"Di mana pria tua itu?" tanya Lili.
Lili mencari keberadaan Galang dari depan sampai lantai dua yang berfungsi sebagai tempat jemuran. Lili menghembuskan napas panjang, ia menduga Galang pagi-pagi sudah pergi karena ulahnya semalam.
Lili mengacak-acak rambutnya saat mengingat hal konyol yang dilakukan. Dia merasa tidak ada harga dirinya menjadi nona muda yang anggun. Kini dia merasa menjadi cewek agresif.
"Masih punya muka kah aku bertemu dengannya?" Menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia kemudian menepuk-nepuk wajahnya.
Lili berjalan ke luar rumah, siapa tahu Galang sedang duduk-duduk di luar. Namun, kosong tidak ada siapa pun.
Gadis itu kemudian memutuskan pergi ke ruang makan saat perutnya mulai lapar.
"Dia meninggalkanku tanpa makanan, apakah dia akan membunuhku secara perlahan?" ujarnya sedih.
Lili berprasangka buruk dengan Galang, ketika meja makan tidak ada isinya. Dia berpikir untuk pergi mengemis untuk mendapatkan uang agar bisa membeli makan dan kuota internet.
Semenjak keluar dari rumah dia tidak bisa menggunakan ponselnya karena tidak mempunyai sambungan internet. Dia agak menyesal ketika pergi tidak mendatangi asistennya untuk meminta bantuan.
Lili menggeleng dengan cepat, apa jadinya kalau orang tahu seorang nona muda dari keluarga Sudarmono menjadi pengemis. Pasti sangat memalukan, ucap dalam benaknya.
"Lili!" panggil Galang.
Lili langsung berlari ke arah suara Galang. Sesampai di depanya, ia terdiam penuh tanya, siapa orang yang dibawa oleh Galang? Ia memperhatikan dari ujung kaki sampai uung kepala.
"Jadi, ini seleranya?" batinnya.
Dalam benaknya berkecamuk, kenapa Galang lebih tertarik kepada perempuan paruh baya yang lebih pantas menjadi ibunya. Daripada dirinya yang masih pantas menjadi pasanganya.
Apa memang pesona perempuan matang lebih menggoda? Daripada dirinya yang sama sekali belum memiliki pengalaman.
Galang menjentikan jarinya, saat mendapati Lili yang melamun. Dia ajak bicara hanya diam dengan terus memandang orang berada di sampingnya.
"Iya, ada apa?" tanya Lili.
"Kenalkan, ini Bik Onah. Dia yang akan membantu kamu," kata Galang.
Galang memperkenalkan perempuan itu kepada Lili. Bik Onah mengangguk kan kepala sebagai tanda sopan santun kepada majikan barunya. Lili tersenyum lalu menarik tangan Galang menuju dapur.
"Galang, kenapa kamu buang-buang uang. Lebih baik kasih aku uangnya. Biar aku yang mengerjakan rumah," ujarnya dengan sangat yakin.
Lili merasa belum membutuhkan pembantu rumah tangga. Untuk makan saja mereka masih seadanya, bagaimana bisa membayar pembantu.
Lili berdalih jika dia mampu mengerjakan rumah, dan lebih baik membarikan uang kepadanya saja. Galang tertawa mendengar ucapan gadis kecil itu.
"Yakin bisa?" ucapnya remeh.
"Kau meremehkanku?" Lili berkacak pinggang.
Galang menjawab dengan anggukan cepat. Apa yang dilakukan kemarin sudah membuatnya yakin jika dia dibiarkan sendirian, dalam tiga hari rumahnya tidak akan berbentuk lagi.
Galang membawa Lili ke ruang tamu lagi, dia mengatakan tujuan adanya Bik Onah agar Lili ada yang menemaninya selama dia pergi.
Selain itu, Galang mengatakan kalau Bik Onah itu istri dari pamannya. Dia membawa ke rumahnya agar membantu Lili untuk belajar mengurus rumah.
Pria itu mengatakan jika dalam seminggu ini dia tidak akan pulang. Karena baru saja mendapatkan pekerjaan di kota. Dia hanya bisa pulang saat weekend.
"Aku ikut," pinta Lili.
Dia juga ingin mencari pekerjaan agar bisa menghasilkan uang sendiri. Dia tidak bergantung kepada Galang.
"Tidak, kamu di rumah," tolak Galang.
Dia mengatakan jika tidak bisa membawa Lili karena dia menginap di rumah majikannya. Bahkan dia akan sering bertugas keluar.
