"Tumben anak ini diam saja," gumam Galang ketika ponselnya hening.
Biasanya hampir setiap jam pesan dari Lili masuk, dengan chat dan kiriman foto randomnya. Tapi hari ini, satu pesan pun tidak ada yang masuk.
Galang mulai kasak-kusuk tidak bisa tidur, pikirannya terus tertuju kepada si nona muda.
"Aargh! Gadis ini mulai nakal, sekarang dia mulai menguasai pikiranku," gerutu Galang.
Galang mengambil ponselnya, dia menurunkan gengsinya untuk menelpon sang istri.
"Halo," jawab Lili saat sambungannya terhubung.
Jantung Galang berdebar saat mendengar suara Lili. Suaranya yang lembut membuatnya tenang.
"Halo, pria tua, kau masih di situ?" tanya Lili ketika tidak ada suaranya.
"Anak kecil, bagaimana keadaan rumah? Kau tidak menghancurkannya kan?" ujar Galang.
Galang pura-pura menanyakan keadaan rumah, padahal dia ingin tahu kabar nona muda yang mulai membuatnya rindu.
"Jangan panggil aku anak kecil, Paman," ujarnya seperti suara serial kartun di televisi.
Galang terkekeh mendengar jawaban Lili, "Memang kau masih kecil."
"Jangan remehkan aku. Meskipun, seperti anak kecil aku susah bisa membuat anak kecil," celotehnya.
Galang semakin dibuat tertawa dengan jawaban-jawaban Lili, moodnya menjadi naik.
Sudah lama sekali dia tidak tertawa selepas itu ketika orang-orang yang dia sayang meninggalkannya sendiri melawan kejamnya kehidupan.
"Yakin kamu bisa?" Galang menggoda Lili.
"Kamu tidak percaya, coba saja," ceplosnya.
"Baiklah aku akan pulang sekarang," kata Galang.
"Tunggu, kenapa mendadak pulang?" tanya Lili heran.
"Bukankah kamu meminta aku mencoba membuat anak kecil denganmu," katanya dengan menahan tawa.
"Eh, bukan seperti itu," ujarnya. Lili mendadak takut Galang akan pulang.
Lili memang mengharapkan malam pertama, tapi mendengar Galang semangat membuat dia takut.
"Kau ini plin-plan sekali, kemarin menggoda terus, sekarang takut," komentar Galang.
"Galang, kapan kamu ajak aku ke kota. Aku bisa kehilangan banyak darah jika terlalu lama di sini," ujarnya menggalihkan pembicaraan Galang.
"Kenapa bisa?" Galang heran.
Lili mengubah panggilannya menjadi video call. Ia menunjukan bekas-bekas merah di lehernya. Ia terus nyerocos menyalahkan nyamuk dan serangga lainnya.
"Gadis ini benar-benar, ya," gumamnya sambil tertawa pelan.
Galang menjadi gemas dengan istri nakalnya itu. Mendadak dia ingin memeluk dan menciumnya.
"Kenapa kamu diam saja?" Lili kesal,dia banyak omong mulutnya sampai berbusa, tapi tak ada respon apa pun dari Galang.
"Belum saatnya kamu kembali ke kota," kata Galang.
"Menyebalkan sekali, kalau aku tidak bisa pergi. Tapi, aku bolehkan memberikan alamat ini sama Mila?" tanya Lili.
Mungkin saja Lili bisa kabur meninggalkan rumah, tapi dia ingat kata-kata mendiang ibunya. Jika dia harus patuh dan nurut sama suami.
"Boleh, tapi ingat kalian tidak boleh macam-macam," wanti-wanti Galang.
"Siap, aku akan menelpon Mila dulu," katanya sembari memutuskan sambungan teleponnya.
" Gadis itu memang seperti anak kecil," kata Galang sembari menggelengkan kepala.
Galang mendengus, dia kini merasa semakin rindu dengan Lili. Dia susah mulai menguasai hatinya juga. Malam ini ingin rasanya kembali pulang, tapi ia ada janji dengan keluarga mertuanya besok pagi.
Dia tidak akan melewatkan pertunjukan hebat nanti di rumah sang mertua.
...----------------...
"Mila, apa kau akan datang malam ini?" tanya Lili.
Dia langsung menelepon Mila setelah mendapatkan izin dari sang suami.
"Tidak bisa, aku besok ada meeting di rumahmu," jelas Mila.
"Meeting di rumahku?"
"Iya, kemarin di pelelangan perusahaan kita kalah. Ayahmu menginginkan kerja sama dengan Gumintang grub," cerita Mila.
