Bab 3

“Brak!”

Mata Lili memandang pintu yang terbuka kasar karena dorongan dari sang Ayah. Dia berlari mendekati ayahnya.

“Pa, Lili tidak bersalah,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Dia meyakinkan ayahnya bahwa dirinya tidak bersalah. Dia dijebak oleh seseorang, yang tidak ia ketahui siapa.

Agus menghempas tangan putrinya kasar. Emosinya belum juga reda.

“Besok kamu akan menikah dengan pengawalmu itu,” titah Agus membuat Lili kaget.

“Menikah? Papa bercanda?” Lili tidak percaya dengan permintaan konyol dari ayahnya.

“Sayang, aku tidak setuju.” Rida kembali menyampaikan keberatannya.

Sang istri terus menekankan jika pernikahan Lili dengan pengawalnya itu bukan ide yang bagus.

“Papa tidak bercanda, ini satu-satunya jalan untuk menutupi aib yang kamu buat.” Agus menegaskan pendiriannya.

“Aku dan Gilang tidak berbuat apa-apa. Lili tidak mau menikah,” tukasnya tak kalah sengit.

Lili tidak mau menikah karena terpaksa, dia menginginkan pernikahan selayaknya pasangan lain; menikah atas dasar cinta, dengan proses pengenalan.

“Sayang, apa tidak ada cara lain? Ini bisa menurunkan martabat keluarga kita,” sang istri mencoba menasihati suaminya.

Keluarga Agus Sudarmono memiliki bisnis, kekuasaan dan pengaruh yang besar. Perusahaan raksasa itu bisa diinjak-injak oleh perusahaan lain jika mengetahui anak gadisnya menikahi seorang pengawal.

“Sayang, ini salah pengawal itu. Kenapa kamu menyiksa anakmu sendiri?” Rida mendekati anak tirinya, dia memeluk memberikan dukungan.

“Galang tidak bersalah, Ma. Orang yang tidak bertanggung jawab itu yang salah. Ia menjebak kami.” Tatapan sang putri tajam, napasnya sedikit memburu mendengar sang pengawal setianya terus disalahkan.

“Sayang, jangan terkecoh dengan perilakunya. Coba pikir, siapa orang yang mampu merencanakan semua serapi ini?” Rida menggiring opini lain tentang orang yang menjebak Lili.

Ia menambahkan bahwa mereka hanya punya bukti berupa foto-foto, yang jelas menyudutkan sang nona, tidak ada jejak dari orang yang dituduh sebagai penjebak kecuali pengawal pribadinya sendiri.

“Lili, jangan terlalu percaya dengan orang lain. Kadang orang terdekat mampu melukai,” imbuh Rida bermaksud menyudutkan Galang.

Lili melirik ke arah ibu tirinya, lontaran katanya mengingatkan pada dugaan sang pengawal.

“Kalau memang aku tidak boleh mempercayai Galang, berarti aku juga harus mencurigai mama,” desisnya dengan tatapan dingin.

“A-aku?” Rida gugup ketika Lili berbalik mencurigainya.

“Mama berada di sana saat kejadian itu berlangsung. Mama datang dengan para wartawan dan orang-orang bertubuh besar,” tuduh Lili sembari mengingat semua kejadian memalukan itu.

Agus mengalihkan pandangannya kepada sang istri, meminta penjelasan dari pernyataan putrinya.

“Kamu mencurigai mamamu sendiri?” Rida tertawa dibuat-buat, sembari menggelengkan kepala seolah perasaannya terluka atas tuduhan sang anak tiri.

“Ya, kalau memang Mama tidak mau dicurigai, kenapa Mama berada di sana?” Lili mengejar jawaban dari Rida.

“Mama datang ke sana karena ditelepon teman mama. Katanya ia melihat kamu masuk ke kamar hotel semalam.” Rida beralasan.

“Lalu para wartawan?”

“Mama tidak tahu, Lili. Saat Mama datang sudah banyak wartawan yang meliput. Dan pihak kepolisian yang mendobrak pintu,” jelas Rida dengan ekspresi terluka atas tuduhan anak tirinya.

Rida sudah mengatur semua itu, dari jawaban serta alasan-alasan yang masuk akal sehingga ia tidak dicurigai oleh suaminya.

“Sayang, aku datang ke sana untuk membantu. Tapi, kenapa Lili justru menuduhku?” Rida memeluk lengan sang suami yang sejak tadi berwajah suram.

“Cukup, Lili! Kamu harus menanggung semua kesalahanmu. Jangan terus menyalahkan orang lain!” bentak Agus keras.

Lili mendengus, tangannya tergenggam erat, ia tidak percaya sang ayah lebih memilih percaya dengan ibu tirinya yang baru dinikahinya selama kurun waktu dua tahun, ketimbang putrinya sendiri.

“Lili tidak mau menikah, apapun alasannya karena aku tidak bersalah!” tolak Lili tegas.

Agus menganggukkan kepala sembari mendengus keras. “Lihat saja apa yang bisa Papa lakukan!” ucapnya sengit.

Pria itu menempelkan ponsel di telinganya, lalu memberikan perintah kepada seseorang dengan suara keras, “Bunuh dia!”

Mata sang putri terbelalak mendengar perintah Agus. Ia memahami niat ayahnya yang begitu mengerikan.

