Bab 17

"Galang, Kau kenapa ke sini? Ada sesuatu dengan Nona muda?" tanya Bagas sahabat Galang semasa menjadi pengawal.

"Bagas, kembali bertugas!" titah Indrajaya. Bagas mengangguk siap bertugas secara profesional.

“Kita akan bicara nanti,” ucap Galang dengan tersenyum, ia melambaikan tangan kepada Bagas. Ia berjalan mengikuti Dimas.

"Selamat siang Pak Dimas," sapa Agus.

"Siang, Maaf, Pak Agus, saya mengundur jadwal datang karena ada urusan sedikit," kata Dimas.

"Tidak masalah Pak, mari silakan duduk," pinta Agus.

Mata Rida tak putus memandangi Galang, ia merasa jika mantan pengawalnya ini sangat berbahaya. Dari pengawal pribadi naik level menjadi seorang sekretaris membuatnya berasumsi jika Galang bukan orang biasa.

“Tuan, apakah kamu tidak salah memilih sekretaris?” tanya Rida, ia melirik Galang.

“Memangnya kenapa dengan sekretaris saya?” Dimas menanyakan alasan Rida.

“Tuan, Galang ini mantan pengawal kami. Apa Tuan, tidak takut dengan hasil kerjanya?” Rida mulai menghasut Dimas.

Rida berharap, jika Dimas mau memecat Galang dari perusahaannya. Dia tidak mau si pengawal itu mendapatkan pekerjaan di mana pun.

“Galang bekerja sangat baik, kami juga sering memenangkan proyek semenjak dia masuk di perusahaan saya,” kata Dimas. Ia menambahkan jika memiliki Galang merupakan keberuntungan bagi perusahaan Gumintang.

“Rida, cukup, kamu bisa keluar kami akan membahas kerja sama dulu,” kata Agus.

Dia tidak mau sang istri mengganggu berjalanya kerja sama dengan Gumintang Grup. Mulut perempuan paruh baya itu tidak bisa di kontrol membuat Agus ketar-ketir, andai saja dia keceplosan mengatakan Galang menikah dengan putrinya.

Image sebagai pemilik Sudarmono grup akan hancur kala itu juga, ia akan di sepelekan oleh Dimas.

“Nyonya, mari kita pergi dari tempat ini.” Indrajaya meminta sang nyonya mengerti akan perintah tuannya.

“Galang, kamu juga bisa keluar. Biar saya menyelesaikan dengan Pak Agus.”

“Siap, Tuan,” Galang mengangguk lalu keluar dari ruang tamu.

Agus mempresentasikan perusahaan miliknya dengan sebaik mungkin agar Dimas mau bekerja sama dengan perusahaannya. Dia mengatakan akan segera mengirim proposal kepada Gumintang Grup secepatnya jika memang menerima kerja samanya.

“Pak Agus, jangan terburu-buru. Kami ini perusahaan kecil, apa bapak tidak masalah bekerja sama dengan kami?” tanya Dimas.

Dia tidak langsung menyetujui hubungan kerja sama dengan Sudarmono grup, ia ingin tahu seberapa jauh mereka ingin bekerja sama.

“Gumintang grup, bisnis baru yang sedang meroket, pasti kita bisa berkembang pesat,” ujar Agus. Dia juga mengatakan jika mereka bergabung maka akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar.

Kerja sama dua perusahaan besar pasti akan menghasilkan sesuatu yang besar juga.

“Baik, tapi saya mau yang bertanggung jawab adalah Nona Indira sebagai CEO di perusahaan Sudarmono,” ujar Dimas.

“Baik, saya setuju,” jawabnya dengan cepat.

Dugaan Agus tak pernah salah, Dimas pasti menginginkan putrinya sebagai bayaran kerja sama. Meskipun, tidak semua perusahaan melakukan itu. Tapi, sebagian besar CEO akan mengincar anak dari relasinya.

...----------------...

“Hai, ibu mertua apa kabar?” sapa Galang dengan wajah tengil.

Rida berdesis, “Siapa yang kau panggil ibu mertua?!”

Rida sangat risih mendengar Galang memanggilnya dengan sebutan itu. Baginya dia tidak layak memanggilnya seperti itu. Orang rendahan hanya bisa memanggil dirinya nyonya.

“Tapi, saya sekarang bukan lagi pengawal,” kata Galang.

“Pengawal mau berbaju mahal, tak akan merubah apa pun!” ejek Rida.

“Jangan terlalu bangga, sebentar lagi kau juga akan di pecat dari perusahaan Gumintang,” sahut Indira.

Dia sudah percaya diri akan berdampingan dengan Dimas, maka setelah jadi nanti dia akan memecat Galang dari perusahanan Gumintang.

“Nona, punya kuasa apa anda memecat saya?” kata Galang sambil tertawa.

