. Sedang adiknya yang kami beri nama Handi, sedang lelap dipangkuan tantenya. dengan keadaan mengisap jari jempol, dan sangat lucu-lucunya.
Dan tanpa terasa, Ari sudah beranjak besar, diusianya yang sekarang dalam masa pertumbuhan anak. aktif-aktifnya untuk belajar disekolah, Ari sudah dibangku SD kelas 2, yang berumur 8 tahun. Kemudian adik laki-lakinya, sudah masuk berumur 4 tahun dan masuk taman kanak-kanak. selagi lagi kami orang tua, diberi anugerah oleh Allah SWT dengan menanti kelahiran anak ketiga. dirumah orang tua, menunggu-nunggu harap cemas kapan anak kami lahir, ya beberapa jam kemudian, anak kami lahir, dihari Senin, bulan Oktober. masya Allah anakku terlahir normal, wajahnya yang cantik, berkulit putih bersih, hidung kecil, dan berambut pirang. gadisku seperti turunan belanda, dengan paras yang menawan, mampu membius setiap mata yang memandang.
Aku heran dengan paras wajahnya, anakku terlihat beda, dari kebanyakan bayi lahir dikampung ku, mereka semuanya, bertanya-tanya heran. mana bisa anakmu, secantik ini, seperti anak turunan belanda. aku hanya menghela nafas berat, mendengar setiap percakapan mereka.
"Apa yang kamu makan? Dapat bayi secantik ini?"
"Kalau ada resep? Bagi-bagi dong. kami juga ingin punya anak seperti kamu." Tutur mereka bersamaan.
"Aku hanya makan seperti kalian. Makan ikan, sayur, dan buah."
Dua minggu berlalu dengan cepat. Usia putriku, belum genap 1 bulan. banyak masalah terus berdatangan, saudari aku yang perempuan, terus banyak menuntut pertanyaan pada ibu. katanya sampai kapan?aku dan suamiku membebani orang tua dengan menumpang hidup. pikirannya aku hanya membuang pengeluaran banyak, tentang uang orang tua. Aku punya suami, harusnya bapak anak-anak yang harus menanggungnya. apalagi dihitung anakku berjumlah berapa? sungguh aku sakit hati, mendengar setiap kata-kata yang dia keluarkan. dia adikku, anak ketiga dari ibuku. namun, apa maksudnya coba mengatakan itu? aku, anak-anak, dan suamiku beban orang tua.
Selama ini aku cukup tahu diri. dengan menyisihkan uang belanja bulanan. setiap bulannya, aku beli beras satu karung, minyak goreng 2 liter, dan uang listrik, berkisar 200 ribuan. pengeluaran cukup lumayan kami belanjakan, demi bisa membuat kebutuhan makan kami terpenuhi. sungguh, ini sangat keterlaluan. aku pun punya tekad, untuk menyampaikan kepada suami, dalam dekat ini kita harus mencari rumah untuk ditinggali.
Beberapa hari setelahnya, suami pun sudah berada dirumah orang tua. aku pun tak sabaran, menceritakan segalanya, tentang rencana pindahan rumah. dan respon suami, mengiyakan keputusan itu. di suatu malam, terjadilah sesuatu yang tak terduga, tepat waktu tidur ayah, mereka sudah berdiri, berpapasan, dan menyuruh kami segera, berkemas pakaian, dan serta merta membawa anak-anak keluar rumah.
Malam berselimut dingin, kami berempat meninggalkan rumah ayah dengan keadaan sedang tidak baik-baik. Suamiku menggandeng tangan kedua jagoanku, dan aku menggendong putriku yang masih merah. sungguh pedih hati kami, terusir dari keluarga sendiri, oleh katanya kami hanya beban hidup orang tua.
"Ayo anak-anak, kalian beristirahat dulu, di teras rumah. Oh ya mah, kamu juga istirahat bersama anak-anak disini. Papa masuk dulu, membersihkan rumahnya, agar bisa ditempati malam ini." anak-anak duduk bersama mamanya dibangku panjang.
"Pa, aku mau ikut bantu."
"Tidak usa ma, kamu tidak boleh meninggalkan bayi secantik ini."
"Lagian membersihkan rumah tidak akan lama. Maaf malam ini, kamu dan anak-anak, akan tidur dengan alas tikar."
"Gak apa-apa pa, yang penting kita ada rumah. rumah yang nyaman tentu."
"Sabar yah kalian, setelah papa dapat uang banyak. Insyaallah membeli rumah ini, untuk menjadi hunian rumah selamanya."
"Amiin pa."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 171 Episodes
Comments