“Tidak! Jangan!” Lili berlari mengikuti Agus menuju ruangan di mana sang pengawal disiksa.

Sebetulnya gadis itu belum bisa mengambil keputusan. Menikah dengan pengawal pribadinya bukanlah impiannya. Namun, dia tidak bisa membiarkan orang yang telah menjaganya selama ini mati sia-sia. Nyawa sang pengawal kini berada di tangannya.

“Berhenti!” teriaknya sekuat tenaga.

Kaki Lili lemas melihat badan sang pengawal penuh dengan luka cambuk dari anak buah sang ayah.

“Tuan, hentikan! Jangan sampai Galang mati,” bujuk Indrajaya, sang tangan kanan.

“Indrajaya, biarkan saja pengawal busuk ini mati. Dia telah menghancurkan masa depan anakku,” maki Rida.

“Jadi bagaimana putriku? Kamu mau menikah atau dia akan mati!” Agus menodongkan pistol di pelipis Galang.

“Iya, aku mau menikahi dia,” ucap sang putri sembari menatap pria yang tak berdaya di depannya itu.

Agus memberikan perintah agar Galang dilepaskan.

Lantas lelaki paruh baya itu mendekati putrinya.

"Bersiaplah, Lili, pernikahannya akan dilangsungkan besok pagi." ujar Agus kepada putrinya. "Tidak akan ada pesta, karena Papa merasa malu dengan kelakuan anak perempuan Papa."

Lili tersenyum kecut, sosok bapak yang selama ini dia banggakan tega memperlakukannya seperti sampah. Bahkan untuk sekedar mendengarkan penjelasannya pun ia tak mau. Ayahnya memilih harta kekayaannya daripada darah dagingnya sendiri.

Namun, demi nyawa sang pengawal yang tak bersalah, Lili ikhlas menerima permintaan Agus.

Sedangkan sang mama meninggalkan ruangan penyiksaan, dia kesal dengan keputusan sang suami. Bujuk rayunya tak mempan untuk mengubah pendirian sang suami.

...----------------...

“Dengan tubuh yang sebesar ini apa kau tidak bisa melawan?” ucap Lili sengit seraya mengobati memar di wajah pengawalnya. Pria itu masih tidak sadarkan diri.

“Siapa sebenarnya yang jahat sama kita, Galang?” gumam Lili sendirian.

Dia masih kecewa karena tidak mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari sang ayah. Bahkan, ayahnya tak mau mencari orang yang telah menjebaknya.

Sang ayah terlalu percaya dengan foto-foto yang mungkin saja bisa direkayasa. Ayahnya sudah dikuasai emosi yang membuatnya kehilangan rasa kasihan kepada anak kandungnya sendiri.

Lili membuka pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Matanya melebar ketika membaca pesan tentang pemecatan dirinya di tempat kerja.

“Halo,” Lili menelpon orang yang baru saja mengirim pesan kepadanya.

“Lili, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa barang-barang kamu dipindahkan?” tanya Mila, sahabat sekaligus sekretarisnya di kantor.

“Apa? Ini tidak benar!” Lili memutuskan sambungan teleponnya.

Gadis itu beranjak meninggalkan sang pengawal untuk menemui ayahnya. Dia bisa menerima menikah dengan sang pengawal, tapi ia tidak bisa terima bila ia harus kehilangan pekerjaannya.

“Papa! Papa!" Lili memanggil sang ayah tetapi tak berhasil menemukannya.

"Indrajaya, di mana Papa?” tanya Lili kepada sang tangan kanan yang sedang berada di meja kerja sang ayah.

“Tuan sedang pergi dengan Nyonya. Ada yang mau Nona sampaikan?” sahut Indrajaya.

Sang nona menggelengkan kepalanya, dia hanya ingin bicara langsung dengan sang ayah.

“Nona, ikuti saja apa yang dititahkan Tuan. Semua ini demi kebaikan Nona,” Indrajaya menasihati putri majikannya itu.

Ia mengatakan kalau semua hal yang dilakukan sang ayah untuk menjaga martabatnya. Agar sang Nona tidak dianggap remeh oleh orang-orang.

“Indrajaya, apakah kamu tahu tentang barang-barangku yang dikeluarkan dari kantor?” tanya Lili.

“Dikeluarkan?” Indrajaya kaget.

Pria itu menghela napas, lalu berucap, “Mungkinkah Tuan ingin mengganti posisi Nona?”

Lili tak berkata lebih lanjut. Ia menggenggam erat tangannya, dan pergi meninggalkan sang kepala rumah. Gadis itu menyimpulkan jika jebakan ini berhubungan dengan pekerjaannya.

Ia menggeram putus asa, memperkirakan situasi yang tak jelas dan tak mungkin membaik untuknya. “Benar-benar tidak beres! Oh, Tuhan, apa yang harus kulakukan?”

Terpopuler

Comments

Dwi Winarni Wina

Dwi Winarni Wina

Dasar rida sirubah betina demi menguasai harta suaminya tega menjebak ank tirinya dan menghalalkan berbagai cara dasar wanita ular berbisa...

2024-02-24

1

Saha Weh

Saha Weh

ini papa ya namanya Agus apa Danu 🤦

2024-02-22

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!