Bab 11

"Semoga kamu tidak mebohongiku," katanya sembari melambaikan tangannya.

Lili berdiri sampai mobil yang di tumpangi Galang menghilang dari pandanganya. Dia bergegas masuk menemui Bik Onah.

"Bik, aku lapar," ucapnya sambil meringis.

"Tunggu sebentar, ya, Nona, lauknya sebentar lagi masak," sahutnya.

Lili merasa jauh lebih enak tinggal bersama dengan Bik Onah. Perempuan bertubuh gempal itu sangat baik. Tidak memaki-maki dirinya seperti Galang saat dia hendak meminta makan.

"Bik, apa Galang sudah memiliki pacar?" tanya Lili.

Dia penasaran dengan kehidupan Galang, dia terlalu tertutup tentang kehidupan privasinya.

"Setahu bibi sih belum, Galang sibuk dengan pekerjaanya," jawabnya dengan menyajkan makan yang baru saja jadi.

"Berarti saya perempuan satu-satunya?" tanya Lili dengan bangga. Jika memang benar dia perempuan pertama untuk Galang.

"Bukan yang pertama Nona, hanya saja dari sekian yang mengejarnya. Nona Lili pemenangnya," kata Bik Onah.

Bik Onah mengatakan jika dia kaget dengan perubahan dari Galang. Dia yang dingin bisa peduli dengan seseorang.

"Apa sejak dulu dia dingin seperti itu Bik?" tanya Lili.

"Iya, tapi sepertinya sikapnya yang sedingin kutub itu mulai mencair," ujar Bik Onah kepada Lili.

"Bik Onah menambahkan jika perubahan itu terjadi saat kehilangan kakak perempuan dan ibunya. Dia terpukul hebat, sehingga menutup keceriaannya.

"Lalu Papanya?"

"Papanya ikut meninggal sebulan setelah sang ibu dan kakaknya meninggal."

Lili merasakan hal yang menyakitkan itu, pantas saja dia sekarang menjadi orang yang sangat dingin.

...----------------...

"Bagaimana?" tanya Galang.

"Belum ada tanda-tanda apa-apa. Mereka belum memberikan informasi apa-apa," jawab orang yang berada dalam panggilan.

"Ok, selidiki terus." Kata Galang sembari menutup teleponnya.

"Selamat datang kembali, Tuan," sambut Dimas asisten pribadi Galang.

Setelah satu tahun dia keluar dari perusahaan demi sebuah misi, kini dia kembali dengan membawa misi baru, yaitu membalaskan dendam sang istri.

Dia ingin membalas sakit hati sang Nona yang tidak bersalah.

"Tuan, besok ada pelelangan tanah yang ada di pinggiran kota. Tanahnya strategis," kata Dimas.

"Kita akan datang besok, kamu siapkan semuanya. Kita harus memenangkan lelang kali ini," ucapnya.

Dimas mengangguk lalu permisi dari ruangan bosnya. Galang berucap jika permainan akan segera di mulai. Dia akan mengobrak-abrik bisnis orang-orang meremehkan selama ini.

Dalam setahun ini dia tidak terlalu menonjolkan perusahaannya, sekarang kini dia siap bersaing kembali.

Galang mengambil ponsel yang terus berkedip. Ujung kedua bibirnya tertarik melihat pesan yang di kirim oleh Lili.

"Gadis ini, tidak menyerah sama sekali. Sekarang dia berlagak seperti seperti pacar," gumamnya sambil tersenyum.

Lili menanyakan kabar Galang, mengirim gambar saat dia belajar memasak dan juga mengurus rumah. Galang hanya melihat tanpa membalas, memang itu kebiasaanya.

Dia tidak membalas pesan jika itu tidak penting, bahkan dia tidak akan membaca.

"Bos, besok kita akan bertemu dengan perusahaan Sudarmono. Untuk melangsungkan kerja sama," Dimas melapor jadwalnya besok.

"Hem, Sudarmono grub, ya," ujar Galang.

Galang siap-siap memberikan kejutan pimpinan dan juga karyawan Sudarmono grub. Mereka pasti tidak akan pernah menyangka jika pengawal pribadi sang nona adalah CEO dan juga pemilik perusahanan yang tak kalah besar dari Sudarmono grub.

Lili

Kau mengabaikan ku?

Galang menggelang membaca sekilas pesan yang kembali masuk dari Lili. Ini hari pertama dia pergi. Lili sudah mengganggunya.

