Berdandan yang cantik, malam ini aku akan pulang. Kita akan menghabiskan malam yang panjang berdua.
Lili mengerjabkan kedua matanya, membaca pesan yang di kirim oleh Galang.
"Apa dia sudah gila?" ujarnya.
Lili merasa ada yang lain dengan Galang, pria kaku itu mendadak berubah menjadi serigala.
Kali ini Lili mengabaikannya, dia putus asa dengan usahanya sehingga menyerah. Dia sedang berusaha membuang perasaan kepada pengawalnya itu.
"Bibi, mau ke mana?" tanya Lili.
"Pulang, Lili," jawab Bik Onah seraya menaruh tas yang di tentengnya.
"Kok pulang, terus nanti aku sama siapa di sini?" Lili sudah terbiasa hidup berdua di rumah yang jauh dari tetangga ini. Dia menjadi takut saat harus sendirian.
"Galang kan pulang, jadi kamu tidak akan sendirian," ungkapnya.
Lili melepaskan kepulangan Bik Onah dengan sedih, dia lebih senang tinggal dengannya dari pada lelaki tua kaku. Yang selalu menyuruhnya dan juga marah-marah kepadanya.
"Bik, masak dulu ya. Biar aku tinggal panasi nanti," pinta Lili.
Dia belum bisa memasak, walaupun hampir tiap hari dia belajar memasak.
"Kamu tenang saja, Bibi sudah memasak banyak. Kamu tinggal menghangatkannya saja," kata Bik Onah.
"Makasih Bik."
Jam sudah menunjukan pukul tujuh malam, tapi belum ada tanda-tanda Galang pulang.
"Pria tua itu, membohongiku. Pasti sengaja ingin mengerjaiku!" kesalnya.
Lili menduga, Galang membiarkan Lili di rumah sendiri. Lili menghidupkan televisi dengan volume tinggi sebagai teman. Agar suasana rumah tidak sepi.
"Aku pulang," kata Galang saat memasuki ruang tamu.
"Kamu beneran pulang?" tanya Lili, ia tidak segera menyambut sang suami.
"Apa seperti ini sambutan seorang istri kepada suaminya?" Galang duduk di samping Lili.
"Memangnya kamu mau sambutan seperti apa? Red carpet?" ucapnya sewot.
Galang heran dengan perubahan sikap Lili, kemarin dia mengejarnya. Tapi, saat dia pulang berubah cuek.
"Tidak perlu, seenggaknya sambut aku dengan dress merah yang menggoda ini." Galang menunjukan foto Lili dengan baju merah dengan pose menggoda.
Lili berusaha merebut ponsel milik Galang, dia ingin segera menghapus foto memalukan itu.
"Hapus tidak!" ancam Lili.
"Tidak, foto ini akan aku simpan selamanya," jawabnya sembari memasukan ponsel di kantong celananya.
"Hapus, Galang!"
"Baiklah, akan aku hapus tapi ada satu permintaan," ujar Galang.
"Apa?"
Galang menyentuh bibir dengan jari telunjuknya. Lili berdesis, Galang pasti sengaja mengerjainya.
"Aku tidak mau," tolaknya.
"Ok, aku juga tidak rugi. Aku akan menjadikan foto ini wallpaper di ponselku. Agar semua orang tahu istriku sangat seksi," goda Galang.
Lili menggigit bibirnya, memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan. Menolaknya, berakibat fotonya menjadi konsumsi publik. Atau mencium suami kakunya itu.
"Aku beri waktu sampai tiga." Galang mulai menghitung.
Sampai hitungan dua, Lili langsung mencium cepat Galang.
"Belum terasa," katanya.
"Apa?" Lili memutar tubuhnya sembari menatap tajam, ia merasa di permainkan oleh Galang.
Galang kembali memegang bibirnya dengan jari telunjuk. Lili berdesis, ia mendekatkan wajahnya perlahan. Matanya pun mulai terpejam.
Galang tersenyum dan segera menyambut sentuhan lembut yang diberikan oleh Lili.
Perlahan Galang mendorong Lili, sehingga posisinya berubah rebahan di sofa. Galang memberikan lebih dari sentuhan.
"Kamu terlalu banyak makan ciki rupanya," ucapnya lalu kembali menciumnya.
Lili yang jual mahal kini hilang kendali, dia memberikan balasan dari sentuhan Galang.
Galang membawa sang istri menuju ke kamarnya, agar lebih leluasa.
Ia menidurkan Lili perlahan, "Harusnya kau memakai baju dinasmu, pasti akan semakin membuatku bergairah malam ini," goda Galang.
