“Bersihkan rumah ini, jangan lupa memasak,” katanya seraya mendorong tubuh Lili sampai berdiri.
Lili mengerjapkan kedua matanya, jantungnya berdebar tidak karuan karena wajah Galang yang sangat dekat dirinya. Otaknya sudah berpikir, apa yang akan dia lakukan jika Gilang mencium dirinya? Dia belum siap mendapatkan itu, dia masih bingung bagaimana membalasnya.
“Kenapa bengong?” tanya Galang.
Lili meringis lalu mengibas-kibaskan kedua tangannya. “Kita kan suami istri, bisa kan melakukan bersama?” ujar Lili.
Lili tidak mungkin bisa melakukan semuanya, dia biasanya dilayani oleh orang. Bahkan, minum pun sudah tersedia.
“Kalau aku membantumu, siapa yang akan bekerja mencari nafkah?” Galang mendekatkan wajahnya kembali.
“Ok, kamu segera pergi mencari pekerjaan. Aku akan membereskan rumah dan memasak untukmu,” ucap Lili. Dia mendorong Galang tubuh Galang agar menjauh darinya.
“Hati-hati di rumah, jangan membukan pintu selain aku," titah Galang.
Dia menasihati Lili seperti kepada anaknya, takut Lili ceroboh tanpa pengawasannya.
“Ok, ok, cepatlah bawa uang yang banyak. Dan ajak aku pergi dari sini,” kata Lili sembari mendorong Galang keluar dari rumah.
Lili memandang rumah kecilnya, lumayan kotor mungkin karena sudah tidak ditempati lumayan lama sehingga debu ada di mana-mana.
“Aku harus mulai dari mana?” tanya Lili pada dirinya sendiri.
Lili masuk ke kamar, baginya yang bersih pertama kali harusnya kamar. Tempat untuk dia istirahat. Lili hanya menyapu dan melipat selimut sebisanya. Dia memandang kamar kecilnya yang lumayan rapi dan bersih.
“Ternyata aku bisa melakukannya,” ucapnya sembari berjalan keluar untuk mengambil pel.
Lili menjatuhkan tubuhnya di sofa, rasa capek sudah mulai menyerang badannya. Padahal baru menyelesaikan kamarnya saja.
“Ternyata tidak mudah menjadi ibu rumah tangga,” keluhnya.
Lili tiba-tiba bangun melihat jam, waktu berjalan dengan cepat. Dia takut kalau sore belum menyelesaikan pekerjaannya bisa ditinggal pergi oleh Galang. Lili dengan secepat kilat menyapu dan mengepel lantai. Dia hanya membutuhkan waktu 10 menit untuk membereskannya.
“Saatnya memasak, apa yang harus aku masak?” Lili menggaruk kepalanya.
Lili membuka kulkas melihat sayur-sayuran, entah sejak kapan sayuran itu ada di dalam kulkas.
“Ini sayuran masih segar, apa Galang pergi pagi-pagi sekali?” tanya pada dirinya sendiri.
Gadis itu mengambil sayuran yang ada di kulkas, dia memotong sesuka hati. Lili mengambil ponsel yang ada di kantongnya untuk meniru di youtube. Dengusan keras keluar dari Lili, dia tidak memiliki akses.
“Semiskin ini aku sekerang,” gerutunya.
Padahal baru satu hari dia keluar dari rumahnya, tapi dia langsung miskin tak memiliki apa pun. Mengingat dia tak memiliki apa-apa lagi, Lili kembali fokus kepada masakannya. Dia tidak mau diusir oleh Galang karena tidak becus mengerjakan pekerjaan rumah.
“Bagaimana aku menghidupkan kompor ini?” Lili mengerutkan keningnya, dia menggaruk kepalanya.
Dia berlari keluar rumah melihat sekitar, siapa tahu ada orang yang bisa diminta tolong. Namun, harapannya pupus, tidak ada orang yang berada di sekitar rumahnya. Dia menggerutu kenapa Galang memiliki rumah yang jauh dari kerumunan orang.
Lili bersusah payah menghidupkan kompor, dengan segala usahanya dia bisa menghidupkan. Setelah dia berdiri sekitar 15 menit seraya menekan knop beberapa kali.
Dia mengambil wajan, lalu menuang minyak. Dia memasukkan semua bumbu lalu mengaduknya. Dia berusaha mengingat chef yang memasak untuknya dulu.
Mata Lili sudah tidak mampu untuk terjaga, angin semilir yang memasuki ruang tamu karena pintu dia biarkan terbuka lebar-lebar.