Mendengar kata rumah, Lili merasa kangen dengan sang ayah. Meski hatinya masih sakit, tapi dia tetap ayahnya. Orang yang membesarkannya, sampai dia bisa memimpin perusahaan di umur yang masih muda ini.
"Kamu menangis?" tanya Mila.
"Tidak," Mila mengusap air matanya cepat.
"Lili, besok sudah week end, Galang akan pulang, apa kamu sudah menyiapkan semuanya?" Mila mengubah topik pembicaraanya.
"Apa yang perlu ku persiapkan? dia saja tidak menyukaiku," ucapnya lemah. Moodnya belum kembali setelah membahas keluarganya.
"Dandan lah yang cantik, aku akan kirimkan baju dinas besok," kata Mila. Ia juga menambahkan akan memberikan obat yang membuat Galang tidak bisa lepas darinya.
"Sudahlah, lupakan semua itu. Aku mau menyerah saja. Aku tutup dulu," Lili mematikan sambungan teleponnya.
Lili sudah pesimis saja, Galang bukan orang yang mudah untuk tergoda. Jadi, dia tak mau buang-buang waktu menggodanya.
Dia tidak mau semakin sakit, mengingat dia menghubunginya hanya menanyakan keadaan rumah bukan dirinya.
"Lili, ayo makan malam dulu," ajak Bik Onah sembari mengetuk pintu kamar Lili.
"Iya, Bik," jawab Lili.
Lili membolak-balik makanannya, ia tidak berselera makan.
"Apa makananya tidak enak?" tanya Bik Onah.
"Enak kok, cuma Lili sedang tidak berselera saja," ucapnya dengan senyuman kecil.
"Apa kamu sakit?" Bik Onah cemas.
"Lili baik-baik saja,Bik, aku tidur dulu ya." Lili mendorong piring kemudian bergegas masuk ke kamarnya lagi.
Bik Onah yang cemas lalu menghubungi majikannya tentang perubahan mood si nona. Ia mengatakan mungkin Lili stres karena terus berada di rumah.
Belajar mengurus rumah, nonton televisi dan memainkan ponselnya. Pasti membuat dia jenuh.
Galang meminta Bik Onah untuk mengajak istrinya jalan-jalan sekitaran desa saja. Atau pasar-pasar di dekat desa agar dia menemukan hal baru.
...----------------...
"Bos, mau ke mana?" tanya Dimas melihat Galang buru-buru menuruni tangga.
"Pulang," jawabnya sembari memakai jaket.
Dia tidak bisa tenang mendengar laporan dari pembantunya. Agil ingin berada di samping Lili.
"Pulang ke mana Bos? ini kan sudah di rumah?" Dimas heran.
"Aku akan menemui istriku, kamu undur jam bertemu keluarga Sudarmono,"titah Galang.
"Bos, suka ya sama Lili," Dimas menggerak-gerakkan alis.
Galang tidak menggubris ocehan sekretarisnya itu. Dia menurunkan gengsinya kembali, untuk menemui istri kecilnya.
Ia bahkan naik motor untuk menghemat waktu perjalanan, selain itu menghindari kemacatan di pagi hari.
Sekitar 35 menit Galang sampai di rumahnya. Ia bergegas masuk ke kamar. Memastikan sang istri baik-baik saja.
ia menyusup masuk ke dalam selimut yang menutupi tubuh sang istri.
"Selamat malam, sayang," bisiknya di telinga Lili.
"Kau, selalu hadir dalam mimpiku kenapa?" rengeknya lirih.
"Kenapa kau tidak datang ke dunia nyataku? Kau begitu membenciku?"tanyanya, samar-samar ia melihat wajah tampan Galang.
"Kau tahu, aku selalu ingin bercerita sama kamu. Tapi kamu itu pria tua tidak punya hati!" maki Lili lagi.
"Apa kamu mabuk?" tanya Galang.
Ia mengendus area mulut Lili, memastikan ada bau alkohol atau tidak. Galang lega, ternyata istrinya mengigau. ia menarik sang istri dalam pelukanya dengan erat.
"Sabar, ya, sayang, aku segera akan memboyongmu ke kota."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Uba Muhammad Al-varo
Galang udah benar2 cinta dan suka ke Lili
2024-11-26
0
Retno Palupi
Galang g kuat jauh dr istri kecil nya
2024-04-23
0
merry jen
tp hncriin dluu klurga lili bkin mrk jdi gembell br boyong lili kekotaa
2024-02-24
1