"Berhenti menggodaku!" Lili memukul dada bidang Galang.
"Aku tidak menggodamu, tapi aku memang tergoda denganmu. Jangan pernah memakai pakaian itu selain sama aku," bisik di telinga Lili.
Galang mulai menyusuri leher Lili, memberikan tanda-tanda merah yang mungkin nanti akan menyadarkan sang istri jika itu bukan gigitan serangga melainkan suaminya.
Galang menanggalkan kaosnya, perlahan membuka kancing milik Lili. Dia menyusuri setiap inci tubuh Lili.
Tubuh mereka memanas, Lili merasakan ada kupu-kupu diperutnya. Sentuhan lembut membuatnya semakin melayang.
Perlahan tapi pasti, mereka semakin menikmati permainan. Tangan Lili menggenggam sprei erat, dan satu tangannya mencengkeram di punggung Galang.
Keinginan Lili malam ini terpenuhi, dengan pemanasan yang luar biasa sampai dia jatuh terlelap dalam pelukan Galang.
...----------------...
Lili menggeliat, merasakan tubuhnya capek sekali. Ia mendelik saat sadar tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Ia menarik selimut dan memegangi erat.
"Apa yang telah kamu lakuakn Lili," gumamnya sembari menggigit bibir bawahnya.
Dia memejamkan matanya, malu mengingat kejadian semalam.
"Ada apa?" bisik Galang dari belakang. Ia memeluk erat gadis yang dalam keadaan bingung.
"Bukankah ini yang kamu mau?" imbuh Galang seraya menarik dagu Lili pelan.
Lili tidak bisa menyangkal, dia memang menginginkan Galang. Tapi, dia takut kalau Galang akan meninggalkanya.
Galang memberikan ciuman lembut, ia menarik Lili agar kembali rebahan.
"Kamu mau apa?" tanya Lili sedikit takut.
"Kita akan melanjutkan lagi," Galang kembali menyerang Lili di pagi hari.
"Pria tua ini, sangat mengherankan setelah menolak kini dia seperti orang gila! Batin Lili.
"Ingat, kamu hanya boleh tidur denganku. Aku menanamkan banyak benih di perutmu. Jadi jangan macam-macam," kata Galang.
Dia menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua, Galang tidak melepaskan Lili hari ini. Setelah beberapa hari dia menahan godaan karena jauh.
"Jadi, sekarang kita suami istri?" ucapnya pelan.
"Memangnya selama ini kau anggap kita ini apa?" Galang menarik Lili dalam pelukannya.
"Bukankah kamu tidak mau menyentuhku?"
"Maafkan, aku salah. Mulai detik ini kau milikku."
"Brati aku boleh memelukmu kapan pun aku mau?" Lili menoleh ke belakang hingga menatap wajah Galang.
"Tentu saja," jawabnya sembari memberikan kecupan di puncak kepalanya.
"Aku mandi dulu, setelah itu aku siapkan sarapan," Galang mengacak-acak rambut Lili.
Lili tersenyum senang, akhirnya dia telah menjadi seorang istri seutuhnya. Cintanya bersemi dengan sang pengawalnya.
Hidup sederhana tidak menjadi masalah untuknya, asal dia terus di cintai oleh Galang.
"Kenapa ini sakit?" rintihnya saat bangun, ia bergumam jika tubuhnya pegal semua.
"Kamu bisa jalan?" tanya Galang melihat ekspresi Lili yang menahan sakit.
"Bisa kok, kamu jangan khawatir," katanya dengan mencoba berjalan biasa.
Galang mengangkat Lili, membantunya ke kamar mandi.
"Maaf ya, tapi sakitnya hanya sebentar kok," katanya.
Setelah mengantar Lili, Galang bergegas pergi ke dapur. Memasak masakan spesial untuk istri tercintanya.
Tak sengaja tangan Galang mengenai papar bag hingga terjatuh ke lantai. Galang langsung membereskan kekacauan yang dia buat.
Galang mengambil botol kecil yang menggelinding. Mata Galang membulat membaca tulisan yang melekat di botolnya.
"Gadis ini sangat nakal, berani sekali ingin menjebakku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Emn Sc
udah halal. napa jg harus d tahan ..tahan...nona muda harus d jg sepenuh jiwa..tu dl...lain LG sekarang.
2024-04-25
1
Retno Palupi
g usah dijebak jg mau ya Lang 🤣🤣🤣
2024-04-23
0
G
lanjut thor
2024-02-25
1