Bab 8

"Ini tidak enak!" Lili membuang masakan yang dia masak.

Masakkan yang sudah susah payah dia buat ternyata tidak bisa di makan, pantas saja Galang marah besar, pikirnya. Lili mencari makan instan yang bisa di makan langsung olehnya. Namun, tidak ada satu pun makanan yang bisa dia makan.

"Ternyata menjadi miskin itu tidak enak," ucapnya sembari mengusap air matanya yang masih ada di pelupuk matanya.

Tidak ada aba-aba apa pun, sehingga dia belum mempersiapkan diri. Ia langsung jatuh di tempat paling dasar. Merasakan penderitaan orang-orang yang berkekurangan. Hanya sekedar untuk makan saja dia tidak mampu.

Dia mengutuk orang yang berani menjebaknya untuk menderita seumur hidupnya. Karena dia, dirinya membuatnya diusir dari keluarganya dan terdampar di rumah kecil.

Lili masuk ke kamar, ia melihat lelaki bertubuh kekar sudah terlelap. Lili naik ke ranjang menarik selimut sampai dada. Dia tidur membelakangi Galang.

Ingin sekali dia membangunkan sang pengawal, tapi dia takut kalau Galang marah. Dia sudah bekerja keras untuk mencari pekerjaan. Dengan wajahnya yang muram saat kembali dia menyimpulkan jika Galang gagal mendapatkan pekerjaan hari ini.

Gadis itu berusaha memejamkan matanya, berharap apa yang dia alami itu bukan kenyataan saat membuka . Tapi perutnya melilit, perih, karena sejak dia pergi dari rumah belum makan. Lili menangis meratapi nasibnya yang begitu buruk.

"Pa, Lili lapar," lirihnya.

Dalam benaknya terus bertanya, apakah sang ayah tahu kalau anak perempuannya ini sedang kelaparan? Atau sang ayah justru sudah melupakannya?

Ia meremas perutnya yang semakin perih, kepalanya mulai berat. Galang membuka matanya ketika sayup-sayup mendengar suara tangisan lirih.

"Nona, kamu menangis?" tanya Galang.

Lili menahan tangisnya agar Galang melihatnya. Dan pergi setelah Galang tertidur lagi. Lili kembali memeriksa kulkas memastikan ada makanan yang bisa dimakan untuk mengganjal perut. Namun, isinya tak berubah dia hanya menemukan tomat, wortel dan sayuran hijau lainnya seperti pertama kali dia membuaknya.

Lili menyenderkan tubuhnya di sofa, dia memegangi perut sembari melahap tomat.

“Haruskah minum air yang banyak?” pikirnya dengan mengisi perutnya dengan air minum dia bisa kenyang.

Lili merebahkan tubuhnya di sofa saat mendengar suara decitan pintu kamar, dia bersembunyi agar Galang tidak melihatnya.

Galang pergi menanak nasi, sembari meracik sayuran. Sesekali Lili mengintip aktivitas Galang.

“Apa dia memasak?” gumamnya.

Galang tidak bisa mengabaikan penderitaan sang nona, dia sudah berusaha tidak peduli tapi rintihannya membuat dia tidak bisa tidur.

“Bangun!” suruh Galang.

Dia meminta sang Nona untuk segera pindah tempat, setelah dia menyelesaikan masak dalam waktu kurang lebih satu jam. Lili mengikuti Galang tanpa protes, tanpa di suruh dia langsung mengambil nasi ke piring beserta lauk. Dia makan dengan lahap.

“Pelan-pelan,Nona, kamu seperti belum makan sejak kemarin,” kata Galang melihat nona muda seperti orang kelaparan. Keanggunannya mendadak menghilang.

“Memang dari kemarin aku belum makan,” ujarnya dengan mulut penuh.

Galang tertegun, mendengar jawaban dari Lili. Dia merasa bersalah, karena dia bisa makan enak sedangkan istrinya kelaparan. Dia lupa setelah perjalanan jauh itu, mereka langsung tidur.

“Kenapa kamu tidak makan, bagaimana kalau sakit?” omel Galang.

Lili menelan nasi di dalam mulutnya, “Apa yang harus aku makan?”

Galang menggoda Lili, dengan mengatakan kenapa tidak memakan hasil masakannya jika lapar.

“Kau saja tidak makan, kenapa aku harus makan?” kesalnya.

“Dasar nona muda,” batin Galang.

“Galang, kamu pandai sekali memasak dan membersihkan rumah. Bagaimana kalau kita bertukar posisi?” tanya Lili ringan.