“Sekarang belum, tapi sebentar lagi. Setelah aku menikah dengan Pak Dimas, CEO Gumintang Grup,” katanya dengan penuh keyakinan.

“Menikah? Ah, Nona, jangan terburu nafsu, CEO Gumintang Grup sudah mempunyai istri," tukas Galang.

"Kau kira aku bisa kau bohongi, mereka di dalam sedang membahas pernikahan kita. Jadi, siap-siap kamu dan istrimu menjadi pengemis," ucap Indira sambil tertawa.

"Pengemis, anda mungkin bukan saya. Lili sangat bahagia saat ini," ucap Galang dia memanasi adik ipar.

"Mimpi kau!" Indira masuk ke rumahnya, dia sudah tak sanggup berdebat lagi dengan Galang.

Dia sedang menjaga diri agar terlihat anggun di depan Dimas. Dia tidak mau, CEO Gumintang melihat amarahnya.

"Galang?" Mila mendelik melihat Galang ada di rumah sahabatnya.

Galang menundukan kepala, sebagai tanda hormat.

"Lili mana?" tanya Mila sembari celingukan mencari keberadaan sahabatnya.

"Lili tidak ada di sini, Nona," kata Galang.

"Tidak ada? Lalu kenapa kau ke sini?" Mila bingung.

Tidak mungkin kan lelaki bertubuh kekar ini meminta untuk kembali menjadi pengawal.

"Saya, bekerja di perusahan Gumintang," jawabnya.

Mila melongo, "Kebetulan macam apa ini?" batinya.

"Galang, aku mau bicara sama kamu." Mila menarik tangan Galang. Membawa ke halaman belakang rumah.

"Ada apa Nona?" tanya Galang.

"Jangan panggil aku, nona. Mila saja," cerocos Mila.

Saat ini Galang adalah suami Lili sahabatnya, bukan lagi pengawalnya jadi dia tidak perlu formal kepadanya.

"Galang, apa kau memiliki perempuan lain?" tanya Mila serius.

Galang menggeleng pelan, ia heran mendadak Mila mempertanyakan masalah pribadi.

"Jika memang kau tidak ada perempuan lain, kenapa tidak mau menyentuh istrimu!" ucapnya bar-bar.

Galang mengerutkan kening, ia mendengus pelan, pasti sang istri yang sudah menceritakan kepada Mila.

"Iya, Lili sudah cerita sama aku, kamu tidak perlu marah sama dia," Mila memperingatkan Galang.

"Aku tidak marah, Mila, boleh aku minta tolong sesuatu?" tanya Galang.

"Katakan," ucapnya.

"Jangan bilang aku bekerja sama dengan perusahaan Sudarmono. Aku tidak mau dia sedih karena mengingat keluarganya," pinta Galang.

Mila terdiam, dia tidak berjanji bisa melakukanya. Selama ini dia saling terbuka dengan sahabatnya itu.

"Mila, demi Lili," Galang memohon.

"Baiklah, tapi kamu harus janji, jangan sakiti dia. Perlakukan dia sebaik mungkin atau kau akan menerima akibatnya!" ancam Mila, ia menggenggam jemarinya tanganya pas di wajah Galang.

Mila dan Galang kembali ke depan setelah pembicaraan mereka selesai.

"Galang, bagaiamana kabar Nona Lili?" tanya Bagas.

"Baik, kenapa kau tanya istriku?" Galang tidak senang sahabatnya itu menanyakan istrinya.

"Galang, aku cuma tanya kabar, jangan cemburu seperti itu." Bagas menepuk lengan Galang.

"Tentu saja, Lili bersamaku sangat baik, dia bahagia," ujarnya.

"Apakah kau tinggal di kota ini?" tanya Bagas antusias.

"Ya, dia juga hidup berkecukupan. Dia bahkan sekarang menjadi seorang ratu," tuturnya.

"Ratu? Apa yang dia katakan?" gumam Mila, jelas-jelas dia memperlakukan Lili seperti pembantu.

"Kau sangat beruntung, bisa hidup berkecukupan."

Galang melirik ke arah pintu, melihat keluarga Lili keluar dia lantas dia mengatakan dengan lantang.

"Lili sangat bahagia, memiliki orang yang menyayangi dan mempercayainya sepenuh hati."

Mila bengong, "Sebenarnya apa yang sedang direncanakan Galang?"

Terpopuler

Comments

Retno Palupi

Retno Palupi

ada penjahat d rumah Agus, hati hati Lang

2024-04-23

0

Evrida

Evrida

Lanjut kak

2024-02-24

1

Saha Weh

Saha Weh

Iya ini nama,,ya sok pabelit katuker wae JD bingung macana 😔tp penasaran🤗

2024-02-24

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!