Lili berpose sangat menggoda di depan kamera. setelah mendapatkan foto-foto yang bagus di mengirimkan kepada Galang.
"Murahan tidak, ya, aku?" ucapnya saat hendak menekan tanda pesawat di layar ponselnya.
Lili mengurungkan niatnya, dia pasti akan ditertawakan oleh Galang jika mengirimkan hasil foto nya.
Lili mendengus, dia menarik selimut sampai di dada. Dia kesal karena tidak ada pesan dari Galang, untuk sekedar menanyakan kabar dirinya.
"Dasar suami tidak perasaan, meskipun nikah terpaksa, tapi kan aku tetap istrinya," dengusnya sembari melipat tanganya di dada.
Lili berdecak, "Kenapa aku jadi gila, kenapa aku mendadak menginginkan dia?" tanya pada dirinya sendiri.
Lili mulai terjerat pengawal pribadinya yang berparas tampan itu, dia yang awalnya menikah demi keselamatannya kini berubah menjadi cinta.
"Tidak boleh, kamu tidak boleh jatuh cinta Lili. Semua akan segera berakhir," celotehnya.
Lili mencoba membuang perasaanya jauh-jauh, memang belum ada pembahasan lebih lanjut kepada Galang. Tapi, saat dia mengambil keputusan untuk menikah dengan Galang, dia akan meminta cerai.
Lili melemparkan ponselnya di samping dia tidur, kemudian memejamkan matanya. Dia ingin menghapus perasaan rindu kepada Galang malam ini. Dia juga berharap perasaan kepada Galang berakhir.
"Dasar, pria tua menyebalkan," gumamnya lalu kesadarannya mulai menghilang, menuju ke alam mimpinya.
...----------------...
"Gadis nakal!" komentar Galang.
Pesan berisikan foto Lili sedang berpose menggoda membuat Galang tersenyum. Dia merasa istri kecilnya itu sangat nakal karena terus menggodanya.
Galang memegang dadanya, ada debaran saat ia memandangi foto Lili. Gadis muda yang imut, walaupun kadang bikin kesal dengan tingkah polosnya.
"Dimas, aku akan pulang sekarang," Galang memakai jasnya. Membawa tas sembari menyambar kunci mobilnya.
"Baik, saya akan mengemudi mobilnya, Bos," Dimas meminta kunci mobil yang di bawa Galang.
"Aku bukan pulang ke rumah, aku akan menemui istriku," katanya.
"Tapi ini sudah malam, Bos, bagaimana kalau saya saja yang mengemudi," pinta Dimas.
Dimas takut atasanya itu capek, perjalanan untuk mencapai ke rumah sang istri memakan waktu satu jam lebih. Dia takut kalau sang bos mengantuk.
"Tidak usah Dim, kamu pulang saja. Besok kamu siapakan saja semuanya. Aku akan menyusul kamu ke tempat lelang," titahnya.
"Baik, Bos," jawab Dimas sembari menundukan kepala.
Galang melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, malam yang sepi dia bisa mengemudi seperti pembalap karena jalanan sangat sepi. Hanya satu dua mobil yang lewat jalan itu.
Mobil mewah Galang sudah terparkir rapi di halaman rumahnya, perjalanannya hanya memakan kira-kira 45 menit saja.
Galang mengetuk pintu, tak lama Bik Onih datang membuka pintu.
"Pulang kok tidak bilang, Tuan, Nona Lili sudah tidur," ujar Bik Onih dengan suara serak khas orang bangun tidur, matanya pun masih lengket karena dia baru saja terpejam.
"Iya, Bik, aku hanya mampir karena ketemu klien dekat sini. Bibi, bisa tidur lagi. Terima kasih ya," kata Galang.
"Tuan, mau makan atau minum?" tanya Bik Onih.
Galang menggeleng, dia menyuruh pembantunya itu untuk segera tidur kembali. Ia kemudian masuk ke kamar, segera menemui istri kecilnya yang nakal.
Galang membuka pintu pelan agar tak membangunkan Lili, ia menutup lalu mendekati ranjang.
"Dasar, nona kecil," katanya saat selimutnya sudah hilang dari tubuhnya.
Galang menyelimuti tubuh Lili, lalu ikut masuk ke dalam selimut. Dia memandang wajah Lili yang manis saat tidur.
Lili memang cantik, tapi saat tidur Galang melihat kecantikan yang berkali lipat. Karena dia sangat tenang.