Gadis kecil yang manis itu kini berubah aktif, bawel, banyak bertanya. Dia mampu membuat Galang mengomel sepanjang hari saat dia bersama. Meskipun kesal dia pun tidak bisa memarahi Lili.

"Tuan, apa benar sudah menikah dengan nona muda perusahaan Sudarmono?" tanya Dimas. Dia memastikan kabar yang beredar di media masa.

"Benar, aku sudah menikah dengan nona muda." jawabnya seraya menandatangani berkas yang diberikan oleh Dimas.

Dimas penasaran dengan nona muda sekarang, setelah berita dicoretnya Lili dari keluarga dan hak waris Sudarmono.

"Dia baik-baik saja, bahkan akan lebih baik bersamaku," kata Galang.

Dia akan menjamin kebahagiaan untuk sang istri, meskipun dia masih belum memiliki rasa cinta. Dilihat dari pengorbanannya yang besar, dia pantas mendapat apresiasi.

...----------------...

"Dasar manusia es, berani sekali mengabaikan pesanku!" Lili ngedumel pesannya diabaikan begitu saja dengan Gilang.

Lili memutar otak, agar lelaki itu mau membalas pesannya.

"Nona, tampak gundah ada apa?" tanya Bik Onah.

"Bik, panggil saja saya Lili," pinta Lili agar lebih akrab.

Bik Onah menolak permintaan Lili, dia tidak berani memanggil nona muda dengan menyebut nama saja.

"Tidak apa-apa Bik, aku lebih senang dipanggil Lili."

Lili mengatakan jika dia bukan seorang nona muda lagi, saat ini dia hanya gadis desa biasa. Dia sudah tidak pantas untuk dipanggil nona muda.

"Baiklah Lili, apa yang membuatmu gundah?" tanya Bik Onah.

"Aku sudah kangen dengan Galang, tapi dia mengabaikanku," ujarnya terus terang.

Lili tidak ada jaimnya, dia blak-blakan mengatakan apa yang dia rasakan kepada Bik Onah.

"Mungkin, Galang sedang sibuk. Coba nanti kamu telepon," saran dari Bik Onah.

Lili pun mengikuti saran dari Bik Onah, dia menelepon Galang berkali-kali tapi tidak mendapatkan balasan.

Lili menjatuhkan diri, dalam benaknya kenapa dia sekarang menjadi merindukan sosok Galang. Sedih tidak mendapatkan respon darinya.

"Mungkinkah, Galang sengaja. Apa dia ingin meninggalkanku di sini sendiri," ucapnya sedih.

Pikiranya pergi ke mana-mana, ia berprasangka jika Galang memiliki perempuan lain. Dia sedang bersenang-senang dengan perempuan yang lebih cantik dan seksi darinya.

Lili beropini jika Galang hanya mau dengan nona muda kaya raya saja. Setelah dia diusir, dab tidak memiliki apa-apa dia meninggalkanya.

"Kenapa nasibku seburuk ini," keluhnya.

Lili kembali duduk, dia tidak bisa menyerah begitu saja. Bukan Lili namanya jika mudah menyerah ujarnya.

Dia akan membuktikan kepada Galang, jika dia mampu mengurus rumah dan memasak. Agar dia segera dibawa ke kota.

Setelah itu dia juga bisa hidup tanpa Galang. Dia akan memulai bisnis baru.

Lili memikirkan cara agar Galang mau membalas pesan atau mengangkat teleponnya. Dia itu manusia batu, digoda dengan pakaian seksi saja tidak mempan.

"Apa pakaian kemarin kurang menggoda, atau memang dia tidak suka?" Lili memikirkan penyebab Galang tidak tertarik dengan dirinya.

Lili turun dari ranjang, membuka lemari mencari baju dinas yang lebih menggoda. Jika, malam ini dia gagal menggoda Galang. Berarti dia memang tidak cocok menjadi waita penggoda.

Atau Galang yang tidak menyukai perempuan. Lili mengangkat baju tidur warna merah dengan lengan kecil. Lalu memakainya, dia berputar di depan kaca. Baju tidur merah jauh dari lutut itu sangat cocok dengan dirinya.

"Bukankah ini sangat membara."

Terpopuler

Comments

Retno Palupi

Retno Palupi

mungkin Lily mo kirim foto ke Galang

2024-04-23

0

Saha Weh

Saha Weh

bukan kah Galang pulang ya satu Minggu sekali ko ini udah siap,,milih baju 🤔JD pusing tp ya udah di baca aja 🤭 💪💪

2024-02-23

0

G

G

lanjut thor
seru ceritanya

2024-02-21

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!