"Aku bisa menjaga diri," rengeknya.
"Tidak, kamu tetap di sini. Belajar mengurus rumah dengan Bik Onah," titah Galang.
"Benar Nona, lebih baik Nona belajar dengan saya. Pasti Nona tidak akan menyesal," bujuk Bik Onah.
Lili tidak setuju, ia merasa Galang ingin meninggalkannya. Ia pergi ke kamar lalu menjatuhkan tubuhnya di kasur. Dia telungkup sambil menangis.
Dia memaki Galang, jika dia hanya ingin lepas tangan. Tidak mau mengurusnya, padahal dia sudah menyelamatkan dirinya dari kematian.
"Nona, janganlah bersedih. Aku setiap minggu pulang," Galang datang membujuk.
"Kau pergi tanpa membawaku, apa kamu sengaja ingin membuangku?"
Isak tangis mulai terdengar, seperti seorang anak kecil yang merengek karena ditinggal oleh orang tuanya. Galang duduk di samping Lili.
"Nona, aku pergi hanya untuk bekerja. Bukan meninggalkanmu." Galang menjelaskan tujuan kepergiannya.
Galang menambahkan pasti akan kembali, dan segera membawa Lili ke kota, jika sudah berhasil nanti. Dia akan membahagiakan Lili.
Lili duduk, ia mengusap air matanya yang sudah membasahi seluruh wajahnya.
"Janji, kamu tidak akan meninggalkanku?" Lili mengulurkan jari kelingkingnya.
"Iya, janji," sambut Galang. Hati Galang mendadak berat meninggalkan Lili setelah melihat dia menangis.
Galang mengatakan kalau Lili harus belajar sungguh-sungguh kepada Bik Onah. Agar seminggu kemudian dia sudah bisa mengurus rumah tanpa bantuan Bik Onah.
"Bik, titip Lili ya. Marahi saja kalau dia nakal," ujar Galang.
Lili berdesis, dia itu sudah dewasa bukan anak kecil. Kenapa harus di titipkan. Dia juga mengatakan kalau mampu menjaga dirinya sendiri.
"Itu mobil siapa?" tanya Lili saat sampai di teras rumahnya.
Dia tidak tahu Galang datang membawa mobil hari ini. Kemarin Galang pergi berjalan kaki untuk sampai ke terminal.
"Apa kau membelinya?" ucapnya ragu.
"Oh, ini mobil majikan aku. Aku meminta izin membawa pulang untuk mengambil baju dan mengantar Bik Onah ke sini," Jawabnya sembari menekan tombol kunci.
Lili sedih melihat mobil di depannya itu, dulu dia memiliki banyak mobil. Tapi sekarang semuanya hilang dalam sekejab. Bahkan, mobil sekelas angkot saja dia tidak mampu membayangkan bisa membelinya.
"Kamu kenapa?" Galang memegang pundak Lili.
"Apa aku benar-benar tidak bisa ikut?" tanya Lili lagi. Dia masih menginginkan ikut bersama Galang, kos pun tidak masalah. Yang penting keluar dari desa kecil ini.
Galang mengusap rambut Lili, dia mengatakan jika sudah memasang wifi. Jadi dia bisa bermain ponsel sepuasnya setelah mengerjakan pekerjaan rumah. Dia tidak akan kesepian lagi.
Meskipun, dia sering berbicara dengan wajah datar. Galang diam-diam memperhatikan keresahan si nona.
"Menurut lah, jangan buat masalah. Maka aku akan segera membawamu ke kota," kata Galang.
Tangan Lili memegang kemeja Galang. "Kamu, akan pergi sekarang?"
Galang melepaskan tangan Lili, dia ingin segara pergi agar tak semakin berat meninggalkan dia. Wajahnya yang melas itu membuat Galang tidak tega.
"Boleh, tidak aku memelukmu?" tanya Lili.
Lili langsung memeluk Galang setelah mendapatkan izin darinya. Ia mengeratkan pelukanya, mencium aroma tubuhnya yang maskulin dari parfum yang dipakainya.
Galang membalas pelukan Lili, ia berbisik di telinganya, "Tunggu aku pulang, istriku."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Lolieta Widjaja
so sweet bgt sh chapter ini
2024-04-25
0
Retno Palupi
Galang berusaha cari nafkah biar kamu bahagia lily
2024-04-23
0
Dwi Winarni Wina
tunggu aku plg wahai istriku dan belajar yg rajin dan giat cpt bs mengurus rumahtangga dan dirumah jgn nakal istri kecilku.....
2024-02-25
1