“Kenapa dia tidak mau menyentuhku? Apa aku tidak menarik?”
Lili berdiri di depan cermin memandang tubuhnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. Mungkinkah ada yang salah dengan dirinya? Kenapa, Galang tidak mau menganggap dirinya sebagai istrinya. Dia lebih suka menjalin hubungan masing-masing.
“Aku masih cantik, tubuhku juga bagus,” Lili memuji dirinya sendiri.
Dia memutarkan tubuhnya, berjalan berlenggak-lenggok bak model di depan kaca. Lili membuka koper untuk mengetahui apa saja pakaian yang masukan oleh asisten rumah tangganya.
Lili mencoba baju yang bagus untuk menyambut kedatangan Galan malam ini. Dia akan melancarkan rencananya. Dia ingin tahu, apa Galang masih akan menolak dirinya lagi?
“Apa aku terlihat seperti anak kecil?” ucap Lili seraya menggigit ujung kuku ibu jarinya.
Otaknya terlintas dengan perbedaan usianya dengan sang pengawal. Perbedaan umur yang sekitaran tujuh tahun membuat dia seperti keponakan dengan paman menurut dirinya. Lili menjentikkan jarinya, dia mengacak-acak bajunya mencari baju yang paling cocok untuk dipakainya.
Galang mendorong pintunya yang tertutup rapat, semenjak tinggal bersama dengan Lili hatinya tak tenang saat bepergian. Dia ingin segera pulang, bukan karena dia pengantin baru. Melainkan, memikirkan apakah rumahnya baik-baik saja ditinggal dengan mantan majikannya.
Galang merasa cemas melihat rumahnya yang gelap, padahal jam masih menunjukkan pukul enam sore. Dia menekan saklar, ruangan masih rapi seperti pagi sebelum dia tinggal.
“Lili,” panggilnya pelan.
Galang mendorong pintu kamar cepat, memastikan sang nona ada di dalam. Galang kembali bernapas lega melihat Lili sedang berada rebahan di atas ranjang.
“Kamu kenapa mematikan semua lampu, kamu pikir, ini rumah hantu?” celoteh seraya Galang menekan saklar.
Galang melebarkan kedua matanya saat melihat Lili yang sedang berjalan menuju dirinya. kemeja putih menerawang jauh dari lutut membuat dia menelan ludah. Di tambah dengan gerakan tangan Lili yang mengibaskan rambutnya membuat Galang tergoda.
“Dari mana dia mendapatkan kemeja itu?” batin Galang.
Malam ini Lili tampak berbeda, dia bukan seperti nona muda yang dia kenal selama ini. Nona muda yang terlihat anggun dengan pakaian sopannya.
“Kamu sudah pulang?” katanya sembari memiringkan kepalanya.
Galang mengangguk sambil membuang muka, dia tidak bisa memandangi gadis kecil yang berubah nakal.
“Kenapa kamu tidak memandangku?” Lili menarik dagu Galang. Membiarkan dia memandangi wajahnya.
Lili tersenyum manis, tangannya menarik Galang menuju kasur untuk istirahat setelah seharian sibuk bekerja. Namun, Galang menolak, dia mengatakan ingin mandi.
Lili mendengus, caranya menggoda Galang dengan menggunakan pakaian seksi tampaknya gagal total. Dia menyimpulkan kalau Galang memang tidak tertarik dengan dirinya.
“Apa masih kurang seksi?” Lili memandangi kemeja yang di pakainya.
Lili beropini lain setelah dia ingin menyerah menggoda Galang. Lili membuka dua kancing kemeja bagian atas, lalu berpose seksi sampai kakinya yang mulus terlihat secara sempurna.
Dia berpikir tidak akan ada lelaki yang menolak melihat tubuhnya yang molek, dan senyuman manis yang tampak menggoda.
Galang berhenti di depan pintu, mendengus melihat tingkah Lili. Gadis itu semakin menjadi, setelah dia ambaikan bukanya menyerah malah semakin berani.
“Kenapa masih berdiri di situ?” tanya Lili. Dia menepuk kasur agar Galang tidur di sebelahnya.
Galang menaruh handuk, kemudian masuk ke dalam selimut. Dia tidur membelakangi Lili. Lili sangat kesal karena Galang sama sekali tak mau meliriknya.
