Bab 14

Suara riuh di ruangan pelelangan, mereka saling berlomba memberikan penawaran tertinggi. Penawaran tertinggi dari Sudarmono grup dengan nilai 350 juta.

"Apakah ada yang menawar lebih tinggi lagi?" tanya MC.

Suara hening, tak ada yang berani manambah harga lagi. Danu sudah merasa menang, perusahanannya memang belum ada yang menandinginya.

"Jika tidak ada yang menawar lagi, maka ... "

"500 juta," Kata Galang sembari membuka pintu ruangan pelelangan.

Semua mata tertuju ke arah sumber suara, Agus mendelik melihat Galang yang berjalan dengan gagah menggunakan setelan jas hitam.

"Papa, bukan kah itu pengawal Lili. Kenapa dia bisa ikut pelelangan?" tanya Indira.

"Papa juga tidak tahu," jawab Agus, kedua matanya tak lepas memandangi Galang.

"500 juta, dari perusahaan mana?"

"Perusahaan Gumintang Grup," jawab Galang seraya duduk di kursi bersebelahan dengan Agus dan Indira.

"Baik, Sudarmono grub, apa mau menaikkan harga?" tanya MC.

Lima menit sudah berlalu, pelelangan di menangkan oleh Gumintang Grup.

Agus yang kesal menarik Galang menuju luar Ruangan.

"Siapa kamu sebenarnya?" tanya Agus.

"Saya, Galang, mantan pengawal pribadi putri anda. Lebih tepatnya menantu anda saat ini," ucapnya dengan senyuman tipis.

"Kau selama ini menyamar? Kau menjadi mata-mata keluragaku?" sambar Indira.

Galang melirik, ia tersenyum menakutkan yang membuat Indira bergidik.

"Galang!" panggil Dimas.

Galang sedikit menggeser lalu menundukkan kepala sebagai penghormatan kepada Dimas.

"Pak Dimas, apa dia pengawal anda?" tanya Agus.

Galang mengedipkan matanya.

"Galang, adalah asisten saya," jawab Dimas yang membuat Agus dan Indira kaget.

Seorang pengawal pribadi bisa naik pangkat menjadi asisten pribadi. Itu sangat mustahil.

"Pak, Dimas apa bisa kita bicara sebentar?" pinta Agus.

Agus ingin mengajak kerja sama dengan Gumintang Grup. Dia menginginkan tanah tersebut, untuk memengurangi kerugian. Dia tidak menyangka, jika ada perusahaan lain yang berani memberikan penawaran tinggi.

Selama ini perusahaan Sudarmono mendapatkan apa yang dia mau, perusahaan terbesar di kota ini.

"Saya ada urusan hari ini, bagaimana kalau kita bicara besok?" tanya Dimas.

"Baiklah, bagaiamana jika kita bertemu di rumah saya?" tanya Agus.

"Atur saja Pak Agus. Saya permisi dulu." Dimas dan Galang menundukan kepala sebagai salam hormat lalu pergi lebih dulu.

...----------------...

"Ada apa Mas?" tanya Rida.

Melihat sang suami pulang dengan wajah kusam, membuat Rida cemas.

"Bagaimana pelelangannya, Tuan?" tanya Indrajaya.

"Kalah, ada perusahaan lain yang menawar lebih tinggi," tukas Indira sembari duduk di depan ayah dan ibunya.

"Perusahaan lain?" Rida mengerutkan kening.

"Perusahaan mana yang mampu menyaingi Sudarmono Grup?" tanya Indrajaya.

Indrajaya saling berpandangan dengan Rida, mereka mimiliki pertanyaan yang sama dalam otaknya. Perusahaan sebesar Sudarmono Grup bisa ada yang menyainginya.

"Grup Gumintang, dan mama harus tahu jika di dalam nya ada Galang. Galang mantan pengawal kita yang menjadi sekretaris pribadi," jelas Indira panjang lebar.

"Galang?" Indrajaya menatap sang Tuan.

"Sayang, kenapa kamu tidak menaikan tawarannya?" ucap Rida.

Dia tidak bisa kalah dari pengawalnya, dia takut jika lebih unggul dia pasti mengejeknya.

"Indrajaya, ikut aku," ajak Agus.

"Baik, Tuan," jawabnya sembari mengikuti Agus.

Indrajaya selain menjadi kepala pengurus rumah, dia juga sering dijadikan penasehatnya untuk mengambil keputusan.

"Indrajaya, besok aku akan mengadakan pertemuan dengan Gemintang Grup di rumah ini. Jangan ada kesalahan," titah Agus.

"Baik Tuan, kenapa Tuan mengadakan pertemuan di rumah ini?" Indrajaya heran.

Biasanya mereka mengadakan pertemuan di tempat-tempat seperti hotel bintang lima dan semacamnya.

"Aku ingin membuat sesuatu yang berbeda Indrajaya, tempat kita juga tidak kalah jauh bukan."

Agus membuat kliennya senang, agar mau bekerjasama dengannya. Sehingga dia tidak merugi yang bisa membuat perusahaanya kritis.