Dia melupakan pesan dari Galang agar menutup pintu dan jangan membiarkan orang masuk kecuali dirinya.
Galang berlari saat melihat pintu rumahnya terbuka lebar, jantungnya suda tidak karuan takut sang nona dijahati orang. Galang menghela napas melihat Lili sedang tidur.
“Ceroboh banget sih?” omel Galang.
Galang menggendong Lili, dia melihat istrinya itu terlihat sangat lelah. Saat melewati meja makan, Galang menghentikan ayunan kakinya.
Matanya mendelik melihat kekacauan yang ada di dapur, Gilang buru-buru membawa ke kamarnya. Dia tidak sabar melihat kekacauan apa lagi yang dilakukan oleh istrinya.
Galang bisa bernapas lega melihat kamarnya bersih dan lumayan rapi daripada di luar. Saat Galang hendak menidurkan Lili, kakinya menginjak genangan air sampai dia oleng.
Baru saja mau bernapas lega, sudah dibuat jantungan. Untung saja gadis itu terjatuh di kasur. Meskipun, tubuhnya tertindih dengan Galang. Setidaknya kepalanya tidak benjol.
“Bisa-bisanya masih tidur,” katanya sembari menarik diri.
Galang segera membereskan kekacauan yang ada di dapur, harusnya dia tidak membiarkan nona muda itu untuk mengurus rumah.
Masih untung rumah ini hanya kacau belum terbakar ujar Galang dalam hati.
Tak hanya membersihkan dapur, Galang pun mengepel ulang lantai. Lantai yang dipel Lili bukanya bersih, tapi justru berubah kotor.
“Eh, kenapa aku bisa di kamar?” katanya saat membuka mata.
Ia bergegas keluar menuju ke luar, dia mengingat belum menyelesaikan pekerjaan rumahnya.
“Awas licin!” teriak Galang.
Namun, peringatan itu terlambat Lili sudah menapakkan kakinya di lantai yang sedang di pel oleh Galang. Lili terjatuh telentang.
“Aah,” rintih Lili seraya memegangi pinggangnya.
“Makanya kalau jalan hati-hati, kenapa ceroboh banget,” omel Galang. Dia segera membantu Lili berdiri.
“Kamu kok sudah pulang?” tanya Lili.
“Untung saja aku pulang cepat, kalau tidak mau jadi apa rumah ini?” sindir Galang.
Lili menatap Galang nanar, dia meminta maaf dan segera membereskan kekacauan yang dia buat. Gadis itu tadi hanya ingin beristirahat sebentar saja. Tapi, dia kebablasan. Maklum nona muda yang jarang melakukan pekerjaan rumah, mendadak harus mengerjakannya pasti akan sangat kelelahan.
“Kau sudah membersihkan semua?” ucapnya sembari mengusap tengkuknya.
Galang tidak menjawab, dia menaruh pel lalu duduk di meja makan. Dia melihat masakan yang dibuat oleh sang nona muda.
“Apa kau sudah menanak nasi?” Galang menoleh ke arah Lili.
Lili menepuk keningnya, dia lupa memasak nasi. Yang dia pikirkan hanya memasak lauk lalu membersihkan rumah.
“Lalu kita mau makan apa?” Galang menyenderkan tubuhnya.
Dia berpikir gadis ini memang tidak bisa diandalkan. Untung saja dia sudah makan sebelum pulang. Jadi dia belum merasakan lapar.
“Biar aku memasak.” Lili bergegas memutar tubuhnya menuju dapur.
Belum ada satu menit di dapur, Lili sudah kembali ke hadapan Galang.
“Berasnya di mana? Terus masaknya bagaimana?” katanya sambil tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rapi.
Galang mendengus. “Apa kamu memang tidak bisa melakukan apa –apa, wahai Nona?” tanya Gilang.
“Aku bisa berbisnis,” ucapnya dengan bangga.
Galang memegangi kepalanya, menikahi Lili benar-benar sebuah musibah. Dia seperti sedang mengajari seorang anak bayi yang hanya bisa makan dan menangis.
Galang meminta untuk Lili tak usah memasak, dia sudah makan dan ingin istirahat setelah seharian capek bekerja.
Lili memegangi perutnya, dan berkata lirih, “Tapi aku belum makan?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
PANJUL MAN
udah tau isterinya tidak pernah memasak , malah disuruh masak tanpa mengajarinya lebih dulu pastilah kacau
2024-04-25
0
Emn Sc
harus sabar lang . dikit. dikit....alah bisa karena biasa
2024-04-24
0
Retno Palupi
gpp lang diajari masak dulu kl udah biasa baru ajarin lainnya
2024-04-23
0