“Tukar posisi?” Galang mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang dinginkan oleh istrinya itu.

Lili menjelaskan kalau Galang lebih ahli memasak, jadi dia akan mengambil alih dalam mencari nafkah. Karena dia lebih ahli berbisnis daripada mengerjakan pekerjaan rumah.

“Nona, kamu bukan keluarga Sudarmono lagi. Apa yakin bisa mencari nafkah untukku?” tanya Galang.

Mencari pekerjaan sekarang ini tidak mudah seperti membalikkan tangan. Melamar langsung di terima, lagian Galang tidak yakin dengan Lili. Dia mengira bisa masuk ke perusahaan itu karena pemiliknya adalah ayahnya sendiri.

“Aku bisa mencari pekerjaan tanpa nama besar itu,” celotehnya tidak terima di remehkan oleh Galang.

Setidaknya dia memiliki dasar yang lumayan, dia juga sebenarnya calon pemimpin perusahaan Sudarmono hanya saja karena kasus dia langsung di pecat.

“Ok, aku akan mengizinkan kamu bekerja asal sudah bisa menguasai pekerjaan rumah. Cuci piring sekarang!” titah Galang.

Lili menahan Galang. “Galang, aku ini bos kamu. Kenapa kamu sekarang berani sama aku.

“Nona, kamu sekarang numpang hidup sama aku. Bagaimana bisa mengatakan kamu itu bosku?” ucap Galang.

Lili bersikeras tidak mau mencuci piring, dia berlari menuju kamarnya untuk menghindari pekerjaan itu. Dia sudah capek bergelut dengan barang-barang rumah tangga itu.

Galang berdesis, baru saja dia memelas seperti pengemis sekarang sudah bertingkah seperti nona muda lagi.

Galang menyusul sang nona, “Cepat cuci piring atau aku akan usir kamu dari sini,” ancam Galang.

Lili masih belum beranjak dari tidurnya. “Galang, ini sudah malam. Kenapa kamu menyiksaku. Aku bisa melaporkan kamu, karena sudah menelantarkanku.”

Galang mendengus, “Dasar bermuka dua,” umpatnya.

Galang merasa diperdaya oleh sang nona, dengan berpikir jika Lili sengaja menangis dan memelas agar dibuatkan makanan olehnya.

“Galang,” panggil Lili sembari membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Galang.

“Apa?” katanya datar.

“Bagaimana kalau kamu jangan memanggilku nona lagi, panggil aku Lili atau istriku,” ucapnya dengan wajah memerah karena malu. Dia berinisiatif mengatakan itu agar hidupnya lebih mudah.

Galang membuka mata lebar-lebar, dia berpikir apa gadis yang tidur di sampingnya itu sudah mulai jatuh cinta padanya.

“Tidak mau,” jawab Galang sembari memiringkan tubuhnya membelakangi Lili.

Lili mengerutkan kening, dia heran kenapa gadis secantik dirinya ditolak mentah-mentah oleh pengawalnya. Padahal di luaran sana banyak yang mengantre dirinya untuk menjadi suaminya. Dia yang dipilih justru menolaknya.

“Jangan berpikir macam-macam, Nona. Kita jalani seperti ini saja.”

Meskipun, mereka sudah menikah tapi bukan berarti Galang menginginkan Lili. Memang terdengar sadis, tapi tidak bisa pungkiri kalau dia masih belum mencintainya.

Masih banyak hal yang ingin dia raih, mimpi besar yang terkubur karena fitnah seseorang yang membuatnya terjebak menikah dengan Nona muda.

“Galang, kenapa?” Lili menggoyang-goyangkan tubuh Galang agar dia mau menatapnya. Dia meminta alasan jelas atas penolakannya.

“Nona, jangan terus memancingku. Saya bisa melakukan sesuatu hal yang tak pernah Nona bayangkan,” ucapnya dingin.

Lili menarik melepaskan tangannya, dia menarik mundur badannya. Dia takut kalau Galang nekat mengeluarkannya malam ini.

Dalam hati Lili mengatakan, jika dia akan membuat Galang bertekuk lutut kepadanya.

“Jangan panggil aku Lili, jika tak mampu membuatmu tunduk."

Terpopuler

Comments

Restu Apih

Restu Apih

pabaliyut.. karakter yg tidak konsisten

2024-05-06

1

Retno Palupi

Retno Palupi

wah lili jgn jgn dah cinta sama Galang?

2024-04-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!