Lili begerak memiringkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Galang. Galang kaget, wajah Lili begitu dekat dengannya.
Lili perlahan membuka matanya, "Galang," ucapnya pelan.
"Dasar, pria tua menyebalkan!" makinya.
"Aku? Pria tua?" gumamnya kesal.
Lili tiba-tiba tertawa pelan, lalu meringik. "Kau memang jahat, kenapa hanya datang dalam mimpi saja." Lili memukul dada bidang Galang. "Kau tega mengabaikan diriku!"
"Mimpi? Jadi dia mengigau." Galang bernapas lega.
Jantungnya sudah berdebar hebat saat Lili menatapnya lekat penuh kekesalan.
"Karena kau sudah datang ke mimpiku, maka aku tidak akan menyia-nyiakanmu," Lili memeluk tubuh kekar Galang.
"Marilah tidur bersama, di mimpi ini," sahut Galang sembari membalas pelukan Lili.
Cup!
Tiba-tiba Lili memberikan kecupan di bibir Galang, ia bergumam kenapa ini terasa sangat nyata.
Jantung Gilang bergemuruh, sentuhan Lili membuatnya tergoda. Ditambah tangan Lili mulai menyentuh dadanya. Memainkan perut sixpacknya.
"Ini benar-benar seperti nyata," katanya sambil tertawa. Dia dengan bebas menyentuh tubuh suaminya. Biasanya Lili mendekat, Galang menghindar.
"Kamu, mau mimpi ini semakin nyata?" bisik Galang di telinga Lili yang mendapat anggukan cepat oleh Lili.
Galang menarik tubuh Lili ke dalam pelukannya erat, dia mulai memberikan kecupan-kecupan lembut di bibir Lili.
"Aku akan membuat mimpimu indah malam ini," bisik galang lembut.
Galang bisa menahan lagi, ia memberikan ciuman yang cepat. Lili pun membalasnya dengan penuh penghayatan.
Galang mulai menelusuri leher Lili, dia memberikan kecupan-kecupan kecil di sana. Suara merdu dari Lili membuatnya semakin bersemangat.
Galang menghentikan aktivitasnya, saat bibirnya sampai di dada Lili. Dia tidak mau kelewat batas malam ini. Dia memang tergoda menginginkan lebih dari sekedar berciuman. Dengan pakaian nakal Lili.
"Kau mau ke mana?" saat Galang duduk di sampingnya.
"Apakah mimpi sudah selesai?" ujarnya lagi.
"Ya, mimpi sudah selesai. Tidurlah yang nyenyak istriku." Galang mengecup kening Lili lalu menyelimuti sampai ke dada.
"Kau sangat manis dalam mimpi," ucapnya lalu terlelap lagi.
Galang segera keluar dari kamar, sebelum hasratnya mencumbu istrinya timbul lagi.
Galang meneguk air putih satu gelas sekali habis, dia sedang mencerna apa yang baru saja dia lakukan. Kenapa dia tidak bisa menahan diri?
Dia sadar kalau malam ini dia sangat liar, sampai hampir lupa diri.
"Gadis kecil ini, membuatku benar-benar lupa diri," katanya.
Ia bergumam, bagaimana dia bisa dengan cepat datang ke rumah saat dia mendapati foto menggoda sang istri.
"Apa aku sudah tertarik?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Galang, segera pulang ke kota sebelum semakin terjerat oleh goda istri kecilnya itu. Galang mengirimkan pesan ke pada Bik Onih jika dia sudah pulang ke kota.
Dia meminta, untuk tidak mengatakan kepada Lili jika dia datang ke rumah.
Esoknya, Lili menggeliat meregangkan kedua tubuhnya. Lili duduk terdiam sembari memegangi bibirnya.
Ia merasa aneh pagi ini, "Mimpi semalam sangat gila. Aku merasakan dicium oleh Galang."
"Aah," dengus Lili. Dia menyimpulkan kalau dirinya sangat merindukan Galang.
Lili mengambil ponselnya, dia mengecek ponsel untuk melihat pesan dari sang suami. Siapa tahu dia juga merindukannya.
Lili membulatkan kedua matanya, "Lili, kamu bodoh sekali!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Retno Palupi
pelan pelan Lang 🤭🤭🤭
2024-04-23
1
Dwi Winarni Wina
Galang plg krn tergoda dgn istri kecilnya
2024-02-25
0
G
lanjut
2024-02-22
0