“Galang?” panggil Lili kesal.
Galang menjawab dengan datar tanpa memandang Lili. Dia berusaha memejamkan mata agar tidak diganggu olehnya.
“Apa kamu memiliki pacar di luar sana?” tanyanya Lili putus asa.
Dia sudah berdandan seperti cewek nakal agar dilirik oleh Galang, tapi nyatanya Galang tidak tertarik sama sekali dengannya.
“Tidak ada,” jawabnya singkat. Dia sengaja tidak ingin berinteraksi banyak dengan Lili.
Lili masih tidak kehilangan akal, ia mendekati Galang, berbisik lembut di telinganya menanyakan Galang, apa dia tidak menyukai perempuan sampai tidak mau melihatnya.
Pria bertubuh kekar itu refleks berbalik, Lili yang kaget sampai tidur berada di kungkungan Galang.
Jantung keduanya beradu, suhu badan Lili meninggi. Melihat tatapan tajam Galang bukanya takut justru melelehkan hatinya. Selama ini Lili tidak memperhatikan Galang, kali ini dia terpesona dengan pria berwajah tampan dan bertubuh atletis.
"Kenapa aku tidak pernah sadar, kalau Galang sangat tampan," batinnya.
Lili mendadak takut jika dia berhasil menggoda Galang, padahal dia menggoda hanya untuk meminta perhatiannya saja. Bukan benar-benar untuk berhubungan lebih jauh. Dia masih takut melakukannya.
Galang semakin menurunkan tubuhnya, Lili memejamkan matanya. Dia merasa malam ini akan mendapatkan serangan dari Galang. Dia pikir tebakannya benar, kalau semua laki-laki tidak akan pernah tahan dengan tubuh seksi.
“Jangan mesum, aku tidak akan tergoda,” bisiknya membuat Lili langsung membuka matanya lebar.
Galang menarik selimut, lalu membalut tubuh Lili. Dia mengatakan agar Lili tidak memakai baju seksi kalau dia tidak mau masuk angin. Galang membawa bantal keluar dari kamarnya.
“Dasar, lelaki tua!” teriak Lili sembari berusaha keluar dari lilitan selimut.
Galang merebahkan tubuhnya di sofa, dia memilih pindah tidur di sofa untuk menjaga kewarasannya. Dia memegangi jantungnya yang berdegup kencang, dia lelaki normal pasti tergoda dengan penampilan Lili. Penampilan yang sangat cantik dan berani.
Sekuat tenaga dia menahannya agar dia tidak melakukannya. Sampai dia benar-benar memiliki perasaan untuk nona kecil. Meskipun, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk mencicip setiap inci tubuh cantik sang nona.
“Bisa-bisa gila aku, gadis kecil itu mulai nakal,” ujarnya.
Galang menggerutu, bagaimana dia membentengi diri jika Lili terus memakai pakaian mini, dan memeperlihatkan bentuk tubuhnya. Bisa-bisa dia khilaf.
Sedangkan Lili masih mondar-mandir di depan cermin, kembali melihat dirinya. Kegagalan menggoda Galang membuat dirinya overthinking tentang dirinya sendiri. Dia insecure dengan tubuhnya.
“Apa aku harus perawatan agar memiliki tubuh yang lebih berisi?” katanya sembari melihat ke arah dua asetnya.
Lili beranggapan Galang tidak tertarik karena dia memiliki tubuh yang langsing, dan aset yang tidak menariknya seperti anak sekolah. Sama sekali tidak menggoda.
Lili terus mencari tahu apa yang membuatnya gagal, di mana letak kesalahnya. Kenapa jurus jitu seperti itu tidak mempan kepada Galang.
Lili menjatuhkan tubuhnya, lantas mengatakan dengan putus asa, “Dari mana aku memiliki uang untuk melakukan perawatan?”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 87 Episodes
Comments
Retno Palupi
lili kl blm berani g usah maksa
2024-04-23
1
Dwi Winarni Wina
hadiiiiii thor dan nyimak,,,,Dasar gadis kecil nakal berani menggoda galang,,,,lama2 digodain terus pertahanan galang gagal,,,,
2024-02-24
1
Nia Nara
Ceritanya seru thor. Lain daripada yg kebanyakan 👍🏻
2024-02-21
0