"Rencana Tuan apa?" tanya Indrajaya.

"Aku sedang menyelidiki perusahaan Gumintang, dan aku lihat pimpinanya masih muda, " katanya sembari menatap Indrajaya penuh arti.

Indrajaya tersenyum, dia memahami apa yang dimaksud tuanya. Pernikahan bisnis, ya, Agus akan menggunakan itu sebagai alat untuk menaklukkan CEO ketika rencana awal tidak berhasil.

"Tapi bagaimana dengan Nona Indira, apa dia mau menerima begitu saja?" tanya Indrajaya.

"Selama dia masih mau menjadi keluarga Sudarmono, dia harus mengikuti apa yang aku mau." Tegasnya.

Rida membuka pintu keras, "Aku tidak setuju!"

Rida tidak mau mengorbankan putrinya untuk sebuah pernikahan bisnis. Dia memikirkan perasaan putrinya. Dia layak mendapatkan orang yang mencintainya.

"Kenapa kamu tidak setuju?" Agus berdiri mendekati sang istri.

"Kita belum tahu kepribadian CEO Gumintang, aku tidak akan menyerahkan putriku begitu saja!"

"Rida, apa yang kamu takutkan? Anakmu akan hidup bahagia. Dia CEO bukan pengawal atau gembel di jalan," bujuk Agus.

"Benar, Nyonya, pernikahan bisnis ini biasanya akan menghasilkan keuntungan besar," Indrajaya mencoba membuka pikiran dari Rida.

Apalagi perusahaan Gumintang sepertinya bukan perusahaan biasa. Jadi dia kan menjadi orang kaya, keluarga mereka semakin berjaya dan tidak ada yang menandinginya.

"Demi kelangsungan perusahaan kita, atau kita akan jatuh dalam kebangkrutan," tutut Agus.

Agus mengatakan kepada Rida jika perusahannya diambang kebangkrutan. Mereka akan jatuh miskin dalan hitungan bulan saja. Mereka akan kehilangan semua aset kekayaannya.

"Bukankah kamu masih memiliki bisnis lain, ayolah sayang, jangan memanfaatkan keadaan ini untuk keuntunga kamu saja," Rida tidak mau dibodohi begitu saja oleh sang suami.

"Nyonya, jika kerjasama ini batal, kantor pusat bangkrut. Kita bisa menjual semua aset termasuk rumah ini," kata Indrajaya.

Ia merincikan pengeluaran jika mereka bangkrut. Dari bayar kariyawan sampai menutup hutang bank.

"Nyonya tidak mau hidup miskin kan?" ujarnya lagi.

Rida terdiam, tentu saja dia tidak mau hidup miskin. Dia sudah susah payah mengambil kedudukan istri miliarder di kota ini. Haruskah dia menjadi pegawai lagi?

"Indrajaya cukup, aku akan mencari cara lain, jangan membuat nyonyamu bersedih," kata Agus.

Indrajaya mengangguk mendengar titah sang majikan.

Pernyataan Agus membuat Rida harus ikut berpikir keras untuk menemukan solusi ini. Dia tidak mau miskin, tapi juga tidak mau menyerahkan putrinya untuk sebuah pernikahan bisnis.

"Apa benar tidak ada cara lain?" ujar Rida putus asa ketika tidak mendapatkan solusi yang terbaik.

"Nyonya, kita harus memberikan tawaran yang menarik bukan, agar mereka mau kerja sama dengan perusahaan kita," ucap Indrajaya.

Dia mencoba membujuk Rida agar menyetujui rencana yang mereka buat.

"Aku punya ide," katanya sambil menjentikan jarinya.

"Apa?" tanya Agus tidak sabar.

"Kita suruh Lili saja yang menikah dengan CEO Gumintang," kata Rida.

Dia akan kembali menumbalkan anak tirinya itu. Baginya, selagi ada orang lain dia tidak akan membuat anak kandungnya melakukan hal yang merugikannya.

"Lili? dia sudah menikah," Agus tidak menerima saran dari sang istri.

Rida tersenyum, lalu mengatakan ,"Iming-imingi saja, dengan dia akan ditarik dalam keluarga Sudarmono. Dia taka akan menolak."

Terpopuler

Comments

Wini Hilal

Wini Hilal

tanah 500 juta rupiahkah ataw dolar klw rupiah kayaknya gk luas deh Krn harga tanah kn mhl klw 5 m br wajar untuk tanah yg dilelang

2024-04-26

0

Retno Palupi

Retno Palupi

kl masih blm sadar berarti p Agus udah keblinger, tdk adakah perasaan sayang sedikit pun dihati p Agus PD putri kandungnya?

2024-04-23

2

🅆🄴🄳🄰🄽🄶🍡🅁🄾🄽🄳🄴

🅆🄴🄳🄰🄽🄶🍡🅁🄾🄽🄳🄴

lilli lagi lilli lagi, sebodoh itukah pak agus

2024-02-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!